CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 64


__ADS_3

Syadev memeluk tubuh Anggun dengan erat, gadis cantik yang kini menjadi istrinya itu tersenyum bahagia seolah tidak ingin berjauhan dari suaminya.


Syadev tak menyia-nyiakan kesempatan, dia semakin gencar mencium bibir dan leher Anggun penuh kemesraan. Namun di saat mereka sedang asyik bercumbu, tiba-tiba Anggun mendorong suaminya dengan cepat.


"Tunggu!" pekik Anggun.


"Ada apa?" tanya Syadev yang sudah tidak sabar.


"Sepertinya aku datang bulan," ucap Anggun berlari ke kamar mandi.


Syadev tertawa kesal, sebab malam pertama mereka yang belum sempat disempurnakan tapi gagal lagi.


"Yah, mau bagaimana lagi."


Kemudian Syadev menuju kamar Istrinya untuk mengambilkan celana dalam, baju tidur dan pembalut. Meskipun seorang lelaki tapi dia tidak bodoh dalam hal seperti itu.


Dengan cepat Syadev kembali menuju kamarnya sendiri.


"Istriku, ini," ucap Syadev.


Anggun membuka pintunya sedikit, kemudian tangannya keluar satu. Saat itu Syadev berniat mengerjai istrinya. Di ciumnya jemari Anggun sampai gadis itu menjerit kaget.


"Mana?" tanya Anggun.


"Nih," jawab Syadev menyerahkan barang-barang tersebut.


Tak lama kemudian Anggun keluar yang sudah mengganti bajunya. Gadis itu tampak malu dan merasa bersalah.


Syadev tersenyum sambil menarik tubuh Anggun sampai istrinya itu terjerembab di ranjangnya.


"Malam ini tidur di sini ya?" ucap Syadev.


"Aku kan sedang..." jawab Nggun merona merah.


"Datang bulan? Kan yang penting kita tidak melakukan itu," jawab Syadev santai.


"Maafkan aku ya?" lirih Anggun.


"Tidak apa-apa," jawab Syadev tidak tahan melihat keimutan istrinya.


Syadev mencium bibir Anggun, mereka saling membalas dan saling memberikan kenikmatan yang tiada tara. Walaupun malam ini mereka berdua hanya sebatas berciuman, tapi Syadev dan Anggun sudah sangat bahagia.


Panginya Darren hanya menunduk saja saat sarapan pagi.


"Nih, hadiah kamu. Selamat ulang tahun ya," kata Syadev memberikan satu bungkus kado.


Darren tersenyum senang, bukan karena di beri barang tapi karena selamat dari Syadev.


"Darren, selamat ulang tahun ya? Maaf aku tidak sempat membeli kado," ucap Anggun.


"Tidak apa-apa, yang terpenting doa saja sudah cukup," jawab Darren.


"Kamu tidak marah padaku?" tanya Darren penasaran pada Syadev dan Anggun.


"Aku marah, jika lain kali kamu mengulangi lagi akan aku kubur hidup-hidup kamu," jawab Syadev dengan santai.


Darren dan Anggun terkejut, meskipun Syadev bilang marah tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekesalan. Namun justru terlihat sangat bahagia.


"Semalam... Kalian..." tanya Darren penasaran, sebab pemuda itu mendengar suara jeritan Anggun. Membuat putra tunggal Dony itu tidak bisa tidur semalaman.


"Makanlah! Jangan pernah mikir macam-macam." kali ini Syadev terlihat menyeramkan.


Darren menundukkan pandangannya karena takut.


"Resiko tinggal dengan pengantin baru, seharusnya sebelumnya aku memikirkan hal ini," batin Darren.


"Darren, aku ini sedang datang bulan. Semalam itu tidak seperti yang kamu pikirkan," jelas Anggun merasa malu.


"Memangnya kenapa? Kalian mau ngapa-ngapain juga sah-sah aja. Kalian ini kan sudah menikah," jawab Darren pura-pura cuek.


"Eh, Zahra memberikan kado apa padamu?" tanya Anggun penasaran.


Awalnya Darren malu menjawab, tapi karena mendapat lirikan dari Syadev, Darren terpaksa mengatakannya juga.


"Jam tangan dan Syal," jawab Darren malu-malu.


"Wah, jam tangan ini ya? Syalnya bisa di pakai untuk musim dingin," ucap Anggun ikut senang sambil menunjuk pergelangan tangan kanan Darren.

__ADS_1


"Oh iya, Syadev. Terima kasih kadonya ya?" ucap Daren pada sahabatnya.


"Iya, sama-sama. Ayo kita segera makan. Nanti satu jam lagi kita akan ke Universitas" kata Syadev.


Mereka segera makan, setelah itu Anggun mencuci piring. Sedangkan Syadev menyalakan robot kecilnya agar lantainya bisa bersih tanpa di sapu.


"Anggun. Kamu mau kemana?" tanya Syadev.


"Mencuci baju," jawab Anggun.


"Mandilah saja, cuci bajunya nanti juga tidak apa-apa," perintah Syadev dengan gaya santainya.


Syadev memang terbilang santai dan tidak mau ambil pusing. Karena dia menyukai hidup yang damai tanpa terburu-buru.


Syadev sendiri juga menyusul mandi di kamarnya sendiri. Maksudnya Syadev tinggal di kamar yang berbeda agar nanti tidak saling menunggu untuk mandi dan yang lainnya. Namun urusan tidur tetap saja Syadev ingin sekamar.


Setelah setengah jam mereka semua sudah rapi, penampilan Anggun yang memakai baju baru ala muslim Amerika membuat penampilannya terlihat keren dan semakin cantik. Bahkan Darren sampai pangling.


"Anggun, aku baru sadar ternyata kamu cantik juga," goda Darren.


Syadev langsung melotot tajam ke arah Darren.


"Santai, mana mungkin aku menikungmu," kata Darren menahan tawa.


"Andai kamu punya niatan juga mana mungkin Anggun tertarik padamu," balas Syadev.


"Iya, iya... Aku memang tidak sebanding denganmu," sindir Darren mengalah.


"Fakta," balas Syadev bangga.


Anggun hanya tersenyum, gadis itu tahu jika mereka berdua tidak berantem serius. Karena Syadev memang memiliki lidah tajam, jika orang yang belum mengenalnya pasti langsung merasa sakit hati.


Merekapun berangkat kuliah bersama-sama.


"Kamu yang nyetir," kata Syadev melemparkan kunci mobil pada temannya.


"Siap, Tuan Syadev dan Nyonya Anggun," jawab Darren tertawa.


Hanya itu yang bisa dilakukan Darren untuk membantu temannya, sebab jika melakukan pekerjaan rumah lainnya Darren sudah angkat tangan.


Masih mending Syadev, meskipun sebenarnya dia pemalas tapi Syadev serba bisa. Pemuda itu sekali lihat dengan mudah bisa menirukannya.


"Jangan takut, mereka juga manusia yang sama seperti kita. Hanya penampilan dan rupanya saja yang sedikit berbeda dengan kita," kata Syadev menenangkan istrinya.


Anggun semakin memegang erat jemari Syadev sambil tersenyum manis padanya.


Syadev langsung terpesona, seandainya saat ini mereka bukan di tempat umum, pasti dia akan langsung mencium bibir istrinya penuh cinta.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Kaysa dan Alarik sudah sampai di hotel tempat Syadev dan Darren tinggal. Namun siapa sangka kedua orang yang dicari sudah tidak ada di sana.


"Mereka pindah kemana ya?" tanya Kaysa pada suaminya.


"Aku juga tidak tahu, sebaiknya segera telepon Ayah saja pasti mereka tahu," saran Alarik.


Kaysa menuruti perintah suaminya, dia segera menelepon Ayahnya.


"Ayah, Syadev dan Darren pindah kemana ya?" tanya Kaysa tak sabar.


"Ayah cari tahu dulu, sebaiknya kamu dan suami kamu menginap di hotel itu dulu sampai Ayah mendapatkan alamat Syadev dan Darren," jawab Syauqi terdengar tenang.


"Iya, Ayah. Terima kasih," jawab Kaysa riang.


Setelah itu Kaysa menutup sambungan telepon tersebut dan segera mengajak suaminya untuk memesan kamar hotel.


Karena pemilik hotel tahu jika Kaysa adalah salah satu putri Syauqi Malik, mereka berdua mendapatkan pelayanan terbaik.


"Aku penasaran bagaimana masa muda Ayah, kenapa sebagian orang dari belahan dunia ini mengenal Ayah," ucap Kaysa.


"Ayah memang hebat, aku saja jika dibandingkan tidak ada separuhnya. Dalam hal bisnis jika mendengar nama Syauqi Malik pasti mereka gentar," jawab Alarik jujur.


"Aku bangga sekali dengan Ayah, tapi aku juga bangga punya suami yang hebat seperti Kak Al," balas Kaysa bersandar pada lengan suaminya dengan manja.


"Eh, ini ditempat umum. Kita lanjutkan di dalam kamar saja," goda Alarik.


"Tidak! Dirayu dikit saja sudah menjurus," tolak Kaysa.

__ADS_1


"Yakin tidak mau?" goda Alarik lagi.


Bukannya Kaysa tidak mau, tapi tubuhnya sudah lelah setelah perjalanan jauh.


Sesampainya masuk ke kamar hotel, Kaysa teringat dengan seseorang.


"Suamiku, bagaimana kabar Kak Orlin ya?" tanya Kaysa.


Alarik tersenyum, pemuda itu bahagia sebab istrinya tidak memiliki dendam. Padahal kemarin-kemarin Orlin pernah punya niat tidak baik.


"Kamu tidak marah pada Orlin?" tanya Alarik.


"Tidak, karena aku tahu Kak Orlin tidak bermaksud jahat padaku. Namun karena dia terlalu mencintaimu dari kecil," jawab Kaysa tulus.


Alarik terharu dengan jawaban istrinya, dengan cepat Alarik mencuri ciuman ke bibir Kaysa.


Kaysa tidak bisa menolak, sebab dia juga menikmati serangan yang mendadak itu. Alarik yang lebih dewasa darinya sangat sabar saat Kaysa dengan agresif membalas ciuman suaminya.


"Semakin hebat saja," puji Alarik tersenyum puas.


Kaysa hanya malu-malu sambil mengigit lagi bibir suaminya dengan pelan.


"Kaysa, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Tapi satu pintaku, jangan pernah dekat-dekat dengan pemuda lain ya?" ucap Alarik sambil menatap lekat ke mata Kaysa.


"Tapi satu kelompokku ada dua pemuda," jawab Kaysa.


"Maksudku kecuali mereka berdua, dan jangan pernah lagi pergi ke tempat tongkrongan berandalan seperti kemarin! Kak Al tidak mau kamu dalam bahaya," timpal Alarik dengan wajah serius.


"Aku pasti bisa jaga diri," jawab Kaysa yakin.


"Kaysa!" Alarik memanggil nama Kaysa dengan nada sedikit naik.


Kaysa justru tertawa, sebab kelihatan dengan jelas jika suaminya itu sedang cemburu.


"Yah, resiko jadi orang yang terlalu cantik ya begini. Suami jadi cemburuan," sindir Kaysa.


Alarik semakin kesal, pemuda itu langsung menerjang tubuh Kaysa sampai rubuh di ranjang.


Alarik mencium seluruh tubuh Kaysa sampai istrinya itu menjerit karena merasa geli. Namun Alarik tidak memberi ampun. Pemuda itu justru melepas jilbab Kaysa dan menyobek baju istrinya.


"Sudah berapa banyak bajuku yang di sobek! Apa senang jika istrimu ini nanti telanjang?" teriak Kaysa kesal.


"Setelah ini kita shopping," jawab Alarik tanpa rasa bersalah.


Alarik langsung mencumbu istrinya dengan mesra, dari rambut sampai kaki tidak luput dari serangan bibir mautnya.


Alarik juga mulai melepas pakaiannya, gesekan kedua tubuh mereka membuat keduanya semakin memanas dalam ketegangan yang tinggi.


Kaysa tak sanggup menolak kenikmatan yang diberikan suaminya. Tubuhnya semakin memanas dan ingin segera mendapatkan yang lebih.


Alarik tahu apa yang diinginkan istrinya, dengan penuh gairah dia langsung menindih tubuh istrinya yang menggoda itu.


"Eh, aku belum pakai pengaman," kata Alarik kaget.


"Sudahlah! Hamil ya hamil," jawab Kaysa tak ingin berhenti.


Karena istrinya sudah begitu, Alarik juga tidak keberatan jika Kaysa hamil. Mungkin dengan begini istri kecilnya itu bisa berubah menjadi dewasa dan keibuan.


Kamar hotel yang tadinya rapi kini berubah seperti kapal pecah, karena mereka terus mencoba dengan gaya baru.


"Wih, istriku nakal! Dari mana kamu bisa tahu semua ini?" tanya Alarik heran.


Kaysa hanya cengengesan saja dan gantian menerjang suaminya.


"Karena aku Kaysa Malik, aku selalu hebat dalam segala hal," jawab Kaysa bangga.


"Kalau begitu besok aku ingin mencicipi masakanmu," goda Alarik.


"Baiklah, siapa takut," balas Kaysa tidak mau kalah.


Alarik tersenyum, pemuda itu tidak mengira jika istrinya mau memegang pisau dapur.


Namun dalam hati Kaysa memang ingin menunjukkan jika dirinya pasti bisa memasak, dia tidak mau kalah dengan orlin.


Di sisi lain, jauh di negara Indonesia sana Syauqi tengah memegang kepalanya karena frustasi.


Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Menurut kalian kenapa Syauqi bisa frustasi ya? Di komen yah🤗🤗🤗


__ADS_2