CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 54


__ADS_3

Malam ini Syadev memiliki rencana untuk makan malam dengan Anggun, tapi ingin keluar diam-diam takut nanti di cari. mau izin juga takut Bundanya melarang.


Akhirnya Syadev menghubungi Darren untuk membantunya.


Lima belas menit kemudian orang yang ditunggunya datang juga, Darren memasang wajah semanis mungkin untuk membuat Bunda Syadev tidak tega untuk menolak.


"Tante, bolehkah malam ini Syadev menginap di rumahku? Aku ingin sharing tentang masuk Universitas di Amerika, besok siang kan Syadev sudah mau berangkat," pinta Darren dengan wajah memelas.


Zhia yang memiliki hati lembut itu tidak tega menolak permintaan putra sahabatnya.


"Iya, tapi jangan begadang sampai malam ya? Besok pagi Syadev harus pulang ke sini untuk mempersiapkan barang-barangnya," jawab Zhia.


"Terima kasih, Tante Zhia," ucap Darren senang.


Syadev juga tidak kalah bahagianya, hanya saja dia tahan karena takut dicurigai Bundanya.


Syadev dan Darren segera berangkat menuju rumah Zahra.


Syadev merasa lega karena Tante Elly dan Om Fauzi sedang tidak ada di rumah, jadi mereka tidak perlu berbohong lagi.


Syadev terpana melihat istrinya yang memakai baju baru serta wajahnya di make up natural, tidak sia-sia tadi dia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk istrinya belanja.


"Ayo!" ajak Syadev pura-pura dingin karena menutupi rasa gugupnya.


"Iya," jawab Anggun malu-malu.


Syadev meminjam mobil Darren, dia segera mengajak istrinya pergi.


Dua orang yang sama-sama pemalu dan belum pernah pacaran, mereka terlihat saling gugup. Jangankan memikirkan malam pertama, mengingat ciuman dulu yang tanpa sengaja saja sudah membuat hati mereka berdesir.


Syadev sendiri tidak mengira, entah keberanian dari mana sampai dia memiliki tekad untuk menikah di usia muda. Bahkan tanpa memberitahu keluarganya.


Di sepanjang perjalanan keduanya hanya diam saja, ingin membuka percakapan tapi sama-sama bingung.


Hingga sampai di restoran Syadev baru bisa mengeluarkan suaranya.


"Mau makan apa?" itulah ucapan yang akhirnya keluar dari mulut Syadev.


"Aku sama dengan kamu saja," jawab Anggun malu, karena dia memang tidak pernah pergi ke tempat makan yang mewah seperti ini.


Setelah pesanan datang, mereka mulai menikmati makanannya.


Namun meskipun suasananya tenang tapi tidak ada yang tahu isi hati mereka.


"Ingin rasanya aku perhatian padanya, tali aku malu." batin Syadev dilema.


Pemuda itu memang tidak pandai untuk mengungkapkan perasaannya, walaupun hatinya ingin tapi pikirannya menolak.


Sedangkan Anggun juga merasa resah, gadis itu menganggap jika Syadev sudah berubah tidak seperti dulu lagi.


"Dulu kamu selalu mengajak ngobrol, perhatian dan kadang juga bercanda. Namun kenapa sekarang kamu berubah dingin seperti ini? Kamu berada di sampingku, tapi orang yang aku sayangi seperti berada di tempat lain," batin Anggun.


Setelah selesai makan, Syadev mengajak istrinya pergi ke sebuah pariwisata yang terletak di bukit. Di sana memang menyediakan pemandangan malam yang indah. Langit di hiasi bintang-bintang sedangkan perkotaan yang berada di bawahnya penuh dengan lampu-lampu yang terang.


Di sana juga banyak sekali warung angkringan, menjual berbagai macam makanan dan asessoris.


Hawa yang dingin dan angin yang berhembus kencang membuat Anggun kedinginan.


Syadev yang menyadarinya segera melepas jaketnya dan memakaikan pada istrinya.


Anggun hanya diam patuh sambil merona wajahnya, saat itu Syadev tidak bisa berkedip memandang istrinya yang terlihat semakin cantik.


Syadev sangat ingin memeluk Anggun, tapi lagi-lagi tubuhnya kaku tidak dapat digerakkan.


Syadev memilih di tempat yang sepi, sebab dia tidak suka dengan keramaian.


"Kenapa dari tadi Syadev hanya diam saja? Apa dia menyesal menikahiku?"


"Syadev..." panggil Anggun lembut.


"Iya?" jawab Syadev menatap lekat ke wajah Anggun yang manis.


Di tatap seperti itu membuat Anggun semakin salah tingkah. Tapi dia memberanikan diri untuk memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Apa kamu menyesal telah menikahiku? Seandainya ingatanmu sudah kembali dan ternyata orang yang kamu cintai bukanlah aku apakah kamu akan meninggalkan aku?" tanya Anggun pelan-pelan karena takut.


Syadev terkejut sendiri mendengar pertanyaan Anggun.


"Apa yang sedang dipikirkan gadis ini? Apakah dia masih ragu jika aku mencintainya?" batin Syadev dengan ekspresi datar.


"Syadev, jika memang orang yang kamu cintai bukanlah aku. Aku akan rela kamu menikah lagi, tapi jangan tinggalkan aku. Karena orang yang aku cintai dan yang paling berarti di dalam hidupku hanyalah kamu!" ucap Anggun menatap sayu.


Syadev semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya, tapi dia sendiri juga tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata.


Syadev hanya diam saja tidak bisa menjawab, tapi kedua tangannya langsung memeluk tubuh Anggun dengan erat.


Inilah untuk yang pertama kalinya Syadev memeluk seorang wanita, ada perasaan hangat, bahagia dan hati yang berdebar-debar.


Anggun menangis terharu dalam pelukan suaminya, tidak disangka jika dada Syadev sangat nyaman sebagai sandaran.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Syadev lirih.


"Aku takut jika kamu menyesal menikahi aku," jawab Syadev.


Syadev tersenyum senang, tapi dia terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaannya pada orang lain.


"Ingat! Aku hanya akan berkata satu kali, setelah ini kamu tidak boleh mengatakan ucapan seperti tadi ataupun menanyakan hal yang aneh-aneh lagi. Aku tidak menyesal menikahimu, dan aku tidak akan mencintai perempuan lain atau menikah lagi. Jadi hanya kamulah satu-satunya yang akan istriku," kata Syadev masih memeluk Anggun dengan erat.


Dia sama sekali tidak ingin melepas pelukannya itu, karena dia takut jika Anggun melihat wajahnya yang saat ini memerah. Sebagai seorang lelaki yang memiliki harga diri tinggi pasti akan menjaga imejnya dengan baik, apalagi terhadap seseorang yang dicintainya.


Satu kalimat yang barusan terucap dari bibir Syadev sudah cukup bagi Anggun. Karena dia juga tahu jika Syadev bukan tipe orang yang suka banyak bicara.


Anggun yang patuh dan tidak bawel membuat Syadev semakin bersyukur, sebab dari dulu dia memang meminta jodoh seorang perempuan yang tidak seperti saudara kembarnya.


Malam semakin larut, gerimis mulai melanda bukit tinggi yang sudah sepi.


Syadev mengajak Anggun berteduh di sebuah tempat makan yang terbuat dari bambu.


"Mau pesan apa?" tanya Seorang bapak tua dengan ramah.


Syadev kasihan juga melihat orang setua itu masih jualan.


"Bakso sama mie ayam dan gorengan," jawab bapak tua itu.


Syadev ingat, jika Anggun adalah pecinta mie ayam.


"Mie ayam dua, gorengan satu piring dan teh hangat dua," jawab Syadev.


"Iya, silahkan menunggu di atas ya?" ucap bapak tua itu.


dengan menaiki tangga yang tingginya lima meter mereka sampai di lantai dua. Tidak luas, hanya sekitar empat kali empat meter dan tidak ada dinding. Sehingga bisa melihat pemandangan malam yang indah.


Tak berapa lama kemudian, Bapak tua penjual datang di bantu istrinya.


"Silahkan dinikmati," ucap Bapak itu.


Syadev merasa penasaran juga dengan kehidupan mereka berdua.


"Bapak setiap hari berjualan sampai malam seperti ini?" tanya Syadev.


"Bapak memang berjualannya malam, kalau siang menggarap sawah," jawab Bapak itu.


"Kenapa tidak istirahat saja? Dimana anak-anak bapak?" tanya Syadev lagi.


"Mereka semua sudah berkeluarga sendiri, dan tinggal di tempat jauh. Kami di sini bukan hanya sekedar berjualan saja, tapi juga mencari hiburan. Dari pada di rumah sepi," ucap bapak itu tersenyum riang tanpa beban.


"Kalian apa tidak dimarahi orang tua kalau malam-malam berkeluyuran?" tanya Ibu tua dengan wajah cemas.


"Kami sudah menikah kok. Bu," jawab Syadev bisa menebak pikiran ibu itu.


"Oalah, ya sudah. Silahkan menikmati, nanti keburu dingin!" kata ibu tua itu yang terlihat tersenyum lega.


Setelah pemilik kios turun, syadev dan Anggun segera menikmati mie ayam tersebut. Sangat cocok sekali dingin-dingin makan yang hangat.


Syadev tersenyum melihat wajah Anggun yang belepotan, dengan lembut dia mengusap wajah gadis itu dengan pelan.


Anggun hanya menunduk malu karena makan tidak rapi seperti suaminya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, kedua mangkok itu sudah habis.


"Hujannya semakin deras, sebaiknya kita di sini dulu. Aku bawa mangkok ini ke bawah ya?" ucap Syadev tersenyum manis.


Hanya dengan senyuman Syadev seperti itu sudah membuat anggun senang.


Syadev turun dan memberikan kedua mangkok itu pada penjual.


"Nak, masih hujan. Sebaiknya di sini dulu," ucap bapak tua tersebut


"Iya, Pak." jawab Syadev sopan.


Sedih juga melihat dagangan yang masih banyak, seandainya ada Kaysa mungkin gorengan itu bisa langsung dihabiskan.


"Pak, saya minta gorengannya satu piring lagi. Sama susu hangat dua gelas," punya Syadev.


"Iya, nak."


Setelah itu Syadev naik ke atas menemui istrinya. Anggun heran kenapa suaminya membeli makanan lagi.


"Buat cemilan, kasihan juga jika makanan bapak ini tidak laku," ucap Syadev.


Anggun hanya tersenyum bangga melihat kebaikan yang ada di dalam diri suaminya.


Anggun mulai merasakan kehadiran Syadev yang seperti dulu.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tanya Syadev heran.


"Aku hanya merasa jika Syadevku sudah kembali," jawab Anggun senang.


"Dari tadi aku selalu bersamamu kan?" tanya Syadev lagi tak mengerti.


"Memang di sisiku, tapi kamu cuek seperti bukan Syadevku yang dulu," jawab Anggun tersenyum manis.


Ada angin apa yang berhembus, tiba-tiba hasratnya mengalahkan pikiran gengsinya.


Kedua tangan Syadev meraih pundak Anggun, kemudian bibirnya mendarat tepat di bibir Anggun yang lembut.


Anggun hanya pasrah dan menutup matanya, membuat Syadev semakin ingin dan ingin lagi.


Mereka berciuman dengan mesra, hati mereka menyatu seperti bunga dan kumbang. Hujan yang semakin deras seperti melodi cinta yang mengiringi kisah mereka berdua.


"Anggun..." bisik Syadev lembut.


"Syadev..." jawab Anggun.


"Aku mencintaimu, selama ini aku mencintaimu. Dan aku juga tidak pernah lupa ingatan, maafkan aku yang sudah membohongimu," kata Syadev tersenyum manis.


Anggun marah dan senang dalam waktu yang bersamaan.


"Kenapa kamu jahat sekali" ucap Anggun kesal.


"Saat itu aku membohongi Kaysa karena tidak ingin dia membuat masalah lagi, tapi tidak ku sangka jika semua itu bisa sampai seperti ini," jawab Syadev.


"Aku setiap malam menangis, karena kamu sudah melupakan aku. Walaupun kita sudah menikah aku masih saja merasa kamu ini orang asing," rengek Anggun.


"Maaf, setelah ini aku akan membuat malam-malam kamu bahagia," bujuk Syadev.


"Apa maksudnya?" tanya Anggun.


"Kita sudah menikah, kita sudah bebas melakukan apapun," jawab Syadev lansung memeluk dan mencium Anggun lagi.


Syadev sudah lelah berpura-pura lupa ingatan, tadi melihat kedua orang tua yang hidup rukun dan masih harmonis membuat Syadev sadar, jika dia harus bisa menghargai waktu dan seseorang yang mencintainya. Keras kepala dan gengsi hanya akan membuat orang yang dicintainya merasa tidak bahagia.


"Tapi... tapi, aku masih belum siap," ucap Anggun takut dan malu.


"Tenang, aku tidak meminta sekarang. Mana mungkin aku akan membuat kenangan malam pertama kita di sini," jawab Syadev menggoda istrinya.


Antara bahagia dan malu, tapi Anggun sudah siap menjadi istri Syadev seutuhnya. Baginya, impian yang sesungguhnya adalah hidup bersama pemuda yang dicintainya ini.


Jangan Lupa Like dan Vote yaπŸ€— karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi AuthorπŸ€—


Setelah ini gantian Kaysa dan Alarik, menurut kalian apakah malam pertama mereka akan berlangsung atau di tunda ya? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2