CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 53


__ADS_3

Semalaman Anggun susah tidur, dia tidak bisa berhenti tersenyum karena teringat wajah Syadev yang tampan.


Anggun benar-benar bahagia, siapa sangka jika orang yang selama ini dikagumi kini menjadi suaminya.


Tiba-tiba Anggun memerah wajahnya, dia membayangkan bagaimana rumah tangga mereka nanti di Amerika. Karena keduanya masih sama-sama muda.


Pagi harinya Anggun diantar Zahra berbelanja di Mall. Meskipun dia sudah sah menjadi istrinya Syadev tapi Anggun masih merasa sungkan untuk menghabiskan banyak uang.


Zahra tahu jika Anggun takut, jadi kekasih Darren itu yang membantu memilihkan karena sesama perempuan pasti kebutuhannya tidak jauh berbeda.


Zahra mengambil baju-baju musim yang modern, jilbab, tak lupa daleman juga.


“Apa tidak kebanyakan?” tanya Anggun cemas.


“Jangan kuatir, uangnya masih ada sisa banyak,” jawab Zahra.


“Kamu tidak ambil gamis sekalian?” saran Anggun.


“Tidak usah, kemarin aku baru saja dibelikan oleh Darren,” jawab Zahra tersenyum malu.


“Wah, senangnya!” ucap Anggun ikut berbahagia.


“Iya, Darren selalu baik padaku. Oh iya, kamu kan sekarang sudah menikah, jadi harus mulai belajar dandan agar suami kamu senang,” tutur Zahra tersenyum manis.


Anggun merona merah, dia malu jika temannya itu menyebut tentang suami istri.


“Aku tidak bisa,” jawab Anggun.


“Nanti aku ajari, tapi aku bisanya yang natural saja. Kalau seperti Kaysa mana bisa aku,” gurau Zahra.


Anggun ikut tertawa, sebab kakak iparnya memang memiliki otak dan tangan yang canggih.


Setelah membeli semua yang dibutuhkan, mereka berdua menuju tempat makan. Mereka merasa lelah dan lapar karena hampir dua jam muter-muter di sana.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Zahra.


“Sama sepertimu saja,” jawab Anggun.


Zahra segera memesan dua makanan dan minuman yang sama. Setelah pesanan mereka datang, tiba-tiba ada Teguh yang entah berasal dari mana tapi kini sudah duduk di hadapan dua gadis itu.


“Anggun, kita berjumpa lagi,” kata Teguh.


Anggun terkejut, dia sampai tersedak saat meminum jus jeruk.


“Ngapain kamu ke sini?” ucap Zahra ketus. Sepupu Syadev itu tidak suka dengan kehadiran Teguh.


“Aku ingin bicara sebentar dengan Anggun,” jawab Teguh memohon.


“Tidak ada waktu, kami mau makan dulu,” ujar Zahra mewakili.


“Silahkan kalian makan terlebih dahulu! Aku akan sabar menunggu,” jawab Teguh tak ingin menyerah.


Anggun hanya bisa menundukkan kepalanya sambil makan, dia merasa tidak enak untuk mengusir, karena bagaimanapun juga dulu mereka adalah teman baik.


Zahra sendiri merasa resah, gadis itu takut jika nanti Teguh berbuat macam-macam. Saat makan diam-diam Zahra mengirim pesan pada Syadev.


Anggun dan Zahra tidak enak juga saat makan ditungguin seperti itu, Sedangkan Teguh masih saja menunggu sambil memainkan ponselnya.


Setelah habis, Zahra segera memanggil pelayan.


“Maaf, Mbak. Pesanan Anda sudah dibayar sama Mas ini,” kata pelayan itu ramah.


“Oh, terima kasih,” jawab Zahra kaget.


“Anggun, ayo kita harus segera pergi. Setelah ini kita akan mengurus paspor kamu,” kata Zahra sengaja membuat kesan sibuk dan tidak punya waktu untuk berbicara.


“Anggun, kamu mau pergi kemana?” tanya Teguh.


“Aku akan sekolah ke luar negeri, jadi aku tidak punya waktu lagi. Sekarang aku harus membuat paspor dulu,” jawab Anggun berlalu pergi.

__ADS_1


“Kenapa jauh-jauh? Apa kamu yakin bisa bertahan hidup di sana sendirian? Sebaiknya kamu di sini saja, setidaknya ada aku yang akan menjagamu,” bujuk Teguh.


“Kamu jangan khawatir! Karena sudah ada seseorang yang akan menjaga Anggun dengan baik,” sela Zahra membantu Anggun.


Namun Teguh tidak menghiraukan temannya Zahra, pemuda itu masih gigih untuk mendekati Anggun.


“Anggun, aku tahu apa yang sudah aku lakukan kemarin itu salah. Namun semuanya aku lakukan karena aku cinta padamu. Jika memang saat ini kamu belum siap menikah, baiklah, aku akan menunggu kamu sampai siap. Dan aku akan menjamin hidup kamu sampai kamu sukses,” pinta Teguh dengan wajah memelas.


Anggun merasa kasihan juga, sebab dulu Teguh adalah seseorang yang selalu menemani dan menjaga dia. Tapi hubungan mereka kini semakin renggang karena cinta Teguh yang terkesan memaksakan.


Zahra yang berada di sisi Anggun mencoba menelepon Syadev untuk segera datang, karena Teguh tetap masih ngotot meskipun sudah diberitahu.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Syadev tengah bercengkerama bersama keluarganya, apalagi sebentar lagi dia akan ke Amerika. Sehingga Syadev ingin menghabiskan waktu yang berharga ini.


“Kak Al, apa kamu tidak menyesal menikahi Kaysa? Bukan hanya tidak pandai memasak tapi juga boros,” ujar Syadev mulai menargetkan saudara kembarnya.


“Aku mencari istri, Syadev. Bukan pembantu. Masalah boros tidak masalah, karena aku bekerja keras juga untuk membahagiakan istriku,” jawab Alarik, pemuda itu tahu jika inilah jawaban yang diinginkan Kaysa.


Semua orang yang mendengar hanya senyum-senyum saja, alangkah bahagianya Kaysa memiliki suami yang pengertian seperti ini.


“Duh, pasti nanti yang jadi istrinya Syadev akan menderita dong. Di suruh melakukan pekerjaan layaknya pembantu,” sela Kaysa yang masih belum puas.


“Ini nih anak yang tidak tahu kodrat perempuan, apa kamu tidak melihat Bunda? Dia perempuan sempurna, tak hanya cantik tapi juga lembut dan bisa segalanya,” balas Syadev.


Semenjak Syadev tinggal di Amerika, dia baru menyadari betapa mengasyikkannya menggoda Kaysa seperti ini. Saat jauh dari Kaysa hidupnya sangat membosankan.


“Ini sudah bukan jamannya Ibu Kartini!” kata Kaysa membela diri.


Tiba-tiba Alifya datang, perempuan santun itu memberikan ponsel milik Syadev yang tertinggal di meja makan.


“Dari tadi bunyi terus,” ucap Alifya.


Nama Zahra yang tertera di ponselnya, Syadev segera pergi ke tempat sunyi untuk menerima panggilan tersebut.


[“Bukan masalah siap atau tidak siap, tapi hati ini tidak bisa dipaksakan. Maaf, Kak Teguh. Cintaku hanya untuk Syadev.”]


Syadev segera memutus sambungan telepon, saat di buka ternyata sejak tadi Zahra mengirim pesan padanya.


“Sial, kenapa tadi ponsel aku tertinggal,” umpat Stade menyesali diri sendiri.


Syadev segera menemui orang tuanya untuk meminta izin ke luar.


“Ayah, Bunda. Aku mau izin keluar sebentar ya?” ucap Syadev sopan.


“Iya, tapi cuma sebentar,” jawab Syauqi.


“Dan tidak boleh bawa mobil sendiri,” timpal Zhia yang langsung memanggil sopirnya untuk mengantar Syadev.


Semenjak kecelakaan itu Zhia memang trauma, Ibu beranak tiga itu tidak tenang jika anak-anaknya menyetir mobil sendiri.


Karena waktu yang mepet, Syadev mengiyakan saja dari pada membuat Bundanya gelisah. Dia tahu jika Bundanya itu sedang sedih.


“Assalamu’alaikum,” pamit Syadev.


“Wa’alaikum salam,” jawab semuanya.


Syadev segera berlalu pergi dan masuk ke mobil Ayahnya.


“Pak, yang cepat ya! Kita menuju Mall terdekat,” perintah Syadev.


Sang sopir langsung menancap gas sesuai perintah Tuan Mudanya.


Sesampainya di sana Syadev menyuruh Pak Sopir menunggu di mobil saja, sebab dia tidak ingin ketahuan keluarganya kalau menemui Anggun.


Dari pesan Zahra, Syadev segera menuju tempat makan di lantai tiga.


Hatinya langsung mendidih melihat Teguh sedang mencengkeram lengan istrinya. Tanpa ba bi bu Syadev langsung melayangkan tinjunya ke wajah Teguh. Seketika tubuh Teguh ambruk dan mengenai meja sampai bergeser, bahkan piring-piringnya milik pelanggan lain sampai pecah dan berserakan di lantai. Kejadian itu cukup membuat orang-orang memandang pusat kegemparan.

__ADS_1


Sang Manajer berteriak marah-marah.


“Apa-apaan ini! Kalian sudah membuat keributan di sini, cepat ganti semua kerusakan ini. Kalau tidak saya akan laporkan kalian ke polisi,” terika Manajer penuh amarah.


“Akan aku ganti setiap kerusakan di tempat ini, tapi sebelumnya aku harus memberi pelajaran pada seseorang yang sudah mengganggu istriku,” jawab Syadev menatap dingin.


Sang Manajer menciut nyalinya melihat tatapan anak muda di depannya, dari ucapannya bisa di tebak jika pemuda itu bukanlah orang sembarangan.


Teguh berdiri dan mengelus wajah lebamnya, pemuda itu melihat sekeliling. Ternyata Syadev datang sendirian tanpa pengawal, ini adalah saat yang tepat untuk balas dendam pada Syadev yang telah mencuri calon istrinya itu.


“Kalau kamu saat itu tidak mengacau, pasti sekarang Anggun sudah menjadi istriku,” bentak Teguh menyerang Syadev.


Anggun menjerit ketakutan, tapi Zahra memeluk Anggun agar tenang. Sebab Zahra yakin jika sepupunya bisa mengalahkan Teguh.


Syadev dan Teguh mulai berkelahi, mereka membuat suasana menjadi gaduh. Namun dari awal perkelahian sudah bisa ditebak jika Syadev lebih unggul, sebab dia sudah terlatih sejak kecil.


Teguh mendapat pukulan yang lumayan banyak dari Syadev, sedangkan Syadev sama sekali tidak terkena.


Syadev teringat kejadian dulu saat Teguh memeluk Anggun sebelum dia kecelakaan, kemudian Teguh yang mengancam Anggun untuk menikah dan juga kejadian tadi saat Teguh mencengkeram tangan istrinya. Syadev langsung menghajar lagi Pemuda di depannya tanpa ampun.


Anggun tidak tega juga melihat Teguh yang sudah tidak berdaya, dengan cepat gadis itu menarik lengan Syadev dan memeluknya erat.


“Sudah, jangan teruskan lagi! Kak Teguh sudah tidak berdaya,” ucap Anggun.


“Jadi kamu membelanya?” jawab Syadev kesal.


“Bukan begitu,” ucap Anggun langsung melepaskan pelukannya dari lengan Syadev.


Security yang di panggil Manajer baru saja datang.


“Kenapa kalian lama sekali?” teriak Sang Manajer melampiaskan amarah.


“Maaf Pak, Saya baru saja membeli makan siang.”


“Dan saya tadi ke toilet terlebih dahulu.”


“Jangan memarahi mereka, aku akan mengganti semua kerugian,” kata Syadev memberikan uang tunai yang lebih dari cukup untuk mengganti perabotan yang rusak.


“Lain kali kalau mau berkelahi jangan di tempat umum seperti ini!” jawab Sang Manajer pura-pura marah.


Syadev segera pergi berlalu meninggalkan Anggun dan Zahra tanpa sepatah kata, dia marah karena tadi merasa jika Anggun membela Teguh.


“Kejarlah! Aku akan membawakan belanjaannya,” kata Zahra.


Anggun melangkah dengan ragu, tapi Zahra langsung mendorong tubuhnya untuk segera pergi menemui Syadev.


Anggun akhirnya berjalan cepat menghampiri Syadev, meskipun saat ini dia adalah istrinya, tapi Anggun merasa Syadev sudah berubah dingin. Tidak seperti dulu yang meskipun kaku tapi terasa hangat.


“Syadev, maafkan aku,” ucap Anggun.


Syadev berhenti melangkah, ditatapnya wajah mata Anggun yang mulai memerah. Sebenarnya dirinya sangat ingin memeluk istrinya dengan erat, tapi egonya juga melarang untuk melakukan itu.


“Apa kamu masih mencintai Teguh?” tanya Syadev dingin.


“Tidak, bahkan aku tidak pernah mencintainya. Selama ini aku menyayanginya sebagai teman dan seorang kakak,” jawab Anggun gugup.


Syadev meleleh juga, ingin tersenyum bahagia tapi hatinya belum puas mengerjai istrinya.


“Lalu kenapa tadi kamu membela dia?” tanya Syadev lagi dengan nada ketus.


“Aku tidak membelanya, aku hanya takut jika nanti kamu mendapat masalah saja,” jawab Anggun gugup.


“Apa aku membuat dia ketakutan? Tangannya sampai gemetar,” batin Syadev menyesal juga.


“Sudahlah, lupakan saja! Besok aku akan berangkat ke Amerika duluan. Nanti malam aku akan menjemputmu makan malam di luar,” ucap Syadev dengan nada biasa.


Syadev bisa melihat wajah tegang Anggun yang berubah lega. Diam-diam Syadev tersenyum juga.


Sebenarnya Syadev tidak tega meninggalkan Anggun, tapi masih banyak hal yang harus dia lakukan. Dari menyiapkan rumah, mobil dan kebutuhan hidup lainnya untuk dia dan Anggun nanti. Syadev berharap tabungan dan sisa uang dari penjualan mobil bisa cukup.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author. kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2