CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kembalinya Nayla


__ADS_3

Tiga hari setelah melahirkan, Zhia dan kedua anaknya di izinkan pulang.


Di vila sudah ada banyak orang yang menanti kehadiran anak kembar Syauqi, termasuk mamanya Syauqi beserta keluarga dari Jerman.


Ini kedua kalinya Syauqi melihat papa tirinya, namun tidak seperti awal pertemuan yang penuh tatapan kebencian, kini Syauqi bisa berlapang dada.


Elly dengan suka cita menarik lengan adik tirinya dengan lembut ke hadapan Syauqi dan Zhia,


"Laura, ini adalah Kak Syauqi dan perempuan cantik di sampingnya adalah Zhia, kakak ipar kamu,"


"Senang bertemu dengan kalian, nama saya Laura," sapa gadis remaja berambut pirang dan tingginya semampai melebihi Zhia, dia tersenyum manis.


"Senang bertemu denganmu juga, ternyata kamu bisa bahasa Indonesia ya?" kata Zhia bahagia, karena dia akhirnya bertemu dengan keluarga mama mertuanya.


"Iya kak, dari kecil mama sering mengajarkan aku bahasa Indonesia," jawab Laura riang.


Syauqi hanya tersenyum ramah, dia segera mengajak semua orang yang menyambutnya di luar vila untuk masuk ke dalam.


Pagi ini tamunya sangat banyak, kedua pembantu Syauqi menjadi sangat sibuk.


"Selamat ya, Syauqi, Zhia. Karena kalian mendapat dua anak kembar yang sangat menggemaskan," ucap papa tiri Syauqi.


"Terimakasih, Pa. Karena sudah berkenan jauh-jauh mengunjungi kesini," jawab Syauqi, dia merasa jika papa tirinya baik juga, terlihat dari senyumnya yang tulus.


Kedua anak kembar Syauqi sedang di gendong Mamanya dan ibu mertuanya, dia sendiri segera mengajak istrinya untuk istirahat ke kamar. Setelah itu dia mengambil makanan dan kembali lagi masuk ke kamar,


"Sayang, ayo makan dulu, setelah ini minum obat," bujuk Syauqi.


"Di mana anak kita Mas? bukankah ini saatnya mereka di jemur sebentar?" tanya Zhia.


"Tenanglah!, saat ini banyak orang yang mengurus mereka. Sebaiknya kamu makan, minum obat dan istirahat saja!" pinta Syauqi.


Zhia menuruti perintah suaminya, setelah minum obat dia merasa mengantuk, tapi dia tahan karena masih terlalu pagi untuk tidur.


Syauqi yang tadi keluar membawa piring kotor, tiba-tiba masuk lagi dengan wajah yang lebih cerah,


"Sayang, aku punya kejutan," kata Syauqi antusias.

__ADS_1


"Kejutan apa?" tanya Zhia penasaran.


Syauqi membuka pintu kamarnya lebar-lebar, dan munculah Rendra dengan seorang gadis berpakaian muslim.


Awalnya Zhia tidak mengenalinya, namun semakin gadis itu mendekat, Zhia yakin jika gadis itu adalah temannya.


"Nayla? benarkah itu kamu?" tanya Zhia setengah berteriak.


"Iya dong, memangnya siapa lagi?" jawab Nayla girang, dia segera duduk di pinggir ranjang.


Zhia yang sedang duduk bersandar pada bantal segera mengulurkan tangannya untuk dipeluk, Nayla pun segera memeluk temannya. Keduanya saling menangis haru karena sudah berbulan-bulan tidak bertemu,


"Nayla, aku sangat merindukanmu, kemana saja kamu selama ini? dan bagaimana keadaanmu? kenapa kamu tidak pernah mengabariku?" tanya Zhia bertubi-tubi.


Nayla segera melepaskan pelukannya,


"Selama ini aku di London, karena kedua orang tuaku sudah menetap di sana, jadi mereka memindahkan perawatan aku ke sana supaya mereka bisa menjaga aku. Sedangkan aku tak bisa menghubungimu karena ponselku hilang saat kecelakaan," jawab Nayla tenang.


Zhia merasa jika Nayla sudah banyak berubah, tidak seperti dulu yang suka seenaknya dan sembarangan.


"Dari mana kamu tahu jika aku sekarang di sini?" tanya Zhia penasaran.


"Sebenarnya... aku sudah menikah dengan mas Rendra beberapa bulan yang lalu, tapi kita sengaja menyembunyikan supaya menjadi kejutan saat kepulangan kami ke Indonesia."


Zhia melirik ke arah Rendra,


"Aku benar-benar sangat terkejut," kata Zhia sedikit marah.


Rendra menjadi salah tingkah, dengan tersenyum canggung dia mendekati Syauqi,


"Tuan Syauqi, sebaiknya kita keluar saja, saya juga ada beberapa masalah penting yang harus di bahas."


Syauqi tahu jika itu hanya alasan saja, supaya tidak kena marah istrinya. Namun dia mengiyakan mengiyakan karena dia juga ingin memberi kesempatan Zhia untuk mengobrol dengan Nayla, dia tahu istrinya selama ini selalu mengkhawatirkan temannya yang kecelakaan karena ingin menyelamatkan dia.


Setelah Syauqi dan Rendra keluar dari kamar, suasana menjadi hening.


Nayla menatap kedua bola mata milik Zhia, dia tahu dan bahkan dia sangat mengenalnya, karena dulu diam-diam Nayla selalu mencuri pandang pada bola mata itu yang kini sudah berganti pemilik.

__ADS_1


Zhia sadar, jika Nayla fokus pada matanya karena mengingat apa,


"Maafkanlah aku,Nayla. Semua ini salahku, sampai kamu dan mas Iyas yang menjadi korbannya," kata Zhia sesenggukan menahan tangis, dia sangat menyalahkan diri sendiri.


"Kamu juga hanya korban Zhia, aku yakin mas Iyas tak akan pernah menyesal untuk menyelamatkan kamu, begitu juga aku. Bagiku kamu adalah sahabat aku," jawab Nayla menghibur Zhia.


"Terimakasih, terimakasih karena kamu memaafkan aku. Selama ini aku selalu merasa bersalah," ucap Zhia sambil merenung, dia teringat di saat terakhir bertemu dengan Iyas si rumah sakit bahkan tak bisa melihat wajahnya, yang bisa di lihat dalam ingatan hanyalah wajah terluka Iyas saat ditinggalkan di taman sebelum terjadinya penculikan.


"Zhia, jangan bersedih lagi. Biarkan mas Iyas tenang di alam sana,sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu. Kamu harus belajar lebih tangguh lagi," tutur Nayla yang seolah tahu dengan apa yang dirasakan Zhia.


"Apakah kamu sudah mengandung sekarang?" tanya Zhia.


Nayla diam, namun sesaat kemudian dia tersenyum ceria,


"Aku tak bisa mengandung lagi, tapi tidak masalah. Aku sudah punya anak tanpa perlu merasakan sakitnya melahirkan, dia adalah Orlin."


Zhia tak tahu harus sedih atau senang mendengar berita buruk namun membuat Nayla tersenyum senang, dia merasa kini Nayla benar-benar dewasa dan anggun.


"Kamu jangan terlalu berfikir Zhia, yang terpenting sekarang kita fokus dengan masa depan kita. Ya sudah, aku keluar dulu ya? nanti Orlin mencari aku," pamit Nayla.


"Terimakasih, Nayla," jawab Zhia tersenyum lega dan bahagia.


Setelah Nayla keluar, Syauqi segera masuk. Dia langsung memeluk istrinya.


"Sayang, jangan membebani pikiranmu lagi ya? sekarang Nayla sudah bahagia dengan Rendra," ucap Syauqi sambil mencium kening istrinya.


"Iya, Mas Syauqi. Aku tak mengira jika mereka dipertemukan di sana," kata Zhia seakan tak percaya.


"Itu semua karena takdir, sebulan lagi pernikahan mereka akan rayakan. Sekarang kamu mau ngemil buah apa?" tanya Syauqi perhatian.


"Buah apel ya?" pinta Zhia.


"Baiklah, segera aku ambilkan,"jawab Syauqi, kemudian dia berlalu pergi.


Zhia bersyukur kini semua keadaan membaik, dia sangat bahagia sudah melihat Nayla.


* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.

__ADS_1


Mohon kritik dan sarannya , semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏*


__ADS_2