
Syadev menemani Anggun mengambil ijazah di SMP tempat dulu Anggun belajar.
Di sana sedang jamnya istirahat sehingga banyak anak-anak yang berkeliaran di luar kelas.
Kedatangan Anggun menarik perhatian, terlebih lagi karena di sampingnya ada cowok yang sangat tampan. Bagi murid perempuan yang masih ABG melihat Syadev langsung histeris dan baper.
Yang lebih mengejutkan lagi mereka berdua bertemu dengan bertemu Teguh, Siska dan alumni yang lainnya.
Siska menatap Anggun dengan penuh kebencian, sedangkan pemuda yang bernama Teguh itu memandang dengan tatapan cemburu.
“Kak Teguh, ini Syadev. Teman sekelasku,” ucap Anggun.
“Perkenalkan, aku Teguh,” jawab Teguh sambil mengulurkan tangannya pada Syadev.
Syadev hanya menyalami pemuda itu dengan senyuman simpul saja.
“Anggun, bisakah kamu menolongku?” tanya Teguh memohon.
“Tolong apa, Kak?” tanya Anggun penasaran.
“Nanti pulangnya bersamaku ya! Supaya Siska tidak mengejar aku lagi,” jawab Teguh.
Anggun merasa bingung, di sisi lain gadis itu juga tidak enak pada Syadev.
“Aku mohon, lagi pula setelah ini aku juga akan kembali ke luar kota. Masa kamu tidak ingin meluangkan waktu untukku?” pinta Teguh setengah memaksa.
Anggun mengingat jika Teguh adalah teman kecilnya yang selalu menolongnya saat kesusahan, gadis itu pun menatap ke wajah Syadev dengan rasa bersalah.
“Syadev, terima kasih sudah mengantar aku sampai di sini ya. Sekarang kamu bisa pulang duluan, biar aku pulangnya nanti bersama Kak Teguh saja,” bisik Anggun lembut pada Syadev.
“Baiklah,” jawab Syadev dengan raut wajah biasa dan segera pergi.
Meskipun Syadev bersikap seolah tidak terjadi apa-apa akan tetapi hatinya merasa kecewa.
“Apa-apaan ini, kenapa aku merasa cemburu? Payah sekali aku,” batin Syadev kesal.
Ketika Syadev ingin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba ada Siska di belakangnya.
“Syadev, bisakah aku ikut menumpang sampai sekolahan?” tanya Siska.
“Di mana mobilmu?” tanya Syadev ketus.
“Aku ke sini tadi naik taxi,” jawab Siska.
“Kenapa tidak pulang naik taxi lagi? Apa tidak punya uang?” sindir Syadev kesal.
“Kamu kenapa seperti itu? Kamu lihat sendiri kan jika Anggun bukan gadis baik-baik. Dia wanita murahan yang mendekati semua anak cowok,” Siska mengompori.
“Kamu juga tidak lebih baik darinya,” balas Syadev dengan senyuman mengejek.
Syadev langsung masuk ke mobil tanpa menghiraukan gadis di dekatnya itu.
Hari ini Syadev merasa buruk sekali, karena melihat Anggun bersama orang lain. Tapi meskipun begitu Putra Syauqi Malik itu tidak mau mengakui perasaannya.
Syadev memutuskan pulang ke rumah dan tidur, dia tidak ingin kembali ke sekolahannya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di SMA Nusantara jam pelajaran ke dua berjalan normal seperti semula karena para guru sudah selesai rapat.
Kaysa merasa heran karena Anggun kembali ke kelas seorang diri.
“Di mana Syadev?” tanya Kaysa.
“Aku tidak tahu, tadi dia sudah pulang duluan,” jawab Anggun yang ikut heran.
Kaysa sudah tidak ingin bertanya lagi, karena dia sendiri juga sedang pusing memikirkan Gio yang tidak mau di putus.
“Kaysa, apa kamu baik-baik saja?” tanya Anggun.
“Aku hanya sedang pusing saja, karena Kak Gio bilang jangan putus sebelum acara ulang tahunku,” jawab Kaysa.
“Ulang tahun kamu kapan?” tanya Anggun penasaran.
“Seminggu lagi,” jawab Kaysa.
“Cuma seminggu Kaysa, setelah itu kamu bisa bebas. Lagi pula kasihan Kak Gio juga. Nanti dia bisa malu di hadapan teman-temannya,” ucap Anggun.
“Iya,” jawab Kaysa.
Anggun segera kembali ke bangkunya sendiri karena guru nya sudah masuk ke kelas.
“Pantas saja Bunda selalu melarang aku pacaran, karena memang bisa mengganggu semangat belajar,” batin Kaysa.
Sampai jam pelajaran terakhir Kaysa juga hanya melamun saja.
“Kaysa, kamu jangan terlalu banyak berpikir. Jalanai saja semua ini seperti air mengalir,” ucap Anggun.
“Iya, eh kamu nanti ada jadwal les adikku kan?” tanya Kaysa.
“Iya, ada apa?” tanya Anggun ramah.
“Langsung ke rumah aku saja yuk?” ajak Kaysa.
“Baiklah,” jawab Anggun yang tidak enak menolak.
Mereka berdua menghampiri kelas Zahra, tapi gadis yang mereka cari ternyata bolos sekolah.
Kaysa dan Anggun merasa senang, semoga hubungannya dengan Darren bisa ada kemajuan.
Di depan sekolah Gio sudah setia menunggu Kaysa.
__ADS_1
“Aku antar ya?” ucap Gio tetap bersikap manis.
“Iya, tapi aku ajak Anggun ya? Sekalian dia mau membimbing les adikku,” jawab Kaysa.
“Siap, kalian berdua masuklah!” kata Gio tersenyum ramah.
Kaysa semakin merasa bersalah karena meskipun sudah mengecewakan pemuda yang duduk di sampingnya itu, tapi Gio masih bersikap baik padanya.
“Syadev di mana?” tanya Gio bersikap biasa.
“Dia tidak kembali ke sekolah, mungkin sudah pulang duluan ke rumah,” jawab Kaysa juga berusaha bersikap biasa.
“Apa kita makan siang dulu yuk? Aku tahu tempat yang enak,” ajak Gio.
Kaysa tidak enak menolak, jadi dia menyerahkan jawaban pada temannya.
“Bagaimana, Anggun?” tanya Kaysa menoleh ke belakang.
“Aku ikut kamu saja,” jawab Anggun pasrah.
“Baiklah kalau begitu,” jawab Anggun pada Gio.
Ketua OSIS itu tersenyum senang. Karena Kaysa masih memberi pemuda itu kebahagiaan walaupun singkat.
Gionino menghentikan mobilnya di parkiran warung lesehan yang terletak di taman bunga. Tempatnya sejuk dan indah. Banyak anak muda yang berkunjung karena tempat itu cocok untuk selvy.
“Makanan di sini lumayan enak,” ucap Kaysa.
“Iya, aku biasa ke sini bersama Mamaku,“ jawab Gio.
“Loh, kok tidak sekalian dengan Papa kamu?” tanya Kaysa penasaran.
“Papa sering di luar kota, makanya aku dan mama mau pindah ke sana. Tadinya aku menolak karena sudah terlanjur nyaman dengan sekolah kita, tapi karena tadi kamu meminta putus jadi aku akan mengikuti Papaku untuk memulai hidup baru,” jawab Gio tegar.
“Maafkan aku, Kak Gio,” ucap Kaysa tertunduk lesu.
“Tidak apa-apa Kaysa. Karena hati juga tidak bisa dipaksakan. Namun aku masih berharap di masa depan kita bisa bertemu lagi. Sekarang kita masih kecil, jalan di depan masih panjang dan kita tidak tahu takdir kita ke depannya,” kata Gio bijaksana.
Anggun hanya diam saja mendengar perbincangan Gio dan Kaysa sambil menikmati makanannya. Namun tidak ada yang tahu jika pikirannya sedang bingung.
"Ulang tahun Kaysa juga sama dengan ulang tahun Syadev, sebaiknya aku memberikan kado apa ya? Selama ini mereka sudah baik terhadapku. Tapi jika untuk membeli kado yang mahal aku juga tidak mampu,” bisik Anggun pada dirinya sendiri.
“Anggun, kenapa dari tadi kamu melamun?” tegur Kaysa.
Anggun gelagapan, sehingga Gio dan Kaysa tertawa.
“Tidak, aku hanya sedang memikirkan materi apa untuk mengajari Flora nanti,” jawab Anggun berbohong.
“Selesai makan, kita langsung pulang ya?” pinta Kaysa beralih pada Gio.
“Iya, sebentar. Aku ke kasir dulu,” ucap Gio.
Gio memang pemuda yang sopan dan baik hati, tapi sayangnya hati Kaysa sudah terlanjur milik Alarik.
“Ayo, aku antar kalian pulang,” kata Gio tiba-tiba.
Kaysa dan Anggun mengikuti Ketua OSIS yang menuju parkiran.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Syadev masih merasa kesal. Mau tidur tapi tidak bisa, sedangkan rumahnya terasa sepi karena Flora dan Bundanya sedang di rumah nenek.
Syadev iseng tiduran di bangku taman sambil menikmati es buah.
Tiba-tiba pemuda itu terkejut melihat mobil Gio yang masuk ke pekarangan rumahnya.
Bahkan dengan mesra Ketua OSIS itu membuka pintu mobil untuk Kaysa layaknya seorang putri.
“Anak itu, di saat aku sedang patah hati malah dia punya pacar dua. Bisa turun harga diriku kalau sampai dia tau,” batin Syadev kesal.
Setelah mobil Gio pergi, Kaysa dan Anggun menghampiri Syadev.
“Kenapa kamu bolos?” tanya Kaysa sambil menyerobot es buah milik saudara kembarnya.
Syadev membiarkan saja karena itu memang kebiasaan Kaysa yang suka seenaknya sendiri.
Sedangkan Anggun tertawa lirih karena perutnya saja sudah kekenyangan. Namun Kaysa masih muat daya tampungnya.
“Aku ke dalam dulu ya mencari flora,” pamit Anggun.
“Flora sedang ke rumah nenek. Katanya di ganti besok saja,” kata Syadev bersikap biasa.
“Ya sudah, aku pulang saja kalau begitu,” ucap Anggun.
“Syadev, kamu tahu kan aku belum pulih sepenuhnya. Sebaiknya kamu yang mengantar Anggun ya?” kata Kaysa pada saudara kembarnya.
Sebenarnya Syadev ragu, tapi karena Kaysa melotot pemuda itu tidak berani menolak.
“Baiklah,” jawab Syadev setengah terpaksa.
Kaysa tersenyum geli melihat Syadev yang patuh itu.
“Gayanya terpaksa, tapi aslinya kamu suka,” batin Kaysa dengan senyuman mengejek.
Kaysa langsung masuk ke rumahnya. Sedangkan Syadev mengajak teman sekelasnya itu naik ke mobil mewahnya.
"Syadev, kenapa kamu tadi tidak kembali ke sekolah?" tanya Anggun penasaran.
"Aku hanya sedang tidak enak badan saja," jawab Syadev asal-asalan.
"Kalau begitu kenapa tadi kamu mau mengantar aku pulang? Sebaiknya aku berhenti di sini saja dan kamu segeralah istirahat," punya Anggun cemas.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku antar kamu sampai rumahmu," jawab Syadev.
"Apa Teguh sudah berangkat ke luar kota lagi?" tanya Syadev menyelidik.
"Sudah," jawab Anggun.
"Kalian terlihat sangat dekat," ucap Syadev. Namun seketika pemuda itu menyesali ucapannya sendiri.
"Kami memang dari kecil sudah dekat, tapi aku hanya menganggap dia seperti kakak aku," jawab Anggun yakin.
"Bisa saja suatu saat perasaanmu tumbuh menjadi cinta seperti Kaysa dan Kak Al," sergah Syadev.
"Tadi sih Kak Teguh memang sudah menyatakan cinta padaku," ucap Anggun.
"Kamu jawab apa?" tanya Syadev penasaran.
"Aku masih ingin fokus belajar dan tidak mau memikirkan urusan cinta," jawab Anggun polos.
Diam-diam Syadev ingin tertawa karena terlalu bahagia.
"Anggun, apa baju-baju yang kemarin aku kirim itu muat di badanmu?" tanya Syadev penasaran.
"Jadi itu semua dari kamu? Ya ampun, kenapa kamu baru memberitahu aku. Terima kasih banyak ya?" ucap Anggun kaget dan seolah tak percaya.
Syadev merasa bodoh sendiri mengungkit tentang hal itu.
Anggun melirik ke wajah Syadev yang memerah.
"Syadev sebenarnya orang yang sangat perhatian, tapi untuk bisa bersanding dengannya aku harus menjadi orang uang pantas terlebih dahulu. Aku harus semangat belajar lagi supaya jadi orang sukses," batin Anggun.
Setelah sampai di panti, Syadev segera keluar dan membuka pintu mobil untuk Anggun.
Anggun semakin terpana karena Syadev bersikap perhatian seperti itu. Namun karena terlalu grogi kakinya menginjak roknya sendiri.
Anggun langsung ambruk tapi dengan sikap Syadev menangkap gadis tersebut.
Cupppp...
Tanpa sengaja Anggun mencium bibir Syadev saat terjatuh.
'"Lembut dan enak," batin Syadev.
Dua remaja itu merasa salah tingkah, karena barusan adalah ciuman pertama mereka.
"Lain kali berhati-hatilah. Aku pulang dulu," ucap Syadev gugup dan segera masuk ke mobilnya.
Setelah keduanya berpisah, mereka hanya senyum-senyum sendiri. Antara perasan malu, senang dan sensasi yang tadi di rasakan mereka berdua terasa hangat menjalar di hati.
Syadev terus memegang bibirnya yang masih terasa aneh.
" Sepertinya aku memang jatuh cinta padamu, Anggun."
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di dalam kamar Kaysa sedang video call dengan Alarik.
"Kaysa, pakailah jilbabmu!" tegur Alarik.
"Kenapa? Bukankah Kak Al sudah terbiasa melihatku seperti ini?" goda Kaysa sambil memegang rambutnya ke atas dan memamerkan lehernya yang putih mulus.
"Kamu nakal sekali, sekarang sudah tidak boleh lagi," jawab Alarik yang sudah menegang.
"Biarin saja," balas Kaysa bandel.
Jika seperti itu Kaysa sangat mirip sekali dengan Ayahnya yang senang menggoda.
Sedangkan Syadev mirip Bundanya yang pemalu.
"Tapi lain kali jangan seperti itu pada lelaki lain ya!" pinta Alarik cemas.
"Iya... iya..." jawab Kaysa.
"Kamu sedang apa?" tanya Alarik.
"Nonton Drama Korea, aku suka yang banyak adegan mesumnya," cetus Kaysa manja.
Alarik yang sudah dewasa itu semakin merasa panas, AC di kantornya saja tidak bisa mendinginkan tubuhnya yang berkeringat.
"Kak Al," panggil Kaysa.
"Apa..." jawab Alarik yang fokus memandang layar ponsel.
"Kita nikah yuk?" gurau Kaysa.
Alarik terkejut, pemuda itu tidak mengira jika bisa dipermainkan oleh anak SMA.
"Kamu masih kecil," jawab Alarik sabar.
"Lihatlah! Bagian tubuhku ,ana yang terlihat kecil?" goda Kaysa lagi.
Alarik menjadi gelagapan, pemuda itu mengakui jika Kaysa memang sudah terlihat dewasa dan tubuhnya juga berisi indah.
"Maksudnya umur kamu, nanti Kak Al di sidang kalau menikahi gadis di bawah umur," jawab Alarik panik.
Kaysa tertawa lebar, dia sangat luas membuat Alarik salah tingkah.
"Puas kamu mengerjaiku!" kata Alarik kesal.
"Belum puas, mungkin jika mengerjai secara langsung aku baru luas," jawab Kaysa tersenyum nakal.
Alarik hanya memejamkan mata, pemuda itu membayangkan jika Kaysa mengerjainya secara langsung mungkin dirinya tidak bisa dikontrol.
__ADS_1
**Terima kasih sudah Like dan Vote ya, karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Bagi yang belum jangan lupa ya🙏**