CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kembali Ke Asrama


__ADS_3

Yudistira yang keluar dari kamarnya langsung keget melihat Jamila yang berubah total. Ternyata gadis itu jika memakai gamis dan jilbab tampak cantik.


Diam - diam Yudistira tersipu malu karena baru menyadari ternyata Jamila manis cantik juga.


"Sagara mana?" tanya Syadev heran.


"Dia belum selesai berkemas," jawab Yudistira.


"Kalian ini, sudah tahu mau berangkat pagi tapi masih belum menyiapkan semuanya sejak kemarin - kemarin," gerutu Syadev kesal.


Sagara semalaman begadang meretas email asrama dan baru berhasil sampai pagi, pemuda itu memberi pesan pada orang tua Sarah untuk mengunjungi ke asrama karena ada hal penting. Sebenarnya itu hanya akal - ajakan Sagara supaya Sarah tidak bersedih seperti semalam. Entah kenapa melihat Sarah yang begitu lemah menangis membuat hatinya pilu.


Tak lama kemudian Sagara keluar dengan wajah yang lesu sebab masih mengantuk. Sesampainya di Asrama, ternyata Yudistira juga sampai di sana. Dan pemuda itu terlihat lebih parah dari Sagara.


Begitu berada di kamar, Sagara dan Arkananta langsung tertidur pulas.


"Sial kalian," umpat Yudistira kesal.


Karena cukup lama ditinggalkan kamarnya menjadi berdebu, mau tak mau Yudistira membersihkan sendiri. Padahal debunya berterbangan sampai membuat Yudistira bersin - bersin, anehnya Sagara Arkananta tetap pulas sama sekali tidak bereaksi.


"Tidur kalian seperti mayat saja," gumam Yudistira.


Setelah semua selesai Yudistira rebahan sambil memikirkan tadi pagi. Jamila begitu kelihatan cantik jika memakai jilbab, jika nanti tengah berenang akan memakai pakaian yang sangat ketat dan memperlihatkan bentuk tubuhnya.


"Kok aku jadi nggak rela begini ya?" batin Yudistira.


Yudistira mencari ide, bagaimana caranya agar memberitahu Jamila untuk tidak ikut kelas renang. Diapun segera menulis surat.


Kemudian Yudistira nekat ke kantor asrama perempuan.


"Assalamu'alaikum, Bu."


"Wa'alaikum salam, ada apa kamu ke sini?" tanya seorang perempuan setengah baya yang berpakaian muslim tapi paling terkenal tegas.


"Saya ada urusan sebentar dengan adik saya, namanya Fayyola."


"Baiklah, akan saya panggilkan."


Penjaga Asrama tersebut langsung memanggil nama Fayyola pakai mikrofon, sehingga seluruh penghuni asrama putri bisa mendengarnya.


Yudistira merasa deg - degan juga, sebab jika ketahuan tentu saja akan menjadi masalah yang besar.


Tak lama kemudian Fayyola datang seorang diri, gadis itu dengan senyuman cerah menghampiri Yudistira di ruangan tunggu.


"Ada apa, Kak?"


"Bagaimana kabar Jamila di Asrama?" tanya Yudistira penasaran.


"Baik, tapi kamarnya jauh dariku. Ada apa?"


"Ini tolong kami berikan padanya, ingat jangan sampai ketahuan siapapun ya!" pinta Yudistira.

__ADS_1


"Eh, ini namanya melanggar hukum kak," sergah Fayyola.


"Ah, tolong kakak sekali ini saja," bujuk Fayyola.


"Baiklah, tapi ini yang pertama dan terakhir kali ya," balas Fayyola terpaksa.


"Iya, kamu memang adikku tercantik," jawab Yudistira senang.


"Kalau begitu Fayyola mau kembali lagi, masih banyak hafalan yang harus aku pelajari," pamit Fayyola.


"Iya, semoga lancar ya," ucap Yudistira.


Yudistira kemudian keluar dari ruang tunggu lalu berpamitan kepada ibu penjaga Asrama untuk kembali.


Sesampainya di kamarnya sendiri, Yudistira masih heran sebab kedua saudaranya belum juga bangun.


"Astaga, kalian ini semalam ngapain saja sih?" omel Yudistira.


Yudistira mulai merasa bosan, diapun memilih untuk ikut tidur juga. Padahal murid - murid yang lain tengah kerja sama membersikan halaman Asrama, tapi biarpun tidak ada perilaku istimewa murid yang lain tetap merasa sungkan untuk menebus. Bagaimanapun juga ketiga generasi Syauqi tersebut merupakan cucu dari sang pemilik sekolah dan Asrama.


*****************************


Jamila tengah membereskan kamar, dan dia hanya seorang diri di kamar tersebut sebab merupakan bangunan baru.


"Assalamu'alaikum,"


Fayyola langsung nyelonong masuk.


"Wa'alaikum salam, mari duduk! Tapi masih berantakan," jawab Jamila.


"Ada apa kamu mencariku"? tanya Jamila penasaran.


Fayyola langsung menutup pintu dan memberikan selembar surat dari kakaknya.


"Ini, aku penasaran mau ikut baca," bisik Fayyola.


"Dari siapa?" tanya Jamila heran.


"Siapa lagi, Kak Yudistira," balas Fayyola.


Jamila membuka kertas tersebut dan mulai membaca isinya.


"Jamila, aku hanya mau menyarankan. Kamu jangan ambil kelas renang ya, biarpun itu adalah bakat terbaikmu tapi sebaiknya kamu ambil yang bulu tangkis saja. Aku lihat kamu sangat gesit dan lebih baik di bidang itu. Kalau kamu masih ambil kelas renang berarti kamu tidak menganggap aku. Dan soal tes nanti kamu jangan gugup, harus yakin pada diri sendiri. Semoga berhasil"


Jamila mengerutkan keningnya, dulu Yudistira sangat mendukung dia dalam.bidang renang tapi kini tiba - tiba berubah pikiran.


"Kak Jamila pacaran sama Kak Yudis ya?" tanya Fayyola yang masih polos.


"Enggak kok, aku juga heran kenapa Yudistira melarang aku ikut renang," jawab Jamila jujur.


"Entahlah, mungkin takut kakak tenggelam," duga Fayyola.

__ADS_1


"Konyol, aku biasa berenang di lautan yang ombaknya besar," sergah Jamila.


"Mungkin karena Kak Yudistira takut jika orang lain melihat kakak berenang, kan pakaiannya ketat sekali," duga Fayyola lagi.


"Itu lebih konyol, kenapa harus takut? Aku aja biasa saja," sergah Jamila lagi.


"Selanjutnya kakak mau gimana?" tanya Fayyola penasaran juga.


"Yah, aku ambil buku tangkis saja sesuai saran Yudistira," jawab Jamila.


"Kak Yudis perhatian sekali ya dengan Kak Jamila? Mungkin Kak Yudis menyukai Kakak," goda Fayyola.


"Tidak begitu, kakakmu itu memang orang yang baik. Dia dengan semua orang selalu perhatian dan menolong," sela Jamila.


"Benar juga sih, kalau Kak Sagara yang tiba - tiba perhatian baru itu mencurigakan," timpal Fayyola.


"Eh, bagaimana kabar Sarah? Apa masih sakit hidungnya?" tanya Jamila khawatir.


"Sudah mendingan, tapi Kak Sarah sejak tadi terlihat sedih terus. Biasanya dia selalu tersenyum tapi hari ini aku belum melihat senyumnya sama sekali," jawab Fayyola ikutan khawatir.


"Apa ada masalah?" tanya Jamila.


"Sudah aku tanya, tapi Kak Sarah orangnya tertutup," jawab Fayyola ikutan sedih.


"Kalau begitu aku mau menyelesaikan dulu, setelah itu main ke tempat kamu boleh kan?" tanya Jamila lagi.


"Tentu saja boleh, nanti aku ajak kakak keliling asrama ini. Di sini banyak sekali tempat yang menarik," balas Fayyola senang.


"Sip,"


"Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu ya Kaka," pamit Fayyola.


"Iya," balas Jamila.


Setelah Fayyola pergi Jamila segera memasukkan bajunya ke lemari, ketika melihat kertas tadi dia baca sekali lagi mencoba menghayatinya.


"Tidak menganggap aku? Apa maksudnya? Masa Iya hanya aku ikut renang tidak menganggap dia?" batin Jamila penuh tanda tanya.


Setelah Jamila selesai membersihkan kamarnya tiba - tiba pintu kamar diketuk.


Jamila langsung membuka, dan betapa terkejutnya ketika dia melihat sosok Deby.


"Astaga, kamu beneran masuk sini?" pekik Jamila.


"Iya," jawab Deby.


"Terus, kamu sudah pindah keyakinan?" tanya Jamila lagi.


Deby mengangguk, Jamila ikut senang dan langsung menarik teman barunya.


"Eh kemana? Kamarku di sini," sergah Deby.

__ADS_1


"Iya, kita temui Fayyola dan Sarah dulu. Mereka pasti senang. Nanti aku bantu beres - beres deh," ajak Jamila bersemangat.


"Iya, iya," balas Deby setuju.


__ADS_2