
Di malam yang dingin ditambah pakaiannya yang setengah basah membuat tubuh Kaysa menggigil, tapi pelukan erat juga ciuman yang membara dari bibir kekasihnya membuat dia merasakan kehangatan hingga merasuk ke dalam relung hatinya.
Kaysa merasa bodoh, meragukan cinta Alarik yang begitu besar. Namun egonya juga tidak ingin membuat Alarik mengira jika dirinya perempuan yang mudah dibujuk.
Alarik sendiri masih belum puas meluapkan rasa kekesalannya karena kekasihnya telah meragukan cintanya yang begitu dalam. Bibir pemuda itu tak henti-hentinya mendaratkan ciuman yang bertubi-tubi ke bibir Kaysa.
Sampai adzan berkumandang, Alarik baru melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, Kaysa. Aku mencintaimu, seharusnya aku melindungimu bukannya malah merusakmu," ucap alarik lembut.
"Apa yang rusak dariku? Aku masih mulus begini," jawab Kaysa ketus.
Alarik mau tertawa, tapi takut Kaysa semakin marah.
"Tadi kenapa bisa berkelahi dengan pemuda itu?" tanya Alarik penasaran.
"Resiko orang cantik, jadi sekali pandang orang langsung jatuh cinta," jawab Kaysa seenaknya.
"Lain kali jangan seperti itu lagi! Kalau ada yang mengganggumu lebih baik berlari saja. Apa kamu ada yang terluka?" Alarik panik sekali.
"Tidak, pemuda tadi hanya menghindari seranganku tanpa melawan," jawab Kaysa yang juga merasa heran.
"Mungkin dia hanya sengaja menggodamu saja, ayo sekarang kita pulang," ucap Alarik.
"Gendong aku," pinta Kaysa manja.
"Baiklah," jawab Alarik dengan sedang hati. Manjanya Kaysa itu bukti jika kekasihnya sudah memaafkan.
Kaysa tanpa sungkan langsung naik ke punggung Alarik. Dari Kaysa kecil punggung yang terasa nyaman untuk bersandar adalah punggung milik Ayahnya dan kekasihnya.
Apalagi sambil menikmati pemandangan pantai yang mulai terang disinari rembulan. Kaysa terhanyut dalam kedamaian hatinya.
Di tengah kesyahduan tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang merembes dari celana dalamnya. Menyadari apa yang terjadi Kaysa segera menepuk pundak kekasihnya, dan dia sendiri melepaskan diri dengan paksa karena takut darahnya semakin banyak yang merembes.
Kaysa lalu terjatuh, membuat Alarik sangat cemas.
"Kamu ini kenapa meloncat?" tanya Alarik panik.
"Aku datang bulan," rengek Kaysa merasa malu.
"Apa sakit?" tanya Alarik perhatian.
"Tidak, hanya saja aku tidak bawa pembalut dan baju ganti," jawab Kaysa malu.
__ADS_1
Alarik tahu jika saat ini kekasihnya tengah memerah wajahnya, akan tetapi pemuda itu hanya bisa membayangkan saja tanpa bisa melihat dengan jelas.
"Tenang saja, ayo ikut aku," ucap Alarik santai.
Kaysa berjalan dengan rasa tidak nyaman. Dia takut jika nanti ada orang yang melihat bagian belakangnya pasti ada bekas noda darah.
"Jangan khawatir! Tidak akan ada orang yang menyadarinya," ucap Alarik seolah tahu apa yang dirasakan kekasihnya.
Kaysa hanya diam dan berharap apa yang dikatakan Alarik itu benar.
Alarik mengajak Kaysa berbelanja di tempat penjualan baju, hanya itulah satu-satunya kios yang masih buka. Yang lainnya hanya penjual pernak-pernik dan makanan.
"Ada baju muslim untuk anak muda?" tanya Alarik.
"Maaf, adanya daster dan baju kaos saja," jawab nenek itu.
Di kios yang kecil itu memang hanya ada daster pendek dan koas lengan pendek.
"Ya sudah Bu, tolong bungkus daster dan celana dalam satu," pinta Alarik.
Kaysa mau tak mau terpaksa menyetujuinya dari pada dirinya memakai pakaian yang basah dan ada noda darah.
" Di sini ada tempat pemandian, Bu?" tanya Alarik.
"Ada, tempat untuk sholat juga ada," jawab Ibu pemilik kios.
"Tidak usah beli, kebetulan saya juga punya simpanan," ucap ibu itu langsung menuju ke dalam.
Beberapa saat kemudian Ibu itu memberikan satu bungkus kotak kecil, tanpa canggung Alarik menerimanya dengan senang hati.
"Harganya berapa, Bu?" tanya Alarik.
"Daster empat puluh lima ribu, celana dalam lima ribu. Jadi semuanya lima puluh ribu," jawab Ibu itu ramah.
Kaysa ternganga mendengar jawaban ibu tersebut, seumur-umur belum pernah dia membeli baju yang murah, bahkan untuk daleman saja biasanya Kaysa membeli setelan yang harganya ratusan ribu di mall.
"Terima kasih ya, Bu. Saya mau izin sholat dulu," pamit Alarik.
"Iya, silahkan," jawab Ibu itu ramah.
"Nih, buruan ganti. Biar segera nyaman," bisik Alarik menahan tawa.
Kaysa langsung merebut benda yang terlipat kecil itu dengan cepat. Mau tak mau Kaysa harus bertahan sementara, berharap kulitnya tidak iritasi.
__ADS_1
Alarik sendiri hanya tersenyum dan langsung menuju tempat berwudhu. Pemuda itu langsung tertawa setelah jauh dari kekasihnya. Seorang Kaysa Malik yang hidup glamor tapi kali ini terpaksa memakai baju murah.
Kaysa segera menuju kamar mandi, dia membersihkan diri dan memakai daster tersebut. panjang bagian atasnya hanya selengan saja, sedangkan bawahnya hanya di bawah lutut. Kaysa merasa minder memakai baju murahan yang sama sekali bukan selera dia.
"Seperti pembantu saja aku ini," batin Kaysa kesal.
Saat Kaysa ingin mengambil jilbab yang dicantolkan di belakang pintu, tiba-tiba jilbabnya malah terjatuh.
"Ahh... sial! Mana ibu tadi tidak jualan jilbab," pekik Kaysa.
Kaysa mengintip keluar, ternyata masih ada beberapa orang yang masih berseliweran di sana. Kaysa masuk kembali karena tidak berani keluar.
Lima menit kemudian Alarik mengetuk pintu, pemuda itu cemas karena Kaysa sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi.
"Sudah belum?" tanya Alarik.
"Jilbabku jatuh, bagaimana ini?" tanya Kaysa cemas.
"Tidak apa-apa, keluarlah!" pinta Alarik tenang.
Kaysa menurut dan segera keluar, karena dia tidak tahan juga digigit nyamuk.
Begitu Kaysa keluar, Alarik langsung terpana tanpa berkedip. Sebab penampilan Kaysa yang tanpa make up, rambut di ikat gulung dan baju daster seperti emak-emak membuat Kaysa terlihat cantik alami.
"Jangan mengejek!" teriak Kaysa kesal.
"Tidak, justru aku berharap setelah kita menikah aku bisa melihat pemandangan ini setiap hari," jawab Alarik terkekeh.
"Jangan harap!" jawab Kaysa kesal.
Alarik langsung memakaikan jaketnya yang kebesaran, tapi Kaysa tidak keberatan. Kemudian penuh kasih Alarik memakaikan topi dari jaket itu untuk menutupi kepala Kaysa.
Alarik bersyukur tadi setelah tiba di pantai langsung melepas jaketnya, kalau tidak mungkin saat ini jaket itu juga ikutan basah.`
Alarik sendiri juga sudah berganti baju, pemuda itu memakai celana dan kaos pantai yang pendek. Terlihat sangat tampan dan menawan.
"Apa aku terlihat aneh?" tanya Kaysa.
"Tidak, kamu terlihat cantik. Bukankah ibu menyusui sering memakai baju seperti ini?" goda Alarik.
Kaysa langsung memukul lengan Alarik dengan tangannya.
Alarik malah tertawa terbahak-bahak. batinnya bangga juga memiliki calon istri yang memang sudah terlahir cantik seperti bidadari. Jadi memakai pakaian apapun juga terlihat mempesona.
__ADS_1
Jangan Lupa Like dan Vote yaa🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author. Semoga kedepannya novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi.
Jangan Lupa baca juga Novel romantis SCORPIO, dijamin asyik dan bikin baper yah, selamat membaca🤗