
"Kak Gio..." pekik Kaysa kaget.
"Sudah lama kita tidak berjumpa, kamu semakin cantik saja, Kaysa," jawab Gio tersenyum senang.
"Kak Gio kenapa bisa di sini?" tany Kaysa heran.
"Ini Universitas, tentu saja kuliah," jawab Gio ramah.
"Tidak ku sangka kita bisa bertemu di sini," ucap Kaysa sambil menghapus air matanya.
"Maafkan aku ya? Karena aku sudah menabrak kamu tadi," pinta Gio merasa bersalah.
"Salahku juga yang tadi memang tidak melihat jalan," jawab Kaysa sadar diri.
"Ayo aku ganti kuenya yang lebih enak," ajak Gio.
Sebenarnya Kaysa ingin menolak, tapi melihat Gio yang tersenyum memohon penuh harap membuat Kaysa terpaksa menerimanya.
Bertemu dengan Gio membuat Kaysa merasa lebih baik, karena Gio seseorang yang enak di ajak ngobrol dan juga sopan.
kaysa segera mengikuti Gio dan masuk ke dalam mobilnya.
"Apa Kak Gio tidak masuk kelas?" tanya Kaysa heran.
"Sesekali tidak masuk kelas tak apa-apalah. Kamu ke sini bersama siapa? kenapa menuju Universitas sini?" ucap Gio balik bertanya.
"Aku ke sini bersama Syadev dan Anggun. Katanya ada beasiswa full bagi murid yang mendapat nilai sempurna untuk nilai mata pelajaran IPA," ujar Kaysa.
"Memang iya, aku saja juga mendapat beasiswa loh," jawab Gio tersenyum manis.
"Wah, hebat!" puji Kaysa.
"Kamu juga pasti bisa, aku tahu kamu dan Syadev si kembar ajaib," jawab Gio tulus.
"Itu untuk Anggun. Kalau Syadev sepertinya mau kuliah di Amerika bersama Darren, sedangkan aku masih belum memutuskan," ucap Kaysa bimbang.
"Kenapa tidak di sini saja? Kamu bisa jadi junior aku lagi," gurau Gio tertawa lirih.
"Entahlah, yang terpenting aku lulus dulu. Soal Universitas mana biar Ayah saja y\=ang memutuskan," jawab Kaysa.
Gio sama sekali tidak menanyakan tentang hubungan Kaysa dengan Alarik. Membuat Kaysa merasa nyaman jika Gio memang berniat untuk berteman baik saja.
Gio memarkirkan mobilnya di sebuah rumah lantai dua yang mewah.
"Ini rumah siapa?" tanya Kaysa heran.
"Rumah aku," jawab Gio santai.
"Katanya mau membelikan aku kue?" tanya Kaysa lagi.
"Aku tidak bilang untuk membeli, tapi mengganti," jawab Gio tertawa.
Kaysa berdecak lidah karena merasa ditipu daya.
"Ayo masuk dulu, jangan malu-malu. Kedua orang tuaku enak kok, sama seperti orang tuamu," ucap Gio.
Karena sudah sampai di rumahnya Kaysa mau tidak mau tetap harus masuk.
"Loh, kok balik lagi?" tanya Papanya Gio.
"Untuk hari ini libur dulu, Pa. Karena ada teman spesial Gio yang datang dari luar kota," jawab Gio sopan.
"Mari silahkan masuk," ajak Papa Gio tersenyum ramah.
Kaysa merasa heran, karena meskipun Gio bolos kuliah tapi sama sekali tidak dimarahi. Jelas terlihat jika temannya itu anak kesayangan.
"Cantik sekali temanmu ini! Namanya siapa?" tanya Mama Gio yang baru muncul dengan senyuman sumringah.
"Kaysa Malik, Ma. Dia dari kota B. Dulu jadi adik kelas Gio saat masih SMA," jawab Gio bersemangat.
Papanya Gio tercengang mendengar nama Kaysa di sebut. Lelaki tua itu seperti mengingat sesuatu, dan saat di teliti lagi wajah teman putranya itu mirip sekali dengan seseorang.
"Kaysa Malik? Apa kamu putrinya Syauqi Malik? Soalnya wajah kamu mirip sekali dengan istri beliau," tanya Papa Gio penasaran.
"Benar, Om. Saya memang putrinya. Anda mengenal Ayah saya?" kata Kaysa sopan.
"Siapa yang tidak mengenal Tuan Syauqi Malik yang hebat itu," jawab Papa Gio antusias.
"Ma, apa kue yang dibuat Mama semalam masih?" tanya Gio.
"Masih dong, sebentar ya!" jawab Mama Gio berlalu pergi.
Kaysa merasa senang, karena kehadiran dirinya diterima kelurga Gio dengan baik.
Bahkan saat dirinya memakan kue buatan Mamanya Gio, lidahnya merasa cocok karena enak banget.
"Kalau masih ada sebaiknya dibawa ke sini semua," perintah Papa Gio tersenyum senang.
"Sudah, Tante. Jangan repot-repot," jawab Kaysa merasa sungkan.
"Kamu biasa saja, tidak perlu sungkan. Kue buatan Mama Gio memang enak," sela Papa Gio.
"Kaysa, tidak rugi kan aku bawa kamu ke rumahku?" tanya Gio senang.
__ADS_1
"Iya," jawab Kaysa yang memang kelaparan sebab belum sarapan dari tadi pagi.
"Nak Kaysa mau kuliah di Universitas tempatnya Gio?" tanya Mama Gio penasaran.
"Tidak tahu, Tante. Biar nanti Ayah Kaysa saja yang memutuskan," jawab Kaysa sopan.
Mereka terus mengobrol dan bercanda sampai lupa waktu. Bahkan Papanya Gio juga sampai lupa untuk bekerja di kantor.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Setelah mengantarkan Orlin pulang, Alarik langsung menuju Universitas A untuk mencari Kaysa.
Sesampainya di sana pemuda itu terus menelpon Kaysa, tapi tidak di angkat.
Kemudian dia beralih menelepon Syadev dan langsung tersambung.
"Syadev, Kaysa bersamamu?" tanya Alarik.
"Tidak, bukankah tadi ke hotel Kak Al?" ucap Syadev balik bertanya.
"Iya, tapi langsung pergi dan katanya mau menyusul kamu. Sekarang Kak Al di gerbang Universitas A," jawab Alarik panik.
"Baiklah tunggu di situ dulu! Aku seakan ke sana," ucap Syadev kemudian memutuskan sambungan telepon tersebut.
Beberapa menit kemudian Syadev dan Anggun sudah menemui Alarik.
"Ya ampun, kenapa Kaysa sudah besar masih saja membuat orang cemas seperti ini!" umpat Syadev kesal.
"Ini bukan saatnya kamu marah, sebaiknya segera temukan Kaysa," perintah Alarik gelisah.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Syadev heran.
"Nanti aku ceritakan, sekarang kira-kira Kaysa pergi ke mana?" ucap Alarik frustasi.
"Tenang, aku sudah memasang GPS di ponsel Kaysa. Karena aku tahu jika Kaysa selalu membuat ulah," jawab Syadev tenang.
Alarik tersenyum lega, pemuda itu segera merebut ponsel Syadev dan menemukan lokasi Kaysa sekarang.
"Kamu dan Anggun sudah sarapan belum?" tanya Alarik perhatian.
"Belum, Kak," jawab Syadev jujur.
"Kalian sebaiknya segera sarapan di resto hotel saja, biar Kak Al yang menjemput Kaysa," perintah Alarik.
"Iya, Kak. Aku pergi dulu," ucap Syadev pada Kakaknya.
Anggun hanya tersenyum dan mengangguk saja, karena gadis itu merasa segan dengan Alarik yang wibawanya kuat.
Lokasi yang ditunjukkan lewat Google Maps itu membawa Alarik ke sebuah perumahan yang mewah.
"Benar ini tempatnya, tapi Kaysa masuk ke rumah siapa?" batin Alarik penasaran.
Tak berapa lama Kaysa ke luar dari rumah bersama Gio.
Alarik sangat syok, yang lebih mengejutkan lagi adalah lelaki yang berada di belakang Kaysa.
Alarik segera menghampiri kekasihnya itu.
"Kaysa," sapa Alarik.
"Kak Al?" pekik Kaysa heran karena kekasihnya tiba-tiba sudah ada di sini.
Senyuman Gio seketika juga lenyap, pemuda itu tetap berusaha tegar.
"Om, kenapa Anda juga di sini?" tanya Alarik pada lelaki di belakang Kaysa.
"Al..." jawab Lelaki itu gugup dan cemas.
"Kak Al mengenal Papa?" tanya Gio.
"Tentu saja, karena aku ini keponakannya Om Faisal. Jadi kamu ini putranya ya? Aku baru tahu," ucap Alarik menyeringai.
"Kita sepupu dong," jawab Gionino tersenyum ramah.
Alarik tersenyum, pemuda itu tidak mengira tanpa sengaja bisa membuka sebuah rahasia besar Om nya.
Kaysa semakin heran dengan situasi ini, tapi karena gadis itu sedang marah jadi tidak mau berbicara pada Alarik.
"Mah, aku perkenalkan. Dia adalah Alarik Mandala. Anak dari saudara aku yang sudah meninggal," ucap Faisal mencoba bersikap tenang di depan istrinya.
"Alarik, silahkan masuk dulu. Selama bertahun-tahun Tante baru bertemu denganmu," kata Mama Gio tersenyum ramah.
"Dari kecil Alarik memang sekolah di luar negeri, setelah besar dia baru pulang dan mengambil alih perusahaan Mandala," sela Faisal menjelaskan.
Alarik tersenyum geli, pemuda itu tahu jika Omnya sedang panik. Seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
"Tidak kusangka sekarang aku menjadi saudaranya Kak Al juga," ucap Gio.
"Iya, dan sebentar lagi memanggil Kaysa dengan sebutan Kakak ipar," jawab Alarik santai.
Kaysa terkejut, begitu juga dengan Gio.
"Alarik, bolehkah Om minta waktu sebentar? Ada utusan pekerjaan yang mau om bicarakan penting," punya Faisal gelisah.
__ADS_1
Alarik menahan tawa, sebab pemuda itu tahu apa yang akan dibicarakan Omnya. Meskipun Alarik tidak punya niatan untuk ikut campur tapi kali ini Alarik sengaja mengerjai agar Om nya itu kedepannya tidak bertindak liar.
"Maaf Om, hari ini Alarik terburu-buru. Sebaiknya besok saja saat di kantor," jawab Alarik.
"Ayo Kaysa, kita pulang sekarang," ajak Alarik beralih pada kekasihnya yang cemberut.
Setelah berpamitan pada keluarga Gio, Kaysa mengikuti Alarik masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan Kaysa hanya diam saja, Alarik juga diam karena berpikir bagaimana untuk membujuk kekasihnya itu.
" Kenapa tidak meminta maaf? Apa tidak merasa kalau punya salah padaku?" batin Kaysa kesal.
Alarik melirik sebentar ke bibir Kaysa yang monyong itu. Sangat menggemaskan, Alarik rasanya ingin menggigitnya.
"Di hadapan gadis labil ini imanku sangat lemah. Aku harus segera bertindak, lagi pula Kaysa setelah lulus SMA sudah berumur 19 tahun," bisik Alarik dalam pada diri sendiri.
Alarik mengajak Kaysa ke pantai, meskipun cuaca mulai panas tapi sangat sejuk karena banyak pepohonan dan angin yang bersemilir.
Kaysa masih merenggut, walaupun dalam hatinya ingin berteriak senang tapi gadis itu terlalu gengsi untuk menunjukkannya.
"Kaysa, di sini ada penjual ice cream enak loh," bujuk Alarik.
"Nggak minat," jawab Kaysa kesal.
"Memangnya aku anak kecil? Yang bisa di bujuk dengan begituan," batin Kaysa semakin kesal.
Alarik menggandeng Kaysa dan berteduh di bawah pohon.
Kemudian mereka duduk di sebuah tikar plastik yang baru di beli Alarik.
Alarik menatap lekat ke wajah Kaysa, jantungnya mulai berdegup kencang melihat kecantikan Kaysa.
Ibarat buah, Kaysa seperti buah yang sudah matang dan siap di panen. Sangat menggiurkan, hanya memandang saja rasanya sudah terlihat begitu enak.
Sebenarnya diam-diam Kaysa juga terpesona dengan Ketampanan Alarik, kalau saja gadis itu tidak sedang marah pasti Kauaa ingin segera berhambur dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Kaysa. Aku mencintaimu. Antara aku dan Orlin hanya sebatas sahabat saja. Seperti kamu dan Darren," ucap Alarik lembut.
Kaysa memalingkan wajahnya pura-pura tidak mendengar, gadis itu lebih tertarik melihat lautan yang luas dan indah itu.
Alarik menahan napas, rasanya sesak sekali jika dirinya diabaikan seperti itu oleh kekasihnya. Karena biasanya Kaysa bersikap manja dan ceria.
"Kaysa, setelah lulus SMA kita menikah ya?" bisik Alarik mesra tepat di belakang telinga Kaysa.
Gandis itu kaget dan segera menoleh, tapi tidak mengira jika wajah Alarik ada di belakangnya.
Tanpa sengaja bibir Kaysa bertabrakan dengan bibir Alarik.
Dengan senyuman hangat Alarik membalas ciuman kekasihnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak!" kata Kaysa sambil mendorong tubuh Alarik.
"Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" tanya Alarik heran.
"Bukan begitu, tapi bukannya Kak Al mau menikahi Kak Orlin? Mana mau aku dijadikan istri kedua," sergah Kaysa marah.
Alarik tertawa, tapi kemudian memeluk tubuh kekasihnya dengan erat.
"Apa pernah bibir Kak Al berkata ingin menikahi Orlin? Bukannya aku sudah bilang pada Ayah dan Bunda kalau aku mencintaimu. Itu berarti aku hanya ingin menikahimu," bujuk Alarik sambil membelai kepala Kaysa.
Kaysa merasa nyaman dalam dekapan Alarik, hatinya yang kesal mulai luntur.
Alarik diam-diam tersenyum, karena untuk meluluhkan hati Kaysa hanya bisa dengan kelembutan. Sebab jika menggunakan kemarahan justru Kaysa bisa lebih marah lagi.
"Tapi apa Ayah dan Bunda mengizinkan? Aku juga masih ingin kuliah dulu," kata Kaysa ragu.
Kaysa memang sangat mencintai Alarik, tapi jika untuk menikah muda hatinya belum siap. Gadis itu sadar masih belum pantas menjadi istri yang baik bahkan ibu yang baik. Karena jiwa Kaysa masih ingin bebas.
Sedangkan Alarik hanya berniat untuk mengikat Kaysa agar tidak terlepas. Juga supaya mereka hidup bersama tanpa berpisah lagi.
"Walaupun kita menikah tapi kamu masih bisa kuliah, bermain dan melakukan apapun juga," bujuk Alarik.
"Tapi aku belum bisa menjadi istri yang baik seperti Kak Orlin yang pandai memasak," ucap Kaysa ragu.
"Aku ingin menikahimu agar kita bisa hidup bersama, bukan untuk menjadikanmu sebagai pembantuku. Kaysa tidak perlu cemas. Nanti Kak Al akan membeli rumah besar, di sana juga banyak pelayan. Kamu bisa melakukan semaumu tanpa memikirkan apapun," bujuk Alarik.
"Tapi Kaysa belum siap untuk melakukan itu..." ujar Kaysa malu-malu.
"Itu apa..." goda Alarik.
Kaysa menunduk menyembunyikan wajah merahnya.
Entah kenapa Alarik merasa sangat senang melihat Kaysa yang biasanya percaya diri menjadi malu seperti itu.
"Kalau kita menikah nanti kamu bisa mencium Kak Al setiap hari," goda Alarik lagi.
Kaysa terbelalak dan memukul pundak Kaysa lumayan keras.
**Terima kasih sudah mendukung Author selama ini.
Saat ini memang fokus untuk kisah Kaysa dan Alarik dulu. Sedangkan Untuk Syadev dan Anggun kisah mereka di mulai setelah kuliah, ditunggu ya? Nanti tidak kalah menarik loh
Jangan lupa like dan vote yaa🤗**
__ADS_1