
Setelah sholat subuh Orlin berendam air dingin di bak mandi dalam waktu yang cukup lama. Dia sengaja melakukan itu agar tubuhnya bisa menggigil kedinginan dan nantinya sakit.
"Dasar konyol, tapi aku berharap rencana Kaysa ini bisa manjur."
Dua jam lebih Orlin di sana, sampai akhirnya dia bersin-bersin dan mulai pusing. Bahkan hidungnya juga mampet.
"Baiklah, karena semalam aku sudah minta izin cuti sekarang aku tinggal tiduran dan menunggu Papa membangunkan aku."
Biasanya jam delapan pagi Orlin sudah bersiap-siap berangkat kerja, akan tetapi hari ini pintu kamarnya masih tertutup rapat.
"Loh, di mana Orlin?" tanya Rendra yang hendak sarapan bersama.
"Dari tadi belum juga keluar," jawab Nayla cemas.
Rendra segera menuju kamar putrinya dan rupanya pintu tidak dikunci. Rendra langsung masuk saja, dan ternyata putri tunggalnya tersebut masih berbaring di kamar.
"Orlin, kamu tidak kerja?" tanya Rendra.
Orlin diam tidak mau menjawab, biarpun hatinya berat sudah membohongi papanya tapi dia mencoba berakting sebaik mungkin.
Rendra semakin gelisah, didekati putrinya yang terlihat pucat. Kemudian Rendra menyentuh dahi Orlin yang terasa panas.
"Nayla, cepat panggil dokter! Orlin sakit," teriak Rendra.
Nayla yang hendak makan langsung meletakkan kembali sendoknya dan bergegas menyusul ke kamar Orlin.
"Sakit? Sebentar," kata Nayla langsung keluar dari apartemen meminta bantuan pada pelayan untuk memanggilkan dokter, sebab Nayla tidak memiliki nomor dokter di sekitar sana.
Dua puluh menit kemudian Dokter panggilan sudah datang, setelah diperiksa Orlin di beri resep obat.
"Jangan sampai telat makan! Obatnya harus di minum, yang lebih penting lagi jangan terlalu banyak berpikir," kata Dokter tersebut.
"Iya, terima kasih, Dokter," jawab Rendra.
Setelah Dokter berpamitan Rendra meminta Orlin untuk sarapan dan minum obat, akan tetapi Orlin menolak dan tiduran lagi sambil menutup kepalanya dengan selimut.
Sampai siang hari Orlin masih tiduran, sebenarnya kepalanya beneran pusing dan tubuhnya menggigil. Di tambah perutnya yang kosong membuat Orlin semakin lemah.
"Aku harus bertahan!" tekad Orlin memegang perutnya.
Rendra semakin cemas melihat keadaan putrinya yang mengurung diri, di bangunkan berkali-kali Orlin masih saja menolak. Bahkan Nayla yang bolak balik ke kamar membawa bubur hangat juga diabaikan.
πππππππππππππππππ
Reki merasa gelisah, karena Orlin tidak masuk kerja membuat dia tidak nafsu makan siang. Karena penasaran diapun segera menelepon gadis tersebut.
Akan tetapi yang mengangkat bukan Orlin, melainkan papanya.
"Om, Orlin di mana?" tanya Reki.
"Dia sakit," jawab Rendra.
"Sakit?" pekik Reki kaget
Dia langsung melesat meninggalkan makanan siangnya yang belum tersentuh di atas meja. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanyalah segera menemui Orlin.
__ADS_1
Sesampainya di sana dia di temui oleh Nayla.
"Reki, Orlin sejak tadi pagi belum makan dan minum obat," ucap Nayla sedih.
"Kenapa jadi seperti ini, Tante?" jawab Reki.
"Reki, kamu peduli pada Orlin?" tanya Nayla memastikan.
"Bukan sekedar peduli, Tante. Tapi aku mencintainya," jawab Reki mantap.
"Baiklah, kalau begitu Tante akan langsung bicara kenyataanya. Sebenarnya Orlin juga mencintaimu, akan tetapi Papanya tidak merestui hubungan kalian sebab masa lalumu," kata Nayla tanpa basa-basi.
"Iya, Tante. Masa laluku memang buruk, akan tetapi aku sudah berusaha berubah lebih baik," jawab Reki memelas.
"Kalau begitu kamu harus bisa membuktikan lada Papanya Orlin jika kamu bisa menjadi orang yang terbaik untuk Orlin," ucap Nayla.
"Iya, Tante. Aku tidak akan pernah mengecewakan Orlin, aku bersumpah," jawab Reki tegas.
"Kamu tunggu di sini! Biar Tante bicara pada papanya Orlin terlebih dahulu," perintah Nayla.
"Iya, Tante. Terima kasih banyak," jawab Reki penuh harap.
Nayla segera meninggalkan Reki seorang diri di ruang tamu dan kembali ke kamar putrinya. Di sana Rendra sedang duduk di sofa dekat tempat tidur Orlin.
"Ada Reki," bisik Nayla.
"Mau ngapain dia ke sini?" tanya Rendra agak tidak suka.
Orlin yang diam-diam menguping jadi ikutan tegang mendengar perubahan suara papanya yang mulai meninggi.
Rendra terdiam tak bisa berkutik, jika dipikir matang-matang memang benar ucapan istrinya tersebut.
"Baiklah, biarkan dia menemui Orlin. Aku sekarang akan ke rumah Syauqi. Kamu di sini saja menemani Orlin ya? Aku pulangnya paling nanti malam," kata Rendra mulai mencair raut wajahnya.
"Iya, hati-hati ya?" ucap Nayla.
"Jaga baik-baik Orlin!" Pinta Rendra.
"Hey, Orlin itu putriku juga! Tanpa di suruh aku juga akan selalu menjaganya," balas Nayla.
"Iya⦠Iya⦠Aku bersiap-siap dulu," kata Rendra sambil mencium kening istrinya dan segera pergi ke kamarnya sendiri tanpa menemui Reki terlebih dahulu.
Orlin yang mendengar Papanya memberikan kesempatan rasanya senang sekali sampai mau loncat-loncat.
Nayla segera ke ruang tamu dan menyuruh Reki untuk menemui Orlin.
"Tolong bujuk dia makan ya? Tante sudah menyiapkan bubur ayam di sana. Tante mau pergi ke Superindo dulu belanja bahan makanan," ucap Nayla.
"Terima kasih, Tante," jawab Reki gembira.
Nayla awalnya juga merasa cemas, tapi setelah melihat kesungguhan Reki dia yakin jika pemuda tersebut tidak akan menyakiti Orlin.
Reki sendiri langsung bergegas menuju kamar Orlin, saat di lihat seseorang yang dicintainya berbaring tidak berdaya membuat hati Reki pilu.
"Orlin, kenapa kamu bisa sakit?" tanya Reki.
__ADS_1
Orlin sendiri begitu mendengar suara Reki langsung membuka selimut yang menutupi kepalanya dan tiba-tiba dadanya bergemuruh.
"Reki⦠" ucap Orlin lemah.
"Ayo makan dulu, setelah itu minum obat," pinta Reki membantu Orlin agar duduk bersandar pada bantal.
Saat itu tubuh mereka begitu dekat, hati keduanya berdesir dan detak jantung semakin cepat.
Reki menatap Orlin begitu lekat sedangkan Orlin sendiri bisa merasakan hembusan napas Reki.
Reki memang baru kali ini bertemu dengan seorang gadis yang mengguncang jiwanya, sampai-sampai dia tidak tertarik lagi dengan wanita lain. Padahal dulu Reki tidak pernah puas jika hanya memiliki pacar satu.
"Reki⦠Aku lapar," ucap Orlin canggung.
Reki langsung tersadar dan menertawakan dirinya sendiri yang bersikap bodoh.
"Baik⦠baik... Sini aku suapin," jawab Reki langsung mengambil mangkok.
"Aku bisa sendiri," jawab Orlin.
"Sudah tenanglah, kamu hanya perlu membuka mulut untuk makan!" pinta Reki lembut.
Orlin hanya diam menurut dan membuka mulutnya saat Reki menyodorkan sendoknya.
Dalam sekejap mangkoknya sudah kosong. Reki tertawa ngakak karena tahu jika Olrin kelaparan tapi tidak mau makan sebab ngambek pada kedua orang tuanya.
"Kenapa dari tadi kamu menertawaiku?" tanya Orlin heran.
"Makanya, kalau lapar ya makan. Kenapa mesti gengsi?" sindir Reki.
Orlin tiba-tiba menjadi kesal, sebab dia lakukan semua itu demi pemuda tersebut.
Reki berhenti tertawa, dia sendiri juga tahu jika Orlin begitu karena mencintainya.
Reki pun memberanikan diri memeluk tubuh Orlin dengan erat.
"Aku akan berjuang supaya papa kamu bisa mempercayaiku, kamu tidak perlu menyiksa diri sendiri seperti ini. Aku mencintaimu, dan akuningin kamu hidup bahagia," bisik Reki.
"Hey, lepaskan! Nanti Mama masuk," kata Orlin panik.
Namun, Reki tidak mau melepaskan pelukannya, justru semakin erat memeluknya.
"Tenang saja! Mamamu sedang keluar," jawab Reki santai.
"Biarpun aku juga menyukaimu tapi bukan berarti kamu bisa menyentuhku seenaknya," sindir Orlin.
Reki langsung melepaskan tangannya. Dia sadar jika Orlin bukan perempuan seperti yang lainnya yang bisa dengan mudah menyerahkan diri untuk dicumbu.
"Maaf⦠Ayo sekarang minum obat dulu," ucap Reki tersenyum riang.
Orlin merasa lega sebab Reki bisa menghormati dirinya.
"Kaysa memang cerdik... Tidak sia-sia aku sampai sakit begini." batin Orlin senang.
Jangan lupa like dan Vote sebanyak-banyaknya yaπ€
__ADS_1
Baca juga novel Scorpio okeπ