CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 97


__ADS_3

Syauqi dan Zhia baru saja duduk menikmati makan siang, mereka berdua memang merencanakan untuk makan di luar.


"Jarang-jarang bisa santai begini, setelah ini kita pergi ke pantai apa ke mana?" tanya Syauqi mesra.


"Terserah ke mana saja, yang terpenting suamiku senang," jawab Zhia fokus makan.


"Loh, niatku kan juga menyenangkan dirimu. Bukan hanya menyenangkan diri sendiri," timpal Syauqi.


"Iya... Dimanapun suamiku berada aku akan selalu bahagia selagi kita bersama," jawab Zhia agar suaminya lega.


"Gitu dong, ayo makan," ajak Syauqi puas.


Baru saja Syauqi memasukkan nasinya, tiba-tiba dari belakang terdengar suara anak-anaknya.


"Ayah, Bunda... " sapa Kaysa riang.


"Loh, katanya Ayah sedang tidak enak badan?" tanya Syadev menyelidik.


"Ayah memang sedang tidak enak badan, tapi karena Bunda kalian tadi bilang jenuh ya Ayah ajak makan siang di luar," jawab Syauqi mencoba menjaga imej.


Zhia melirik ke arah suaminya dengan tatapan kesal karena dijadikan tameng, Syauqi langsung meringis tersenyum canggung.


"Ih... Penampilan Ayah keren sekali, seperti anak muda yang mau kencan," goda Kaysa.


"Kaysa, jangan panggil Ayah. Tapi lebih pantas panggil kakak saja," timpal Alarik.


Semua tertawa, termasuk Zhia karena suaminya diserang anak-anak.


"Ayah, lain kali kalau memang mau berduaan dengan Bunda tinggal bilang saja! Tidak perlu cari alasan sakit, karena kami khawatir," ujar Syadev serius.


"Sudah... Duduk... Duduk... Ayo semuanya, biar Ayah yang traktir," kata Syauqi mengalihkan pembicaraan.


"Hari ini Kak Al yang mau traktir," balas Syadev.


"Iyakah? Acara apa?" tanya Syauqi.


"Ayah... Aku hamil," ucap Kaysa malu-malu.


"Apa? Hamil?" pekik Syauqi dan Zhia bersamaan.


"Iya Ayah, Bunda," tegas Alarik meyakinkan.


"Alhamdulillah, wah... Ayah akan punya dua cucu sekaligus," ucap Syauqi senang.


"Sudah berapa Minggu? Mengejutkan sekali," tanya Zhia penasaran.


"Malah lebih duluan aku yang hamil, Bunda. Hanya saja aku tidak mual, muntah dan masih terlihat seperti biasanya," jawab Kaysa.


"Kalau begitu Ayah akan panggil keluarga Mas Rian agar ke sini semua. Alarik, kamu siap traktir orang sekampung kan?" tantang Syauqi.


"Siap Ayah, nanti kalau uangnya kurang bisa hutang dulu pada Ayah," jawab Alarik bercanda.


"Apaan... Sama aja Ayah yang suruh bayar itu," sergah Syauqi.


Syauqi segera menghubungi keluarga Rian, sedangkan keluarga Elly dan Dony tidak bisa hadir.


"Om Rendra dan Tante Nayla sudah pulang?" tanya Kaysa.


"Sudah, tadi pagi setelah kalian berangkat ke rumah sakit," jawab Zhia.


Syadev yang tahu kakak sepupunya Kakan datang ke sini juga segera memberi pesan pada Bima agar ikut ke sini.


"Ayah, aku undang satu teman lagi tidak apa-apa kan?" tanya Syadev.


"Bima?" tebak Syauqi.


"Kok Ayah tahu?" tanya Syadev heran.


"Apa sih yang Ayah tidak tahu," jawab Syauqi bangga.


Syauqi dan Zhia sengaja menghentikan makannya untuk menanti Keluarga Rian.

__ADS_1


Alarik sendiri segera menemui manager restoran dan meminta layanan khusus, yaitu satu meja besar yang bisa muat dua sepuluh orang lebih.


Tepat setelah keluarga Rian datang semuanya sudah siap.


"Mari pindah ke sana," ajak Alarik sopan.


"Isnaini mana, Bibi Tia?" tanya Anggun yang sedari tadi hanya diam.


"Sedang melihat bazar di toko buku dengan Flora. Palingan mereka mencari novel diskonan," jawab Tia tertawa.


Anggun yang duduk di samping Tia juga ikut tertawa.


Tak berapa lama juga muncul Bima seorang diri, dan kebetulan kursi yang kosong ada di samping Alifya.


"Assalamu'alaikum," salam Bima sopan.


"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya.


"Bima, ayo duduklah," perintah Syauqi.


"Iya, terima kasih Om Syauqi," jawab Bima senang duduk di samping Alifya.


"Hari ini ada kabar gembira, Kaysa hamil," kata Syauqi.


"Benarkah?" pekik Tia, Rian dan Alifya secara serempak.


"Kenapa sih mendengar aku hamil kalian seperti tidak percaya," ucap Kaysa kesal.


"Bukan begitu ponakanku tersayang, hanya saja kami terkejut. Tapi sungguh ini kabar bahagia, Anggun dan kamu bisa hamil bersamaan." kata Tia lembut.


"Andaikan ibu masih ada pasti sangat bahagia cucu nakalnya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu," timpal Rian yang terharu.


"Paman, Kak Alifya suruh nikah saja. Biar semakin ramai," goda Kaysa.


Alifya yang menjadi sasaran Kaysa segera menundukkan wajahnya karena malu diperhatikan semua orang.


"Biar selesai lulus kuliah dulu, tinggal satu tahun lagi kok," jawab Rian santai.


"Ayo pesan makanan sesuai hati kalian, hari ini Alarik akan mentraktir kita. Jadi jangan sungkan-sungkan, puaskan kalian," kata Syauqi bersemangat.


Alarik hanya meringis saja, baginya tidak masalah mengeluarkan uang yang banyak. Karena kebahagiaan hatinya tidak bisa ditukar dengan apapun.


Semua sudah memesan makanan, sambil menanti Alarik mengelus perut istrinya diam diam.


"Apa?" bisik Kaysa.


"Terima kasih sayang, telah memberikan kebahagiaan yang begitu besar," jawab Alarik lirih.


"Setelah ini harus menjadi suami yang lebih perhatian dan peka lagi," rengek Kaysa manja.


"Iya, semua yang kamu pinta akan aku lakukan," jawab Alarik.


"Hem... " Syadev yang duduk di samping Kaysa tidak tahan untuk berdehem.


"Apa? Tidak pernah bermesraan dengan istri ya? Iya sih, kamu kan kaya es batu yang dingin dan tidak ada romantisnya sama sekali," sindir Kaysa kesal.


"Tanya saja sama Anggun, hanya dia yang bisa tahu," jawab Syadev cuek.


"Tak perlu bertanya aku sudah tahu jawabannya, kasihan sekali Anggun mendapatkan suami seperti kamu," ejek Kaysa dengan tampang prihatin.


"Tidak kok, Syadev adalah suami terbaik di dunia. Dia sangat perhatian, lembut, ramah dan tidak pernah marah. Bahkan tidak pernah membiarkan aku sedih dan kelelahan," kata Anggun membela suaminya.


"Iyakah?" tanya Kaysa tidak percaya.


"Tidak percaya ya sudah, lagipula hanya istriku saja yang berhak mendapatkan perhatian dariku," jawab Syadev bangga.


"Ah, masih romantisan Kak Al dibanding Syadev," sergah Kaysa tidak mau kalah.


"Tidak ada yang bisa mengalahkan Ayah kalian! Sudah, jangan berantem lagi," kata Zhia melerai perkelahian si kembar.


"Wah, kalau begitu aku akan belajar pada om Syauqi," jawab Bima riang.

__ADS_1


"Memangnya kamu sudah punya istri?" ledek Syauqi bangga.


"Belum, jadi sekalian minta diberi istri," jawab Bima malu-malu.


"Putri bungsuku masih terlalu kecil. Aku punya dua keponakan, tapi Zahra sudah ada yang punya. Tinggal Alifya saja," jawab Syauqi memberi jalan.


Bima memerah, tidak disangka Om Syauqi bisa menebak isi hatinya.


Alifya sendiri semakin gemetar, apalagi jika teringat tentang kejadian kemarin.


"Iya, Bima. Lamar Kak Alifya saja sekalian, mumpung sedang ada Paman Rian dan Bibi Tia," kata Syadev memberi semangat.


"Bima sebaya dengan Syadev kan? berarti Alifya lebih tua," kata Rian memupus harapan Bima.


Bima yang baru saja mendapatkan semangat langsung layu seperti bunga yang tidak disirami.


"Paman, biarpun Bima lebih muda tapi dia orang yang bertanggung jawab dan bisa diandalkan. Di Amerika saja dia kadang menggantikan Omnya sebagai pemimpin perusahaan besar," kata Syadev membela Bima.


"Tapi bagi paman yang paling penting adalah keimanan dan ketakwaan, jadi bukan semata hanya mapan saja. Karena seorang imam yang baik harus memiliki dasar agama yang kuat," jawab Rian tegas.


Bima yang sedari kecil hidup di luar negeri sama sekali tidak pernah belajar tentang agama, meskipun KTP nya agama Islam.


"Terima kasih, Paman. Selagi menunggu Alifya lukus saya akan belajar agama dengan rajin. Hanya saja saya minta jangan jika nanti ada orang yang melamar Alifya tolong jangan diterima terlebih dahulu," pinta Bima nekad.


Alifya terkejut dengan penuturan Bima, tiada di sangka pemuda yang dua tahun lebih muda darinya memiliki keberanian yang tinggi.


"Tenang saja, Bima. Asalkan kamu rajin belajar agama mana mungkin Mas Rian akan ingkar janji! Ayo semuanya makan, nanti klaua dingin tidak enak," jawab Syauqi yang membuat Rian tidak bisa berkata-kata.


Zhia dan Tia menahan tawa, sebab satu-satunya orang yang berani menyekak ucapan Rian hanya Syauqi Malik.


Bima yang mendapat dukungan dari Ayahnya Syadev menjadi bersemangat kembali.


Alifya semakin memerah wajahnya dan hatinya berdebar-debar.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Di sini lain Darren sedang mengantar Zahra untuk mencari berbagai kebutuhan. Mereka berdua adalah sepasang kekasih yang tengah bahagia karena sebentar lagi akan menikah.


Setelah berbelanja mereka jalan- jalan. Sampai malam mereka baru pulang.


Setelah mengantar calon istrinya Darren segera berpamitan pulang.


Namun ditengah jalan raya yang besar Darren melihat Inge yang tengah menendang-nendang mobilnya. Karena penasaran Darren turun dan menghampiri gadis tersebut.


"Inge, kamu kenapa?" tanya Darren penasaran.


"Siapa kamu?" tanya Inge ketus.


Darren bisa mencium aroma alkohol dari napas Inge.


"Inge! Kamu ini perempuan, kenapa minum minuman keras? Aku saja setetes tidak pernah," bentak Darren marah.


"Kenapa suara kamu tidak asing ya?" tanya Inge yang sudah kehilangan akal sehatnya.


"Cepat, masuk ke mobilku! Aku antar kamu pulang, di mana rumahmu?" tanya Darren.


"Aku tidak punya rumah," jawab Inge yang berjalan oleng.


Mau tidak mau Darren menyentuh gadis itu dan memapah masuk ke dalam mobil.


Darren merasa percuma bertanya pada Inge yang mabuk, diapun segera menelpon Bima. Namun, sampai panggilan ke tiga masih saja tidak diangkat.


Darren menatap pada tubuh Inge yang bagian paha terbuka.


"Gadis ini, coba pemuda lain yang melihatnya sudah habis," umpat Darren kesal.


Darren segera melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Inge yang memakai gaun mini.


"Bagaimana ini? Tidak mungkin aku bawa pulang, apa aku antar ke hotel terdekat aja ya? "


Hayooooooo tebak ya, selanjutnya bagaimana ini? Antara Darren dan IngeπŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2