CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 82


__ADS_3

Kali ini Anggun lebih lama berada di kamar mandi, membuat Syadev semakin khawatir.


"Darren, tolong beli test pack ya!" pinta Syadev tegang.


Darren mau tak mau tetap berangkat juga mematuhi perintah Syadev, sebab dalam situasi yang seperti ini tidak mungkin baginya membuat seorang Syadeva Malik marah.


Syadev sendiri mencoba mengetuk pintu berkali-kali, tapi Anggun masih belum juga membukakan pintu. Syadev kemudian berlari ke dapur, di sana dia menemukan jeruk lemon. Syadev langsung membuat minuman jeruk hangat untuk istrinya agar rasa mual di perut sedikit reda.


Beberapa saat kemudian Anggun akhirnya keluar juga dengan tubuh yang lemas. Syadev langsung meraih tubuh istrinya agar tidak rubuh.


"Ayo duduk di sofa dulu," bisik Syadev menggendong istrinya dan menyandarkan di ruang santai.


"Maaf sudah membuat kamu cemas," ucap Anggun lirih.


"Sudah jangan bicara lagi, sebentar aku ambilkan minuman duku," kata Syadev lembut.


Syadev segera mengambil minuman yang tadi diletakkan di meja makan.


"Ayo diminum dulu mumpung masih hangat!" pinta Syadev menyodorkan gelas yang sudah ada sedotannya juga.


Anggun segera meminum minuman buatan suaminya itu, Anggun tersenyum lega karena perutnya merasa enakan.


"Bagaimana?" tanya Syadev.


"Perutku agak enakan, tidak terasa mual-mual lagi," jawab Anggun.


"Sekarang bersandarlah di sini, aku akan memijat kepalamu. Pasti sakit kan?" ucap Syadev perhatian.


"Aku akan minum obat sebentar," kata Anggun.


"Eh, jangan!" pekik Syadev.


"Kenapa?" tanya Anggun tak mengerti.


"Aku rasa… Kamu… Hamil," jawab Syadev malu-malu.


Anggun tertegun, kemudian istri Syadev itu mengingat-ingat jiwa dirinya sudah seminggu lebih telat datang bulan. Anggun tidak menyebutkan jika melupakan hal sepenting itu.


"Kenapa bengong? Apa kamu tidak senang mengandung anakku?" tanya Syadev lembut sambil membelai kepala istrinya.


"Bukan begitu, tapi pernikahan kita saja masih dirahasiakan dan sekarang aku sudah hamil. Aku takut nanti dikiranya aku hamil di luar nikah. Lagi pula kamu masih belum selesai belajar, pasti akan semakin menjadi beban bagimu," ucap Anggun sedih.


Syadev langsung memeluk istrinya dengan erat, dia tidak menyangka jika istrinya berpikiran terlalu jauh seperti itu.


"Istriku sayang, aku akan selalu berusaha yang terbaik untukmu dan untuk anak kita nanti. Kamu jangan cemas, jika nanti kamu beneran hamil kita besok akan pulang ke Indonesia dan bilang pada keluargaku," bujuk Syadev.


"Apa kamu sudah siap mendapat amarah dari semuanya?" tanya Anggun.


"Apapun jika untuk kamu dan anakku aku akan selalu siap," jawab Syadev mantap.


Anggun sangat percaya jika suaminya itu selalu bisa diandalkan. Biarpun Syadev masih muda tapi saya pikirannya berbeda dengan Darren ataupun seumurannya lainnya.


Anggun merasa beruntung sekali mendapatkan suami yang nyaris sempurna itu.


"Di mana Darren? Dia belum makan malam," tanya Anggun heran.


"Dia sedang ku suruh membeli test pack," jawab Syadev tertawa ngikik.


"Ah kamu ini, masa iya seorang lelaki di suruh membeli barang seperti itu," sergah Anggun prihatin.


"Biarin, dia sendiri mau kok," balas Syadev tak peduli.


Anggun jadi ikut tertawa mengingat bagaimana reaksi Darren saat bilang pada penjaga apotik ya.

__ADS_1


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Di sisi lain Darren sedang mematung di depan Apotik yang besar, dia merasa malu sekaligus kesal pada Syadev.


"Syadev sial, aku ingin sekali memakanmu hidup-hidup!" umpat Darren.


Bagaimana tidak, semua penjaga apotik perempuan muda seusianya. Mereka saling tersenyum dengan apa yang tadi di pesan Darren.


Darren tidak menyangka jika hidupnya akan menanggung malu seperti ini, dia malu jika orang berpikiran kalau dirinya telah berbuat mesum pada anak orang.


Saat Darren menerima barang tersebut, tiba-tiba dari belakangnya ada tangan yang menepuk bahunya. Karena Darren setengah melamun dia meloncat kaget


"Hey, ini aku. Bima," sapa Bima.


"Oh, Anda atasan Syadev ya di perusahaan Wensky?" tanya Darren.


"Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi. Bagaimana kabar Syadev dan istrinya?" tanya Bima.


"Baik, dulu kata Syadev kamu ingin mampir ke rumah. Kenapa tidak jadi?" tanya Darren heran. Biarpun Darren tidak mengenal secara langsung tapi dia pernah sesekali berkenalan pada Bima saat menjemput Syadev di kantornya.


"Oh maafkan aku, aku tiba-tiba di suruh pulang ke Indonesia karena Kakekku meninggal. Dan aku terpaksa kuliah di sana sambil menemani nenek yang sendirian," jawab Bima.


"Jadi Inge juga masih di Indonesia?" tanya Darren tiba-tiba teringat gadis itu.


"Tidak, dia di Jerman. Semua serba mendadak jadi tidak sempat memberi kabar," balas Bima.


"Aku mengerti, dalam situasi seperti itu memang perasaan jadi kacau dan melupakan semua urusan. Tapi dulu istrinya Syadev sudah menyiapkan berbagai makanan khas Indonesia loh karena mengira atasan suaminya hendak mampir ke rumah," jawab Darren.


"Ya ampun, aku sudah merepotkan sekali ya. Bagaimana kalau sekarang aku ikut kamu saja. Dan aku juga mau minta maaf pada Syadev karena waktu itu tidak sempat bilang dulu pada Syadev. Karena semuanya serba mendadak," timpal Bima.


"Baiklah, ayo," ajak Darren dengan senang hati.


Bima mengikuti Darren dengan mobilnya sendiri, alasan dia kembali ke Amerika untuk menemukan kembali perempuan yang dikaguminya.


Bima sudah sering kali meminta nomor telepon Anggun pada Inge, tapi sepupunya itu tidak pernah mau memberikan dengan alasan jika Anggun sudah menikah.


Bima tidak percaya, pemuda itu mengenal baik jika Inge selalu usil dan sering mengerjainya sejak kecil. Bima hanya berpikir jika Inge sengaja melakukan itu karena mantan Bima yang masih mengejar-ngejarnya adalah sahabat Inge.


Apalagi jika dilihat Anggun juga masih sangat muda, mana mungkin kalau punya suami saat itu pergi ke pesta bersama Inge.


Bima kesal dengan sepupunya, tapi dirinya tidak mau meminta bantuan pada Inge karena percuma saja. Apalagi hubungannya dengan Inge juga bisa dibilang tidak akur, sejak kecil mereka sering berantem.


Sesampainya di rumah Syadev, Darren langsung menekan bel. Beberapa detik kemudian yang membukakan pintu adalah Syadev.


"Hay Syadev, lama tak jumpa," sapa Bima yang muncul di belakang Darren.


"Hee… Kemana saja kamu selama ini? Wah… Wah…" jawab Syadev senang.


Kedua pemuda itu langsung berpelukan layaknya dua sahabat.


Darren sendiri langsung masuk dan memberikan bungkusan plastik pada temannya.


"Anggun, cepat. Aku penasaran dengan hasilnya," ucap Darren antusias.


"Terima kasih, Darren," ucap Anggun tersenyum malu.


Karena mereka selama ini tinggal serumah hubungan mereka juga sudah seperti saudara sendiri.


"Iya, sama-sama. Ayo cepatlah!" kata Darren tidak sabar.


Anggun tertawa sendiri, karena tingkah Darren seolah-olah dialah yang menjadi Ayah dari anak yang dikandungnya.


Anggun segera menuju ke kamar mandi. Jadi saat Bima masuk ke dalam rumah pemuda itu tidak melihat Anggun.

__ADS_1


"Syadev, dimana istrimu?" tanya Bima penasaran.


"Sedang di kamar mandi sebentar," jawab Darren yang baru ikut bergabung.


Mereka bertiga kemudian mengobrol dan saling bercanda. Sampai beberapa menit kemudian Anggun keluar dari kamar dan langsung memeluk Syadev dengan erat.


"Aku positif hamil… Sebentar lagi kita akan punya bayi," teriak Anggun yang tidak menyadari sedang ada tamu.


"Wah, Aku akan punya keponakan kecil," timpal Darren ikut bahagia.


"Selamat istriku sayang," jawab Syadev tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Bahkan seorang pemuda dingin dan cuek sepertinya juga bisa meneteskan air mata ketika mendengar istrinya hamil.


Di ruangan itu, hanya Bima yang terbengong dan sama sekali tidak ikut bahagia. Tadi sewaktu melihat Anggun Bima sudah bisa langsung mengenali jika istri Syadev adalah orang yang dicintainya.


"Hey… Hey… Bisakah kalian jangan pamer kemesraan lagi? Di sini ada dua pria yang belum beristri," sindir Darren.


"Oh maaf, Bima. Aku sampai lupa tidak mengenalkan istriku padamu terlebih dahulu," kata Syadev malu.


"Tidak apa-apa, selamat akhirnya kamu menjadi seorang Ayah dalam usia muda," ucap Bima mencoba tersenyum.


"Oh ini Kak Bima ya? Sepupunya Inge," sapa Anggun masih mengenali pemuda itu.


Syadev terkejut, dia semakin yakin jika perempuan yang pernah diceritakan Bima adalah istrinya sendiri.


"Apa kabar Anggun, aku tidak menyangka jika kamu istrinya Syadev. Aku kira kamu belum menikah," jawab Bima berterus terang.


Anggun hanya tersenyum karena dirinya sedang sangat bahagia.


"Syadev, apa kamu punya saudara lagi yang secantik istrimu?" tanya Bima.


Hanya Bima dan Syadev saja yang tahu apa arti pertanyaan Bima barusan.


"Adikku masih SMP, tapi aku punya sepupu yang sangat cantik dan lembut. Namun sepertinya usianya di atas kamu dua tahun," jawab Syadev lega karena temannya itu bisa berlapang dada.


"Apa sepupuku sudah punya kekasih?" tanya Bima.


"Mana mungkin, dia sangat alim. Jangankan pacar, teman lelaki saja tidak punya," balas Syadev.


"Kalau begitu kenalkan aku kepadanya, aku jadi penasaran," pinta Bima bercanda untuk menutupi rasa malunya.


"Baiklah, besok aku akan pulang ke Indonesia," jawab Syadev. Dia tahu jika Bima pemuda yang baik dan sopan.


"Aku juga akan ke balik ke Indonesia. Bagaimana kalau kita bersama saja," timpal Bima.


"Itu ide bagus, tapi sepupuku itu orang yang sangat pemalu. Jadi sepertinya kamu tidak akan mudah mendekatinya," kata Syadev serius.


"Tidak apa-apa, itu justru akan menjadi tantangan bagiku," jawab Bima.


Bima mencoba bersikap biasa saja, tapi sebenarnya hatinya sangat remuk. Karena orang yang dicintainya rupanya sudah punya suami. Bahkan Anggun adalah istri dari temannya sendiri. Bima sangat malu, dan menyesal kenapa dulu tidak mempercayai ucapan sepupunya. Jika Inge mengetahui hal ini memungkinkan Bima hanya akan menjadi bahan tertawaan saja.


Namun begitu mendengar Syadev punya sepupu yang cantik dan alim, membuat Bima memiliki sedikit harapan. Baginya tidak masalah jika usianya sedikit lebih tua darinya, tapi yang terpenting baginya adalah akhlaknya. Karena bagi Bima yang sudah pernah mengenal berbagai jenis perempuan menjadi tahu aman yang baik untuk dijadikan istri.


"Ayo makan malam bersama dulu, tapi maaf hidangan kali ini hanya biasa saja," ajak Anggun.


"Iya, tidak apa-apa. Maafkan aku karena dulu sudah merepotkanmu dan tidak jadi datang ke sini," ucap Bima tulus.


"Iya tidak apa-apa," jawab Anggun.


Mereka mulai makan bersama, Bima mencoba lebih tegar agar tidak menyinggung perasaan Syadev. Bagaimana pun juga dirinya yang bersalah.


Syadev sendiri tidak pernah menyesali keputusannya waktu itu untuk menikahi Anggun, karena jika tidak bisa saja Anggun di rebut oleh pemuda lain.


Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya yah.. Dan nantikan kisah cinta selanjutnya antara Orlin dan Alifya. Kira-kira lebih greget kisah siapa ya?πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2