
Yudistira dibawa kesebuah tempat yang sangat jauh, dia bahkan harus naik kapal dan menyeberangi lautan menuju pulau kecil.
Walaupun mata Yudis ditutup, tapi dia bisa tahu sebab suara deburan ombak dan beberapa percikan air yang mengenai wajahnya.
"Kalau hanya naik perahu kecil berarti tempatnya tidak akan jauh dari pesisir pantai," batin Yudis.
Setelah sampai di daratan, kain yang menutupi mata yudis baru di buka.
Walaupun gelap tapi dia ingat jika tempat ini adalah tempat dimana dulu dia dan saudara-saudaranya bermain judi.
"Padahal polisi sudah melacak tempat ini, tapi ternyata masih banyak rahasia yang belum terkuak," batin Yudis.
Yudis di bawa ke sebuah tempat yang jauh dari gedung mewah, ada bebatuan besar jika dilihat sekilas hanya batu biasa. Siapa sangka di sana ada tombol yang dalam sekejap membuka pintu. Sekitar lebar dua meter dan tinggi 3 meter. Ada tangga yang menuruni ke bawah seperti dalam terowongan.
Yudistira mulai takut jika itu adalah penjara bawah tanah, tapi ternyata setelah melewati tangga yang berjumlah 120, di sana terdapat ruangan yang sangat besar. Yaitu seperti pabrik pencetakan uang palsu.
Kemudian setelah melewati pabriknya, masih ada ruang lagi. Di sana tersimpan banyak alat canggih dan komputer dengan layar besar.
"Bos, kami sudah tangkap Sagara,"
"Bagus, kamu kemarilah anak muda. Jika kamu mau diajak kerja sama maka aku tidak akan melukaimu, justru akan aku beri imbalan yang banyak," kata Seorang lelaki setengah baya.
Lelaki tersebut seperti bukan orang Indonesia, wajahnya tampak kebule-bulean. Mungkin orang tuanya adalah blasteran.
"Kalau aku Arka, mungkin aku bisa melawan orang sebanyak ini sendirian. Tapi meskipun begitu aku adalah Yudistira yang pandai dalam berakting, aku harus memerankan tokoh saudara kembarku dan berusaha untuk mencari celah," batin Yudistira.
"Aku tidak tertarik dengan uang palsumu, aku lebih tertarik dengan alat-alat yang canggih," tawar Yudis mencoba santai.
"Ho...ho.. Kamu memang Tuan Muda Sagara. Baiklah, kalau begitu kita sepakat. Aku hanya ingin kamu menyadap perusahaan besar di Industri Amerika. Karena aku ingin menguasai pasar di sana, dan juga kamu atur bagaimana caranya petugas kepolisian yang berjaga di dermaga diubah menjadi nama-nama polisi yang sudah ada didaftar ini!" pinta lelaki itu tertawa senang.
__ADS_1
Yudistira tidak menyangka jika lelaki ini mudah dibodohi, tapi dia tetap waspada siapa tahu ini adalah jebakan.
Setelah disadari soal judi beberapa waktu yang lalu mereka tidak melakukan kecurangan dalam hal bermain, intinya justru memberi kesempatan bagi para tamu untuk datang. Dan pada saat itu para tamu yang membawa uang asli secara perlahan di tipu dengan uang palsu, jadi anak buah Roji terlihat rugi dan kalah. Namun, kenyataannya mereka menang sebab mendapatkan uang asli. Jadi inti dari perjudian yang sebenarnya adalah menukarkan mata uang asli dan yang palsu.
Yudistira mulai mengotak-atik komputer itu, walaupun tidak secanggih Sagara tapi dia sering melihat saudaranya itu dalam mengendalikan komputer.
"Sial, melihat kode ini saja kepalaku sudah pusing," batin Yudistira kesal.
"Bos, sepertinya komputer Anda kurang canggih. Sebenarnya aku di rumah punya komputer sendiri yang lebih ajaib, tapi sayang disita oleh papaku karena katanya terlalu bahaya sebab banyak yang mengincar," ujar Yudistira
"Apa kamu minta pulang dan setelah itu kabur? Jangan membodohiku, anak muda. Karena kamu bisa membuatnya kenapa tidak membuat lagi di sini, apa yang kamu butuhkan tinggal bilang pada anak buahku pasti akan dicarikan!"
Yudistira menciut juga nyalinya, sebab walaupun musuhnya ini berkata santai tapi tangganya sambil memainkan sebuah pistol yang ada isinya. Justru di dalam film - film orang seperti inilah yang paling berbahaya, terlihat baik tapi psikopat.
"Baiklah, kalau begitu buat komputer baru lagi. Tapi sebelum itu bisakah malam ini aku diizinkan untuk tidur? Jujur saja saya sangat lelah dan mau muntah karena mual mabuk laut," pinta Yudis mengukur waktu.
"Silahkan, dan kamu bilang saja pada anak buahku apa yang kamu butuhkan! Ingat jangan main - main, karena peluru dalam pistolku ini suka sekali menembus kepala orang yang tidak patuh padaku!"
"Tulis apa yang kamu butuhkan!" kata salah satu pengawal yang tadi menculiknya.
"Nah, kalau yang kasar-kasar seperti ini justru lebih mudah ditangani. Karena mereka hanya menang di otot bukan di otak," batin Yudistira menilai setiap orang.
Yudistira mengingat - ingat lagi, dulu dia pernah menemani saudara kembarnya jadi sedikit - sedikit tahu mengenai komponen untuk membuat komputer yang canggih. Biar nanti kesulitan Yudistira juga sengaja menambahkan beberapa barang langka yang bahkan tidak dibutuhkan, fungsinya apa saja dia juga tidak tahu.
Sampai pagi harinya Yudistira tetap tidak bisa tidur memikirkan esok hari harus bagaimana, sebab di dalam ruangan itu banyak CCTV yang membuatnya tidak bisa berkutik.
"Hanya satu barang ini yang belum bisa dapatkan," lapor anak buah kepada bos mereka.
Yudistira dalam hati tertawa sebab berhasil mengerjai mereka.
__ADS_1
"Kalau tanpa itu tidak bisa, sebab semua sudah aku coba sebelumnya," sela Yudis mencoba tenang.
"Lalu bagaimana? Mau tak mau kamu harus menyelesaikan tugasmu!" teriak bule tersebut berapi-api.
Semua anak buah ketakutan, Yudistira tahu pasti orang ini memang sangat menakutkan.
"Kalau aku otak - atik komputermu bagaimana? Jadi aku akan mengambil sesuatu yang penting dari komputermu dan menggabungkannya. Pasti akan menjadi komputer yang sangat canggih?" tanya Yudis tenang.
"Terserah, aku beri batas sampai siang ini. Jika kamu gagal maka kamu sebaiknya aku kubur hidup-hidup!" jawab bule psikopat itu lalu pergi.
Yudistira bernapas lega, setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk meminta bantuan.
"Dari semalam aku kelaparan, apakah kalian tidak ingin memberi aku makanan?" pinta Yudis pada dua orang yang mengawalnya.
"Tunggu di sini, dan jangan macam - macam!" bentak orang tersebut.
"Jangan galak - galak dong, kalau aku mati duluan kalian juga yang akan disalahkan," balas Yudistira sengaja mengancam agar diperlakukan lebih baik.
Orang tersebut terdiam, apa yang barusan dikatakan oleh Yudistira memang benar. Ibarat kata pemuda remaja ini adalah harta Karun bagi bos mereka.
"Kamu mau makan apa?" tanya orang itu lebih ramah.
"Terserah, tapi kalau bisa ada buahnya," balas Yudistira.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu,"
Kini hanya sisa satu orang lagi, Yudistira mencari cara lagi untuk menyingkirkan orang ini.
"Aku mau ke toilet, bisa antarkan?" pinta Yudis
__ADS_1
"Ayo buruan, bikin repot saja," gerutu orang tersebut.
Saat berjalan Yudistira mengamati daerah sekitar, bibirnya menyunggingkan senyuman sebab melihat sesuatu yang mungkin bisa membuatnya melarikan diri dari tempat itu.