
Darren akhirnya membawa Inge menuju sebuah hotel, di sana dia menjadi pusat perhatian karena membawa seorang gadis yang tengah mabuk.
"Saya pesan satu kamar!" pinta Darren.
"Bisa tunjukan surat nikah kalian?" tanya seorang lelaki setengah baya curiga.
"Pak, kami ini memang belum menikah. Dan kami juga bukan pasangan," jawab Darren.
"Kalau begitu kenapa kamu membawa gadis yang mabuk ini ke hotel? Apakah kamu akan berbuat jahat?"
"Aishh... Pak, aku bukan orang jahat," jawab Darren kesal.
Keadaan semakin rumit, apalagi petugas hotel tersebut sampai memanggil security dan berniat melaporkan ke polisi jika Darren tidak membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
Darren bingung mau bagaimana, tidak mungkin baginya untuk meninggalkan Inge dalam situasi seperti ini. Dan dia juga tidak ingin membuat orang lain salah paham.
Akhirnya dengan berat hati Darren terpaksa mengirim pesan pada Zahra agar calon istrinya tersebut mau ke hotel. Karena jarak yang tidak jauh dari rumah Zahra sehingga dalam waktu lima belas menit Zahra sudah datang.
"Ya ampun, bagaimana bisa seperti ini?" tanya Zahra.
"Aku juga tidak tahu, cepat kamu jelaskan pada mereka jika aku ingin pemuda baik-baik," jawab kata Darren tidak sabar.
Zahra yang tengah panik emncoba bersikap tenang.
"Maaf, Pak. Pemuda ini adalah calon suamiku. Kami sebentar lagi akan menikah dan saya sangat yakin jika niat dia hanya berniat menolong. Masa iya melihat teman sedang mabuk di jalanan dan mobilnya mogok akan dibiarkan begitu saja," kata Zahra.
"Maaf kalau begitu, kami juga hanya menjalankan tugas. Karena jika nanti terjadi apa-apa hotel kami ikut tercemar. Setiap pasangan yang akan menginap di sini memang harus menunjukan akte nikah atau kartu keluarga," kata bapak setengah baya tadi menjelaskan.
"Tidak apa-apa, Pak. Kami akan mengantarkan gadis ini setelah itu kami akan pamit pergi," jawab Darren.
Zahra yang melihat calon suaminya tengah merangkul Inge ada sedikit rasa cemburu, tapi karena keadaan yang darurat Zahra mencoba untuk memahami.
"Ayo aku bantu," ucap Zahra tersenyum ramah.
Darren yang dari tadi memikirkan perasaan Zahra merasa lega melihat calon istrinya tidak marah. Sejujurnya tadi Darren sangat takut sekali.
Mereka berdua membawa Inge ke kamar yang sudah di pesan dan membaringkan ke tempat tidur. Tidak lupa Zahra menyelimuti sampai rapat.
"Apa tidak kasihan membiarkan dia sendiri?" tanya Zahra cemas.
"Kamu kan dilarang menginap kecuali di ruang Om Syauqi, apa kamu ingin aku yang menginap di sini menemani Inge?" goda Darren.
"Kamu senang kan? Apalagi melihat gadis cantik dengan pakaian terbuka," jawab Zahra cemberut.
"Kata siapa aku senang? Mataku justru ternoda, dan aku sama sekali tidak tertarik dengan perempuan seperti itu," balas Darren.
"Mana mungkin seorang lelaki tidak tertarik Dnegan keindahan tubuh perempuan, kecuali jika pemuda itu tidak normal," kata sergah Zahra.
"Aku ini normal, tapi aku hanya tertarik dengan orang yang aku cintai saja. Bagaimana kalau kita menginap di kamar sebelah saja," goda Darren.
__ADS_1
"Mau ngapain?" pekik Zahra malu.
"Katanya tidak tega meninggalkan Inge?" goda Darren.
"Modus," jawab Zahra kesal.
Darren langsung menarik tangan Zahra sampai gadis itu menempel pada dadanya.
"Darren... Apa-apaan..." kata Zahra malu.
"Kita sebentar lagi menikah, bagaimana kalau malam ini aku menyicil saja," bisik Darren.
"Menyicil apa?" tanya Zahra tidak mengerti.
"Menyicil malam pertama, jadi izinkan aku mencium sekali saja," rengek Darren manja.
"Tidak!" tegas Zahra.
"Sekali," pinta Darren tidak menyerah.
"Tidak boleh," jawab Zahra kekeh.
"Satu kali lahh," rayu Daren dengan memohon.
Zahra yang merasa malu hanya memalingkan wajahnya.
Saat itu Darren langsung menangkap kedua pipi calon istrinya dan mencium bibir Zahra penuh perasaan. Zahra hanya memejamkan matanya karena tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Sudah..." kata Zahra mendorong tubuh calon suaminya.
Darren tertawa, karena biarpun malu tapi calon istrinya tersebut mau.
"Ayo kita pulang, yang terpenting saat ini dia aman," ajak Darren.
"Baiklah kalau begitu," jawab Zahra riang.
"Eh katanya Kaysa hamil," ucap Zahra riang.
"Benarkah? Wah, kalau begitu setelah menikah kita juga harus menyusul," jawab Darren senang.
Zahra yang awalnya ada sedikit ragu kini mulai yakin untuk menikah. Apalagi setelah tahu jika kedua sahabatnya itu sedang hamil. Dia tidak ingin hanya menjadi pendengar tanpa bisa merasakannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Orlin sedang di sidang kedua orang tuanya.
"Orlin, kamu jangan dekat-dekat dengan Reki!" kata Rendra tegas.
"Pa, setiap orang bisa berubah," jawab Orlin.
__ADS_1
"Tapi Papa masih belum yakin," balas Rendra.
"Pa, Orlin sudah dewasa. Orlin tahu mana yang baik dan tidak," jawab Orlin meyakinkan papanya.
Nayla biarpun kurang setuju tapi juga tidak bisa berbicara apa-apa. Apalagi melihat putrinya itu yang baru mulai bangkit dari keterpurukan sebab ditinggal nikah Alarik.
"Orlin, jika kamu masih dekat-dekat dengannya papa jadi cemas," kata Rendra kekeh.
Orlin hampir menangis, tapi ditahan. Dia sendiri entah kenapa merasa sangat bersedih saat dilarang berdekatan dengan Reki. Padahal hubungan mereka juga hanya sebatas teman.
"Orlin, besok kamu ikut papa ke London saja!" kata Rendra tegas, setelah itu Rendra berlalu pergi dan keluar dari kamar.
Seumur hidup baru kali ini Rendra marah sampai segitunya, selama ini Rendra termasuk orang yang penyabar.
Setelah Papanya tiada Orlin baru meneteskan air matanya. Nayla segera memeluk putri kesayangannya tersebut.
"Sayang, Papa marah! Dia hanya terlalu cemas dan khawatir saja. Apalagi masa lalu Reki yang kamu sudah tahu sendiri kan?" bujuk Nayla.
"Iya, Orlin mengerti. Tapi Orlin mau di sini saja," rengek Orlin.
"Sebaiknya kamu ikut kami pulang saja, dari pada Papamu nanti gelisah setiap saat. Nak, kami hanya berharap yang terbaik untukmu," bujuk Nayla lagi.
"Ma, baiklah. Orlin mengerti, tapi beri Orlin waktu tiga hari lagi untuk mengurus semuanya. Karena bagaimanapun juga Orlin punya tanggung jawab di perusahaan Alarik," pinta Orlin.
"Iya, tapi hanya tiga hari. Nanti Mama akan membujuk Papamu," jawab Nayla tersenyum keibuan.
"Makasih ya, Ma." jawab Orlin memeluk Mamanya lagi dengan erat.
Setelah itu Nayla meninggalkan Putrinya dan menyusul suaminya.
Orlin hanya bisa meratapi jika sebentar lagi dia akan pindah ke London.
Saat itu tiba-tiba Reki menelpon, Orlin segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Orlin. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Reki dari seberang dengan nada cemas.
"Tidak apa-apa, Reki," jawab Orlin parau.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Reki semakin gelisah.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kamu istirahat dulu. Besok kan kamu mulai kerja," saran Orlin.
"Iya, tapi aku tidak tenang jika kamu bersedih seperti tu," jawab Reki.
Orlin baru kali ini merasakan diperhatikan oleh pemuda yang bilang tidak tenang karena kesedihannya.
"Reki, aku tidur dulu. Sampai berjumpa besok ya di kantor," ucap Orlin yang tidak ingin bertambah bersedih lagi.
Orlin segera menutup teleponnya dan menangis.
__ADS_1
Orlin tidak tahu apa yang membuat dirinya begitu bersedih, membayangkan meninggalkan Indonesia seakan nyawanya juga ikut tertinggal.
Jangan lupa Like dan Vote ya🤗