CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 112


__ADS_3

Orlin sudah diberitahu sebelumnya jika Reki akan datang bersama keluarganya untuk melamar. Dengan lembut dia membujuk Ayahnya agar nanti bisa menerima pinangan tersebut.


"Pa, aku mencintai Reki. Aku yakin dia sudah berubah," ucap Orlin dengan nada memelas.


"Meskipun begitu Papa tetap masih ragu," jawab Rendra.


"Suamiku, jika setiap orang yang ingin berubah tapi tidak diberi kesempatan lalu bagaimana nasib mereka? Lalu siapa yang sebenarnya bersalah?" sela Nayla membela putrinya.


"Aku tahu setiap orang punya hak untuk diberi kesempatan, tapi masalahnya sekarang menyangkut kebahagiaan putriku satu-satunya," jawab Rendra cemas.


"Pa, cukup dia mencintaiku dan aku mencintai dia itu sudah cukup membuat kami hidup bahagia," bujuk Orlin.


"Suamiku, apa kamu ingin membuat putri kita terluka untuk kedua kalinya? Seharusnya jika kita benar-benar menyayangi Orlin kita akan lebih mementingkan kebahagiaan dia," sela Nayla.


Rendra terdiam untuk sesaat, karena didesak dua perempuan yang paling penting di dunia membuatnya tidak bisa berkutik.


"Baiklah, tapi jangan buru-buru menikah. Jadi kalian tunangan beberapa bulan dulu agar saling meyakinkan. Kalau memang sudah benar-benar cocok kalian baru menikah," kata Rendra.


Orlin dan Nayla langsung memeluk Rendra.


"Papa memang yang terbaik," puji Orlin.


Karena Orlin sudah mendapatkan Restu sehingga saat keluarga Reki datang acara lamaran bisa berjalan lancar tanpa kendala. Akan tetapi mereka sepakat tunangan selama enam bulan terlebih dahulu. Setelah itu mereka baru akan membahas soal pernikahan.


Reki yang tahu jika Gio begitu tertarik dengan negara London membuat pria itu memutuskan untuk menginap di hotel sana selama dua hari.


Kedua keluarga tersebut mengadakan acara jalan-jalan mengelilingi wisata London untuk mempererat ikatan kekeluargaan.


Semakin lama Rendra menyukai Reki, sebab pemuda tersebut memang berperilaku sopan pada putrinya.


"Orlin, besok kamu ikut pulang bersamaku ya?" bujuk Reki.


"Baiklah, aku juga masih ingin bekerja di Mandala," jawab Orlin.


"Oh iya, kesukaan Kaysa apa? Aku ingin membelikan dia oleh-oleh," tanya Reki penasaran.


"Kalau soal barang Kaysa sepertinya sudah bosan, lebih baik belikan dia makanan dan cemilan. Nafsu makannya sedang tinggi," jawab Orlin tertawa.


"Aku berharap kamu juga begitu, saat hamil nanti nafsu makan kamu banyak," goda Reki.


"Nanti aku gemuk," rengek Orlin.


"Meskipun gemuk kamu akan tetap cantik," rayu Reki.


Setelah dua hari berlalu Orlin diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk ikut pulang ke Indonesia bersama keluarga Reki.


"Reki, jaga Orlin baik-baik. Jika kamu berani menyakiti dia awas saja," ancam Rendra dihadapan keluarga Reki.


"Om, aku mencintai Orlin. Jadi aku akan berusaha untuk membahagiakan dia dan tidak mengecewakan dia," jawab Reki tegas.


"Aku pegang kata-katamu," balas Rendra serius.


Biarpun nada Rendra sedikit angker tapi Faisal tersenyum, dia berharap jika putranya bisa menjaga anak orang dengan baik.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Hari-hari Bima di rumah Alifya sangat menyiksa, sebab dia yang selama ini hidup bebas tiba-tiba harus hidup rajin dan teratur.


Pukul setengah tiga malam sudah dibangunkan untuk sholat tahajjud, setelah itu mengaji sampai subuh. Setelah sholat subuh membantu Rian ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan buat jualan.


Bima juga ikut membantu mengantarkan pesanan dan lain. Dia juga harus ikut menunaikan sholat Dhuha, sholat lima waktu dan sorenya mengaji bareng anak-anak kecil.


Bima merasa malu sekali, sebab dia kalah dengan anak berumur empat tahun yang sudah hafal huruf Hijaiyah.


Saat mengajar Rian tidak bersikap galak, Bapak Alifya tersebut justru lembut dan sabar. Berbeda dengan karakter saat berbicara biasa.


Malamnya Bima juga tidak bisa tidur lelap, sebab dia mencoba menghafalkan setiap pelajaran yang sudah diajarkan oleh calon mertuanya.


Alifya yang melihat kesungguhan Bima membuat gadis itu merasa bersimpati. Secara diam-diam Alifya sering memperhatikan Bima yang malam-malam masih berada di musholla untuk menghafalkan.


"Nak, apa kamu mulai mengagumi Bima? Ibu rasa dia pemuda yang baik," tanya Tia yang tiba-tiba sudah berada di samping Alifya.


"Ah, Ibu. Mengagetkan aku saja," jawab Alifya terkejut.


"Berarti dari tadi kamu mengintip Bima?" goda Tia.


"Astaghfirullah," pekik Alifya sadar jika memandang lelaki seperti itu tidak baik.


"Kak Alifya kenapa belum tidur?" tanya Isnaini yang baru muncul.


Alifya merasa terselamatkan oleh kedatangan adiknya.


"Ibu, aku akan menemani adik tidur dulu ya?" pamit Alifya sambil menggandeng adiknya untuk segera masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Semenjak Bima tinggal di sana Isnaini menjadi tidur di kamar kakaknya, karena memang rumah Rian tidak terlalu besar.


Tia hanya senyum-senyum melihat putrinya yang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Dek, kenapa kamu senyum-senyum sendirian?" tegur Rian yang baru masuk ke dalam rumah.


"Tidakkah Mas Rian merasa jika putri kita mulai jatuh cinta?" tanya Tia.


"Hem... Bima menurutku pemuda yang lumayan juga. Hanya saja dia perlu dibimbing lagi," jawab Rian.


"Jadi Mas Rian merestui mereka?" tanya Tia senang.


"Kita lihat kedepannya, kalau Bima bisa menjadi imam yang baik pasti aku akan mengizinkan," jawab Rian santai.


Tia ikut bahagia, sebab sebagai seseorang yang pernah muda pasti tahu bagaimana rasanya sedang kasmaran.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Syauqi adalah seorang suami yang luar biasa, demi istri tercintanya dia sampai rela ikut meminum obat khusus penyakit yang di derita Zhia.


"Sayang, ayo kita minum pil kesehatan ini. Biar nanti kita berdua tetap kuat menggendong cucu," ajak Syauqi dengan wajah penuh cinta.


Zhia menatap wajah suaminya penuh heran, sebab mereka berdua sudah hidup bersama kurang lebih dua puluh tahun. Sehingga Zhia bisa mengetahui jika suaminya itu sedang berbohong atau tidak.


Awalnya Zhia masih ingin berpura-pura untuk tidak tahu apa-apa. Akan tetapi begitu melihat suaminya yang sampai rela ikut meminum obat demi membohonginya membuat Zhia takut jika nanti obat tersebut akan berefek buruk bagi tubuh Syauqi.


Saat Syauqi hendak memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya, Zhia langsung mencegah dan merebut obat tersebut.


"Suamiku, tatap mataku," pinta Zhia lembut.


Syauqi menunduk dan tidak berani memandang kedua bola mata istrinya.


Syauqi yang memiliki kepekaan tinggi juga menyadari jika istrinya tersebut sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Kita sudah menikah lama, dan diantara kita tidak pernah ada rahasia. Jadi sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi padaku? Bukankan jujur itu lebih baik?" tanya Zhia lembut.


Syauqi tak mampu berkata apa-apa. Dia memeluk Zhia sambil terisak menangis pilu.


Cukup lama Syauqi menangis dalam pelukan istrinya, sedangkan Zhia hanya diam saja mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Istriku, maaf karena aku tidak jujur padamu. Aku hanya takut jika nanti kamu bersedih dan putus asa. Aku takut jika nanti senyumanmu tidak menghiasi bibirmu lagi," bisik Syauqi.


"Katakanlah, aku sudah menyiapkan batin untuk menerima semua takdir dalam hidup ini!" jawab Zhia tenang.


Zhia tidak kaget, dia tetap tersenyum santai karena sebelumnya dia tahu pasti dirinya mengidap penyakit berbahaya karena semua keluarganya sampai bersikap aneh.


"Tapi kata dokter ini masih tahan awal, jika kamu mendapatkan pelayanan yang terbaik pasti bisa sembuh," kata Syauqi memberi semangat.


"Iya, aku akan menuruti semua perintahmu, suamiku. Karena aku tahu apa yang kamu lakukan pasti yang terbaik bagiku. Hanya saja aku tidak ingin kamu menyiksa diri sendiri seperti tadi," jawab Zhia tersenyum manis pada suaminya.


Setelah itu mereka berdua menghabiskan waktu bersama. Syauqi terus memantau istrinya agar selalu berpola hidup sehat. Dari segi makanan, olah raga serta pikiran agar istrinya tersebut selalu bahagia.


Untuk mengisi waktu yang kosong Syauqi dan Zhia jalan-jalan, menelepon anak-anak serta sanak saudara. Zhia sangat bersyukur memiliki seorang suami seperti Syauqi Malik.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Kaysa memutuskan berhenti kuliah, dia sudah merasa pintar sehingga tidak perlu belajar lagi. Apalagi dia juga lebih memilih fokus untuk menjadi ibu rumah tangga seperti Bundanya.


Kini Kaysa meluangkan waktu dengan memasak dan merawat suami serta adiknya. Alarik sendiri tidak menyangka jika istrinya tersebut mengalami perubahan yang semakin besar.


Hari Minggu Flora tidak masuk sekolah, sedangkan Alarik tetap masuk ke kantor.


"Flora, kakak mau belanja. Apa kamu mau ikutan?" tanya Kaysa.


"Mau.. tapi nanti mampir ke toko buku ya? Aku pengen beli novel," pinta Flora.


"Iya," jawab Kaysa riang seperti biasanya.


Mereka berdua berangkat diantarkan oleh supir, sebab Kaysa sudah tidak tertarik menyetir mobil sendiri. Lebih tepatnya dia tidak mau membuat suami serta kedua orang tuanya banyak pikiran. Saat ini penyakit Bundanya saja sudah cukup membuat semua orang gelisah dan cemas.


Setelah cukup puas berbelanja, mereka segera masuk ke dalam mobil kembali. Akan tetapi di tengah perjalanan ada dua mobil yang menghimpit mobil milik Kaysa.


"Bagaimana ini?" tanya Sopir panik.


"Berhenti dan segera telepon Tuan Alarik. Aku akan keluar menghadapi mereka," perintah Kaysa.


"Kak jangan! Aku takut mereka ada banyak orang. Sebaiknya kita di dalam mobil saja menunggu Kak Al," rengek Flora yang memang ketakutan.


Kaysa pun berpikir seperti itu, sebab dirinya kini tengah hamil jadi dia takut melukai janinnya jika berkelahi. Namun, empat orang lelaki bertubuh kekar datang menghampiri mobil dan memukul mobil Kaysa dengan tongkat besi.


Suara yang keras memekakkan telinga saat besi tersebut menghantam mobil Kaysa.


Flora menjerit histeris sedangkan Kaysa memeluk adiknya agar bisa sedikit tenang.

__ADS_1


Tak lama kemudian datang lelaki remaja yang menggunakan motor besar.


Pemuda tersebut langsung saja menghajar keempat pria bertubuh besar.


Kaysa sekilas bisa mengenali pemuda remaja tersebut.


"Dewa? Bagaimana mungkin dia bisa di sini?" pekik Kaysa langsung keluar.


"Kak, masuklah! Kamu sedang hamil, bahaya," teriak Dewa.


"Tidak, empat lawan satu tidak seimbang," jawab Kaysa.


"Nyonya masuklah, biar saya saja yang membantu pemuda itu," teriak Sopir dengan berani.


Tiba-tiba mobil Alarik datang, keempat pria bertubuh besar itu langsung kabur.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Alarik sangat cemas.


"Aku tidak apa-apa, untung tadi ada Dewa," jawab Kaysa.


"Dewa?" Alarik langsung menoleh ke arah lelaki remaja tersebut.


"Kak Al, aku tidak mengira kita bisa bertemu di sini lagi," sapa Dewa dengan ekspresi terkejut.


"Kamu kenapa bisa di sini? Bukankah kamu bilang akan pulang ke Aceh?" tanya Alarik penasaran.


"Aku tidak jadi pulang, karena aku diajak temanku touring mengelilingi kota," jawab Dewa.


"Lalu kenapa kamu sendirian? Dimana teman-teman kamu?" tanya Alarik lagi.


"Mereka sudah ada di depan. Tadi aku berjalan di belakang, tanpa sengaja aku mendengar teriakan seseorang dari dalam mobil. Aku kira sedang terjadi perampokan makanya aku berhenti. Tidak kusangka ternyata dalam mobil tersebut adalah Kak Kaysa," jawab Dewa panjang lebar.


"Terima kasih banyak, Dewa. Karena kamu sudah menolong istri serta adikku," ucap Alarik.


"Sama-sama. Aku akan lanjut dulu ya? Takutnya nanti tertinggal jauh," jawab Dewa tergesa-gesa. Saat Dewa menaiki motor, sebelum dia pergi sekilas melirik ke arah Flora yang baru turun dari mobil dengan wajah ketakutan. Setelah itu Dewa langsung menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Tadi itu Kaka Dewa ya?" tanya Flora.


"Iya, sayang. Tidak kukira dialah yang menolong kita," jawab Kaysa.


"Sebenarnya aku masih ingin berterima kasih padanya, tapi sepertinya dia sedang terburu-buru," sesal Alarik.


"Mungkin lain kali takdir bisa mempertemukan kita padanya lagi," balas Kaysa.


"Eh, kamu tidak berkelahi kan tadi?" tanya Alarik tiba-tiba khawatir.


"Tidak, mana mungkin aku berani berkelahi. Aku kan sedang hamil," jawab Kaysa melirik ke arah sopir agar tidak ember.


"Syukurlah kalau kamu sadar, pokoknya kamu jangan membahayakan diri sendiri. Karena saat ini ada dua nyawa di tubuhmu!" perintah Alarik dengan tatapan serius.


"Iya... Iya... Sekarang masih jam kerja. Sebaiknya suamiku yang paling tampan ini segera kembali ke kantor," bujuk Kaysa.


"Tidak, aku akan pulang. Aku masih belum bisa konsentrasi bekerja," jawab Alarik.


"Baiklah, ayo kita pulang. Nanti akan aku masakkan makanan yang super lezat," rayu Kaysa.


"Iya, ayo ikut mobilku," ajak Alarik.


"Aku ikut kakak," rengek Flora yang masih trauma.


"Ayo adikku sayang, kamu jangan takut lagi ya?" hibur Kaysa memeluk adiknya.


Sedangkan Alarik sedang merenung, dia masih merasa curiga motif apa sehingga ada orang yang berniat buruk pada istrinya. Jika dipikir-pikir masa iya siang hari ada orang yang nekat merampok.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Di sisi lain Dewa sedang marah-marah pada ke empat pria yang tadi.


"Berani-beraninya kalian bertindak tanpa perintah dariku!" bentak Dewa.


"Maaf, Tuan Muda. Tapi Kami di suruh oleh Paman Anda," jawab salah satu dari mereka.


"Tuan kalian itu sekarang aku! Jadi jangan ada yang berani bertindak tanpa perintah dariku," bentak Dewa.


"Iya, Tuan," jawab mereka menunduk takut.


Dewa langsung menelepon pamannya.


"Paman, mulai sekarang serahkan semuanya padaku! Biar aku balaskan dendam Mamaku dengan tanganku sendiri," pinta Dewa.


"Cepatlah beraksi, mumpung Syauqi Malik belum kembali," jawab seseorang yang dipanggil Dewa Paman.


"Justru aku ingin melawan Syauqi tepat di depan matanya, Paman. Serahkan semaunya padaku," kata Dewa serius.

__ADS_1


Jangan Lupa dan Vote ya? Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


__ADS_2