
Dewa menarik tangan Flora menuju ke dalam mobil, seketika Flora merasa heran.
"Kak, kenapa tidak di ruang kesehatan saja?" tanya Flora.
"Di sini aku menjadi dosen, sedangkan kamu adalah murid. Apa kamu mau membuat scandal di Universitas ini?" tanya Dewa.
Flora hanya menunduk, dia sendiri kebingungan karena jika pulang dengan wajah seperti itu pastinya nanti kakak perempuannya akan mengamuk di kampusnya.
Dewa menutup pintu mobil sambil tersenyum, entah kenapa dia merasa geregetan dengan sikap Flora yang masih patuh seperti saat kecil dulu.
"Kita langsung ke rumah sakit saja, nanti minta obat biar wajahmu tidak bengkak," ucap Dewa perhatian.
"Terima kasih banyak ya kak, karena dari dulu selalu menolong aku," ucap Flora tulus.
"Tidak masalah, tadi kebetulan aku hanya lewat saja," jawab Dewa merasa bersalah juga.
Tadi Dewa tidak berniat untuk menyakiti Flora, dia hanya ingin berlagak jadi pahlawan agar flora bisa memiliki kesan padanya. Dewa bersumpah dalam hati lain kali tidak akan ceroboh seperti ini.
"Awas kalian," gumam Dewa yang mengumpat pada Abah buahnya.
"Apa, Kak?" tanya Flora yang seperti mendengar sesuatu.
"Tidak apa - apa, eh apa kamu masih ingat tentang kejadian saat perkemahan dulu?" tanya Dewa mengalihkan pembicaraan.
"Tentu saja ingat, itu adalah kenangan terburuk dalam hidupku. Semenjak itu aku tidak berani dalam kegelapan. Pernah suatu ketika listrik di rumah mati, aku langsung histeris berhalusinasi seakan aku berada di hutan dan di kejar hantu itu," jawab Flora merinding.
Dewa menatap Flora sekilas, tampak raut wajah yang cemas dan gelisah.
"Flora, separah inikah akibat dari perbuatanku dulu? Jika kamu tahu semua itu adalah salahku apa kamu akan marah dan membenciku?" batin Dewa.
"Tapi aku sangat berterima kasih pada Kak Dewa yang sudah menolong aku, dulu sampai mengendong ku menyusuri hutan menuju pemukiman warga desa," ucap Flora berubah riang lagi.
"Dulu kamu masih kecil, kalau sekarang aku di suruh gendong mungkin sepuluh meter saja aku sudah kelelahan," canda Dewa.
"Tapi tidak menyangka kita bisa bertemu lagi ya?" ucap Flora.
"Iya, karena hanya takdir yang bisa menjawab semua ini. Oh iya, apa novel yang dulu aku kasih kamu suka?" tanya Dewa penasaran.
"Apaan Kak Dewa ini, dulu aku masih kecil. Kenapa di beri novel dewasa seperti itu. Karena aku takut ketahuan sama Bunda, jadi aku sembunyikan deh," jawab Flora lugu.
"Apa bedanya? Yang namanya novel sama saja kan?" tanya Dewa tak mengerti.
"Beda, setiap Novel sudah di sesuaikan sama umur pembacanya. Dulu aku hanya diizinkan membaca yang tentang petualang, perjuangan, bukan tentang cinta," jawab Flora.
"Sekarang kamu sudah dewasa, berarti sudah boleh dong," tanya Dewa lagi.
"Tidak, aku tidak mau membacanya lagi. Aku lebih suka belajar saja," ungkap Flora.
"Wehhhh… hebat dong," puji Dewa.
__ADS_1
"Hebat apanya? Setiap hari sama Kak Syadev di beri tugas. Jadi keseharianku hanya belajar dan belajar, tapi masih saja aku tak sehebat kakak - kakakku," kata Flora bersedih.
"Aku pernah dengar dari dosen lain kalau kamu ini bisa berbagai bahasa asing loh, itu sudah merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Aku saja hanya bisa bahasa Inggris dan Indonesia saja," jawab Dewa menyembunyikan kebenaran.
"Yah… tetap saja tidak ada apa - apanya di banding kakak - kakak aku," balas Flora tertawa.
"Nanti setelah dari rumah sakit mampir ke toko buku yuk? Kamu akan aku berikan hadiah Novel romance yang banyak, hitung - hitung untuk menebus masa kecilmu yang digunakan untuk belajar terus. Lagi pula sekarang kamu juga sudah tinggal bersama Kak Kaysa kan? Sepertinya dia orang yang santai," ajak Dewa yang tulus darinya.
"Sudah aku bilang, aku tidak mau membaca novel romance lagi," jawab Flora tersenyum manis.
"Kenapa?" tanya Dewa heran.
"Aku hanya takut jika terbawa suasana. Aku juga tidak mau tahu indahnya cinta itu seperti apa," jawab Flora.
"Kenapa? Kamu sudah dewasa, bahkan remaja saja sudah mulai ingin mengenal cinta," tanya Dewa semakin dibuat penasaran.
"Aku hanya ingin melindungi diri dari rasa kecewa, aku takut jika nanti aku jatuh cinta, lalu…"
Flora tiba - tiba merasa bersedih mengingat jika sebentar lagi dia akan menikah dengan orang asing.
"Lalu apa?" tanya Dewa menatap wajah Flora serius. Sebab mobilnya sudah berhenti di parkiran rumah sakit.
"Tidak apa - apa, ayo sudah sampai," jawab Flora tidak mau menceritakan tentang hal itu.
Flora segera keluar dari mobil, begitu juga dengan Dewa yang kemudian berdiri di sisinya.
Dewa duduk merenung, dia tidak tahu dengan apa yang sudah dia lakukan. Hidupnya sendiri selama ini menjadi tidak tenang.
Tapi selama ini masih ada teka - teki yang belum bisa dia pecahkan, jika mamanya masuk ke penjara pastinya ada cacatan tindakan kriminal apa yang sudah dilakukan. Tapi anehnya kenapa catatan itu menghilang? Padahal Dewa sudah menyuap polisi untuk mencarinya itu.
Dewa pusing sekali, di sisi lain ada pamannya yang selalu menyuruh dia balas dendam. Sedangakan ada orang tua angkatnya yang selalu menasehatinya untuk hidup bahagia tanpa beban.
Tapi sebelum dia berangkat ke kota ini Ayah angkatnya itu pernah memberikan satu nasihat yang menurutnya berkesinambungan dengan apa yang dia alami saat ini.
"Dewa, apa yang kamu dengar dan apa yang kamu lihat itu belum tentu sebuah kebenaran. Jika kamu ingin mengetahuinya maka kamu harus menilai dari dua sisi, jangan hanya melihat dari sisi sebelah."
Dewa terkadang merasa jika Ayahnya tahu dengan apa yang sudah dia lakukan selama berada di Jepang. Tapi Ayahnya itu hanya menasihati tapi tidak pernah menjelaskan secara detail.
Ibunya juga ketika ditanya mengenai orang tua kandungnya tidak pernah mau menjawab. Awalnya Dewa mengira jika mereka hanya tidak ingin membuat Dewa bersedih sebab mama papanya sudah meninggal. Tapi semakin lama justru terasa semakin janggal.
Dan padahal selama ini Perusaahan serta organisasi hitam peninggalan papanya dipegang oleh Pamannya, tapi kenapa diam - diam pamannya itu membuat grub dalam grub. Jadi sekarang dalam organisasi papanya ada dua aliran.
Yang satu masih setia pada aturan papanya yang satunya lagi sudah mengikuti pamannya.
"Sudahlah, lebih baik sekarang aku di sini dulu menenangkan pikiran. Aku akan mencari tahu secara perlahan," batin Dewa.
Dewa dari tadi terus merenung sampai tidak sadar jika Flora sudah selesai berobat dan kini duduk di sampingnya sambil memegang kompresan dipipinya.
"Loh, kamu di sini?" tanya Dewa kaget.
__ADS_1
"Sudah dari tadi, tapi karena Kak Dewa asyik melamun jadi aku tak berani mengganggu," jawab Flora santai.
"Maaf, tadi aku hanya kepikiran sesuatu," balas Dewa sambil meraih kompresan dan berganti menempelkan di wajah Flora.
Saat itu keduanya saling bertatapan mata. Seketika Dewa menelan lidahnya sendiri begitu melihat bibir Flora yang pernah diciumnya itu.
Flora dengan segera merebut kembali dan mengoles ke pipinya sendiri.
"Aku sudah besar, Kak. Bukan anak kecil seperti dulu lagi," sindir Flora.
Dewa justru tertawa, sebab dia tadi benar - benar merasa jika Flora adalah anak kecil seperti dulu yang butuh perlindungan dan pertolongan.
"Kenapa tertawa kak?" tanya Flora tidak mengerti.
"Maaf, aku lupa jika kamu sekarang sudah dewasa. Tapi dalam pikiranku kamu masih anak kecil yang manja itu," balas Dewa.
Flora dengan reflek menempelkan komoresan miliknya ke wajah Dewa.
"Dingin sekali," pekik Dewa.
"Kata Dokter biar tidak bengkak, coba Kak Dewa lihat! Apakah masih lebam seperti tadi?" tanya Flora menyodongkan wajahnya.
Dewa hampir saja reflek mau mencium pipi Flora, entah kenapa dalam diri gadis di depannya itu seperti ada maghnet yang membuat dua ingin mencium dan memeluk. Semacam hasrat yang tak dapat di tahan.
"Sudah tidak parah, hanya kemerahan saja. Tapi apakah masih sakit?" tanya Dewa.
"Sakitnya sih masih terasa, tapi kalau soal kemerahan aku masih bisa mengatasinya," balas Flora mengeluarkan kotak.
"Apa itu?" tanya Dewa.
"Ini namanya blush on, dengan ini aku bisa membuat seolah karena make up. Bukan sebab pukulan," kata Flora riang.
Dewa terpesona, hanya karena ditambah warna kemerahan di pipi Flora membuat gadis itu kelihatan semakin cantik.
"Flora, apakah kamu tidak ingin aku menghukum senior yang kurang ajar tadi?" tanya Dewa.
"Tidak, untuk apa? Toh setelah ini mereka akan kapok karena tadi sudah di hajar oleh dosen yang galak," jawab Flora.
"Apa kamu bilang? Kamu mengataiku dosen galak?" sergah Dewa pura - pura marah.
Flora segera berlari meninggalkan Dewa seorang diri.
Dewa merasa bahagia bercanda dengan Putri musuhnya sendiri, dia tidak tahu kenapa bisa sebahagia ini.
**Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya🤗🤗
Untuk visual Flora dan Daichi maaf tapi masih di cari dulu mana yang cocok🤗 sabar dulu ya.
seneng, akhirnya Dewa sudah mulai sadar dan mulai curiga. Jujur saja Author sukanya nulis yang bahagia - bahagia, gak suka kali sedih lama - lama. Soalnya di dunia nyata sudah pagi masa iya di dunia halu harus ikutan sedih😂😂😂😂**
__ADS_1