
Kaysa terbangun dari tidurnya, tubuhnya kali ini terasa remuk karena dihajar habis-habisan oleh suaminya.
"Sial, suamiku dulu terlihat alim saat aku goda. Sekarang siapa sangka justru minta terus."
Kaysa masih merasa lemas untuk bangun, sedangkan suaminya baru saja membuka matanya. Dengan senyuman manis Alarik memeluk istrinya lagi.
"Jam berapa istriku sayang?" tanya Alarik dengan suara serak basah.
"Sudah hampir Maghrib," jawab Kaysa.
"Kamu ini kenapa?" tanya Alarik pura-pura tidak tahu.
Kaysa mendengus kesal, sebab suaminya itu tidak pernah ada kata lelah.
"Katanya mau pengen cepat punya anak, jadi tidak boleh mengeluh," goda Alarik.
"Tapi Kak Al ini sudah kelewatan deh," balas Kaysa kesal.
"Habisnya kamu enak banget sih," jawab Alarik sambil mencium rambut istrinya yang sudah acak-acakkan.
Sebenarnya Kaysa menikmati juga, hanya saja sebagian perempuan dia merasa malu mengakuinya.
"Bagaimana ini? Kita pulang kapan?" tanya Kaysa.
"Mandi dulu terus sholat, baru kita pulang," jawab Alarik bangkit dari tidurnya.
Kaysa hanya bisa mematuhi perintah suaminya, sebab jika mereka pulang sekarang juga tidak akan keburu sholat Maghrib.
"Aku tiduran lagi ah menunggu suamiku selesai mandi. Kalau sekarang aku menyusul ke sana bisa habis aku."
Baru saja Kaysa ingin memejamkan mata tapi ponselnya berdering. Dengan agak malas Kaysa terpaksa mengambil ponsel tersebut di atas meja yang tidak jauh darinya.
"Zahra, ada apa?" tanya Kaysa lewat teleponnya dengan nada malas.
"Kaysa, malam ini akan ada acara pertemuan dua keluarga mengenai hubungan aku dan Darren," ucap jawab Zahra gugup.
"Ya syukur kalau begitu," balas Kaysa tidak terkejut.
"Tapi aku malu, dan lagi sebenarnya untuk menikah aku masih belum siap," ujar Zahra panik.
"Kenapa memangnya?" tanya Kaysa penasaran.
"Yah... Masih belum siap saja, tapi Darren selalu mendesak agar kita selalu menikah," ucap Zahra terdengar ragu-ragu.
"Apa kamu mengenal pemuda lain?" selidik Kaysa.
"Bukan seperti itu! Aku hanya masih ingin kuliah saja." jawab Zahra cepat-cepat.
"Aku sudah menikah juga tetap masih kuliah dan bermain dengan teman seperti biasanya kok," sergah Kaysa.
"Kaysa, bagaimana perasaanmu setelah menikah?" tanya Zahra malu-malu.
"Tentu senang, setiap hari bisa bersama orang yang dicintai. Dan... Setelah menikah bisa melakukan itu loh, rasanya enak...enak....," jawab Kaysa sambil tertawa.
"Kaysa.... bukan itu yang aku maksud!" pekik Zahra malu.
"Lalu apa lagi? Niat menikah juga begitukan?" goda Kaysa.
Zahra yang sudah panas dingin karena menahan malu akhirnya menutup teleponnya. Kaysa tertawa puas sekali, sebab sepupunya tersebut memang pemalu.
Alarik yang baru saja selesai mandi hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan nakal istrinya.
"Istriku yang pemalas, ayo bangun dan mandi. Atau mau aku mandiin?" ujar Alarik.
"Tidak! Aku mandi sendiri," pekik Kaysa kaget.
"Bukanya kata kamu barusan enak?" goda Alarik mendekatkan tubuhnya pada Kaysa.
"Aku sentuh ya.. aku sentuh yaa..." balas Kaysa.
__ADS_1
"Silahkan, nanti bisa wudhu lagi. Tapi jika kamu berani sentuh akan tahu sendiri akibatnya," jawab Alarik tersenyum puas.
Kaysa yang tidak ingin dikerjai suaminya lagi langsung lari masuk ke kamar mandi. Alarik tertawa dan melihat tingkah konyol istrinya tersebut.
Kaysa tidak punya peralatan sholat di sana.
Alarik berniat menunggu istrinya dan sholat di masjid terdekat. Karena biasanya di Masjid sudah tersedia.
Saat Alarik duduk tiba-tiba ponsel milik Istrinya itu bergetar, rupanya ada panggilan dari orang yang nomornya tidak dikenal.
Alarik iseng membuatnya.
"Hay Kaysa, akhirnya aku menemukan nomormu juga. Pesonamu sungguh mengagumkan, pertama melihatmu kamu sudah bisa membuat aku terlena," rayu seorang pemuda dengan suara berat lewat telepon.
"Siapa kamu? Jangan pernah berani mengganggu istriku!" balas Alarik tajam.
"Wah... Ternyata Tuan Alarik Mandala ya? Aku suka tantangan, dan aku bukan pemuda pengecut. Bagaimana kalau aku merebut istrimu?" ejek pemuda tersebut.
"Silahkan kalau bisa," balas Alarik dengan gaya santai.
"Oke, kirim salam untuk istrimu ya?" jawab pemuda itu tanpa rasa takut.
Tak berapa lama sambungan telepon diputus. Alarik marah tapi mencoba bersikap biasa. Dengan santainya nomor tersebut diblokir dari ponsel istrinya.
"Ada apa?" tanya Kaysa yang baru muncul.
"Tidak, hanya iseng membuka ponsel istriku. Siapa tahu ada chatt mesra dengan pemuda lain," gurau Alarik
"Ahaaa... Santai, sejauh ini belum ada pemuda yang lebih tampan dari suamiku," jawab Kaysa tertawa.
"Kalau seandainya ada yang lebih tampan bagaimana?" tanya Alarik serius.
"Tapi masih hot suamiku," goda Kaysa.
Alarik mendadak berubah ekspresi wajahnya.
"Loh, kamu kenapa?" tanya Kaysa heran.
"Ha... Ha... Seribu pemuda tampan yang datang merebutku percuma kalau aku sendiri tidak mau. Jadi Semua tergantung kinerja suamiku, bagaimana biar aku selalu jatuh cinta padamu," jawab Kaysa enteng.
"Baiklah, kalau begitu setiap malam aku akan bekerja lebih keras lagi," balas Alarik mengedipkan sebelah matanya.
Kaysa terkejut dan malu sendiri, tapi Kaysa tidak mau menunjukkan perasaannya.
"Ayo kita ke masjid," ajak Alarik masih tertawa.
Kaysa segera memakai baju dan jilbabnya. Dia tidak peduli pada rambutnya yang belum kering. Dia berniat mengeringkan rambutnya jika sudah di rumah, apalagi waktu sholat Maghrib juga singkat.
ππππππππππππππππ
Syadev terbangun saat mendengar adzan Maghrib, dengan penuh kasih sayang dia membangunkan istrinya dengan cara mencium pipinya.
"Eh, sudah Adzan. Aku sampai tidak mendengar tadi," ucap Anggun.
"Kamu tidurnya nyenyak sekali, sampai tidak sadar ngorok dan ngiler," goda Syadev.
Anggun langsung bangkit dan mengusap kedua sudut bibirnya. Akan tetapi tidak ada apa-apa.
Syadev tertawa ngakak, tidak disangka istrinya akan seperti itu.
"Jahat sekali ngerjain aku," rengek Anggun.
"Iya, maaf. Bagaimana dengan kakimu? Apa sudah baikan?" tanya Syadev perhatian.
Anggun mengguncang-guncangkan kakinya, sudah tidak merasa nyeri lagi.
"Loh.. Sudah baikan, kok bisa ya?" kata Anggun senang.
"Tadi aku sulap," jawab Syadev.
__ADS_1
"Bohong..." jawab Anggun tidak percaya.
Sebab dia bisa mencium aroma minyak urut. Hanya saja dirinya tadi tidak sadar saat kakinya diolesi.
"Ha... Ha... Baiklah ayo kita segera wudhu, pasti Ayah dan Bunda sudah siap-siap mau sholat jama'ah," ajak Syadev.
Mereka berdua langsung bangun dan mengambil wudhu. Setelah itu mereka menuju tempat sholat khusus keluarga.
Di sana sudah ada keluarganya serta beberapa kerabat, hanya saja sosok yang selalu mencolok tidak ada di sana.
"Loh, Kaysa mana, Ayah?" tanya Syadev penasaran.
"Entahlah, dari tadi belum pulang," jawab Syauqi santai.
"Tapi bersama Kak Al kan?"tanya Syadev lagi.
"Iyalah," jawab Syauqi.
Syadev merasa lega jika saudara kembarnya tersebut tidak sendirian. Bagaimanapun juga Syadev selalu menyayangi Kaysa biarpun dia sudah menikah.
Di sana ada Rendra dan Nayla juga, mereka merasa ikut senang dengan kehangatan keluarga Syauqi yang diberkahi begitu banyak anak. Jadi saat berkumpul akan menjadidatan.
Setelah semuanya selesai sholat berjama'ah mereka berkumpul di ruang tamu.
"Tuan Syauqi, kenapa Dony tidak ikut gabung ke sini?" tanya Rendra.
"Nanti malam ada acara pertemuan kemaurga dengan Kak Elly," jawab Syauqi.
"Ada acara apa?" sela Nayla penasaran.
"Membahas pernikahan Zahra dan Darren," jawab Syauqi.
"Kecil-kecil sudah pada mau nikah," pekik Nayla kaget.
"Ah tidak juga, dulu istriku juga belum selesai kuliah sudah menikah" ujar Syauqi sambil melirik jam matanya pada istrinya.
Zhia hanya mendengus kesal, sebab dulu pernikahannya karena terpaksa. Nayla hanya tertawa saja mengingat jika dulu seseorang yang dicintai Zhia adalah Iyas. Namun, Nayla bersyukur kini sahabatnya bisa hidup bahagia seperti dirinya yang saling mencintai dengan suami.
Mereka asyik mengobrol dan membahas masa lalu, bahkan tak jarang mereka tertawa. Sampai kemudian tawa mereka terhenti karena kedatangan Kaysa dan Alarik.
"Assalamu'alaikum," sapa Alarik dan Kaysa.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang yang di ruang tamu.
"Kalian dari mana saja?" tanya Zhia cemas.
"Jalan-jalan sebentar tadi," jawab Kaysa riang.
"Kaysa, apa tadi hujan? Kenapa baju bagian punggung kamu basah?" tanya Nayla.
Semua orang jadi fokus melihat punggung Kaysa.
"Alamak..... Memalukan sekali..." batin Kaysa kikuk.
Alarik sendiri hanya senyum-senyum, apalagi saat Syauqi Malik menatap dirinya dengan pandangan yang penuh arti.
"Kami mau sholat Maghrib dulu ya?" pamit Kaysa segera kabur. Padahal dia dan suaminya tadi sudah sholat.
Alarik mengikuti istrinya dengan gaya biasa, sama sekali tidak merasa malu. Alarik seseorang yang sudah menikah wajar melakukan hal seperti itu. Berbeda dengan Kaysa, sebagai perempuan dia merasa malu.
"Zhia, sepertinya kamu akan segera punya cucu," goda Nayla.
Zhia hanya tersenyum simpul menanggapi candaan sahabatnya.
"Istri Syadev sudah hamil malahan," balas Syauqi santai.
"Apa?" pekik Nayla.
Suasana semakin heboh, kini giliran Syadev yang mendapat bully. Karena sebentar lagi pemuda tersebut akan menjadi seorang Ayah.
__ADS_1
Hay readers, sebenarnya Author udah gak sabar pengen menceritakan tentang kisah cinta Flora. Hanya saja dia kan masih SMP jadinya kurang sip yaa... Kalau diloncat takutnya nanti ada Readers yang kecewa solarnya melewatkan kisah Syadev dan Kaysa. Jadi baiknya bagaimana? Author dikasih sarannya dongππππ