CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kesucian Cinta


__ADS_3

Yudistira akhirnya menemukan jika Jamila memang sedang mengobrol berduaan dengan pemuda lain. Yudistira merasa sangat cemburu, walaupun antara dia dan Jamila tidak ada ikatan tali selama ini Yudistira sudah menganggap kalau Jamila adalah kekasihnya.


"Tiok, kamu jangan ganggu calon istriku lagi," Segah Yudis.


"Eh, kamu Yudis kan? Maaf, aku hanya mau memberitahukan pada Jamila mengenai pertandingan berikutnya. Karena Jamila belum memiliki ponsel jadi aku di suruh guru pelatih untuk menyampaikan ini," jawab Tiok.


Wajah Yudistira seketika memerah, begitu juga dengan Jamila.


"Jamila kamu sudah paham kan? Kalau begitu aku pamit dulu. Oh iya, kata pelatih satu bulan lagi akan ada pertandingan jadi setiap pukul tiga sore ada latihan," sela Tiok sembari tersenyum.


"Iya, terima kasih atas pemberitahuannya," ucap Jamila.


Setelah Tiok pergi, kini hanya tinggal Jamila dan Yudistira yang sama - sama canggung.


"Yudis, kenapa kamu tiba - tiba kemari?" tanya Jamila memecahkan kesunyian.


"Itu... Aku, eh..."


Yudistira salah tingkah dan tidak tahu harus menjawab apa.


"Oh iya, tadi maksud kamu apa? Kenapa kamu mengatakan kalau aku calon istrimu?" tanya Jamila malu - malu.


Yudistira menghembuskan napasnya, sebab inilah kesempatan baginya untuk mengutarakan isi hatinya. Dia tidak mau jika kedepannya Jamila akan direbut pemuda lain. Apalagi di Universitas ini aturan lebih longgar tidak seketat di Asrama SMA.


"Jamila, apakah kamu tidak sadar jika selama ini aku menyimpan rasa padamu lebih dari seorang teman? Tapi aku memendam semua itu, sebab aku tidak ingin membebani pikiranmu dan ingin kamu fokus belajar," jawab Yudistira.


Jamila terdiam, dia terkejut dengan apa yang barusan diucapkan oleh Yudistira. Bahkan dia merasa kalau ini hanyalah sebuah mimpi.


"Yudis, aku tidak tahu bagaimana perasaanku. Hanya saja satu - satunya seseorang yang aku pikirkan hanya kamu. Tapi aku tidak tahu itu cinta atau tidak," balas Jamila jujur apa adanya.

__ADS_1


"Iya, Jamila. Aku paham, mungkin ini terlalu mengejutkan bagimu. Tapi hanya satu yang perlu kamu tahu, aku mencintaimu dan menunggumu. Kelak jika kita sudah lulus kuliah izinkan aku untuk mempersunting mu," balas Yudistira.


Jamila tidak pernah menyangka jika Yudistira akan menyatakan hal mengejutkan seperti ini, tapi dia merasa sangat bahagia. Dan jantungnya berdebar - debar.


Yudistira merasa lega, biarpun Jamila belum memberi jawaban tapi dari raut wajah gadis tersebut tampak bahagia dan cerah.


"Yudis, aku memang bahagia mendapatkan perhatian dan perlindunganmu selama ini. Namun, aku tidak pernah berani berharap lebih. Karena aku sadar siapa aku ini. Status kita berbeda jauh, aku takut jika nanti aku hanya menjadi bahan tertawaan orang lain," ujar Jamila seketika.


"Jamila, orang tuaku tidak pernah memandang status orang. Yang perlu kamu lakukan hanya fokus belajar dan menjaga hatimu. Walaupun aku mencintaimu aku tetap akan menjaga jarak agar tidak merusakmu dan berusaha melindungimu dari jauh. Asalkan kita berdua saling mendoakan, setia dan percaya aku yakin Alloh akan mempersatukan kita kelak di jalan yang lebih indah," pinta Yudistira.


"Yudis, terima kasih," ucap Jamila merasa bersyukur mendapat cinta sebesar ini.


"Baiklah, kalau begitu ayo susul Deby. Dia sedang bersama Arka," ajak Yudistira.


Mereka berdua berjalan bersama, walaupun tidak bergandengan tangan atau berdekatan tapi hati keduanya terikat erat.


Dunia tampak begitu indah, menuju masa depan menuju ridhonya Alloh.


Malam ini Sagara tidak bisa tidur nyenyak, melihat kedua saudaranya yang tertidur karena mimpi indah.


Pagi harinya Sagara segera menuju kepala sekolah SMA Andromeda, dia memberanikan diri melamar sebagai guru Fisika. Walaupun Sagara belum menyandang sarjana akan tetapi soal ilmu pengetahuan tidak bisa diragukan lagi.


Di hari pertama mengajar bertepatan dengan jadwal kelasnya Sarah. Sagara langsung menghebohkan sekolah SMA Andromeda. Biarpun cuek tapi sangat cool dan membuat para pelajar geger.


Saat Sagara masuk ke kelas, Sarah terkejut dan langsung gugup. Bahkan tidak berani menatap Sagara saat gurunya itu menerangkan soal pelajaran.


Di akhir pelajaran, Sagara mengatakan sesuatu yang membuat seisi kelas kaget.


"Kalian semua boleh keluar, kecuali Sarah. Karena dia sepanjang pelajaran melamun jadi harus di hukum!" kata Sagara tegas.

__ADS_1


Para murid gadis malah merasa iri dan ingin di hukum, mereka berniat jika pelajaran berikutnya ingin melamun biar dihukum oleh guru yang sangat tampan.


Sarah maju ke depan dengan hati gugup dan mata menunduk. Membuat Sagara merasa gemas.


"Sarah, sekarang jam pelajaran sudah berlaku. Jadi jangan anggap aku sebagai gurumu, melainkan kakak temanmu," ucap Sagara.


Sarah hanya mengangguk dan semakin gugup.


"Sarah, kenapa kamu selalu takut jika melihatku? Apakah aku ini menyeramkan atau bagaimana?" tanya Sagara serius.


"Bukan, bukan begitu," jawab Sarah gugup.


"Lalu apa?" tanya Sagara semakin senang menikmati sikap Sarah yang lucu.


"Aku... Aku..."


Sarah bahkan tidak bisa mengucapkan apapun, dia sungguh sangat malu dan tidak percaya diri.


"Aku mencintaimu... " Sela Sagara.


"Apa?" Pekik Sarah menatap Sagara.


Saat kedua bola mata mereka saling bertemu, terpancar kerinduan yang begitu dalam. Rasa cinta yang sekian lama terpendam dan hanya bisa berdoa dari kejauhan saja.


"Belajar yang rajin ya, aku tunggu setelah kamu dewasa!"


ucap Sagara tersenyum manis kemudian memberikan sebuah buku tentang panduan menjadi istri yang baik. Kemudian dia segera pergi agar tidak menimbulkan fitnah.


Sagara bukan tipe pemuda yang bisa banyak bicara, meskipun begitu Sarah sudah sangat bahagia dan mengerti apa maksud dari semua ini.

__ADS_1


Sarah begitu bahagia, sebab doanya selama ini terkabul. Begitu juga dengan Sagara, hatinya merasa lega sebab sudah mengutarakan isi hatinya. Tentu saja Sarah ingin belajar yang rajin segera tumbuh dewasa.


TAMAT


__ADS_2