
Setelah Syadev selesai bekerja ternyata Darren sudah sejak tadi menunggu di depan kantor. Dengan senyuman ceria putra tunggal Dony tersebut menyapa Syadev.
"Hay, kenapa wajahmu lesu sekali?"
Namun Syadev yang tengah stres berat sama sekali tidak menjawab, lebih tepatnya bukan karena tidak mau, tapi memang tidak mendengar sapaan temannya.
Darren yang sejak kecil mengenal baik sifat Syadev hanya diam saja tanpa rasa kecewa. Sebab jika Syadev sedang memiliki masalah hanya diam seperti itu, berbeda dengan Kaysa yang sebaliknya.
Darren yakin setelah Syadev cukup lama merenung nanti juga akan cerita sendiri, seandainya Darren bertanya sekarang juga tidak akan dijawab.
Sesampainya di rumah, Anggun menyambut suaminya yang baru pulang bekerja dari kantor dengan senyuman manis. Seperti namanya, Anggun membagi memiliki sikap keibuan dan Anggun. Seketika Syadev yang tadinya gungah gulana berubah menjadi tenang dan damai.
"Assalamu'alaikum," sapa Syadev dan Darren bersamaan.
"Wa'alaikumsalam, ayo mandi terus sholat isya. Setelah itu baru makan malam bersama," ucap Anggun.
"Iya," jawab Syadev tersenyum patuh.
Darren hanya tersenyum meringis melihat sikap Syadev yang berubah drastis.
Syadev langsung mandi, dia tersenyum sendiri karena semua pakaian dan barang-barang barang yang dibutuhkan sudah di siapkan. Bahkan alat untuk sholat juga sudah siap. Syadev sungguh bahagia istri yang baik seperti Anggun, penghibur jiwa dan penghangat hati.
Karena pulang agak malam Syadev sholat Isyak sendirian.
Setelah semuanya selesai Syadev bergegas keluar dari kamar, dia tahu jika Darren dan Anggun sudah menantinya untuk makan malam.
"Di mana Darren?" tanya Syadev.
"Sebelum menjemput kamu sudah aku suruh makan malam duluan, kasihan dia kalau kelaparan," jawab Anggun sambil mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya.
" Kalau begitu kenapa kamu tidak makan duluan? Aku tidak apa-apa ditinggal, dari pada nanti kamu kelaparan," jawab Syadev.
" Tidak, aku tetap akan menunggu suamiku pulang. Lagi pula waktu kita untuk bertemu sangat jarang," balas Anggun tersenyum manis.
Syadev langsung meleleh dan terpesona. Semakin dilihat Anggun kini memang semakin cantik. Apalagi istrinya itu juga sudah bisa dandan.
"Aku hanya khawatir kalau istriku ini nanti sakit, dikira aku sebagai suami tidak bisa merawat kamu dengan baik," ucap Syadev lembut.
Anggun menoleh ke kanan dan ke kiri, rupanya Darren Mash berada di dalam kamarnya. Anggun segera meletakkan piring di depan Syadev dan mencium pipi suaminya dengan lembut.
Seketika hati Syadev bergejolak, pikiran runyam tentang pekerjaan hilang untuk sesaat dalam otaknya. Syadev segera makan dengan cepat dan ingin mengajak istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
Namun setelah makan Darren justru keluar dari kamar, Syadev mau tak mau menunda keinginan ayahnya. Tidak enak juga jika temannya itu ditinggal sendirian.
"Syadev, Kata mamaku besok pagi papa sudah sampai di Amerika," kata Darren cemas.
"Mau berapa hari di sini?" tanya Syadev justru merasa lega.
"Sekitar dua hari, soalnya mengurus pekerjaan. Dan Mama bilang papa mau menginap di hotel kita," ucap Darren panik.
"Tenanglah! Sebaiknya kamu bilang sama papamu jika kita sudah pindah di sini. Dan minta papamu menginap di rumah ini," saran Syadev.
"Kamu mau mengungkap tentang pernikahan kamu?" tanya Darren terkejut.
"Tidak juga, tapi selama Om Dony di Amerika biar Anggun tinggal bersama Inge saja. Dia tahu kok mengenai hubungan aku dengan Anggun," jawab Syadev.
"Baiklah kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu ya? Saat ini Zahra dan. Kaysa sedang ad kejadian menarik," ucap Syadev bersemangat.
"Kejadian apa?" tanya Syadev dan Anggun ikut penasaran.
"Besok saja aku ceritakan, sekarang kalian kosongkan kamar Anggun terlebih dahulu. Biar papa bisa tidur di sana," perintah Darren berlalu pergi masuk ke kamar.
Apa yang barusan di ucapkan Darren masuk akal juga. Mereka berdua segera memindahkan barang-barang dari kamar Anggun ke kamar Syadev.
Dalam waktu lima belas menit semua sudah selesai. Anggun sendiri juga sudah menyiapkan barang-barang yang diperlukan selama menginap di rumah teman suaminya.
Syadev terlihat capek, tapi matanya berbinar lega ka
rena bukan Ayah dan Bundanya yang datang. Syadev bukannya tidak merindukan kedua orang tuanya, hanya saja saat ini dia masih belum siap mengungkap tentang pernikahannya.
"Pasti capek ya? Sini aku pijat," tawar Anggun sambil memegang pundak suaminya dengan lembut.
__ADS_1
"Baik, tapi di sini," jawab Syadev sembari memindahkan tangan Anggun dari pundaknya menuju daerah sensitifnya.
"Ah," pekik Anggun merasa kaget.
"Desahannya ini loh," goda Syadev langsung mencium bibir istrinya dengan mesra.
Syadev yang tadinya merasa lemas seketika energinya menjadi full. Dengan tangkas dia menggendong istrinya ke ranjang dan menindihnya dari atas.
Anggun sangat menyukai bibir Syadev yang sexi. Sebab jika dilihat semakin jelas wajah suaminya itu justru lebih cantik dari perempuan. Tapi meskipun memiliki wajah cantik Syadev juga terlihat macho karena memiliki tubuh kekar dan sikap tegas.
Anggun tak ingin hanya diam saja saat di serang suaminya, perempuan itu juga membalas ciuman Syadev dengan penuh birahi dan tangannya yang lincah memijat daerah sensitif milik Syadev.
Soal mijat memijat Anggun memang ahlinya, hampir setiap malam Syadev menyukai pijatan tersebut.
"Anggun, semakin hari kamu semakin cantik," bisik Syadev.
"Itu karena aku terawat, dulu jangankan membeli skincare. Pakai handbody saja tidak pernah," jawab Anggun tersipu malu.
Semasa SMA anggun memang masih lusuh, wajahnya kusam karena sering terkena panas matahari dan tidak terawat. Namun sekarang Anggun kemana-mana naik mobil, pikiran juga tenang sebab semua kebutuhan sudah ditanggung Syadev. Di tambah Anggun juga dibelikan skincare walaupun tak semahal punya Kaysa.
Di dunia ini perempuan mana yang tidak merasa bahagia saat ada seorang pemuda yang mencintai dengan tulus, apalagi pemuda tersebut seperti Syadev yang tampan, status tinggi dan jenius. Yang lebih penting dari semuanya adalah mencintai apa adanya dan tipe setia.
Di universitas memang banyak sekali gadis-gadis yang mengejar Syadev, apalagi di Amerika sana sudah biasa untuk perempuan yang menyatakan cinta terlebih dahulu. Namun Syadev dengan mantap menolak dan tidak mau memberi celah sedikit pada mereka. Dia selalu berusaha menjaga hati pada istrinya agar tidak sakit hati. Meskipun Anggun sebenarnya seorang istri yang selalu percaya terhadap suaminya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kaysa sudah di bengkel terbesar dan terpopuler. Karena bengkel tersebut memiliki pelayanan terbaiknya. Duku Kaysa sering ke sana saat SMA, tapi kini tidak pernah karena mobil miliknya juga sudah terjual.
Pemilik toko yang sudah mengenal baik dengan Kaysa menyambut dia dengan suka cita. Apalagi pelanggan yang paling rewel itu merupakan putri Syauqi Malik. Jadi tidak mudah dilupakan.
"Bos cantikku, kemana saja tidak pernah ke sini?" Sapa Bob, pemilik bengkel Armada.
"Hayya, aku sekarang sudah pindah ke kota lain ikut suami, Om," jawab Kaysa riang.
"Suami? Jadi sudah menikah? Iyahh… padahal Om Bob ingin menjodohkan kamu dengan putraku," rengek Bob pura-pura bersedih.
"Ha… Ha… Putra Om Bob masih TK, kalau aku menunggu dia untuk dinikahi rambutku sudah berubah putuh," jawab Kaysa tertawa lebar.
Kedua orang tersebut tertawa terbahak-bahak. Montir yang lainnya seketika menghentikan aktifitas melihat Kaysa yang cantik juga membuat heboh.
Para montir tersebut langsung kaget dan meneruskan pekerjaan mereka. Mereka sebenarnya diam-diam naksir Kaysa, hanya saja mereka tidak punya nyali mendekati putri konglomerat yang glamor tersebut. Jadi mereka hanya berani sebatas mengagumi, setiap Kaysa datang untuk menyervis mobil mereka berebutan untuk melayani Kaysa, biarpun Kaysa rewel banget minta yang serba sempurna tapi mereka justru menganggap kebawelannya tersebut menggemaskan.
"Om, bagaimana motor temanku, apa sudah selesai?" tanya Kaysa.
"Tentu saja sudah dong, begitu tahu yang menyuruh Nina Kaysa langsung kami garap," jawab Bob tak ingin mengecewakan pelanggan istimewanya.
"Diganti dengan kualitas terbaik kan?" tanya Kaysa memastikan.
"Iya, pokoknya semua sudah sesuai instruksi Nona Kaysa," jawab Bob meyakinkan.
"Terima kasih kalau begitu, habis berapa semuanya?" tanya Kaysa.
"Sepuluh juta, tapi aku diskon jadi 8 juta khusus untuk Nona Kaysa," jawab Bob riang.
"Terima kasih banyak. Tapi tidak perlu di potong, biarkan yang dua juta itu jadi bonus untuk montir yang menyervice motor tersebut," kata Kaysa.
Zahra sudah mengenal sifat Kaysa yang royal, tapi Alifya dan Rahma terkejut. Bagi mereka berdua yang dua juta bukanlah sedikit. Di saat orang lain selalu berharap dapat diskon tapi Kaysa justru menolak.
"Kaysa, motorku saja dulu kalau beli cash hanya dua belas juta. Sekarang sepuluh juta itu bisa beli second yang masih bagus," ucap Rahma merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Motor kamu itu sudah diganti mesin biar nanti kamu nyaman saat mengendarainya. Soal biaya kamu tidak perlu cemas," jawab Kaysa santai.
Tak berapa lama datang Qila, tapi gadis itu datang hanya seorang diri saja dengan mobil berwarna hitam.
"Sudah dilihat dengan jelas videonya?" tanya Kaysa.
"Di sini yang mobilnya warna merah tidak hanya aku," jawab Qila ketus.
"Ya sudah, kalau memang bukan kamu pelakunya biar polisi saja yang menyelidiki. Tapi aku akan membuat dia dipenjara tanpa bisa ditebus dengan uang," kata Kaysa tenang.
Seketika raut wajah Qila berubah pucat, gadis itu tidak ingin menghabiskan masa mudanya di balik penjara.
__ADS_1
"Baiklah, aku akui akulah yang merusak motor Rahma. Sekarang apa maumu? Setelah aku menuruti keinginan kamu nanti hapus video yang ada di ponsel kamu," pinta Qila pasrah.
"Aku mintanya simpel kok, karena kamu sudah merusakkan motor Rahma jadi kamu juga yang bertanggung jawab membayar biasa servicenya," jawab Kaysa.
"Oke, berapa yang harus aku bayar?" tanya Qila masih bersikap angkuh.
"Nih," balas Kaysa menyerahkan secara kertas.
"Apa? Sepuluh juta? Gila! Motor buntut jaya gitu kalau dijual paling cuma kamu enam juta. Kamu ingin memeras aku?" teriak Qila marah.
"Mau bayar apa enggak?" tantang Kaysa.
Qila langsung menelepon temannya, entahlah siapa yang ditelepon. Namun Kaysa dan ketiga temannya itu bisa mendengar.
"Kamu dan Via segera transfer tiga juta. Biar aku yang empat juta. Jangan banyak tanya transfer sekarang!" perintah Qila menahan kesal.
"Sebenarnya kalau cuma bayar sepuluh juta aku lebih dari mampu, tapi aku ingin orang yang bersalah yang bertanggung jawab," ejek Kaysa dengan senyuman puas.
"Sekarang hapus videonya!" pinta Qila.
"Aku seorang perempuan yang murah hati dan penuh belas kasihan. Asal kamu bertanggung jawab atas kesalahanmu aku tidak akan melaporkanmu ke polisi. Tapi ingat! Jika kalian berani mengganggu mereka lagi. Kamu akan menyesal seumur hidup. Aku tidak pernah main-main dengan ucapannya!" kata Kaysa dengan senyuman sinis.
Beberapa detik kemudian salah satu montir mendorong motor milik Rahma. pemiliknya sampai pangling sama motornya sendiri.
"Wah, motornya jadi seperti baru!" pekik Rahma.
"Berterima kasihlah pada Qila, lain kali suruh dia merusak lagi. Nanti aku akan membuat dia mengganti dengan mobilnya," sindir Kaysa merasa puas.
Qila hanya mendengus kesal, sebab salah satu temannya belum juga mentransfer uang.
"Om Bob, aku pulang dulu ya. Terima kasih atas semuanya. Semua biaya gadis ini yang membayar," ucap Kaysa menunjuk ke arah Qila.
"Iya sayangku. Jangan lupa sering-sering berkunjung ke sini ya!" jawab Bob senang.
"Siap," balas Kaysa sembari mengajak yang lainnya pulang.
"Kaysa, terima kasih banyak ya! Aku yakin setelah ini Qila dan teman-temannya tidak akan berani mengganggu aku dan Zahra," ucap Rahma.
"Santai, tapi jika mereka macam-macam lagi langsung telepon aku ya! Biarpun aku di luar kota tapi aku masih bisa memberi pelajaran pada mereka," jawab Kaysa sengaja diperkeras agar Qila mendengar.
"Kalau begitu aku pulang dulu, bye," pamit Rahma yang seperti mengendarai motor baru.
"Ayo," ajak Kaysa pada kedua sepupunya untuk naik mobil.
"Kamu hebat sekali," puji Alifya.
"Iya, kamu cocok kalau menjadi detektif," timpal Zahra.
"Iya ya? Pasti aku terlihat keren," jawab Kaysa tertawa senang.
Kaysa segera mengantarkan sepupunya ke rumah masing-masing. Setelah itu dia segera pulang.
Baru saja Kaysa keluar dari mobil, suaminya tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu dari mana, Istriku sayang?" tanya Alarik menahan kesal.
"Ayo kita ke kamar dulu, nanti akan aku ceritakan tentang kehebatan aku," jawab Kaysa langsung menggandeng mesra lengan suaminya menuju kamar.
"Kaysa, kamu dari mana?" zhia cemas.
"Tadi menjemput Zahra dan Kak Alifya sekalian memberikan oleh-oleh pada mereka," jawab Kaysa.
"Kenapa tidak menunggu suamimu terlebih dahulu?" tanya Zhia lembut.
"Malam ini kami mau pulang, jadi takut tidak ada waktu. Bunda jangan bilang sama Ayah kalau aku menyetir mobil sendiri ya!" rengek Kaysa dengan wajah memelas.
" Hem... Tapi lain kali jangan diulangi lagi," kata Zhia.
Sebenarnya yang paling cemas itu adalah Zhia, tapi jika sudah melihat anak-anaknya baik-baik saja Zhia sudah merasa lega. Jadi Zhia hanya menasihati panjang lebar.
Syauqi bukan tipe ayah yang pemarah, kalau hanya masalah kecil dibiarkan saja. Namun jika sudah kelewat batas Syauqi langsung menegur dengan suara yang tegas. Sebaliknya dengan Zhia, sekecil apapun kesalahan anak-anaknya langsung dinasehati. Biarpun suaranya lembut tapi bisa sangat lama.
__ADS_1
Jika disuruh memilih Kaysa mending di marahi Ayahnya, biarpun tegas tapi sebentar. Jual Bundanya dia tidak tahan karena lama sekali.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yaa🤗