
Syadev berbeda dengan saudara kembarnya, dia memiliki pembawaan tenang. Semua masalah yang rumit bisa dia hadapi dengan tenang. Namun ini untuk yang pertama kalinya dia merasa otak jeniusnya tidak bisa berpikir jernih.
Syadev tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebab saat ini dia tengah pura-pula lupa ingatan. Jika dia tiba-tiba berkata jujur takutnya Anggun akan kecewa dan marah.
Pesta pernikahan saudara kembarnya belum usai, semua para tamu undangan bersuka cita sambil mengobrol satu sama lain menikmati hidangan yang di sajikan. Sedangkan Syadev duduk sendirian di tempat yang sunyi, dia sengaja mengasingkan diri agar hatinya yang berkelabu segera tenang.
Tiba-tiba terdengar teriakan yang menggema dari orang-orang. Dan suara yang paling keras adalah jeritan Kaysa.
Syadev langsung berlari ke ruangan pesta karena penasaran dengan apa yang terjadi, setibanya di sana dia bisa melihat Neneknya tengah di gendong Paman Rian keluar dari ruangan yang diikuti keluarganya.
“Maaf semuanya, pesta pernikahan putri saya terpaksa dibubarkan. Mohon do'anya semoga ibu mertua saya bisa sehat kembali,” kata Syauqi.
Para tamu mulai berpamitan, mereka semua memaklumi karena keadaan yang darurat.
“Alarik dan Kaysa ganti baju dulu, semuanya mari menyusul ke rumah sakit,” kata Syauqi gelisah.
Beberapa saat kemudian Zhia ikutan pingsan, untung ada Syadev yang ada di sisinya. Dia langsung menahan Bundanya agar tidak terjatuh.
Keadaan semakin kacau, apalagi Kaysa yang menangis histeris.
Syauqi dengan sigap menggendong istrinya, sedangkan Syadev langsung menyiapkan mobil dengan tergesa-gesa.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
“Ayo kita ganti baju dulu,” ucap Alarik merasa cemas.
Kaysa dituntun suaminya menuju ruang ganti, gadis itu tidak bisa berhenti menangis. Dia masih ingat saat neneknya yang duduk di kursi roda memeluk dan membelai kepala Kaysa dengan penuh kasih sayang.
Kata terakhir yang diucapkan Nenek Kaysa membuat dia merasa semakin tersayat hatinya.
“Nenek bersyukur karena sekarang Kaysa sudah dewasa, bahkan sudah menikah dengan Alarik. Nenek hanya berharap semoga kalian semua hidup damai dan bahagia. Belajarlah jadi istri yang baik ya, contohlah Bunda kamu yang sederhana dan penyabar itu.”
Sedetik kemudian Nenek Kaysa menundukkan kepalanya dan diam untuk waktu yang lama. Kaysa menjadi curiga karena Neneknya tidak membuka mata kembali.
Kaysa berharap jika neneknya hanya pingsan saja.
Alarik dengan cepat sudah berganti pakaian, sedangkan Kaysa masih kesulitan membuka gaunnya.
“Kak, cepat bantu aku!” rengek Kaysa.
Dalam keadaan yang terburu-buru, Alarik langsung saja melepas gaun itu dari belakang.
Kaysa yang hanya tinggal memakai pakaian dalam membuat Alarik keder juga, apalagi tubuh indah istrinya sangat menggoda hasratnya. Namun hatinya yang tengah mengkhawatirkan Bunda serta nenek Kaysa membuat Alarik tetap bisa berpikiran waras. Pemuda itu langsung mengambilkan baju biasa untuk istrinya.
Setelah berganti baju Kaysa langsung menghapus make up-nya dan segera pergi bersama suaminya menyusul ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ternyata Nenek mereka sudah di pindahkan ke ruang jenazah.
Semua orang menangis, termasuk Syadev yang tergolong orang tegar.
Kaysa langsung pingsan di tempat, membuat situasi semakin kacau karena Zhia juga belum sadar kembali.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Dua hari semenjak meninggalnya Nenek Syadev telah berlalu, tapi di rumah Paman Rian masih banyak orang yang melayat.
Syadev sendiri juga hanyut dalam kesedihan, dia sampai melupakan tentang pernikahan Anggun yang akan diadakan hari ini.
Zahra yang baru datang dengan Darren langsung menemui Syadev yang tengah melayani para tamu.
“Syadev, sini bentar!” kata Darren dan Zahra secara paksa.
Syadev segera menghampiri kedua temannya, karena seperti ada sesuatu hal yang penting.
“Syadev, aku tahu kamu saat ini lupa Anggun. Namun jika suatu saat nanti ingatan kamu kembali kamu pasti akan menyesal membiarkan Anggun menikah dengan orang lain,” kata Zahra.
“Satu jam lagi acara akad nikah, saat ini dia sedang di rias,” timpal Darren.
Syadev merasa dirinya begitu bodoh karena hampir melupakan pernikahan Anggun, dia tahu pasti saat ini gadis yang dicintainya itu sedang bersedih.
“Pinjam mobilmu,” kata Syadev serius.
Setelah diberi kunci mobil Darren, dia langsung pergi dari kediaman pamannya.
__ADS_1
Di dalam perjalanan Syadev bingung harus bagaimana, sebab jika setelah ini Anggun di selamatkan, makan selanjutnya Teguh pasti tidak akan menyerah. Sedangkan dirinya besok sudah kembali ke Amerika. Mungkin bisa saja Anggun di sekolahkan di Amerika bersamanya, tapi jika hidup bersama dengan perempuan yang bukan mahram dia juga takut berdosa. Syadev meskipun pemuda modern tapi dia juga masih mengetahui ilmu Agama.
Satu-satunya cara adalah menikahi Anggun lalu di ajak ke Amerika. Tapi keluarganya saat ini sedang berkabung, pasti orang tuanya meminta untuk ditunda sampai dia lulus kuliah, sebab seorang lelaki akan menjadi imam dan berkewajiban menafkahi.
Syadev bingung mau bagaimana, hatinya terus dilema antara pilihan yang sama-sama ada kesulitan.
Setelah sampai di panti, di sana sudah ada banyak orang. Anggun juga sudah memakai kebaya putih dan riasan pengantin.
“Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan! Karena mempelai perempuan adalah kekasihku, dan yang dia cintai adalah aku,” kata Syadev tegas.
Anggun terpana, kehadiran Syadev seperti seorang pangeran tampan berkuda putih yang hendak menyelamatkan dirinya dari marabahaya.
“Syadev, jika kamu mengacaukan acara pernikahanku aku bisa saja melaporkanmu ke polisi,” ancam Teguh marah.
“Silahkan! Tapi kamu tetap tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Karena Anggun mau menikah denganmu sebab ancaman,” jawab Syadev tak gentar.
“Nak, sebaiknya kamu segera pergi. Jika tetap merusuh di tempat ini kami tidak segan-segan menghajar kamu,” bentak Ayahnya Teguh karena merasa dipermalukan.
Tiba-tiba datang banyak lelaki gagah yang memakai jas hitam. Semuanya juga berkaca mata hitam, kemudian muncul Darren dan Zahra dari balik orang-orang itu.
“Maaf aku telat, Syadev. Papaku sulit dibujuk,” kata Darren.
Zahra dengan cepat menuntun Anggun berdiri. Tapi Teguh langsung menarik tubuh calon istrinya sampai Anggun terjatuh dipelukannya.
Syadev sangat marah, sampai rasanya ingin segera meremukkan tulang Teguh. Namun dia masih berusaha menahan diri agar situasi tidak kacau.
Anggun menangis bahagia karena mengira Syadev sudah kembali ingatannya, dengan keberanian yang besar Anggun melepaskan diri dan berlari ke arah Syadev.
“Maaf, Kak Teguh. Tapi yang aku cintai adalah Syadev,” kata Anggun tak berani menatap wajah pemuda itu.
“Kalau kamu tidak kembali ke sini maka panti ini akan aku jual, dan adik-adik kamu semuanya hidup gelandangan,” bentak Teguh.
Anggun bersedih, karena teman sekaligus seseorang yang selama ini sudah seperti kakaknya itu berubah menjadi kasar dan kejam, padahal dulu sangat baik dan murah hati.
“Jual saja! Dan aku yang akan membelinya, berapa harganya? Sebutkan saja,” tantang Syadev.
“Sekalipun aku ingin menjual tapi bukan kepadamu,” balas Teguh sengit.
Syadev tertawa jahat, wajahnya kini mirip dengan Ayahnya ketika menahan amarah, terlihat tenang tapi ada hawa mematikan. Di balik sikapnya yang santai Syadev juga memiliki karakter yang menurun dari Ayahnya. Dalam sekali ucapan membuat lawan gentar.
Ayah Teguh gemetar juga mendengar nama Syauqi Malik, meskipun sudah lama tidak ada kabar mengenai kekejam Syauqi Malik seperti dulu, tapi Ayah Teguh tidak mau mengambil risiko.
“Lima Milyar,” jawab Ayah Teguh.
Syadev tertawa, karena Ayah teguh itu masih punya keberanian untuk memeras meskipun tubuhnya sudah gemetar. Dia tahu jika harga panti ini hanya separuhnya saja, sebab letaknya di tempat terpencil dan tempatnya juga tidak terlalu luas. Namun karena tidak ingin membuang waktu, Syadev menyetujuinya juga.
“Baik, mana nomor rekeningnya! Saya akan segera transfer uangnya,” ucap Syadev mengeluarkan ponselnya.
“Ayah, aku mohon jangan!” teriak Teguh tak rela.
“Diam kamu!” bentak Ayahnya teguh karena tergiur dengan uang yang banyak.
Setelah transaksi selesai, Syadev segera menarik tangan Anggun dan membawa gadis itu keluar dari panti.
Teguh marah, pemuda itu berniat mengambil Anggun lagi dari tangan Syadev. Namun para pengawal yang berjumlah delapan orang langsung menghadang Teguh.
“Minggir!” teriak Teguh.
“Jika ingin melukai Tuan Muda kami, maka lewati kami dulu!” kata ketua pengawal.
“Syadev berhenti dan menoleh ke belakang, dengan senyuman sinis dia menatap Teguh.
“Jangankan untuk melukaiku, mendekati aku saja kamu tidak mampu. Dan mulai detik ini, panti ini adalah milikku. Jadi kamu sudah tidak boleh lagi datang kemari,” Kata Syadev tersenyum puas.
“Anggun! Aku mencintaimu, aku yang lebih dulu mengenalmu. Kenapa kamu justru memilih dia?” teriak Teguh berusaha menerobos para pengawal Syadev.
Tapi usaha Teguh sia-sia, pemuda itu tidak bisa melawan delapan orang sekaligus.
“Darren, apa kamu sudah menyiapkan semuanya?” tanya Syadev.
“Aku sudah menyuruh seseorang untuk membawanya ke KUA,” jawab Darren tersenyum senang.
“Syadev, siapa yang akan menikah?” tanya Anggun.
__ADS_1
“Kita,” jawab Syadev datar.
“Apa ingatanmu sudah kembali?” tanya Anggun antusias.
“Belum, hanya saja Darren bilang jika kita dulu adalah sepasang kekasih,” jawab Syadev berbohong untuk menutupi rasa malunya. Dia sangat gengsi sekali kalau ketahuan pura-pura lupa ingatan.
Anggun tertegun, gadis itu menatap Darren untuk mencari kebenaran. Namun kekasih Zahra itu hanya nyengir.
“Anggun, semua ini demi kebaikan kamu,” kata Zahra tersenyum senang.
“Aku akui, aku memang mencintai Syadev. Tapi jika menikah muda aku masih belum siap. Aku ingin sekolah dulu dan mengejar impian,” kata Anggun dilema.
“Setelah menikah kita akan ke Amerika, kamu sekolah di sana dan tetap bisa mengejar cita-citamu. Tapi jika kamu ingin menikah dengan Teguh ya silahkan saja! Karena aku yakin setelah ini dia akan melakukan segala cara agar kamu menikah dengannya,” kata Syadev tenang seolah tanpa beban.
Darren sungguh mengagumi sikap sahabatnya yang luar biasa itu, dalam kecemasan tapi Syadev masih bisa bersikap sombong.
“Menikahlah denganku! Karena jika kita tidak menikah,aku juga tidak berani membawa kamu ke Amerika,” timpal Syadev meyakinkan.
“Kamu tidak ingat aku, tapi kenapa kamu seyakin ini untuk menikahiku?” tanya Anggun mencari kepastian.
“Karena Darren sahabat aku dari kecil, dia tidak mungkin akan menghianatiku,” jawab Syadev mencari alasan.
“Aku takut jika nanti kedua orang tuamu tidak merestui kita,” ucap Anggun masih ragu.
“Keluargaku bukanlah orang yang suka membedakan status, aku yakin mereka merestui. Hanya saja untuk saat ini aku belum bisa bilang pada mereka, sebab Nenek baru saja meninggal dan aku juga masih kuliah. Tapi percayalah, aku pasti bisa menghidupi kamu di sana dengan layak,” kata Syadev serius.
Darren, Zahra dan Anggun merasa jika Syadev tampak keren sekali. Ucapannya yang manis dan wajahnya yang tampan seperti seorang pangeran gagah perkasa.
“Terima saja, pernikahan ini satu-satunya agar kamu dan Syadev bisa tinggal bersama di Amerika,” saran Darren.
“Baiklah,” jawab Anggun meyakinkan dirinya sendiri.
Zahra langsung memeluk Anggun dan ikut berbahagia.
Anggun mencintai Syadev, dialah satu-satunya tumpuan seluruh hidupnya. Anggun sudah bertekad, apapun yang terjadi dia tetap ingin selalu berada di sisi Syadev meskipun saat ini pemuda itu tidak mengingatnya.
"Darren, apa kamu sudah menyuruh para pengawal untuk tidak menceritakan hal ini?" tanya Syadev.
"Sudah, aku bilang pada papa untuk meminjam pengawal karena Zahra di copet," jawab Darren tertawa.
"Apa om Dony percaya?" tanya Syadev penasaran.
"Percaya saja, aku anak yang baik dan tidak pernah berbohong," sindir Darren pada Syadev.
Saudara kembar Kaysa itu hanya melirik Darren dengan kesal.
"Zahra, bagaimana kalau kita nikah diam-diam seperti Syadev dan Anggun?" ujar Darren menatap Zahra.
"Apa?" pekik Zahra kaget.
"Jangan bodoh! Zahra masih ada keluarga, lagi pula jika kamu menculiknya Ayah aku juga tidak akan tinggal diam," sergah Syadev tidak setuju.
Anggun dan Zahra memang berbeda, kemanapun Anggun pergi tidak akan ada yang mencari, sebab gadis itu yatim piatu yang tidak memiliki saudara.
"Iya," jawab Darren iri.
"Lagi pula apa kamu punya kemampuan untuk menghidupi kakak sepupuku di sana?" ejek Syadev.
"Cukup! Aku memang tidak hebat sepertimu, tapi bukan berarti kamu menghina aku seperti ini," ucap Darren pura-pura marah.
"Sudah, Ayo kita menuju KUA segera," kata Zahra bersemangat.
"Aku takut," ucap Anggun.
Tanpa berkata apa-apa, Syadev menggenggam jemari Anggun dan menariknya masuk ke mobil.
Dalam kehangatan tangannya Syadev, Anggun merasa ada kekuatan yang besar sehingga membuat dia berani untuk melangkah.
Terima kasih sudah setia sampai di sini, jangan lupa Like dan Vote ya🤗 Karena dukungan dari kalian membuat Author semakin bersemangat.
Mulai sekarang CINTA YANG TERPAKSA up sehari dua kali ya🤗 siang dan malam.
Baca juga SCORPIO, kisah persahabatan Saralee, Aileen dan Adella yang memiliki cerita cinta unik dan bikin baper.
__ADS_1
Selamat membaca🤗🤗🤗