
Syauqi semakin gemas dengan bibir Zhia yang terasa lembut dan manis. Tangannya mulai nakal menggerayangi tubuh Zhia.
"Mas... kau ingkar janji," jerit Zhia. Kedua tangannya mendorong dada Syauqi sampai terjerembab di atas sajadah.
Syauqi tidak marah, dia malah tertawa dan duduk lagi di depan Zhia.
"Bukannya kamu sendiri yang memberiku kode?" goda Syauqi.
"Kode apa?" tanya Zhia heran.
Syauqi berdiri dan mengambil terjemahan kitab Fathul Izhar. Kemudian menyodorkannya pada Zhia.
"Kamu sendiri kan yang menyuruhku mempelajari kemudian mempraktekan?" tantang Syauqi.
Seketika raut wajah Zhia memerah, dia sendiri lupa kalau dulu membeli buku ini.
Syauqi mendekati Zhia, tangannya mengusap lembut rambut Zhia.
"Zhia... bagaimana kalau kita pacaran saja?" tanya Syauqi.
"Pacaran? Kita kan sudah menikah," jawab Zhia semakin tak mengerti dengan jalan pikiran suamonya yang menurutnya aneh.
"Iya, kita memulai dari awal. Menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Bukan pernikahan karena terpaksa," jawab Syauqi serius.
"Tapi... aku belum pernah pacaran," jawab Zhia polos.
Syauqi tak bisa menahan ketawanya melihat keluguan istrinya.
"Justru itu, aku ingin kamu merasakan indahnya pacaran yang tanpa dosa, karena kita sudah halal," bujuk Syauqi.
Zhia hanya mengangguk, dia tidak ingin membuat suaminya kecewa.
Karena sebagai seorang istri dia belum bisa memenuhi kewajibannya.
"Baiklah, Pacarku. Ayo sekarang kita tidur," ajak Syauqi berbaring di ranjangnya.
Zhia terdiam tak bergeming, telinganya merasa aneh saat dipanggil 'Pacarku'.
Syauqi yang merasa gemas langsung berdiri lagi kemudian menggendong Zhia dan membaringkannya di ranjang.
"Sudah kubilang jangan takut lagi, aku tak akan memaksamu," kata Syauqi lembut kemudian menyelimuti istrinya.
Syauqi berbaring di samping Zhia.
"Tapi kalau pacaran masih boleh memeluk dan mencium," bisik Syauqi di belakang telinga Zhia.
Zhia merasa merinding tapi tidak bisa menolak.
Melihat Zhia yang tak keberatan Syauqi langsung melancarkan asyiknya.
Syauqi memeluk dan mencium lembut bibir Zhia, pemuda tampan itu juga memainkan lidahnya menyusuri leher Zhia yang mulus.
__ADS_1
Sentuhan lembut Syauqi memberi sensasi yang belum pernah dirasakan Zhia karena selama ini dia selalu terjaga dari lelaki lain.
Zhia mulai terangsang dan merasakan nikmat, tetapi dia melu - malu langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Syauqi.
Sebenarnya semua itu hanyalah akal-akalan Syauqi untuk bisa mendekati Zhia secara perlahan.
Syauqi tertawa dan memeluk erat tubuh istrinya.
Syauqi merasa bahagia, karena wanita yang paling dicintainya ini sekarang sudah ada dipelukannya.
"Sialan, barangku sudah menegang keras, aku harus sabar. Cepat atau lambat akan ku buat kau ketagihan Zhia," batin Syauqi yang tersiksa.
Malam semakin larut, meskipun di daerah Vila milik Syauqi cuacanya dingin tapi Syauqi dan Zhia merasa hangat dibalik selimut yang sama.
Karena tanpa sadar saat terlelap Zhia memeluk suaminya dengan erat seperti bantal guling.
********************************
Suara Adzan subuh dari masjid yang terletak di bawah bukit masih terdengar.
Zhia yang terbiasa bangun bagi, tubuhnya reflek tersadar dari mimpi indahnya.
Tubuh Zhia terasa segar bugar, karena baru malam ini dia bisa tidur nyenyak.
Dulu setelah Zhia diperkosa Syauqi, setiap malam dia sering mimpi buruk.
Apalagi setelah Iyas meninggal dia selalu bermimpi tentang masa lalu saat sekolah.
"Waktu cepat sekali berlalu, dulu aku yang selalu tertidur di pangkuan ayah kini aku sudah memiliki suami dan aku juga akan segera memiliki anak," batin Zhia.
"Mas Syauqi, bangunlah! ayo kita sholat subuh bersama," bisik Zhia lembut ditelinga suaminya.
Syauqi membuka matanya langsung di suguhi wajah cantik istrinya yang hanya berjarak Sepuluh cm.
"Cium pipiku dulu! Kalau tidak sepertinya aku tak bisa bangun," pinta Syauqi manja.
Zhia gugup dan mencium pipi suaminya lembut.
"Ahhh ... enak," desah Syauqi.
Zhia langsung mencubit perut suaminya karena merasa dikerjain.
Syauqi tertawa puas.
Kemudian mereka berdua wudhu dan melaksanakan sholat subuh berjama'ah.
"Zhia, ayo kita jalan-jalan pagi. Pemandangan di sini sangat bagus. Apalagi saat matahari muncul kita bisa melihat perkampungan dari atas bukit," ajak Syauqi semangat.
Zhia mengangguk setuju, udara pagi memang bagus untuk kesehatan. Apalagi dia teringat Kakak iparnya yang tiap pagi selalu jalan-jalan saat masa kehamilan.
Mereka berdua segera bergegas keluar, kedua pembantunya masih sibuk mengepel lantai dan menyapu halaman depan yang banyak berserakan dedaunan kering.
__ADS_1
Udara masih dingin tapi tak menyurutkan semangat mereka.
"Apa sebaiknya kita kembali ke kamar saja ya?aku takut kamu kedinginan,"ucap Syauqi yang menggosok kedua tangannya supaya hangat.
"Jangan, Mas Syauqi. Aku juga penasaran ingin melihat pemandangan dari atas bukit sini," jawab Zhia lembut.
"Baiklah kita lanjutkan, sini berikan tanganmu!"mpinta Syauqi merain tangan Zhia dan menggosok lembut menyalurkan kehangatan.
Zhia tersenyum canggung tapi lama-kelamaan dia juga merasa nyaman dan bahagia dengan kelembutan suaminya.
Mereka beriringan di jalan setapak menyusuri jalanan kecil, arahnya berlawanan dari danau buatan.
Langit masih tampak gelap, hanya bayangan pepohonan hias juga bintang-bintang di langit yang kelihatan lebih dekat.
"Mas, dari sini bintangnya terlihat besar ya?" tanya Zhia kagum.
"Iya... soalnya kita kan berada dibukit tinggi," jawab Syauqi.
"Di sini sepi sekali, memang ada berapa Vila?" tanya Zhia penasaran.
"Ada lima, yang empat disewakan kalau yang kita tinggali itu khusus pribadi," balas Syauqi.
Dan benar saja, beberapa menit kemudian berjejer empat Vila. Bangunan itu terlihat megah dan sama, hanya saja jika dibandingkan masih lebih besar yang ditinggali Zhia saat ini. Dia yakin, hanya orang kaya saja yang mampu menyewanya.
"Yang memiliki bukit dan seluruh Vila ini siapa?" tanya Zhia semakin penasaran.
"Papa aku, setelah Papa meninggal aku yang mengurusnya tapi hanya jarak jauh. Karena jika ke sini aku akan mengenang masa lalu tentang keluargaku yang hanya akan membuatku merasa sakit saja," terang Syauqi, tapi raut wajahnya tidak menampakkan kesedihan lagi.
"Lalu sekarang tidak sakit lagi?" tanya Zhia menyelidik.
"Tentu saja tidak. Karena mulai sekarang aku akan membuat kenangan baru yang lebih indah bersama istriku tercinta dan anak - anakku" tutur Syauqi tersenyum bahagia.
"Anak-anak?"sela Zhia.
"Iya, anak-anak. Kamu harus melahirkan anak yang banyak untukku. Agar kita bisa menjadi keluarga yang besar," canda Syauqi tertawa lebar.
Zhia menatap suaminya yang tertawa lepas.
"Apakah ini ya sifat Syauqi yang sesungguhnya? Hangat, perhatian dan senang bergurau.
Sangat berbeda dengan Syauqi dulu yang Dingin, cuek dan terlihat kejam."
"Kenapa terus menatapku? Kamu terpesona dengan ketampananku ya?" goda Syauqi.
Zhia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan melangkah meninggalkan Syauqi.
" Dengan kepercayaan dirinya yang tinggi dia selalu memuji dirinya sendiri. Walau memang benar sih sebenarnya suamiku sangat tampan, tapi rasanya menyebalkan."
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan kalian sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗
__ADS_1