
Dalam pertandingan judi, Arkananta bisa memenangkan pertandingan terus menerus. Dia dan saudaranya sengaja ingin mengeruk uang Roji dan kawan-kawannya.
"Hey, Nak. Kamu ini masih muda tapi jago main rupanya," ucap Roji yang tetap tertawa riang.
"Karena ini adalah hobi saya," balas Arka.
"Sebelum pagi jangan pulang, kita main terus," jawab Roji merasa tertantang.
"Apa Anda tidak takut jika semua uang Anda malam ini berpindah ke tangan saya?" canda Arka.
"Sumberku masih banyak, kamu tak perlu cemas anak muda," timpal Roji penggila judi.
"Apa Anda memiliki tempat yang lebih hebat dari ini?" tanya Arka mulai memancing.
"Tentu saja ada, ini hanya tempat cabang. Besok malam akan ada pelelangan di markas pusat, jika kamu minat akan aku kasih undangan. Sepertinya aku mulai menyukai kecerdasanmu yang menyukai tantangan, Nak," tawar Roji.
Roji seorang lelaki yang sangat licik, begitu melihat anak muda yang sukses dan terlihat polos jadi begitu tergiur untuk memanfaatkannya.
"Kamu masih terlalu muda untuk melawanku, Nak," batin Roji bangga.
"Tentu saja mau, berarti hari ini saya harus mengeruk uang kalian. Biar besok istri saya bisa membeli sepuas mungkin barang yang disukainya dalam pelelangan," jawab Arka tanpa sungkan.
"Bagus, aku suka seseorang yang seperti ini," jawab Roji tertawa.
Roji mengisyaratkan anak buahnya untuk mengambil uang lebih banyak.
__ADS_1
"Di dalam koper ini bernilai milyaran, apa kalian berani bermain terus?" tantang Roji.
"Siap, Akan saya taruhkan semua uang saya," jawab Arka tanpa rasa takut.
Soal main bermain memang Arkananta ahlinya, makanya tugas itu diserahkan kepadanya.
Sedangkan Sagara dan Yudistira mengamati sekitarnya, tidak ada hal yang mencurigakan. Semua permainan secara adil dan jujur.
Malam ini ketiga generasi Syauqi dan putri Kepala Kepolisian pulang dengan membawa kemenangan, uang sekaligus informasi mengenai markas.
Di Luar ruangan.
"Ini yang kita bawa uang?" tanya Yudis tak percaya.
"Yang penting kita sudah dapat undangan, selanjutnya bagaimana?" tanya sela Deby.
"Langsung lapor saja sama Pak Martin," timpal Arka.
Mereka segera naik ke kapal dan melewati lautan lagi. Sesampainya di tepi pantai Syadev dan Alarik sudah menghadang. Seketika nyali ketiga generasi Syauqi menciut.
"Bagus, kalian rupanya sudah menjadi pahlawan ya?" sindir Syadev.
Arka, Yudis dan juga Saga hanya menunduk saja.
Alarik membual koper yang di bawa oleh anaknya, setelah di buka dia tertawa mengejek.
__ADS_1
"Kalian ini masih anak-anak, pantas saja Roji melepaskan dengan mudah dan mengalah sebab uang yang mereka gunakan untuk taruhan adalah uang palsu," ejek Alarik.
"Apa?" pekik Yudis segera mengecek dalam kopernya juga.
Ternyata kebanyakan adalah uang palsu, hanya sebagian saja yang merupakan uang asli.
"Berarti Roji juga pengedar uang palsu," gumam Martin.
"Sudah sampai malam ini saja bermainnya, setelah ini kalian bertiga akan dihukum dan jangan harap lagi bisa menyelinap keluar," Sergah Syadev tegas.
"Benar, masalah ini saya juga akan melapor pada kepolisian pusat. Karena pelanggaran Roji sudah terlalu banyak, dan sepertinya akan sulit ditangani. Meskipun begitu saya sangat mengucapkan terima kasih kepada putera kalian yang sangat hebat ini," ucap Martin.
Setelah malam itu, ketiga generasi Syauqi sudah tidak bisa keluar lagi di malam hari. Karena Syadev akan menyuruh seseorang untuk menjaga mereka.
Sedangkan mengenai Roji sudah terbongkar markasnya dan juga masuk ke dalam penjara.
"Kita seperti seorang tahanan," gumam Saga.
"Sebentar lagi liburan, kita bisa pulang ke rumah," bujuk Yudis.
"Itupun jika papa kalian mengizinkan, kalau mami aku sih pasti menginginkan aku pulang," timpal Arka merasa santai.
Namun, ketiga generasi Syauqi tidak tahu jika Roji sebenarnya hanya tangan kanan seseorang. Pemimpin yang sebenarnya justru masih belum diketahui publik. Namun, pemimpin tersebut sangat menginginkan Saga sebab kecerdasannya dalam membuat alat yang canggih dan juga mampu meretas sistem yang sangat ketat sekalipun.
Sesampainya di Vila, Ketiga generasi Syauqi mendapat ceramah yang sangat panjang. Walaupun sudah sangat mengantuk tetapi mereka tetap mendengarkan seksama sebab tidak ingin membuat orang tua mereka marah. Karena pada dasarnya mereka begitu perhatian hanya saja sebagai anak muda juga telah tidak betah bila terkurung di dalam asrama.
__ADS_1