
Kaysa baru saja sampai di rumah sakit, tempat di mana saudara kembarnya itu sedang dirawat. Tubuhnya masih merasa letih setelah melewati perjalanan yang panjang.
Sedangkan Alarik berjalan di tengah antara Kaysa dan Flora, tangan kanan-kirinya tak lupa menggandeng mereka karena takut jika salah satu dari mereka sampai terlepas. Apalagi Kaysa yang pikirannya sedang kurang fokus.
Ternyata di ruang tunggu juga sudah ada keluarga neneknya dari Jerman. Bahkan keluarga Rendra yang di London juga ikut menunggu.
"Ayah, Bunda..." teriak Flora sambil berlarian memeluk Orang tuanya.
Syauqi dan Zhia sangat terkejut dengan kedatangan anak-anaknya yang secara tiba-tiba.
"Kalian ini," ucap Syauqi kaget.
"Flora rindu Ayah dan Bunda," rengek Flora manja.
Syauqi menjadi luluh hatinya mendengar penuturan dari putri bungsunya itu.
"Bagaimana keadaan Syadev?" tanya Kaysa cemas.
"Alhamdulillah sudah sadar kemarin, tapi sekarang sedang istirahat. Beberapa hari ditinggal kenapa jadi kurus begini?" kata Syauqi sedih.
"Semua salah Ayah yang melarang aku ikut," ucap Kaysa kesal.
Syauqi langsung memeluk putrinya dengan kasih sayang.
"Maafkan kami ya, Nak. Saat itu kami benar-benar panik," ucap Zhia yang sedang memeluk Flora.
"Tidak apa-apa, Ayah,Bunda," jawab Kaysa mencoba mengerti.
Kaysa tidak mengira jika hal seperti ini bisa terjadi dalam hidupnya. Rasanya nyawanya ikut melayang ketika melihat Syadev yang koma. Namun semua sudah berlalu, dia bersyukur kini saudaranya bisa sadar kembali.
"Kalian sudah makan belum?" tanya Zhia cemas.
"Sudah," jawab Alarik menenangkan Bundanya yang mudah panik.
Kecelakaan Syadev merupakan goncangan yang dahsyat untuk keluarga Syauqi Malik, bukan hanya dari anak-anak saja Namun Syauqi dan Zhia sebutir nasi pun juga tidak bisa masuk ke tenggorokannya. Jadi Syauqi dan Zhia mengganjal perut mereka dengan roti dan buah. Agar badan tidak lemas mereka meminum Vitamin atas anjuran dokter.
"Ayah, kenapa Orang tua Darren dan Zahra tidak terlihat?" tanya Kaysa.
"Mereka baru saja pulang, masa kalian tidak berpapasan di jalan?" ucap Syauqi bertanya balik.
"Tidak," jawab Alarik dan Kaysa secara bersamaan.
"Kaysa, Flora, sini gantian peluk Oma," ucap Mama Syauqi yang sudah lanjut usia.
Kaysa dan Flora langsung berlari mendekati Omanya.
"Kalian semua sudah besar sekali, dan Alarik, kapan kamu menikah?" tanya Oma.
Alarik hanya tersenyum malu. Sedangkan Kaysa tertawa karena Omanya tidak tahu jika calon istri Alarik adalah cucunya sendiri.
Tak lupa Alarik dan Kaysa juga memberi salam pada Tante Nayla dan Om Rendra yang duduk di pojokan kursi.
"Kenapa Orlin tidak ikut?" tanya Rendra.
"Dia sedang sibuk mengurus perusahaan om, karena sudah beberapa hari ini aku tidak bisa masuk kantor," jawab Alarik sopan.
"Tante senang jika kalian bisa saling membantu, semoga kedepannya semakin baik," ucap Nayla.
"Apa Orlin belum memberitahu kedua orang tuanya tentang hubungan aku dengan Kaysa? Ya ampun, bagaimana ini," batin Alarik semakin frustrasi.
Namun dalam kondisi yang seperti ini juga tidak tepat membahas tentang sebuah hubungan.
Beberapa saat kemudian Alarik mengalihkan pembicaraan dengan mengintip lewat jendela kaca kecil untuk melihat Syadev, ternyata adiknya itu sudah terbangun.
"Syadev sudah bangun," kata Alarik antusias.
"Aku ingin menemuinya," ucap Kaysa.
__ADS_1
"Baiklah, karena hanya boleh dua orang yang masuk, jadi Flora nanti gantian ya? Biar Kak Al dan Kak Kaysa terlebih dahulu," ucap Syauqi.
"Iya, ayah," jawab Flora patuh.
Untuk masuk ke dalam Alarik dan Kaysa diwajibkan berganti pakaian yang sudah disterilkan terlebih dahulu, tak lupa juga mereka mengenakan masker.
Kaysa tidak tahu maksudnya apa tapi yang terpenting dia bisa menemui saudaranya.
Dari dalam rupanya Syadev sudah mendengar suara Kaysa, pemuda itu menyambut kedua kakaknya dengan senyuman hangat.
"Kenapa tersenyum? Kamu merindukan aku ya? Kamu ini lelaki macam apa, nyetir mobil aja sampai kecelakaan," sindir kaysa sambil menangis haru.
Syadev hanya tersenyum, sebab pemuda itu tahu jika apa yang sudah diucapkan Kaysa barusan justru sebaliknya. Yaitu Kaysa merindukan Syadev dan Kaysa mengkhawatirkan Syadev.
"Kamu harus segera sembuh! Janjimu yang ingin mentraktir aku harus ditepati," timpal Kaysa dengan wajah pura-pura cemberut.
Alarik dan Syadev hanya senyum-senyum sendiri melihat Kaysa yang sebenarnya perhatian tapi gengsi ketahuan.
"Syadev, cepatlah sembuh ya? Kasihan Kaysa tidak mau makan sama sekali," ucap Alarik lembut.
Syadev hanya mengangguk, ingin bicara kesulitan karena masih ada alat bantu pernapasan yang melekat.
"Siapa bilang? Tidak ada syadev jatah makan aku jadi berlipat-lipat," elak Kaysa.
Syadev merasa terhibur dengan kedatangan saudara kembarnya itu. Kemarin pemuda itu sempat takut jika tidak diberi kesempatan untuk bertengkar lagi dengan saudara kembarnya.
"Tukang bohong! Katanya makan banyak tapi tubuh kurus begitu, lingkaran mata juga hitam seperti anak panda," batin syadev senyum-senyum sendiri.
Dalam kediamannya sebenarnya Syadev merindukan Kaysa, setelah di beri kehidupan yang kedua pemuda itu bertekad untuk memperlakukan saudara kembarnya lebih baik lagi.
"Syadev, apa kamu sudah tahu jika kepalamu botak?" tanya Kaysa pelan.
Takk...
Alarik menjitak kepala Kaysa, sebab gadis itu masih saja mencari masalah dalam keadaan saudaranya sedang sakit parah.
Mata syadev terbelalak kaget, dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada rambutnya.
Sejak kecil Syadev memang suka rambut gondrongnya yang di warnai pirang.
Syadev ingat, sewaktu kecil dia bermain di rumah Darren. Di sana kedua pemuda kecil itu diwarnai rambutnya oleh Dony.
Sampai di rumah Syadev dimarahi Bundanya. tapi tetap saja pemuda itu mempertahankan rambutnya hingga dewasa.
Namun karena keadaan luka di kepalanya Syadev mengerti, baginya saat ini nyawanya lebih penting dibanding penampilannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Satu Minggu kemudian.
Peralatan medis yang menempel pada tubuh Syadev sudah di lepas, pemuda itu juga sudah mulai bisa berbicara secara perlahan.
Kini dia di pindahkan ke ruang inap. Orang-orang pun bisa mengunjunginya lebih leluasa.
Setiap hari selalu banyak tamu istimewa dari berbagai negara, mereka semua sahabat Syauqi.
Kaysa dan Syadev terkejut, ternyata Ayah mereka sangat hebat. Dikenali dan dihormati banyak orang.
Kelurga Oma Kaysa dari Jerman sudah berpamitan pulang, begitu juga dengan Keluarga Rendra yang kembali ke London.
Kini suasana menjadi tenang, karena Kaysa juga bisa menjaga sikapnya dengan baik.
Kaysa tidak tahan mengambil cermin besar yang entah diambilnya dari mana. Kemudian di letakkan dihadapan saudara kembarnya itu agar bisa melihat diri sendiri.
Penampilan rambut barunya Syadev justru membuat dia semakin terlihat dewasa dengan gaya rambut yang pendek.
"Rasanya aneh sekali dengan rambut seperti ini," batin Syadev.
__ADS_1
"Kaysa, jangan ganggu Syadev lagi! Sekarang waktunya dia makan," tegur Alarik lembut.
"Biar aku yang suapin," jawab Kaysa antusias.
Tangan kiri Syadev memang retak, masih butuh waktu beberapa bulan untuk bisa sembuh seperti semula. Jadi setiap makan dengan perhatian Kaysa yang menyuapi saudaranya dengan senang hati.
Syadev juga tidak menolak mendapat perhatian dari saudara kembarnya itu, entah kenapa kini hati pemuda itu mulai tidak merasa malu untuk bersikap baik pada Kaysa.
Memang pemandangan yang enak untuk dilihat.
Syauqi dan Zhia tersenyum bahagia, akhirnya kondisi Syadev semakin membaik. Apalagi melihat si kembar itu bisa akur membuat kedua orang tua itu bisa bernapas lega.
"Ayah, dua hari lagi mereka mulai masuk sekolah," kata Alarik mengingatkan.
Syadev dan Kaysa terkejut, mereka bahkan sampai melupakannya.
"Ayah, aku masih sakit. Sebaiknya aku pindah sekolah di sini saja, lagi pula sebentar lagi lulus dan aku juga akan melanjutkan kuliah di sini," pinta Syadev.
"Itu keputusan bagus, Ayah juga lebih tenang kamu di rawat di sini. Teman Ayah itu Dokter yang sangat hebat," jawab Syauqi.
"Lalu aku bagaimana?" tanya Kaysa sedih, dia masih tidak rela berpisah dengan Syadev.
"Tentu saja pulang, kamu dan Flora nanti sore pulang bersama Kak Al," jawab Syauqi.
Kaysa berubah murung, sama sekali tidak memiliki semangat.
"Lalu Ayah dan Bunda pulang bersama Flora atau tidak?" tanya flora dengan suara cemas.
"Tentu Ayah dan Bunda di sini, siapa yang menjaga Kak Syadev nanti?" tutur Zhia lembut.
Flora juga ikut-ikutan berubah sedih. Karena biasanya keluarga mereka tidak pernah terpisah.
"Nanti kalau kondisi Syadev sudah baikan, Kami akan segera pulang," timpal Syauqi menghibur kedua putrinya.
"Di rumah jadi sepi, apalagi nanti Kak Al juga kembali ke kotanya," ucap Kaysa sedih.
"Untuk sementara kamu dan Flora akan tinggal di rumah Tante Elly," bujuk Syauqi.
"Baiklah, Ayah, Bunda," jawab Kaysa dan Flora patuh.
"Alarik, nanti kamu juga harus segera kembali ke perusahan, tidak baik jika lama-lama ditinggal," nasihat Syauqi.
"Iya, Ayah," jawab Alarik.
"Ayah dan Bunda mau bertemu Dokter sebentar ya?" pamit Syauqi.
"Kalian juga segera makan! Semua sudah disiapkan di atas meja," timpal Zhia lembut.
Setelah Kedua orang tua Kaysa keluar dari ruangan, gadis itu langsung mendekati kuping Syadev.
"Apa kamu yakin mau pindah sekolah? Nanti bagaimana kalau merindukan Anggun?" bisik Kaysa.
Kaysa takut jika terdengar Alarik. Karena jika ketahuan menggoda Syadev pasti kepalanya dijitak lagi.
"Siapa Anggun?" tanya Syadev dengan wajah bodoh.
"Hah...?" pekik Kaysa kaget.
Jangan lupa dukung terus Novel CINTA YANG TERPAKSA dengan cara like dan vote sebanyak-banyaknya yah🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
Menurut Readers kenapa Syadev tidak ingat Anggun.
A. Lupa ingatan sebagian
B. Pura-pura saja
Kalau jawabannya pura-pura karena apa ya?🙃
__ADS_1