
Cinta yang suci, didasari atas ketulusan yang menahan godaan. Ketiga generasi Syauqi mencintai gadis mereka dengan cara menjaga. Seperti bunga mekar, dan mereka menjadi pagar agar orang - orang hanya bisa mengagumi tanpa menyentuh.
Semenjak kejadian dikeluarkannya Via dan Sasa, tak ada lagi yang berani menggunjing Jamila sebagai perempuan malam. Dan mereka lebih fokus meningkatkan prestasi sebab di Andromeda yang dilihat adalah kemampuan.
Jamila dan Deby secara perlahan semakin matang, selalu berusaha dan meneladani putri Rosululloh. Bahkan prestasi Jamila dalam bidang olah raga membuatnya berhasil mendapat beasiswa masuk ke Universitas.
Sedangkan ketiga generasi Syauqi juga fokus menghafalkan Al - Qur'an. Tentu saja yang paling unggul dan lebih banyak hafalannya adalah Sagara.
Ketiga generasi Syauqi merasa tak rela meninggalkan kamar asrama yang sudah di huni selama enam tahun itu, banyak sekali kisah dan juga kekonyolan yang mereka lakukan di dalam kamar tersebut.
"Sebentar lagi kita pindah asrama khusus ke bagian mahasiswa," ujar Yudis.
"Iya, kita harus merenovasi ulang jadi senyaman mungkin," balas Arka.
Yudistira dan Arkananta tentu saja merasa senang, sebab nanti di Universitas bisa lebih sering bertemu dengan cintanya mereka di berbagai kegiatan extra.
Sedangkan Sagara merasa sedih sebab tidak akan melihat sarah lagi, karena Universitas Andromeda tidak terletak di pegunungan. Melainkan di bagian bawah yang jaraknya jauh.
Di Universitas Andromeda lebih besar lagi, sebab banyak dari murid dari berbagai provinsi. Bahkan kebanyakan dari negeri Jiran. Dan Universitas Andromeda Mulan hanya untuk muslim, melainkan berbeda Agama berkumpul di sana.
Baru pertama kali menginjakkan kaki, ketiga generasi Syauqi sudah menjadi populer. Tampan, berdarah biru, cucu dari pemilik Andromeda an juga bakat yang luar biasa. Meskipun menjadi pemuda muslim tapi Aura keren terpancar dari penampilan mereka. Membuat para gadis banyak yang menggandrungi.
"Cewek cantik bertebaran disini, setiap hari kita bisa cuci mata," ucap Arkananta.
"Bilang ke Deby ah, biar dia nanti mencuci matamu," balas Yudistira.
"Sama saja kamu membunuh saudaramu sendiri," sindir Arka.
"Jaga mata! Jaga Hati!" balas Yudistira.
Sagara hanya diam saja mendengarkan kedua saudaranya yang selalu ribut itu, dia sama sekali tidak tertarik untuk ikut berdebat. Baginya hal itu hanya membuang tenaga dan sia - sia.
Sagara berjalan duluan meninggalkan kedua saudaranya, dia sangat kesal tapi juga malas untuk menegur.
"Entah kenapa aku begitu merindukan Sarah, walaupun hanya melihatnya saja sudah cukup," batin Sagara pilu.
Karena melamun Sagara menabrak seseorang, dan orang yang ditabrak adalah seorang gadis.
"Maaf," ucap Sagara terkejut.
"Iya, tidak apa - apa," jawab Sagara.
Betapa terkejutnya jika gadis tersebut memiliki wajah mirip Sarah, hanya saja bentuk tubuhnya lebih dewasa dan jauh lebih tinggi.
Gadis itu langsung berlalu pergi dan meninggalkan pertanyaan untuk Sagara.
__ADS_1
"Hey, kenapa bengong? Cantik ya?" sindir Arkananta.
"Bukan begitu, tapi kalian merasa tidak jika gadis barusan mirip Sarah," sergah Sagara.
"Masa sih? Ah, itu karena kamu yang terlalu merindukannya," ejek Arka yang tadi tidak sempat melihat wajah gadis itu.
"Iya, kasihan banget si Sagara, ndak bisa melihat kekasih kecilnya. Kalau kita berdua mah bisa setiap hari bertemu di kampus," sindir Yudistira.
"Tapi Sagara yang kurang cerdas, dia kan punya otak jenius. Ngapain tidak jadi guru magang saja. Kan lumayan bisa sesekali melihat Sarah, kan tidak melanggar aturan," balas Arka.
Sagara terdiam, apa yang barusan diucapkan oleh sepupunya itu masuk akal juga.
***********************************
Tak hanya ketiga generasi Syauqi saja, Deby dan Jamila juga termasuk golongan mahasiswi yang populer. Karena Deby gadis cerdas sedangkan Jamila memiliki prestasi yang luar biasa di bidang bulu tangkis.
"Deby, akhirnya kita berdua bisa masuk kesini," ucap Jamila senang.
"Iya, aku juga senang," balas Deby.
"Nanti sepulang kuliah kita mau ngapain?" tanya Jamila.
"Belanja yuk, karena setelah masuk Universitas kita bisa membawa laptop, ponsel. Aku ingin membeli yang versi terbaru," ajak Deby.
"Iya, ayo," jawab Jamila.
"Jamila, kenapa bulan ini orang tuamu tidak mengirim paketan ikan? Apalagi yang rasa pedas itu bikin aku ketagihan terus?" rengek Deby.
"Iya, nanti aku bilang ke mereka," jawab Jamila senang.
"Liburan nanti kita pulang kampung ke rumahmu yuk? Aku sangat senang di sana," ajak Deby antusias.
"Iya," jawab Jamila.
Kemudian Jamila teringat, awal mula pembuatan ikan kering goreng adalah ide dari Yudistira. Berkat pemuda itu kehidupan keluarganya dan juga pendidikannya terjamin.
Keluarganya sekarang tergolong pengusaha kecil yang sukses, ikan yang di olah menjadi lauk pauk berbagai rasa itu bisa masuk ke tempat - tempat pusat oleh - oleh. Bahkan pemerintah sampai menetapkan jika olahan ikan siap makan itu menjadi makanan khas daerah tersebut.
Karyawan orang tua Jamila juga semakin bertambah, tentu saja pendapatan jadi meningkat.
Tiba - tiba saja datang seorang pemuda tampan, pemuda tersebut merupakan pemenang bulu tangkis kategori lelaki.
"Jamila, ada hal penting yang mau aku bicarakan. Apa bisa?" tanya pemuda tersebut.
Jamila menoleh ke arah Deby, dan Deby langsung mengangguk.
__ADS_1
"Oke deh, kalau begitu aku pergi duluan ya," pamit Deby.
Deby pergi seorang diri, dan tanpa sengaja dia berpapasan dengan Yudistira, Sagara dan Arkananta.
"Loh kok sendirian, di mana Jamila?" tanya Yudistira.
"Barusan Tiok mengajaknya bicara, sepertinya Jamila mau ditembak deh. Kan sudah lama Giok suka Jamila," jawab Deby asal - asalan.
"Apa?" pekik Yudistira kaget.
"Kurasa tadi aku sudah jelas deh bilang apa," sergah Deby kesal.
Yudistira cemburu, pemuda itu merasa takut jika nanti Jamila menerimanya.
"Yudis, kejarlah sebelum terlambat! Jangan payah seperti adikmu," saran Arkananta.
Yudistira berpikir sejenak, kemudian pemuda itu langsung melesat mencari Jamila.
Tapi kemudian kembali lagi, karena Universitas ini luas tentu saja tidak mudah mencari keberadaan Jamila dan Tiok.
"Mereka ada di mana?" tanya Yudistira ngos - ngosan.
"Tadi sih di taman kantor , kalau sekarang entah kemana," jawab Deby tertawa.
Yudistira langsung berlari secepat kilat.
"Apa benar kalau Tiok suka Jamila?" tanya Arkananta.
"Mana aku tahu, aku hanya mengerjai Yudistira saja. Habisnya aku kesal jadi cowok kurang greget," jawab Deby menahan tawa.
"Kalau menurut kamu aku bagaimana? Sudah greget belum?" tanya Arkananta mengedipkan sebelah matanya.
Deby tersipu malu tapi juga senang. Sedangkan Sagara merasa seperti nyamuk yang terabaikan.
Sagara berlalu pergi tanpa berpamitan meninggalkan Deby dan Arkananta berduaan.
"Bagaimana hafalanmu?" tanya Deby.
"Aku masih dapat separuh, sedangkan Sagara sudah selesai duluan. Dia luar biasa setahun bisa hafal di luar kepala," keluh Arka.
"Jangan merasa iri, dia memang memiliki IQ di jauh di atas kita. Aku sudah bangga padamu karena mau berusaha dan mengalahkan kemalasan," bujuk Deby.
"Aku juga bangga padamu, setelah lulus kuliah kita menikah yuk?" ajak Arka.
"Apa? Memangnya kedua orang tuamu mengizinkan?" tanya Deby terkejut.
__ADS_1
"Justru mereka yang bilang, katanya setelah lulus kuliah kita harus secepatnya menikah. Jadi kita berdua harus belajar lebih giat agar bisa lulus dengan cepat," balas Arkananta.
Deby tersenyum sumringah, mana mungkin dia menolak menikah dengan orang yang dicintainya.