CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Mama Papanya Karren


__ADS_3

Selesai berbelanja semua kebutuhan, Kaysa, Syadev dan Darren bermain di wahana permainan. Sampai sore mereka bertiga tidak mau di ajak pulang.


Dengan sabar orang tua mereka menunggu sambil duduk bersantai.


"Apa kabar, Bro?" sapa Dony yang baru datang.


"Baik, kenapa kamu lesu begitu?" tanya Syauqi.


"Rasanya rambutku mau botak karena memikirkan pekerjaan yang menumpuk," keluh Dony.


"Santai, besok aku mulai bekerja," ucap Syauqi.


"Syukurlah kalau begitu," jawab Dony yang tidak bisa menutupi kegembiraannya.


Sudah hampir Maghrib, Syauqi segera menyusul anak-anaknya.


"Mainnya besok lagi, sekarang sudah mau adzan Maghrib," ucap Syauqi.


"Iya, Ayah," jawab Kaysa dan Syadev patuh.


Belanjaan Syauqi sangat banyak, tapi istrinya sama sekali tidak diizinkan membawa bungkusan tersebut. Namun Syauqi membiarkan kedua anaknya untuk membawa belanjaan masing-masing.


"Apa berat, Kaysa? Sini aku bawakan," ucap Darren.


"Cie... anak Papa perhatian sama Tuan Putri cantik," goda Dony pada putranya.


Seketika raut wajah Dony memerah karena malu.


Zhia sampai tertawa, karena bisa-bisanya Dony mengerjai putranya sendiri.


"Darren suka sama Kaysa tuh," cetus Syadev.


Kedua orang tua mereka terkejut, kemudian tertawa.


"Dibanding sama kamu aku lebih suka dengan Darren," balas Kaysa.


Darren tersenyum grogi bercampur senang mendengar ucapan Kaysa barusan.


"Kalau Syadev sudah ada yang disukai belum?" tanya Dony giliran menggoda putra sahabatnya yang cool.


"Tidak tertarik, anak perempuan merepotkan saja," jawab Syadev seperti orang dewasa.


"Wah... wah, aku seperti pernah mendengar kata-kata itu," sindir Dony pada Syauqi.


"Masih kecil harus fokus belajar dulu," ucap Syauqi lembut.


"Om Syauqi, kalau aku sudah besar apa boleh menikahi Kaysa?" tanya Darren polos.


Syauqi melongo, tapi kemudian dia tahu jika anak-anak selalu bicara sembarangan.


"Boleh saja, kalau Kaysa mau," jawab Syauqi tersenyum santai.


"Darren mulai sekarang kamu jadi Papa ya? Aku jadi Mama, terus anak kita Karren," ucap Kaysa asal-asalan.


"Sangat serasi. Aku yakin wajah Karren mirip Mamanya," cetus Syadev.


Semua orang tua mereka tertawa sampai sakit perut.


"Kaysa, sekarang sudah malam, sebaiknya main ke rumah Darren besok saja ya?" bujuk Zhia lembut.


Kaysa diam tapi cemberut.


"Kaysa, wajahmu sudah jelek. Kalau seperti itu semakin jelek," ucap Syadev.


"Kita kan kembar, berarti kamu juga jelek," balas Kaysa.


"Sudah, jangan berantem lagi! Malu dilihat banyak orang," kata Syauqi.


"Apa setiap hari mereka seperti itu?" tanya Nindya penasaran.


"Setiap menit malahan," jawab Syauqi.


"Pasti seru ya? Rumah jadi tidak sepi," timpal Dony.


"Iya, makanya aku pengen nambah lagi," sahut Zhia.


"Apa kamu tidak pengen lagi?" tanya Syauqi pada Dony.


"Tenang, sampai rumah aku langsung mau buat anak," jawab Dony.


"Om Dony, memangnya cara membuat anak itu bagaimana? Aku juga mau," tanya Kaysa polos.


Syauqi langsung mendelik ke arah Dony karena berbicara sembarangan di depan anak-anak.


"Sayang, kalau anak kecil itu tidak bisa," ucap Nindya.


"Kenapa, Tante?" tanya Kaysa penasaran.


"Menunggu umur dua puluh tahun dulu," jawab Zhia ikut menerangkan.


"Oh, berarti sekarang aku tidak bisa membuat anak ya," ucap Kaysa kecewa.


Syauqi menepuk jidatnya sendiri, terkadang Daddy tampan itu juga sering kebingungan dengan pertanyaan Kaysa yang aneh-aneh.

__ADS_1


"Kaysa, kita kan sudah punya Karren," sela Darren.


"Oh, iya. Aku besok mau beli hadiah untuk Karren. Bolehkan, Ayah?" kata Kaysa manja.


"Boleh, Sayang. Tapi sekarang pulang dulu yuk?" ucap Syauqi lembut.


"Iya, ayah," jawab Kaysa patuh.


Akhirnya keluarga Syauqi dan keluarga Dony berpisah di parkiran.


"Ayah, kenapa kita tinggal di kantor?" tanya Kaysa yang duduk di kursi mobil belakang bersama saudara kembarnya.


"Karena Ayah harus bekerja, sambil menjaga Bunda," jawab Syauqi.


"Kantornya punya Ayah ya?" tanya Kaysa.


"Iya, Sayang," jawab Syauqi.


"Apa ada kamar seperti di kantor Ayah yang dekat dengan rumah kita?" tanya Zhia semakin penasaran.


"Kantor yang dekat dengan rumah itu hanyalah salah satu kantor cabang. Sekarang yang mau kita tuju adalah kantor pusat, jadi lebih besar. Kamarnya juga besar, nanti kamu pasti suka," jawab Syauqi dengan sabar.


"Ayah, apakah di sana ada kolam renangnya?" tanya Putri Syauqi Malik tiada henti, sampai yang mendengarnya ikut geleng-geleng kepala.


"Kaysa, kalau tidak bisa diam aku lakban mulut kamu," protes Syadev dengan nada datar.


"Ini mulut aku, jadi suka-suka aku dong," jawab Kaysa ketus.


"Tapi orang lain yang mendengarnya jadi gatal kupingnya," balas Syadev.


"Tutup saja kupingmu! Gampang kan?" ucap Kaysa lebih santai.


"Anak perempuan itu yang manis seperti Bunda, kalau kamu seperti ini terus nanti tidak akan ada yang mau menikah denganmu," sindir Syadev merasa kesal.


"Oh ya? Tadi kamu tidak dengar ya? Kalau Darren sudah besar mau menikahi aku?" tantang Kaysa.


"Itu karena Darren bodoh!" jawab Syadev.


Syauqi dan Zhia sudah lelah, mereka berdua hanya diam saja mendengarkan perkelahian kedua anak-anak mereka.


"Mas, lebih baik kita mampir di masjid saja! Takut waktunya habis," pinta Zhia.


"Iya, Sayang," jawab Syauqi.


"Ayo anak-anak, kita Sholat di Masjid Agung saja," ucap Zhia lembut.


"Iya, Bunda," jawab Si kembar patuh.


Syauqi mengambil peralatan sholat di bagasi. Dia langsung mengajak putranya sedangkan kaysa bersama Bundanya.


Di sana sudah mulai sepi orang, hanya ada beberapa satpam yang bertugas jaga malam.


"Wah... Tinggi sekali, Ayah," kata Kaysa merasa kagum.


"Iya, dan nanti kamar kita paling atas sendiri," jawab Syauqi.


Sesampainya di kantor pribadinya yang sangat besar, Syauqi segera menyuruh istrinya untuk beristirahat. Sedangkan dia sendiri merapikan makanan dan pakaian.


"Kalian jangan ribut ya! Biarkan Bunda kalian istirahat," perintah Syauqi.


"Iya, Ayah," jawab kedua anak kembar itu patuh.


Paginya Syauqi memesan makanan lewat online, dia tidak ingin istrinya masak atau melakukan apapun.


Setelah Syauqi mengantar kedua anaknya ke sekolah dia langsung mulai bekerja.


************************************


Zhia merasa sangat kagum dengan semangat suaminya yang seakan tidak pernah merasa lelah. Zhia semakin mencintai suaminya melebihi apapun juga.


"Sayang, kenapa kamu terus menatapku?" tanya Syauqi masih fokus dengan pekerjaannya.


"Kok Mas Syauqi bisa tahu?" tanya Zhia heran.


"Karena aku punya mata hati," jawab Syauqi.


"Aku sangat mencintaimu, Mas," kata Zhia serius.


Syauqi langsung menghentikan pekerjaannya dan mendekati istrinya yang duduk di sofa.


"Kenapa pagi-pagi kamu sudah menggodaku? Apakah kecewa semalam tidur tanpa pelukan dariku," goda Syauqi sambil mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, sampai hidung mancung mereka saling bersentuhan.


Zhia menahan napas, hatinya bergetar dan jantungnya berdetak kencang.


"Mas, kembalilah bekerja! Nanti pekerjaannya tidak selesai-selesai," kata Zhia gugup.


"Nanti malam aku bisa begadang," jawab Syauqi mesra.


Senyuman manis Syauqi membuat Zhia sampai terlena. Bahkan Zhia tidak bisa berkata apa-apa.


"Aku sudah memutuskan..." bisik Syauqi.


"Memutuskan apa?" tanya Zhia.

__ADS_1


"Mengganti jadwal kita," jawab Syauqi santai.


"Jadwal apa?" tanya Zhia penasaran.


"Karena malamnya kita tidur jadi satu dengan anak-anak, jadi jadwal bercinta kita di ganti siang saat mereka di sekolah," jawab Syauqi tersenyum nakal.


"Apa?" pekik Zhia.


Syauqi langsung menyerang istrinya yang belum siap.


Membuat Zhia kelabakan saat mendapat kenikmatan dari suaminya.


"Jangan di sini, Mas," rintih Zhia.


Syauqi langsung mengangkat tubuh istrinya ke ranjang kemudian menarik jilbab Zhia.


Melihat leher istrinya yang mulus Syauqi semakin tergoda.


"Hmm... tubuhmu harum sekali," bisik Syauqi mesra.


Zhia sendiri juga sudah tidak tahan karena terus dipermainkan, akhirnya dia mendorong suaminya sampai rubuh, dan Zhia gantian duduk di atasnya.


"Mas, kenapa kamu sangat sexi sekali," ucap Zhia merayu.


"Bukankah dari dulu?" goda Syauqi.


"Iya, Tapi semakin hari kamu semakin membuatku ingin..." bisik Zhia.


"Ingin apa?" tanya Syauqi lembut.


"Memakanmu..." rintih Zhia.


"Aku bersedia," bisik Syauqi sambil memainkan daerah sensitif istrinya.


*************************************


Karena tadi pagi waktunya tersita dua jam, pekerjaan Syauqi semakin menumpuk. Tapi dia tidak mengeluh, justru sepanjang hari bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum.


Syauqi melirik ke jam tangannya, dia segera menelpon Dony yang ada di kantor bawah.


"Don, jemput anak-anak!" perintah Syauqi.


"Sedang di jemput istriku," jawab Dony.


"Baiklah," kata Syauqi kemudian menutup telponnya.


**********************************


Kaysa dan Syadev mampir ke rumah Darren, di sana mereka sangat senang melihat kucing kecil yang sangat lucu.


"Darren, kamu harus merawat Karren dengan baik ya?" pesan Kaysa.


"Tentu saja," jawab Darren senang.


"Ayo makan siang dulu," ucap Nindya pada ketiga anak kecil itu.


"Ma, aku ikut ke kantor ya? Nanti pulangnya bareng Papa," pinta Darren.


"Iya, tapi tidak boleh nakal ya!" jawab Nindya.


Selesai makan Nindya segera mengantar ke tiga anak tersebut ke kantor.


Dony sudah menunggu di parkiran, karena dia tahu jika istrinya akan segera kembali ke butik.


"Hallo, Om Dony," sapa Kaysa manis.


"Hallo juga cantik," balas Dony sambil menggiring ketiga anak tersebut naik ke atas.


Sampai di kamar Kaysa dan Syadev segera berganti baju dan sholat Dzuhur bersama orang tua mereka.


"Ayah, tadi kita sudah makan. Sekarang kita mau mainan ya?" pinta Kaysa.


"Mainan kemana?" tanya Syauqi.


"Di bawah," jawab Kaysa.


"Iya, tapi tidak boleh nakal ya!" kata Syauqi melanjutkan pekerjaan lagi.


Syauqi membiarkan kedua anaknya untuk belajar menjadi anak yang berani, tapi diam-diam dia menelpon anak buah untuk melindungi mereka dari belakang.


"Ingat! Kalau mereka berdua membuat ulah biarkan saja, jangan sampai tahu kalau kalian mengawasi mereka," perintah Syauqi.


Syauqi sangat tahu, jika anak-anaknya sering membuat ulah, dia hanya ingin mendidik anak-anaknya dengan caranya sendiri.


****************************************


Kaysa dan Syadev menemui Darren di kantor Papanya.


"Om, kita ajak main Darren ya," izin Kaysa manis.


"Iya, kalian hati-hati ya! Jangan keluar dari wilayah kantor," jawab Dony.


Dony merasa tenang membiarkan putranya bermain dengan Kaysa dan Syadev, karena dia sudah tahu bagaimana Syauqi yang selalu melindungi keluarganya.

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karenan dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi.


__ADS_2