CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Berantem mesra


__ADS_3

Hari ini terasa indah secerah perasaan Zhia, karena dia baru saja mendapat kabar baik.


Pertama, barusan Syauqi pamit mau ke luar negeri. Zhia berharap pulangnya lama karena dia tak ingin bertemu dengan Syauqi. Karena entah kenapa setiap di dekat calon suaminya Zhia merasa bahaya.


Dan kabar baik yang kedua, Iyas pagi ini juga sudah diizinkan pulang. Meskipun Zhia tak bisa bebas ke rumah lyas seperti dulu, tapi dia sudah merasa bersyukur dengan kesehatan lyas yang membaik.


Zhia menyapu halamannya dengan riang, walaupun dia harus bolak - balik karena daun yang kering sering rontok dihempas angin.


Tiba - tiba Zhia tersenyum melihat keponakan kecilnya berlari sambil menyebut namanya.


"Bibi... ada yang nyaliin," kata gadis mungil itu sambil jari telunjuknya mengarah ke Ruko.


Zhia tersenyum karena kelucuan Alifya yang masih belum bisa melafalkan huruf R. Zhia melihat mobil di parkiran, diapun tahu siapa yang mencarinya.


Zhia segera menemui Nindy, rupanya teman Zhia itu tak sendirian. Nindy bersama Dony sedang menikmati kue dan kopi.


"Assalamu'alaikum," sapa Zhia yang langsung disambut sumringah dua sejoli itu.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Tumben jam segini kalian bisa santai, apa sedang tidak bekerja?" tanya Zhia penasaran.


"Sengaja aku cuti, hari ini pengen jalan - jalan ke pantai supaya otakku bisa rilex. Dari kemarin banyak pesanan jadi aku bekerja lembur sampai pagi terus," jawab Nindy lemas.


"Betul itu, sesekali santai biar tidak jenuh. Nanti saat bekerja kembali sudah memiliki semangat baru," ungkap Zhia.


"Tapi masalahnya aku tak diizinkan libur kerja kalau kamu nggak ikut," sela Dony.


"Apa?" sentak Zhia, dia merasa heran.


"Nih lihat sendiri pesan dari suamimu!"


Dony memperlihatkan isi pesan dari Syauqi.


Syauqi


Kuizinkan libur kalau Zhia diajak juga, jika tidak habis kau. Pokoknya jangan sampai Zhia menemui Iyas!


Zhia kaget melihatnya.


"Orangnya tidak disini pun masih bisa membuatku merasa sebal, dia selalu bertingkah seenaknya sendiri."


"Aku lagi malas keluar, lagian aku juga tidak akan ke rumah Mas lyas. Nanti bilang saja kalau aku ikut," jawab Zhia merasa nggak enak, apalagi jika harus menjadi obat nyamuk.


"Kalau Syauqi meminta bukti foto bagaimana?meskipun aku ini sahabatnya ,aku tetap masih bawahannya di kantor," sergah Dony.


"Ayolah Zhia, masa iya aku kepantai sendirian," bujuk Nindy.

__ADS_1


Setelah satu menit berpikir Zhia pun menyetujuinya. Dia tak tega melihat Nindy dengan wajah kusut itu, sepertinya dirinya sendiri juga butuh suasana yang bisa menenangkan hatinya.


Mereka memutuskan kepantai terdekat saja karena airnya jernih dan banyak pepohonan.


********************************


Zhia menggelar tikar di bawah pohon sambil meminum air kelapa muda dan makan cemilan.


Dari kejauhan Dony dan Nindy sedang asyik berceburan di pantai. Mereka berdua saling menyipratkan air ke satu sama lain dan kejar - kejaran seperti anak kecil. Di dalam hatinya Zhia mendoakan semoga Dony dan Nindy segera dipersatukan karena mereka sangat cocok dan terlihat saling menyukai.


"Alangkah bahagianya jika bisa bersama orang yang di cintai.


Dulu di tempat ini menjadi kenangan ketika Mas Iyas memberikan cincin padaku.


Di pantai ini juga kami berdua saling mengikat janji bersama selamanya.


Namun siapa sangka badai menerjang dan memporak -porandakan kapal cinta kami, sehingga hancur dan tenggelam sebelum sampai di Dermaga.


Badai... Mas Syauqi seperti gelombang badai besar yang datang tanpa bisa dicegah."


Tak terasa air mata Zhia berlinang, dia teringat kisah manis bersama Iyas. Sebenarnya Zhia merindukan Iyas. Namun dia tak bisa berbuat apapun. Jika Zhia menghubungi Iyas duluan sudah pasti Syauqi marah besar, di sisi lain dia juga akan membuat Iyas sulit melupakan dirinya.


Tiba - tiba ponsel Zhia berbunyi, ada panggilan dari Syauqi. Walaupun Zhia merasa malas tapi tetap diangkat juga.


"Sayang, apa kabar?" sapa Syauqi, yang pastinya dari sana sedang tersenyum menghoda. Namun karena bicaranya lewat telepon tentu Zhia tak dapat melihatnya.


"Biasakan mengucapkan salam dahulu, Mas Syauqi!" protes Zhia.


Kuping Zhia sebenarnya tidak tahan mendengar suara Syauqi, dia mengharapkan Syauqi cuek seperti dulu dari pada berlebihan seperti sekarang.


"Kok tidak dijawab?" tanya Syauqi lagi.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zhia tak bersemangat.


"Lagi apa sekarang?" tanya Syauqi mesra.


"Bukankan Mas Syauqi sendiri yang mengancam Mas Dony supaya aku ikut ke pantai?" jawab Zhia ketus.


"Ha ha ha... oh iya, aku lupa," jawab Syauqi tertawa lepas.


"Puas kamu, menjadikan aku sebagai obat nyamuk?" sela Zhia merasa sebal.


"Lalu bagaimana? Apa aku harus menyusul ke situ sekarang?" goda Syauqi tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Tidak perlu, dengan kepergianmu yang lama aku sudah cukup berterimakasih," sergah Zhia.


"Oh, jadi kamu menginginkan aku tidak pulang ya? Supaya kamu bisa balikan dengan lyas? Kalau begini aku jadi ingin pulang sekarang juga dan akan menculikmu lagi," balas Syauqi.

__ADS_1


Zhia merinding mendengar kata menculikmu lagi.


"Bukan begitu maksudku, kalau Mas Syauqi lama keluar negeri pasti nanti dapat uang banyak bisa buat biaya pernikahan,"jawab Zhia yang merasa takutan.


Syauqi tertawa lagi, kali ini suaranya semakin keras dan lama. Syauqi merasa geli dengan alasan Zhia yang terdengar sangat lucu.


"Jangankan untuk pernikahan, tanpa aku bekerja kita masih bisa hidup mewah seumur hidup." balas Syauqi.


Zhia merasa nyalinya menciut jika berdebat dengan Syauqi.


"Lebih baik diam,aku tak mungkin bisa menang melawan tuan pandai bicara itu."


"Kenapa diam? Sudah tak sabar ingin segera menikah denganku ya? Kira - kira kita bulan madu kemana ya? Hmm... mending nggak usah kemana - mana. Lebih enak berduaan di kamar saja," goda Syauqi yang semakin menjadi.


Syauqi sudah membayangkan dengan yakin jika wajah Zhia merona merah karena malu.


Namun tak hanya malu, kupingnya Zhia juga sudah terasa panas.


"Aku mau ikutan Nindy dan Mas Dony bermain air di pantai," jawab Zhia emosi.


"Ayolah jangan tutup dulu, aku masih merindukanmu," pinta Syauqi manja.


"Baru Lima jam yang lalu kita bertemu," ketus Zhia.


"Aku kan maunya setiap detik selalu bersamamu. Lagian aku heran kenapa sekarang kamu menjadi galak padaku?Padahal dengan orang lain sangat lembut," ungkap Syauqi.


"Itu karena Mas Syauqi sendiri yang menyebalkan. Seharusnya yang merasa heran itu aku, karena dulu kamu tak seperti ini,"


balas Zhia sengit.


"Yang salah kamu, karena menebarkan virus cinta padaku," jawab Syauqi tak mau kalah.


Zhia merasa aneh, dulu dia selalu sabar menghadapi orang lain. Baru kali ini Zhia bebicara jutek dan ketus.


Dua jam sudah Zhia dan Syauqi berdebat lewat telepon, entah apa yang dibahas namun mereka selalu berbeda pendapat.


Sampai Dony dan Nindy sudah berganti baju, masih saja Zhia dan Syauqi saling beradu mulut.


"Cieh... Berantem mesranya dilanjutin di rumah saja, Buk. Kita sudah mau pulang ini," protes Dony.


Suara Dony barusan mengagetkan Zhia, tanpa permisi Zhia menutup teleponnya karena sebal dengan Syauqi.


*************************


Di ujung sana, Syauqi tengah tersenyum bahagia. Dia merasa senang berantem mesra dengan Zhia dari pada diabaikan oleh wanita pujaannya.


"Baru kali ini aku di hina tapi aku malah merasa bahagia..."

__ADS_1


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2