
Liburan panjang telah berakhir, semua para pelajar mulai kembali menuntut ilmu di sekolah.
Begitu juga dengan anak-anak dari keluarga Syauqi Malik. Si kembar itu sudah mulai masuk di sekolah baru mereka sedangkan Flora naik kelas ke tingkat tiga SD.
Dalam dua Minggu belajar, Kaysa dan Syadev sudah lancar menyetir mobil, bahkan Ayah mereka sudah mengizinkan kedua anak kembar berangkat sekolah sendiri dengan mobil mereka masing-masing.
“Anak-anakku sangat keren sekali, aku yakin mereka akan menjadi murid terpopuler di sekolah. Wajah mereka tampan dan cantik, cerdas juga mempesona seperti Ayah mereka,” kata Syauqi merasa sangat bangga melihat kedua anaknya yang baru keluar dari pekarangan rumah.
“Semoga saja mereka juga tidak bertingkah buruk di sekolah seperti Ayah mereka,” sindir Zhia.
Syauqi langsung memeluk pinggang istrinya dan menatap matanya dengan mesra.
“Hey, bukankah itu justru menarik?” goda Syauqi.
“Menarik apanya,” jawab Zhia ketus.
“Ayah, ayo kita segera berangkat. Aku ingin dapat bangku di depan,” kata Flora lembut.
“Iya, Sayang. Ayo kita cium dulu Bundanya biar tidak merengut seperti itu,” kata Syauqi yang langsung berlomba dengan putrinya.
Zhia tertawa karena mendapat serangan ciuman di pipinya dari mereka. Suaminya memang selalu licik, sampai Zhia tidak pernah bisa untuk marah berlama-lama.
“Kalian hati-hati ya,” ucap Zhia tersenyum senang.
“Iya, Bunda,” jawab Flora dan Syauqi sambil memasuki kantor.
Sebenarnya di rumah Syauqi sudah menyediakan sopir, tapi Ketika berangkat sekolah dia memilih mengantarkan anak-anaknya sendiri, kecuali kalau pulang sekolah karena Syauqi masih sibuk di kantor.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di SMA Nusantara rata-rata muridnya dari golongan menengah ke atas. Kebanyakan dari mereka sudah memakai mobil sendiri, ada juga yang masih memakai motor. Tapi jenis motor yang harganya juga mahal.
Kehadiran Kaysa dan Syadev menarik perhatian murid lain yang di sana. Karena mobil yang di pakai si kembar itu sangat fantastis.
Ketika Kaysa dan Syadev turun dari mobil, wajah tampan dan cantik mereka menjadi pusat perhatian.
Siska yang sedang di parkiran menatap iri dengan mobil Kaysa, gadis itu merasa kesal karena mobilnya jauh di bawah Kaysa.
Kaysa berjalan melewati Siska dengan tersenyum puas karena bisa membalas ejekan saat pendaftaran dulu.
Sedangkan Syadev hanya menghembuskan napas berat karena melihat tingkah saudara perempuannya yang suka pamer itu.
Beberapa detik kemudian Zahra dan Darren juga memasuki pintu gerbang sekolah, mereka berdua masih masih diantar oleh sopir mereka.
“Wih... Mobil baru nih! Sampai menangis darah pun aku tidak mungkin dibelikan sama Papaku,” ucap Darren yang juga baru sampai sana.
“Tenang, besok kamu bisa berangkat dengan Syadev,” Kata Kaysa.
“Jadi aku harus putar balik gitu? Ah males, aku mending jemput Zahra saja yang satu arah,” sergah Syadev dengan ekspresi cool nya.
“Kalau begitu kamu saja, ya? Pinta Darren memohon.
“Oke deh,” kata Kaysa riang.
Dari kecil Kaysa memang lebih dekat dengan Darren, karena teman lelakinya itu selalu patuh pada semua keputusan Kaysa.
Sedangkan Syadev lebih merasa cocok dengan Zahra, karena sepupunya itu gadis yang tidak banyak bicara dan tenang.
Mereka berempat segera berjalan menuju kelas masing-masing. Dari murid yang diterima sebanyak 350 itu di bagi menjadi tujuh ruangan, mereka di sesuaikan dengan hasil nilai tes saat seleksi pendaftaran.
Kaysa dan Syadev masuk di kelas 10 A. Zahra 10 C sedangkan Darren 10 D.
Tidak lama kemudian terdengar bel tanda berkumpul di lapangan sekolah yang sangat luas. Pagi ini akan diadakan upacara penyambutan murid baru yang dipimpin kepala sekolah.
Setelah upacara selesai, kegiatan selanjutnya adalah MOS. Selain murid baru semuanya dipersilahkan untuk bubar.
“Perkenalkan, nama saya adalah Gionino. Saya sebagai Ketua OSIS mewakili senior kalian semua untuk mengucapkan selamat datang di sekolah tercinta ini. Kegiatan pertama kalian hari ini adalah meminta tanda tangan anggota OSIS sebanyak sepuluh orang dalam waktu lima belas menit. Bagi yang gagal kalian akan di hukum sesuai peraturan yang sudah ditetapkan. Jadi kalian bisa mencari sendiri mulai sekarang,” perintah ketua OSIS lantang.
Semua murid baru segera berpencar mencari anggota OSIS yang sengaja di suruh tidak ikut upacara supaya wajah mereka tidak di kenali.
“Gila! Sekolah ini besar sekali, bagaimana kita bisa menemukan mereka dalam lima belas menit,” kata Kaysa sambil merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan.
“Tenang, Kaysa. Bagaimanapun caranya aku akan membantumu,” bujuk Darren dengan senyum mengembang.
“Sebaiknya kamu menolong dirimu sendiri, Darren. Karena belum tentu kamu bisa selamat,” sindir Syadev dengan nada tajam.
“Berdebatnya nanti saja! Sekarang kita mau ke mana dulu?” tanya Zahra panik.
“Jangan khawatir, Zahra. Aku punya ide,” jawab Kaysa tiba-tiba ceria lagi.
Ketiga temannya Kaysa langsung berhenti dan menatapnya dengan wajah serius.
“Pertama kita ke kantor, karena di sana pasti ada struktur organisasi. Kemudian kita catat nama anggota OSIS. Setelah itu kita bagi dua tim, setiap tim harus mendapatkan lima tanda tangan dari lima orang. Tapi setiap nama kita siapkan empat kertas. Jadi kita semua bisa mendapat bagian masing-masing juga menghemat waktu,” kata Kaysa.
“Tumben kamu pintar,” puji Syadev.
__ADS_1
Kaysa hanya tersenyum membanggakan diri sendiri.
“Ayo kita ke kantor dulu,” kata Zahra cemas.
Mereka berempat segera menuju kantor, setelah mendapatkan nama-nama anggota OSIS mereka membagi jadi dua tim.
“Aku dengan Kaysa,” kata Darren bersemangat.
“Ayo cepatlah!,” jawab Kaysa berlari sambil menggandeng lengan Darren.
Ketika berlarian berduaan. Darren sama sekali tidak melihat jalan. Pemuda jangkung itu justru fokus melihat wajah Kaysa yang sangat cantik dan menarik itu.
Bruakk...
“Aduh...” teriak Darren yang sudah tersungkur di atas tanah.
“Telapak tangan kamu berdarah, cepat sebaiknya kita ke UKS dulu,”
“Tidak! Aku harus mendapatkan tanda tangan itu,” tolak Darren.
“Jangan pikirkan, biar aku saja yang urus. Tuh UKS ada di depan, kamu tunggu saja di sana! Nanti setelah selesai aku akan menyusulmu,” kata Kaysa sambil berlalu pergi meninggalkan Darren sendirian.
Darren sangat kesal, karena lagi-lagi dia bertindak ceroboh. Dan ujung-ujungnya justru dirinya yang ditolong Kaysa. Dari kecil Darren selalu ingin menjadi pahlawan untuk Kaysa, tapi pada kenyataannya Kaysa lebih kuat dan lebih hebat darinya.
Dengan tubuh yang gontai Darren masuk ke UKS dan mengobati sendiri telapak tangannya yang lecet-lecet dan berdarah.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kaysa gadis yang cerdik. Dalam setiap kesulitan apapun, putri Syauqi Malik itu selalu memiliki ide dalam mengatasinya.
Dengan menggunakan ponsel Kaysa membuka situs web sekolah SMA Nusantara. Di sana ada data diri dan foto setiap siswa. Setelah menemukan foto para anggota OSIS, dia segera mengirimkan beberapa untuk saudara kembarnya supaya lebih mudah menemukannya.
Tanpa perlu banyak bertanya seperti yang lainnya, Kaysa sudah menemukan empat orang. Waktu masih lima menit, tapi Kaysa masih butuh satu tanda tangan lagi.
Ponsel Kaysa berbunyi, dia mendapat telepon dari saudara kembarnya.
“Aku sudah selesai, kamu di mana?” tanya Syadev tanpa basa basi.
“Tunggu aku di UKS, Darren sedang di sana karena terluka. Aku masih kurang satu tanda tangan lagi,” jawab Kaysa langsung menutup teleponnya.
Kaysa merasa kesal karena ada tiga Anggota OSIS di depannya tapi sudah dikerubungi antrian yang panjang. Kemudian Kaysa melihat Ketua OSIS yang baru keluar dari kantor tapi pemuda yang tampan itu langsung masuk ke Perpustakaan.
“Mau sembunyi ya?” gumam Kaysa tertawa sambil menyusul sang Ketua OSIS.
Kaysa bisa melihat jika pemuda tampan di depannya itu sedang mencari-cari sesuatu dengan terburu-buru. Kaysa langsung ikut masuk.
“Kak, aku mau minta tanda tangan,” pinta Kaysa sopan.
“Maaf aku sedang sibuk, minta yang lain saja ya!” jawab Ketua OSIS itu ramah.
“Sebentar saja, Kak. Waktuku hampir habis,” ucap Kaysa memohon sekaligus memaksa.
“Sekali lagi maaf, aku juga terburu-buru,” jawab Ketua OSIS itu sambil berlalu pergi.
Kaysa kesal, dia tidak akan semudah itu menyerah. Baginya sebuah kegagalan adalah sesuatu yang sangat memalukan. Gadis itu juga tidak mau jika nanti di ejek saudara kembarnya.
Dengan berani Kaysa menarik seragam bagian punggung milik Ketua OSIS, setelah itu Kaysa berlari ke depan dan menutup pintu dari luar.
“Hey, anak baru. Berani-beraninya kamu!” teriak ketua kelas sambil menggedor-gedor pintu.
“Akan aku buka jika Kak Gio mau tanda tangan dulu,” kata Kaysa lantang.
Karena Ketua OSIS itu sedang ada kepentingan, pemuda itu mengalah pada adik kelasnya dan menanda tangani kertas yang disodorkan Kaysa.
“Tiga lagi,” ucap Kaysa kalem.
“Apa?” pekik Gio, tapi pemuda itu langsung menuruti permintaan Kaysa kemudian langsung berlari lagi menuju kantor.
Kaysa sangat senang dan puas, kemudian dia berjalan cepat menuju UKS.
“Kamu lama sekali,” protes Syadev.
“Diamlah! Aku sampai menguras otak untuk mendapatkan tanda tangan itu,” jawab Kesal.
“Tapi terima kasih, Kaysa. Berkat foto yang kamu kirim aku dan Syadev jadi lebih mudah mengenali anggota OSIS itu,” timpal Zahra.
“Maaf ya, karena aku tidak bisa membantu kalian,” ucap Darren sedih.
“Tidak apa-apa, kamu santai saja,” hibur Kaysa pada temannya.
“Ayo kita bagi kertasnya dan segera berkumpul di lapangan! Sebentar lagi waktunya habis,” kata Syadev.
Sesampainya di lapangan, hanya ada sekitar lima puluh anak yang sudah di sana.
Bel berbunyi satu kali, para Anggota OSIS juga berkumpul di bagian depan yang saling berhadapan dengan murid baru.
__ADS_1
“Yang mendapat tanda tangan sepuluh berdiri di sisi kanan. Yang mendapat lima ke atas di tengah. Sedangkan bagi yang lima ke bawah berdiri di sisi kiri,” teriak seorang perempuan yang suaranya lantang dan tegas.
Semua murid baru segera memosisikan diri mereka sendiri sesuai jumlah tanda tangan.
Kelompok kanan ada sekitar lima puluh, kelompok tengah ada dua ratusan, dan sisanya di kelompok kiri.
“Kelompok kiri di hukum membersihkan WC di seluruh sekolah sampai bersih. Kelompok tengah di hukum membersihkan halaman sekolah dari sampah dan daun kering yang jatuh sampai tidak tersisa. Dan untuk kelompok kanan silahkan menikmati waktu istirahat sampai semua kelompok yang dihukum selesai. Sekarang bubar!,” teriak perempuan tadi yang merupakan wakil Ketua OSIS.
Kaysa tersenyum puas karena berhasil menyelesaikan tahap pertama. Namun ketika dia dan ketiga temannya itu melewati kantor, Kaysa berpapasan dengan Ketua OSIS yang baru saja keluar dari ruang Kepala Sekolah.
“Hey, kamu anak baru yang tadi curang itu kan?” tegur Gio dengan ekspresi kesal.
“Siapa yang curang? Tadi pagi kamu hanya menyuruh untuk meminta tanda tangan tanpa diberi tahu aturan dan larangan,” jawab Kaysa sambil berlalu pergi.
Ketua OSIS itu hanya terdiam karena menahan marah.
“Kaysa, kenapa tadi Ketua OSIS itu seperti kesal?” tanya Zahra penasaran.
Kaysa mulai menceritakan kejadian tadi saat di perpustakaan.
Seketika yang mendengar langsung tertawa, tak terkecuali Syadev.
“Tidak bisakah kamu ini diam tanpa membuat masalah?” sindir Syadev.
“Kalau aku diam, kamu mau sekarang membersihkan sampah di seluruh sekolahan yang luas ini,” balas Kaysa tidak mau kalah.
Syadev diam, saudara kembar Kaysa itu juga malas jika harus di hukum.
Sampai jam istirahat habis, mereka para murid baru segera di suruh ke tengah lapangan. Kaysa mengeluh panas, gadis cantik itu sangat mengkhawatirkan kulitnya terbakar sinar matahari.
“Terima kasih atas semangat kalian. Sekarang menuju kegiatan kedua. Karena cuaca sangat panas maka kita akan melaksanakannya di kelas masing-masing. Sekarang silahkan bubar,” kata Ketua OSIS tegas.
Kaysa dan ketiga temannya berpisah, Darren tampak kecewa. Karena pemuda itu tidak bisa bersama Kaysa.
Sampai di kelas 10 A, Kaysa dan Syadev duduk bersebelahan. Kemudian muncul lima orang yang lengannya ada simbol Anggota OSIS.
Kaysa sendiri sangat terkejut karena salah satu dari mereka adalah Ketua OSIS alias Gio.
“Halo semuanya, kita bertemu lagi di sini. Panggil saja Aku Kak Gio,”
“Aku Kak Syela.”
“Aku Rita.”
“Aku Raffi.”
“Dan Aku Furqon.”
“Sebelum permainan di mulai, sebaiknya kalian pinggirkan dulu kursi dan mejanya. Supaya menjadi luas ruang gerak kita,” perintah Gio Ramah.
Kaysa kesal, sedangkan Syadev juga merasa malas melakukan hal-hal yang baginya tidak penting.
“Terima kasih atas kerja sama kalian. Di sini sudah ada balon dua puluh lima. Jadi carilah pasangan dulu. Taruh balon itu di kening kalian berdua. Setelah musik berbunyi kalian harus menari bersama, yang pertama jatuh duluan akan di hukum,” perintah Gio bersemangat.
Kaysa dan Syadev saring melirik, karena mereka terpaksa menjadi pasangan.
Musik sudah di mulai, para murid baru juga mulai berjoget sambil menyeimbangkan supaya balonnya tidak jatuh.
“Pelan, Bodoh!” umpat Syadev.
“Kamu yang bodoh,” balas Kaysa.
Di detik pertama belum ada yang jatuh, tapi Kaysa dan Syadev yang jarang akur itu sudah mulai berdebat.
Duarr....
Balon milik pasangan saudara kembar itu meletus, semua terkejut sampai balon mereka berjatuhan. Para Anggota OSIS juga ikut merasa kaget.
“Kalian berdua di tengah, yang lainnya menepi,” perintah Gio tersenyum puas.
“Ambil satu kertas ini,” kata Syiela.
Kaysa menurut, dan membukanya.
“Melakukan drama romantis Romeo Juliet,”
Semua tertawa. Tak terkecuali sang Ketua OSIS yang terlihat sangat senang.
Kaysa kesal kemudian mendekati Ketua OSIS itu.
“Dia adalah saudara kembarku, mana mungkin bisa ada adegan romantis. Bagaimana kalau dengan Kak Gio saja?” ucap Kaysa tersenyum licik.
Semua terdiam, wajah Ketua OSIS yang tadi tertawa lebar menjadi memerah wajahnya di hadapan umum.
Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian membuat Author semakin semangat up terus🤗
__ADS_1