CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 57


__ADS_3

Perpisahan di Bandara membuat semuanya bersedih, sebab Syadev baru beberapa hari tinggal di Indonesia dan kini sudah hendak kembali ke Amerika.


Kaysa sendiri juga merasa kehilangan sekaligus kesal, tapi gadis itu mencoba menahan diri karena tidak ingin membuat Bundanya yang menangis bertambah bersedih.


"Kak Al, tolong jaga Kaysa ya? Dia masih belum dewasa harap di maklumi," ucap Syadev sengaja menggoda saudara kembarnya.


Kaysa tidak mau menjawab, hanya pukulan ringan yang dia berikan pada saudara kembarnya.


Syadev tertawa, pemuda itu mencoba tegar dan kuat agar orang tuanya tidak lemah.


Sebenarnya tidak ada yang tahu jika saat ini Syadev merasakan kerinduan yang mendalam pada istrinya, resiko menikah secara diam-diam membuat pemuda itu tidak bisa mengajak istrinya di depan umum.


"Anggun, apa yang sedang kamu lakukan saat ini? Beberapa jam saja berpisah denganmu aku sudah rindu."


Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Darren, Zahra dan Anggun yang berlarian menuju dirinya.


Syadev sangat bahagia, rasanya dia ingin berlari dan menangkap tubuh istrinya dengan segenap perasaannya. Namun karena di depan keluarganya, apalagi di depan Kaysa yang mengira dia lupa ingatan membuat Syadev menahan diri. Bahkan berusaha jutek seolah tidak mengenal.


"Syadev, maaf telat. Tadi aku mengantarkan dokumen papa yang tertinggal di rumah," ucap Darren sambil ngos-ngosan.


"Iya, tidak apa-apa. Penerbanganku masih setengah jam lagi," jawab Syadev melirik ke arah istrinya sebentar.


"Darren, kamu berangkat ke Amerika kapan?" tanya Syauqi pada putra sahabatnya.


"Dua hari lagi, om Syauqi. Masih banyak yang belum aku urus di sini. Tapi jika urusan di Amerika aku serahkan pada Syadev," jawab Darren sopan.


"Kalian nanti harus saling menjaga ya?" tutur Zhia yang lega, sebab di sana putranya ada temannya.


"Iya, Tante," jawab Darren patuh.


Syadev merasa gusar, dengan jelas istrinya saat ini ada di hadapannya. Namun sama sekali dia tidak berani walau hanya sekedar tersenyum. Sakit hatinya, harus berpura-pura tidak mengenal Anggun di depan keluarganya sendiri.


"Maafkan aku, Anggun. Saat ini aku belum bisa memberitahu mereka," batin Syadev.


Anggun sendiri berusaha bersikap normal dan tetap tersenyum ramah seperti biasanya, gadis itu bisa memahami posisi suaminya yang bersikap dingin ini.


Zahra yang pernah mengalami cinta yang terpendam selama bertahun-tahun bisa ikut merasakan perasaan Anggun dan Syadev. Dengan lirikan mata gadis itu menyuruh Syadev untuk pergi.


Syadev tersenyum sekilas dengan kode tersebut, dia tahu apa maksud dari sepupunya barusan.


"Ayah, Bunda. Aku ke toilet sebentar ya?" izin Syadev.


"Iya," jawab Zhia dan Syauqi tersenyum tenang.


Agar tidak ada yang curiga, Zahra sengaja menunggu beberapa menit. Setelah itu dia juga ikut izin ke toilet terlebih dahulu.

__ADS_1


"Anggun, temani aku yuk?" ajak Zahra.


"Iya," jawab Anggun yang masih belum ngeh.


"Aku ikut," teriak Kaysa yang sudah menyusul dari belakang.


Zahra hanya tersenyum, sedangkan hatinya merasa gelisah karena usahanya sia-sia.


Dalam perjalanan, Zahra merasa ponselnya bergetar. Setelah di buka ternyata pesan dari sepupunya.


Syadev


Suruh Anggun berjalan di belakang, dan kamu alihkan Kaysa.


Zahra tersenyum senang, gadis itu segera menarik lengan Kaysa agar berjalan lebih cepat.


Karena kkondisi yang ramai, Kaysa tidak menyadari jika Anggun sudah hilang dari belakangnya.


Saat itu Syadev nekat menarik Anggun dan membawanya ke tempat yang berlawanan dari Kaysa dan Zahra.


Tanpa basa basi Syadev langsung memeluk tubuh Anggun dengan erat, rasa cintanya semakin mengakar kuat di lubuk hatinya.


"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu..." Bisik Syadev.


Syadev tidak bisa mengungkapkan perasaanya lewat kata-kata, hanya ucapan itulah yang bisa dia bisikkan.


"Jaga dirimu baik-baik! Aku akan menunggu kamu di sana," ucap Syadev lagi sambil memegang wajah istrinya dengan kedua tangannya.


Anggun hanya mengangguk tanpa mampu menjawab, tapi air matanya sudah bercucuran deras.


Hari Syadev ikut teriris melihat istrinya menangis. Nalurinya ingin mencium bibir Anggun sampai puas, tapi akal sehatnya menolak melakukan hal memalukan di depan umum.


"Ini kamu bawa, nanti Zahra dan Kaysa akan lewat sini. Kamu bilang saja habis beli ini," kata Syadev memberikan sebotol air mineral.


"Iya, kamu hati-hati ya? Suamiku," ucap Anggun tersenyum tegar.


Deg... mendengar Anggun menyebutnya dengan panggilan 'suamiku' membuat Syadev melangkah maju lagi mendekati anggun dan mencium keningnya dengan lembut.


"Aku pergi dulu, istriku," bisik Syadev berlalu pergi.


Anggun hanya bisa melihat punggung Syadev berlalu dari hadapannya. Anggun merasakan kebahagiaan sekaligus kehilangan.


Beberapa saat kemudian Zahra dan Kaysa sudah ada di belakangnya.


"Kamu ternyata di sini? Tadi aku dan Zahra menunggu kamu cukup lama loh di depan toilet," tegur Kaysa.

__ADS_1


"Maaf, aku tadi kehausan. Jadi mencari ini dulu dan menunggu kalian di sini," jawab Anggun.


"Aku minta dong," sela Zahra.


Dengan senang hati Anggun memberikan botol air mineral itu pada temannya.


"Aku juga," sela Kaysa.


"Gantian dong!" sergah Zahra.


Anggun hanya bisa bernapas lega karena Kaysa tidak curiga.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Mungkin karena efek dari datang bulan, Kaysa merasa tubuhnya lemas dan tak berdaya.


"Apa kamu sakit?" tanya Alarik.


"Tidak," jawab Kaysa.


Mereka berdua setelah mengantarkan Syadev langsung berpamitan sekalian pulang ke kota kelahiran Alarik.


Kini Kaysa sudah menjadi seorang istri, tinggal jauh dari keluarga dan teman-temannya.


"Kamu kenapa melamun terus, Sayang?" tanya Alarik cemas.


"Aku hanya merasa waktu cepat sekali berputar, dulu aku selalu bersama Ayah, Bunda, Flora, Syadev dan teman-teman. Tapi kini kita semua berpisah," jawab Kaysa.


"Inilah kehidupan,setiap pertemuan pasti ada perpisahan," tutur Alarik lembut.


"Kadang aku merindukan masa kecil bersama Syadev, selama ini aku selalu menganggap dia sebagai saingan. Tidak ku sangka justru dia malah mengalah agar aku bisa tersenyum ceria," curhat Kaysa.


"Jadi kamu ingin kecil terus?" tanya Alarik.


"Iya," jawab Kaysa yang juga teringat saat dimanjakan almarhumah neneknya.


"Kalau kamu ingin menjadi kecil terus, berarti kamu tidak akan pernah merasakan nikmatnya malam pertama," goda Alarik berniat menghibur istrinya.


Kaysa langsung tertawa dan memukul bahu suaminya lumayan keras.


"Kak Al kenapa sekarang jadi genit seperti ini?" teriak Kaysa menahan tawa.


"Sudah halal kok, aku bisa melakukan apapun," jawab Alarik santai.


Kaysa merasa terhibur juga, dia sadar betapa berharganya waktu. Jadi dia ingin menghabiskan sisa waktu dengan sebaik mungkin.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote yaπŸ€— Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi AuthorπŸ™. Terima kasihπŸ€—


__ADS_2