
Menjelang subuh adalah saat ternikmat seseorang terlelap dalam mimpinya, dan kebanyakan orang akan menarik selimutnya sampai menutupi kepalanya.
Namun Zhia sudah terbangun karena merasa ada yang aneh dalam perutnya, perasaan itu hanya datang sesaat kemudian hilang, akan tetapi akan muncul lagi dan hilang lagi, begitu seterusnya,
"Apakah aku akan melahiran sekarang?"
Zhia masih mencoba menahannya, dia segera membangunkan suaminya untuk melaksanakan sholat subuh.
Selesai sholat, kontraksi diperutnya semakin sering dan jangkanya semakin lama.
Syauqi melihat istrinya yang terlihat kesakitan,
"Sayang, kamu kenapa? apa sudah mau melahirkan?" tanya Syauqi cemas, karena istrinya juga semakin lemas.
"Aku tidak tahu, Mas Syauqi. Tapi rasanya tidak nyaman sekali," jawab Zhia sambil memegangi perut bagian bawahnya.
Syauqi langsung menggendong istrinya keluar kamar, Elly yang berniat mau mengajak Zhia jalan-jalan pagi tersentak melihat adik iparnya yang merintih menahan kontraksi.
"Sepertinya Zhia mau lahiran," pekik Elly.
Syauqi segera memasukkan istrinya ke mobil.
Syauqi juga tak bisa menghentikan kakaknya yang memaksa untuk ikut ke rumah sakit.
Kedua pembantunya dengan cekatan membawa barang-barang yang dibutuhkan nanti setelah persalinan, karena sebelumnya semua sudah dipersiapkan Syauqi.
Sampai di rumah sakit, dokter kandungan mengatakan jika Zhia masih bukaan 5. Syauqi tidak banyak bertanya, karena dia sudah mempelajari tentang wanita hamil sampai cara merawat bayi.
Jam 6 pagi, keluarga Zhia sudah datang ke rumah sakit.
Tia juga membawa bekal makanan karena semua orang belum sempat sarapan, namun Tak ada satupun dari mereka yang selera makan, mereka sangat mencemaskan keadaan Zhia yang tengah kesakitan.
"Nak Elly, kamu harus makan! supaya anak kamu tercukupi nutrisinya," tutur Ibunya Zhia sambil memberikan sepiring makanan.
"Terimakasih, Bu." jawab Elly menerima makanannya, dia memaksakan dirinya makan demi anak yang sedang dikandungnya.
Syauqi juga mencoba membujuk istrinya untuk makan,
"Sayang, aku tahu kamu saat ini sedang menderita. Tapi kumohon makanlah walau sedikit! setidaknya nanti kamu punya tenaga saat melahirkan kedua anak kita," bujuk Syauqi lembut.
Zhia tersenyum saat suaminya menyuapinya.
Syauqi tak menyangka, disaat Zhia sedang kesakitan tapi dia masih memiliki nafsu makan tinggi, Syauqi merasa lega.
__ADS_1
Zhia memang sudah bertekad, jika dia ingin melahirkan kedua bayinya secara normal, dia terus membayangkan kedua wajah putra-putrinya yang lucu dan menggemaskan, membuat Zhia memiliki semangat yang tinggi.
"Mas Syauqi juga makan ya? jangan buat aku khawatir," kata Zhia lemah, karena dia menahan kontraksi diperutnya yang semakin kuat.
Syauqi tak ingin membuat istrinya cemas, dia memaksakan dirinya sendiri untuk makan. Kemudian mereka makan sepiring berdua.
beberapa detik kemudian, dokter datang lagi untuk mengecek.
Kemudian dia menyuruh orang-orang yang sedang menunggu untuk segera keluar kecuali suaminya, karena Zhia siap melahirkan.
Syauqi berdiri di samping ranjang Zhia, dia terus menggenggam tangan Zhia menyalurkan kekuatan padanya.
Syauqi sudah tidak bisa lagi mendengar suara dokter dan bidan yang membantu persalinan Zhia, karena dia merasa seluruh kulitnya di klupas dan tulang-tulangnya dicabut dari badannya secara paksa.
Syauqi menangis, dia ikut kesakitan melihat istrinya yang sedang menaruhkan nyawanya sendiri.
Keringat Syauqi sudah membasahi tubuhnya, dan bibirnya terus melafalkan nama Alloh, berharap kedua anaknya segera lahir supaya istrinya tidak lama-lama menderita.
Syauqi sangat tegang, dia baru sadar bagaimana perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya,
"Ya Alloh, berikanlah kelancaran untuk istri hamba, semoga kedua anak hamba segera lahir dengan selamat, supaya istri hamba yang lemah tidak lama-lama merasakan sakit.
Ya Alloh, seandainya bisa, limpahkan semua kesakitan istri hamba kepada hamba."
Syauqi merasa trauma sendiri melihat proses persalinan, dia sudah tak ingin memaksa istrinya untuk mengandung lagi.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang keras, 5 menit kemudian disusul suara tangisan bayi lagi yang berjenis laki-laki.
Syauqi merasa lega, dia semakin terharu dan air matanya semakin deras,
"Sayang, kamu adalah wanita yang sangat hebat! terimakasih, atas semua pengorbananmu. Lihatlah! kedua anak kita sangat cantik dan tampan seperti kita," bisik Syauqi sambil mencium kening istrinya.
Zhia tersenyum, dia merasa terhibur juga dengan sikap kepercayaan diri suaminya yang tinggi.
"Mas... haus," bisik Zhia lemah.
Syauqi segera mengambil teh manis hangat yang sudah disiapkan Tia.
Di luar ruangan, Zhia bisa mendengar suara ramai orang-orang yang menyambut anak kembarnya yang sudah lahir.
Kemudian datang dokter yang mau memeriksa keadaan Zhia.
Syauqi sama sekali tidak mau meninggalkan istrinya, dan dokter tersebut tidak berani mengusir Syauqi.
__ADS_1
Setelah para suster membersihkan bekas persalinan, kedua anak kembar Zhia di bawa masuk untuk diberi ASI pertama.
Zhia sama sekali tidak canggung, karena selama kehamilan dia dan suaminya belajar bersama cara merawat bayi kembar, mereka sepakat akan mengurus bayi sendiri tanpa pengasuh, mereka juga sepakat untuk memberi ASI saja karena ingin memberikan yang terbaik untuk kedua anak nya.
Zhia menangis haru saat menyusui kedua buah hatinya, suaminya yang membantu disampingnya juga tak bisa membendung air matanya, mereka sekarang sudah menjadi seorang ayah dan ibu. Mereka belum pernah merasakan kebahagiaan yang melebihi saat ini.
Kedua anak mereka sudah terlahir dengan kondisi yang sempurna, sehat dan putih bersinar.
Kemudian datang seorang suster yang masih muda, dia membawa buku catatan kelahiran,
"Permisi, siapakah nama kedua anak kembar kalian?" tanya suster itu ikut merasa bahagia.
"Anak pertama Kaysa Malik dan ada kedua Syadeva Malik," jawab Syauqi mantap.
"Bagus sekali namanya! terimakasih, saya pamit undur diri dulu," kata suster tadi segera keluar ruangan.
Semua sudah selesai, Zhia beserta kedua anaknya segera dipindahkan ke ruang inap.
Syauqi sebelumnya sudah menyiapkan tempat khusus untuk istrinya melahirkan, karena kepala rumah sakit adalah teman papanya, makanya semuanya dimudahkan. Mereka memberikan pelayanan terbaik dan juga dokter terbaik.
Dony yang baru muncul menghebohkan ruangan,
"Halo Bos, selamat ya sekarang sudah menjadi seorang ayah," kata Dony merangkul Syauqi.
"Iya terimakasih, sebentar lagi kamu juga," jawab Syauqi tersenyum senang.
"Aku tak mengira, Raja Singa yang dulunya ganas kini berubah menjadi seorang pria sejati," sindir Dony tak bisa menahannya.
Syauqi sama sekali tidak marah, karena hati dia sedang bahagia. Dia berada biasa saja saat semua orang menertawakannya.
"Zhia, bagaimana rasanya melahirkan?" tanya Nindya penasaran.
"Rasanya nikmat sekali," jawab Zhia yang masih lemah.
Para wanita yang pernah melahirkan tertawa lirih, sedangkan Nindya merasa bingung sendiri, "Benarkah rasanya nikmat? masa iya Zhia membohongiku." batin Nindy.
"Don, aku sarankan! saat istrimu melahirkan nanti kamu harus ikut mendampinginya," ucap Syauqi.
Dia Nyengir sendiri mengingat proses persalinan istrinya, mentalnya masih terguncang. Dia tak mengira istrinya yang terlihat lemah lembut ternyata sangat tangguh. Dia sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya.
Dony yang seperti ditantang Syauqi menjawab dengan bangga,
"Tentu saja, aku ini seorang suami dan calon ayah yang bertanggung jawab.
__ADS_1
* Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya, jangan lupa like, vote dan beri rating bintang 5. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Authoor.
Mojugahon kritik dan sarannya , semoga kedepannya novel ini bisa lebih baik🙏*