CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Sang penggoda


__ADS_3

 


Dokter masuk keruangan dan memecah ketegangan hati yang menjalar. Zhia merasa bersyukur karena tak perlu menjawab lagi pertanyaan yang bisa membuat keduanya membuka luka yang bahkan belum kering.


 


Zhia pamit keluar dari kamar, di sana sudah ada Abah dan Umi yang mendengar percakapannya dengan Iyas. Mereka sudah menunggu jawaban dari pertanyaan yang tadi dilontarkan Iyas.


"Nak, benarkah yang tadi kalian bicarakan itu?Bukankah kalian berdua saling menyayangi sejak kecil? Kenapa kamu malah menerima lamaran orang lain?" tanya umi Iyas tak mengerti.


Sedangkan Abah Iyas juga merasa kecewa.


"Maafkan aku, Abah. Umi. Maksud hati ingin selalu bersama dengan Mas Iyas sampai maut memisahkan. Apalah daya Alloh sudah berkehendak lain, aku hanya bisa pasrah semoga hati Zhia dan Mas Iyas diberi kekuatan serta keikhlasan," jelas Zhia lembut, supaya kedua Orang tua Iyas bisa menerima keadaan.


Kedua Orang tua Iyas juga bisa melihat jika Zhia sesungguhnya hanya mencintai anaknya. Namun mereka tak bisa bertanya lebih lanjut alasan apa yang membuat Zhia meninggalkan anak mereka.


Dokter keluar dari kamar inap Iyas.


"Pak, Alhamdulillah putera anda Sudah mulai membaik kondisi jiwanya. Namun tubuhnya lemah masih butuh di infus, mungkin baru besok sore bisa diizinkan pulang. Dan jangan sampai telat makan lagi!" kata Dokter mengingatkan.


Semua orang merasa bahagia mendengar kabar ini.


"Alhamdulillah," ucap syukur mereka bersamaan.


Kedua Orang tua Iyas langsung masuk ke kamar untuk menemui putera kesayangan mereka.


Zhia melirik di jam dinding Rumah sakit sudah menunjukkan pukul 8.30.


tiba -tiba muncul pesan dari Syauqi.


Mr.jutek


Aku sudah di parkiran Rumah sakit sayang, cepatlah keluar!


Zhia meringis melihat pesan dari calon suaminya, tanda seru berarti itu sebuah keharusan. Zhia bisa membayangkan bagaimana ekspresi Syauqi yang cuek dan dingin.


Zhia mengajak Nayla yang sedari tadi hanya menyimak.


"Ayo kita masuk, sekalian aku mau pamit pulang," ucap Zhia.


Umi sedang memeluk Iyas sambil menangis bahagia, karena akhirnya Iyas sudah kembali seperti semula.

__ADS_1


"Mas Iyas, aku pamit pulang ya? Mbak Tia tadi kirim pesan mau ke sini sama Mas Rian, dan aku disuruh gantian mengawasi Ruko," pamit Zhia lembut.


Iyas mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan ekspresi tak rela. Namun Iyas juga merasa sudah tidak memiliki hak lagi untuk menahan Zhia disini.


"Aku pamit dulu, Abah. Umi. Nayla, aku nitip Mas Iyas padamu ya?" pamit Zhia sembari keluar dari Ruangan.


Iyas melihat kepergian Zhia, dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.


"Istighfar, Nak. Aanggaplah ini semua adalah ujian dari Alloh. Kamu sebagai lelaki harus kuat.Semoga kelak bisa mendapatkan yang lebih baik dari Zhia," nasihat Abahnya supaya Iyas bisa tegar.


Iyas hanya mengangguk pelan, karena dia selalu menghormati Abahnya.


Aku tak ingin yang lebih baik dari Zhia Abah, karena Aku hanya mencintai dia seorang. Hatiku sudah tertutup untuk siapapun juga, sampai matipun cinta ini akan selalu tertanam di relung jiwaku.


Zhia melihat mobil Syauqi dari kejauhan, dan senyumnya yang menawan sudah menghiasi bibir pemuda menyebalkan itu.


"Silahkan masuk istriku sayang," goda Syauqi membuka pintu mobil sambil mengedipkan sebelah matanya.


Zhia cuek memasuki mobil, setelah Syauqi menutup pintunya, calon suami Zhia itu menyusul.


"Kenapa Mas Syauqi ke sini lagi?" tanya Zhia.


"Ya menjemput Istriku tersayang. Aku ini kan suami perhatian," jawab Syauqi santai.


"Nindy nggak jadi kesini, dia pergi keluar kota bersama Kak elly," jawab Syauqi lembut.


Syauqi mengambil tas plastik besar di kursi belakang, dan memberikannya pada Zhia.


"Ini apa?" tanya Zhia.


"Buka dan lihatlah!" perintah Syauqi lembut.


Zhia membuka tas itu, dia tercengang dengan isinya.... Dasar lelaki mesum.


"Kenapa? Kamu terharu ya punya suami yang sangat pengertian?" celetuk Syauqi dengan segala kepercayaan dirinya.


"Terimakasih, akan tetapi bukannya terharu justru aku merasa malu," sindir Zhia.


Syauqi tertawa mengingat dirinya membelikan Zhia Susu Ibu hamil dua dus besar rasa coklat dan stroberry. Sepaket skincare kusus ibu hamil. Baju muslim kusus Ibu hamil enam potong dan selusin BH ukuran 40.


"Apa Mas Syauqi tidak merasa malu membeli seperti ini?" tanya Zhia mukanya bersemu merah, dia yang membayangkan saja sudah merasa malu sendiri.

__ADS_1


"Tidak, aku malah merasa bangga telah menjadi suami idaman semua wanita," balas Syauqi tersenyum puas.


"Apa - apaan ini,kenapa ada manusia yang tidak memiliki urat malu seperti dia," batin Zhia.


"Bagaimana kalau kita jalan - jalan sebentar supaya anak kita merasa senang?" kata Syauqi meminta pendapat.


Zhia bergidik merinding mendengar perkataan Syauqi, karena dia tidak mau lagi berduaan dengan Syauqi kecuali didalam mobil saja. Syauqi tipe cowok yang bisa melakukan apapun sesuai keinginannya. Zhia tak ingin tragedi buruk terulang kembali.


"Maaf, Mas Syauqi. Aku harus pulang sekarang. Karena Mbak Tia dan Mas Rian mau menjenguk Mas Iyas di Rumah sakit," tolak Zhia halus supaya Tuan emosional ini tidak tersinggung.


"Kenapa pulang? Masih ada Ibuk dan Kedua pelayan kan?" sela Syauqi.


"Iya, tapi kedua pekerjaku hanya bertugas sebagai pelayan. Masa iya aku membiarkan Ibu memasak," terang Zhia meminta pengertian.


"Di samping Rukomu kan masih ada halaman yang cukup luas. Bagaimana kalau Rukonya diperbesar. Nanti akan kucarikan tiga koki handal dan lima lagi pelayan. Jadi keluargamu tidak perlu lagi repot - repot bekerja," tawar Syauqi serius.


"Terimakasih atas niat baiknya Mas Syauqi. Tapi biarlah seperti itu apa adanya. Lagi pula ini bukan hanya tentang uang saja, tapi bekerja juga bisa membuat mereka bersemangat menjalani hari - hari," sergah Zhia.


"Tapi setelah menikah kamu tak boleh bekerja lagi, hanya khusus mengurus aku dan anak kita!" pinta Syauqi tegas.


"Aku bisa jenuh nanti, biarlah sesekali aku membantu di Ruko," jawab Zhia pasang muka masam.


"Jika memang ingin bekerja baiklah, tapi hanya diizinkan bekerja di ranjang denganku saja. Nanti berapapun gaji yang kamu minta aku turuti" kelakar Syauqi dengan senyuman nakal. Pikiran pemuda itu sudah merambat kemana - mana.


Zhia mendengus kesal, rasanya ingin mengucir bibir Syauqi supaya tak bisa membuka mulutnya.


Syauqi justru tersenyum puas.


"Apa yang kamu pikirkan Zhia? Apa kamu merindukan sesuatu yang paling terasa nikmat di dunia ini?" canda Syauqi yang membuat Zhia semakin kesal.


"Aku hanya sedang berpikir bagaimana caranya bisa membungkam mulutmu," sindir Zhia jika dia sudah tak tahan dengan ocehan Syauqi.


Seketika Syauqi menepikan mobilnya dan berhenti dijalanan sepi.


"Aku tau bagaimana caranya, cium mesra bibirku," goda Syauqi dengan pesonanya.


"Tidak! jauh-jauh dariku" teriak Zhia melempar semua isi barang yang tadi dibelikan Syauqi.


Syauqi tertawa melihat tingkah Zhia yang sangat menggemaskan.


"Hanya saat bersamamulah aku bisa bahagia dan menjadi diri sendiri.Tak akan pernah aku lepaskan dirimu walau apapun yang terjadi. Karena kamu hanya milikku, Zhia."

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian semuda sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2