
Orlin dan Reki sudah tidak tahan berada di luar karena cuaca memang sangat dingin, mereka akhirnya pulang ke hotel.
Orlin menggosok - gosokkan k dua tangannya karena merasa kram saking dinginnya, dengan penuh perhatian Reki meraih tangan istrinya dan meniup - niup seperti di drama Korea.
"Apaan, sok romatis deh," ujar Orlin tertawa.
"Kalau yang romatis itu begini," jawab Reki sambil mengangkat tubuh Orlin masuk ke dalam kamar.
"Eh.. Mau ngapain?" tanya Orlin yang tubuhnya sudah terhempas ke ranjang.
"Yang biasa suami istri lakukan," goda Reki.
"Sebentar," pekik Orlin panik.
"Diamlah… Dan tutup matamu!" perintah Reki sambil memegang kedua tangan Orlin.
Orlin patuh, saat itu Reki mulai mencium kening, hidung dan turun ke bibir lembut Orlin.
Orlin merasa sekujur tubuhnya merinding seolah dialiri sengatan listrik tegangan tinggi. Saat keduanya berciuman mesra, Orlin sampai tidak sadar jika jaket dan bajunya dilepaskan oleh Reki satu persatu.
Tangan Reki mulai menyusup ke bagian tubuh Orlin yang paling sensitif, bibirnya juga menyusuri leher sampai ke bukit yang memuncak indah.
Orlin mendesah dan sudah keringat dingin, dia semakin lama semakin ingin diperlakukan lebih dan lebih.
"Bagaimana?" Bisik Reki menggoda.
"Ku sepertinya sudah biasa melakukan hal seperti ini dengan para mantanmu," jawab Orlin tiba - tiba cemburu.
"Iya, tapi hanya sekedar ciuman dan pelukan. Selebihnya aku tidak," jawab Reki jujur.
"Bohong, mana mungkin kamu tidak tidur dengan mereka," sergah Orlin tak percaya.
"Aku masih perjaka tahu, biarpun aku playboy tapi aku nggak pernah minat sampai melakukan hal seperti itu," jawab Reki membela diri.
"Kenapa?" tanya Orlin heran.
"Karena aku tidak benar - benar mencintai, dan aku takut jika sampai mereka hamil lalu aku disuruh tanggung jawab. Lalu bagaimana nasib anakku nanti? Aku saja baru kepikiran mau punya anak setelah aku bertemu denganmu," jawab Reki sambil menggigit sagu Orlin lembut.
"Jadi sejak kita pertama bertemu kamu sudah berpikiran kotor padaku?" Pekik Orlin.
"Tidak begitu, maksudnya aku yakin aku mencintaimu dan kamu bisa jadi ibu yang baik dan istri yang baik untuk mengurus kami," balas Reki.
Orlin langsung tersipu malu, dia percaya karena dulu mama dan papa Reki kurang peduli padanya.
Orlin merasa kasihan pada suaminya yang kekurangan kasih sayang di masa kecilnya itu, dia tanpa berpikir panjang memeluk suaminya dengan erat.
"Aku gerah sekali, aku mau melepaskan jaket yang mengganggu ini," ucap Reki nyengir.
Orlin tahu jika itu hanya akal - akalan suaminya saja.
Kini keduanya hanya tertutupi selimut, tubuh mereka yang saling bersentuhan kulit secara langsung merasa hangat. Kemudian tubuh Reki yang kekar langsung menindih tubuh ramping Orlin.
Reki mulai melakukan aksinya, dan Orlin kali ini menyerahkan jiwa raganya sepenuh hati.
__ADS_1
Orlin diam - diam sangat menyukai saat suaminya menggerayangi tubuhnya, apalagi saat Reki mencium leher, punggung bahkan sampai ke perut dan turun ke bawahnya lagi
"Basah ya? Lepas saja semuanya!" kata Reki menarik tanpa ampun.
Tapi Reki masih ingin menggoda istrinya, dia ingin bermain - main dulu agar istrinya itu yang meminta duluan.
Dan benar saja, setelah setengah jam pemanasan justru Orlin yang merengek untuk segera dimasukkan.
"Kamu jahat…" rengek Orlin.
Akhirnya Reki bertindak juga. Malam pertama mereka yang sempat tertunda kini telah terwujud juga. Keduanya saling menyatukan cinta yang dulu pernah terhalang restu orang tua.
Reki dalam hati bersyukur karena menemukan cahaya dalam hidupnya, begitu juga dengan Orlin. Biarpun Reki tak sesempurna Alarik tapi dengan dia menerima apa adanya dan dengan ketulusannya mampu mengubah Reki menuju jalan yang baik.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Beberapa Minggu Kemudian
Anggun baru saja mengantarkan suaminya sampai di depan rumah, hari ini Syadev akan mengikuti lomba yang bergengsi tentang pengetahuan umum. Dalam hati Anggun percaya jika suaminya pasti bisa menang.
Kini tinggal dia seorang diri di dalam rumah mungil itu, sebab kedua mertuanya masih dalam perjalanan dan mungkin akan sampai di sana nanti siang.
Anggun berniat ingin makan buah anggur sambil menunggu di depan Televisi menantikan acara perlombaan suaminya. Akan tetapi saat dia membuka kulkas tiba - tiba saja perutnya terasa mulas dan perih sekali seperti di sayat - sayat.
"Ya Alloh, apakah aku akan melahirkan?" batin Anggun mem gang perutnya yang sudah tak tertahan lagi.
Anggun bingung mau bagaimana, dia juga tidak mau mengganggu suaminya. Sebab selama sebulan lebih Syadev siang malam bahkan sampai makan harus di suapi karena begitu fokus belajar dan belajar.
Akhirnya dengan tertatih - tatih Anggun meraih ponselnya. Di negara ini satu - satunya orang yang di kenal adalah Inge. Dia berharap semoga Inge sedang berada di Amerika.
"Inge… Kamu ada di mana sekarang?" tanya Anggun.
"Baru semalam sampai di Amerika, tumben menelpon aku. Ku kira kamu sudah melupakanku?" canda Inge.
"Tolong, aku... Aku mau lahiran dan sekarang aku di rumah sendirian," rengek Anggun yang tak tahan lagi dengan rasa nyerinya.
"Aku langsung ke sana," jawab Inge menutup teleponnya.
Anggun hanya bisa istighfar dalam hati dan mengatur napasnya agar dirinya bisa tenang.
Inge seperti kesetanan mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, tak lama kemudian dia sampai di rumah Anggun yang sedang duduk tak berdaya.
"Ayo, langsung ke rumah sakit saja!" kata Inge membantu Anggun berjalan dan masuk ke mobil.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sudah dua jam acara perlombaan berlangsung, Syadev bisa mengalahkan lawan satu persatu. Sampai di puncak final dia harus melawan peserta yang berasal dari negara China.
Syadev entah kenapa pikirannya jadi terbayang wajah istrinya terus, dia merasa jika Anggun akan melahirkan.
Syadev ingin menghubungi istrinya tapi tidak bisa, sebab setelah acara di mulai tadi semua ponsel dan laptop di sita. Bahkan seluruh tubuhnya juga di cek jika nanti membawa alat canggih yang digunakan untuk kecurangan.
Kini satu - satunya cara yang harus dilakukan adalah menyelesaikan perlombaan ini secepat mungkin. Dan begitulah istimewanya Syadev, di saat genting dan dalam keadaan tertekan otak jeniusnya akan meningkat pesat.
__ADS_1
Syadev benar - benar membuat semua peserta bergidik ngeri, sebab setiap soal yang baru di bacakan Syadev langsung memencet tombol dan menjawab secara akurat.
Bahkan saking terkejutnya juri sampai melakukan pengecekan lagi apakah Syadev membawa alat penghubung dengan orang lain agar bisa mendapatkan bantuan jawaban? Tapi ternyata Syadev memang murni jujur.
Akhirnya Syadev berhasil meraih juara satu, dan saat disuruh melakukan sambutan Syadev dengan singkat menjawab dalam bahasa Inggris yang artinya.
"Terimakasih, tapi aku harus pergi karena istriku sedang melahirkan."
Semua orang yang berada di podium tertawa sekaligus terharu, pemuda yang masih semua itu sudah mencapai kesuksesan dan bahkan sudah mau menjadi seorang Ayah.
Begitu Syadev meminta kembali ponselnya kepada panitia dia sudah tidak sabar segera membukanya. Matanya langsung terbelalak saat ada pesan masuk dari Inge.
Inge
Istrimu sedang melahirkan di rumah sakit x.
Syadev langsung melesat pergi, bahkan pialanya belum sempat di serahkan padanya.
Sesampainya di rumah sakit Anggun masih berjuang.
Inge yang sedang menunggu di luar ruangan langsung menghampiri Syadev.
"Kata Dokter baru saja pembukaan sepenuhnya, sekarang cepatlah kamu masuk. Karena sudah siap melahirkan," kata Inge panik.
Sebelum Syadev masuk dia di minta untuk mengganti pakaian yang sudah steril dan cuci tangan terlebih dahulu.
Setelah itu dia baru diizinkan masuk dan menemani istrinya melahirkan.
Syadev melihat istrinya sudah lemas tak berdaya, hatinya begitu resah dan tak tega melihat perjuangan istrinya.
Syadev langsung memegang tangan Anggun dan mencium kening istrinya berkali - kali.
"Maafkan aku istriku, seharusnya tadi aku tak perlu mengikuti perlombaan," ucap Syadev menyesal.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Anggun.
"Alhamdulillah menang, di tengah acara tadi aku sudah punya firasat kalau kamu mau melahirkan," jawab Syadev.
"Kalau begitu sekarang aku dan anakku yang harus berjuang, semoga kami menang," jawab Anggun langsung memiliki energi full setelah kedatangan suaminya.
Anggun tak menghiraukan rasa sakitnya lagi, dia mengejan sekuat tenaga agar anaknya bisa secepatnya lahir.
Beberapa detik kemudian kepala sudah mulai terlihat, Anggun yang di suruh dokter untuk segera mengejan lagi langsung melakukan sesuai perintah sang dokter. Huh, untung saja ada suaminya. Kalau tidak Anggun takkan begitu paham apa yang diucapkan oleh dokter tersebut. Sebab bahasa inggrus Anggun masih belum baik. Selama ini dia begitu fokus pada pelajaran IPA.
Akhirnya suara tangis bayi yang keras memenuhi ruangan, tapi mengejutkan lagi perut Anggun masih merasa mulas Solah ingin melahirkan lagi.
Dokter yang memang sudah tahu kalau Anggun mengandung bayi kembar akhirnya tersenyum karena rahasianya terbongkar juga.
Anggun di suruh mengejan seperti tadi, tapi kali ini kelahiran yang kedua lebih lancar.
Ahh… Dunia ini seakan berubah dalam sekejap.
Dalam sekali hamil mereka sudah memiliki dua putra sekaligus.
__ADS_1
**Terima kasih sudah membaca karya saya, jangan lupa Like dan Vote ya? Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
mohon kritik dan sarannya juga, semoga nanti karya saya yang selanjutnya bisa lebih baik lagi**.