
Pertama kali yang Nayla cari setelah bangun tidur adalah ponselnya.
Setelah membukanya dia merasa curiga dengan pesan dari nomor yang tidak dikenal,
"Aneh, tanpa memberi tahu siapa namanya tapi langsung mengajak ketemuan. Apalagi dia mau memberi kabar tentang mas Iyas. Aku malah curiga dia seorang penipu yang mau menculikku dan minta tebusan pada kedua orang tuaku. Jaman sekarang penjahat lebih licik, mereka selalu menelusuri korbannya supaya mudah terpancing," batin Nayla.
Nayla tidak pempedulikan pesan tersebut, dia segera ke kamar mandi dan melaksanakan sholat subuh. Namun gerakannya tidak seperti orang umum yang sehat, dia sholat sambil duduk di kursi karena dia masih belum bisa berdiri.
Sebelum kecelakaan Nayla memang berniat berubah, akan tetapi saat itu alasannya karena ingin mendapatkan simpati dari Iyas.
Sekarang setelah dia mengalami koma dan nyawanya sudah diambang pintu kematian, Nayla tulus berniat taubat karena Alloh semata.
Dia takut jika sewaktu-waktu Alloh mencabut nyawanya, sedangkan dia masih penuh dengan kubangan dosa.
Nayla masih bisa mengingat, ketika dia terbaring dirumah sakit.
Kupingnya masih bisa mendengar rintihan tangisan kedua orang tuanya, namun tubuhnya tak mampu digerakkan, matanya juga tidak bisa di buka, bahkan mulutnya terkunci.
Nayla merasa ketakutan dan terjebak dalam kegelapan. Dia sendiri tidak tahu ada dimana saat itu.
Diantara hidup dan mati Nayla hanya bisa berdo'a dalam hati,
"Ya Alloh, berilah hamba kesempatan untuk bertaubat, supaya hamba bisa menghadap kepada engkau dalam keadaan beriman,"
Mungkin karena Nayla bersungguh-sungguh untuk bertaubat, sehingga do'a nya dikabulkan.
Nayla saat itu merasa ada hawa sejuk yang merasuki tubuhnya, perlahan dia bisa melihat cahaya yang menyilaukan mata, dan jemarinya mulai bisa digerakkan.
Setiap selesai Sholat Nayla selalu menangis karena bersyukur, mulai saat ini dia ingin menggunakan waktunya sebaik mungkin untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Alloh.
Selesai merapikan mukenanya, Nayla segera keluar dari kamar. Karena setiap pagi dia dianjurkan dokternya supaya latihan berjalan dengan pembimbing kusus.
Sedangkan Jesika merasa kesal, karena sudah hampir 3 jam dia menelpon Nayla namun tidak diangkat juga.
__ADS_1
"Ini orang ngeselin juga, kenapa dia tidak merespon saat aku bilang tentang Iyas, apa dia sudah move on dan mulai pendekatan dengan Rendra? tidak bisa dibiarkan!" umpat Jesika dalam hati.
Dia menjadi gelisah jika memang apa yang ada dipikirannya itu kenyataan, dia teringat saat Rendra berduaan dengan Nayla di taman.
Jesika mengendalikan dirinya, kemudian dia mengambil ponselnya, dia berniat ingin meneror gadis tersebut.
Setelah dia berhasil mengirimkan pesan suara, dia tersenyum dengan puas. Dia yakin jika Nayla mentalnya akan hancur.
Namun tawa Jesika tidak berlangsung lama, karena suaminya tiba-tiba sudah di belakangnya.
"Katanya mau kembali siang?" tanya Jesika setengah terkejut.
"Aku sengaja pura-pura izin keluar karena aku ingin tahu apa yang sedang kamu rencanakan," sindir suami Jesika.
"Apa maksud kamu?"Jesika berakting seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Cukup sandiwaranya! apa aku kurang baik selama ini padamu? pada keluargamu? aku memang menyayangimu, tetapi aku tidak akan membiarkan keluargaku hancur gara-gara kebodohanmu. Apa kamu kira bisa bermain-main dengan Syauqi Malik? apa kamu belum puas jika dia belum mengubah seluruh keluargamu menjadi abu? aku peringatkan! jika kamu bertingkah lagi sebaiknya kita bercerai, dan aku mau memutuskan hubungan bisnis dengan keluargamu. Karena aku tidak mau menjadi gembel, menanggung akibat dari kebodohanmu. Dan silahkan kamu mengejar-ngejar Rendra yang bahkan tak Sudi untuk melihatmu!" bentak Suaminya, kemudian dia merebut ponsel Jesika dan membantingnya sampai hancur.
Jesika seperti dibom nuklir, tubuhnya seketika rubuh. Dia sangat jelas dengan perkataan suaminya, dia menangis dan memeluk kaki suaminya,
Kali ini Jesika benar-benar menyesal, apa yang dikatakan suaminya memang kenyataan. Dia tidak ingin hancur untuk yang kedua kali, dia juga merasa lelah mengejar bayangan semu.
"Berdirilah! aku beri kamu kesempatan satu kali lagi. Seandainya kamu masih belum berubah, aku tidak keberatan bila kehilangan kamu. Di dunia ini wanita bukan hanya dirimu, dan aku lebih mementingkan kesejahteraan keluargaku, karena kedua orang tuaku sudah bersusah payah membangun perusahaan sampai bisa seperti ini," ucap suami Jesika tegas, kemudian dia keluar dari hotel dan meninggalkan istrinya supaya bisa merenungi kesalahannya.
Nayla yang selesai latihan berjalan langsung duduk dan menikmati buah-buahan yang sudah disiapkan Mamanya.
"Bagaimana kakimu, Nayla? kata pak Latief perhatian, dari jam 5 pagi dia ikut menyemangati putrinya.
"Sepertinya sudah mulai mendingan, semoga segera bisa berjalan lancar," jawab Nayla tersenyum ceria.
Kemudian Mamanya ikut bergabung, dia menyerahkan ponsel milik Nayla,
"Sayang, dari tadi ponsel kamu berbunyi terus, tapi Mama diamkan saja takut mengganggu latihan kamu."
__ADS_1
Nayla menerima dengan senang hati. Dia tersentak karena ada puluhan panggilan dari nomor yang tak dikenal itu, kemudian dia membuka pesan suara yang masuk, dia sengaja membesarkan volumenya supaya bisa mendengar dengan jelas,
Aku merasa kasihan dengan nasib dua pecundang.
Iyas mengorbankan nyawanya dan merelakan kedua matanya supaya orang yang dicintainya bisa melihat lagi.
Sekarang Zhia hidup bahagia dengan Syauqi Malik yang bergelimang harta.
Sedangkan kamu hanya menjadi wanita cacat dan mandul.
Apa sekarang kamu merasa menyesal? telah berlagak menjadi pahlawan untuk temanmu yang tidak memikirkan kamu sama sekali.
Nayla dan kedua orang tuanya bisa mendengar dengan jelas. Mereka sangat syok, terlebih lagi Nayla yang jiwanya terguncang.
Dengan Tertatih-tatih Nayla kembali ke kamarnya, dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan kedua orang tuanya. Nayla mengunci dirinya sendiri didalam kamar.
Tadinya niat Jesika untuk menabur kebencian antara Nayla pada Zhia, dia juga ingin Nayla merasa tidak pantas untuk lelaki lain termasuk Rendra.
Namun Nayla sama sekali tidak membenci Zhia, dia tahu bagaimana sifat temannya yang sangat halus dan lugu.
Yang membuat Nayla bersedih karena kematian Iyas, dia selama ini mengira jika orang yang dicintainya masih hidup.
Sampai siang hari Nayla masih mengunci diri dikamar, Kedua orang tuanya sampai bingung karena dari tadi pagi putri mereka belum makan dan belum minum obat.
Kemudian terdengar bunyi ponsel milik pak Latief, yang ternyata panggialan dari Rendra.
"Kenapa Anda belum hadir? sebentar lagi rapat penting," kata Rendra dari seberang.
"Maaf saya tidak bisa datang, Nayla sejak pagi mengunci diri dikamar," jawab pak Latief cemas.
Kemudian Rendra memaksa pak Latief untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, setelah diberi tahu, Rendra ikutan merasa khawatir. Dia segera berlari meninggalkan kantor,
"*Aku sadar jika sebentar lagi rapat penting, tetapi hati dan pikiranku merasa khawatir dan tidak tenang sebelum aku melihat keadaan Nayla. Kenapa aku jadi peduli padanya? "
__ADS_1
* **Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏***