
Sampai hampir petang Syadev masih belum pulang. Padahal Anggun sudah menyiapkan makanan kesukaan Syadev.
"Darren, sebenarnya Syadev pergi kemana?" tanya Anggun cemas.
"Aku tidak tahu, kenapa tidak di telepon saja," jawab Darren.
"Ponselnya tertinggal di kamarnya," balas Anggun.
"Nanti juga pulang, sebaiknya kita makan dulu," ucap Darren bersemangat.
"Tidak! Pokoknya sebelum Syadev pulang kamu tidak boleh menyentuh makanannya," kata Anggun tegas.
"Kenapa kamu berubah kejam seperti Syadev?" rengek Darren yang sudah kelaparan.
"Masak sendiri atau beli saja makanan di luar," sergah Anggun yang sedang cemas.
Darren meringis kesal, sebab pemuda itu tidak bisa memasak. Mau beli makanan di luar juga masih belum tahu tempat sekitar. Sebab Syadev membeli rumah yang berada di pelosok yang jauh dari pusat kota. Menuju ke Universitas saja memerlukan waktu setengah jam lebih.
"Darren, apa kamu kenal dengan Inge?" tanya Anggun penasaran.
Dalam hati Darren tertawa, pemuda itu merasa ada kesempatan untuk balas dendam mengerjai temannya itu.
"Jelas tahu, dia itu putrinya rekan kerja Om Syauqi dan Papa. Dulu pernah ada kabar kalau Syadev dan Inge akan dijodohkan. Jadi sekarang begitu tahu Syadev sekolah di sini, Inge yang tadinya kuliah di Paris langsung pindah menyusul Syadev," jawab Darren bermuka sok polos.
Seketika wajah Anggun langsung suram, air matanya tiba-tiba menetes. Darren jadi panik.
"Anggun! Jangan menangis! Aku nanti di bunuh Syadev," pinta Darren ketakutan.
Tiba-tiba Syadev membuka pintu, pemuda itu langsung melihat pemandangan yang tidak enak.
"Ada apa ini?" tanya Syadev.
Begitu melihat Suaminya datang, Anggun langsung berlari masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
"Kenapa Syadev tidak bilang kalau sejak kecil sudah punya calon tunangan. Lalu apa arti aku yang dinikahi secara diam-diam ini."
Anggun tiduran sambil memeluk bantal guling, matanya tidak bisa berhenti mengeluarkan air matanya.
"Pantas saja Syadev tidak ingin tidur sekamar denganku, mungkin baginya pernikahan ini hanya sebuah permainan baginya."
Anggun bisa mendengar Syadev sedang membujuk dan mengetuk pintu, tapi Anggun sama sekali tidak tergerak untuk menjawab panggilan atau membukakan pintu kamarnya.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Syadev memang mengenal Inge, tapi diantara mereka tidak pernah ada kata perjodohan.
Dulu mereka bertemu hanya karena keluarga Inge pernah beberapa kali berkunjung ke rumah keluarga Syadev. Itupun saat mereka berdua masih sekolah SMP.
Inge juga terpaksa pindah ke Amerika, sebab Mamanya yang sakit sedang melakukan pengobatan di sana. Jadi Inge pindah kuliah di Universitas yang kebetulan sama dengan Syadev.
Tadi sebenarnya Syadev pergi karena membelikan kado untuk Darren, agak lama karena dia juga membeli beberapa baju hangat. Karena sebentar lagi musim dingin, Syadev tidak ingin semuanya mati kedinginan.
Syadev membelikan satu jaket hangat untuk Darren, tiga untuk Anggun dan dirinya cukup dua karena sudah punya di rumah.
"Darren sudah menumpang tinggal dan makan denganku, jadi bajunya aku belikan satu saja. Bisa keenakan dia, nanti tabungannya menggunung karena tidak terpakai," batin Syadev tertawa riang.
Namun meskipun satu, harga baju untuk Darren itu sangat mahal.
Ketika mau pulang, Syadev melihat sepatu perempuan yang bagus. Dia tidak tahan juga untuk tidak membelikan istrinya.
"Saat kuliah nanti aku ingin istriku bisa terlihat layak seperti yang lainnya," batin Syadev.
Universitas yang di pilih Syadev juga lumayan terkenal, di sana kebanyakan juga anak-anak orang kaya. Jadi Syadev ingin memastikan jika Anggun bisa terlihat baik dan tidak diremehkan orang lain.
"Terlalu asyik berbelanja tanpa sadar uangku menipis, semoga Inge bisa memberi kabar baik padaku."
Awalnya Syadev tanpa sengaja bertemu Inge saat di Universitas, apalagi mereka juga masuk di jurusan yang sama. Syadev tahu jika Omnya Inge punya perusahaan yang besar, jadi Syadev meminta bantuan Inge agar bisa kerja di perusahaan Omnya tanpa memberi tahukan identitas Syadev yang sebenarnya.
Karena Syadev tidak ingin Ayahnya tahu jika dirinya bekerja. Sebab selama ini Ayahnya hanya menyuruh Syadev untuk fokus belajar saja.
Setelah membeli banyak belanjaan, Syadev baru pulang. Kara berlama-lama di pusat perbelanjaan yang menyediakan perlengkapan khusus perempuan Syadev takut menghabiskan semua uangnya.
"Aku harus bersabar, baru setelah dapat pekerjaan aku bisa kesini lagi mengajak Anggun, biar dia tidak jenuh di tempat asing."
Namun sesampainya di rumah, Syadev justru melihat Anggun yang menangis tanpa dia ketahui apa penyebabnya. Bahkan istrinya itu malah masuk ke kamar saat bertemu dengannya.
"Darren, ada apa dengan Anggun?" tanya Syadev.
"Aku tidak tahu, sepertinya Zahra menelepon. Aku makan di kamar saja yah" pamit Darren sambil membawa sepiring makanan lengkap dengan lauk pauk dan segelas air putih.
__ADS_1
Syadev tidak menghiraukan temannya itu, dia menghampiri kamar Anggun dan mencoba memanggilnya. Namun sama sekali tidak ada sahutan.
"Apa yang terjadi dengan Anggun? Kenapa tiba-tiba dia begini."
Syadev sebenarnya belum makan, tapi melihat istrinya yang sepertinya juga belum makan dia jadi tidak memiliki selera. Syafev duduk di samping pintu dan akhirnya tertidur dengan sendirinya karena kelelahan. Bahkan dia sampai meninggalkan Sholat Maghrib dan Isyak karena tidak ada yang membangunkan.
Darren sendiri tidak berani keluar dari kamar, pemuda itu takut setengah mati.
"Gawat, bisa di usir nih besok. Aku tidak tahu jika bercandaku akan berakhir seperti ini. Melihat wajah Syadev yang seperti itu aku takut sekali," batin Darren sambil mengintip temannya dari balik pintu.
Sampai tengah malam keadaan masih seperti semula, Darren sudah tidur di kamarnya, Syadev tertidur di samping pintu dan Anggun sendiri juga tertidur di dalam kamarnya.
Sampai Akhirnya Anggun terbangun karena perutnya terasa nyeri dan perih.
"Aku belum makan malam. Mungkin mereka sudah tertidur," batin Anggun sambil bangun.
Dengan perlahan Istri Syadev itu membuka pintu secara pelan-pelan. Namun siapa sangka jika suaminya tertidur di lantai dan bersandar tembok.
Hati Anggun sakit, melihat suaminya anak konglomerat yang rela seperti itu dari sore sampai larut malam hanya untuk dirinya seorang anak yatim piatu.
"Apa aku sudah salah paham?"
Anggun membangunkan suaminya dengan lembut.
Syadev membuka matanya perlahan, ketika melihat wajah istrinya di depannya, seketika Syadev memeluk Anggun dengan erat.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu marah padaku? Jangan pernah seperti ini lagi, kalau ada apa-apa sebaiknya kita bicarakan dengan baik," ucap Syadev.
"Kamu belum makan?" tanya Anggun yang melihat mejanya masih banyak makanan.
"Mana mungkin aku bisa makan jika kamu juga tidak makan," jawab Syadev pilu.
Anggun menangis menyesali perbuatan gegabahnya.
"Maafkan aku, maafkan aku suamiku," ucap Anggun tak bisa berhenti menangis.
"Sudah... sudah. Kita bahas saja ini nanti. Sebaiknya sekarang kita makan terlebih dahulu," kata Syadev sambil menuntun istrinya berdiri.
"Makanannya sudah dingin, aku hangatkan terlebih dahulu," kata Anggun sambil meraih piringnya menuju dapur.
"Tidak perlu pakai kompor. Aku sudah menyiapkan semuanya agar nanti kamu tidak kerepotan," kata Syadev mengeluarkan sesuatu dari dalam Kardus.
"Apa tidak menghabiskan banyak uang?" tanya Anggun.
"Tidak apa-apa, kita kan tidak menyewa pembantu. Jadi aku tidak ingin kamu terlalu capek, dengan begini pekerjaan kamu nanti bisa lebih ringan." kata Syadev lembut.
Anggun terharu, dia kembali mendekati suaminya dan memeluk erat.
"Terima kasih, suamiku," ucap Anggun bahagia memiliki suami yang pengertian.
Rumah Syadev memang tidak megah dan terkesan sederhana, sebab lantainya saja juga terbuat dari kayu. Namun Syadev lebih menyukai keunikan itu. Simpel dan menarik. Bahkan Syadev juga menyiapkan perabotan seperti mesin cuci otomatis, kulkas besar dan berbagai elektronik lainnya yang bisa memudahkan Anggun dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangganya.
"Kamu duduklah, biar aku yang melakukan saja," kata Syadev manis.
"Biar aku melihat ya? Karena aku masih asing dengan semua ini, biar nanti aku tahu caranya," jawab Anggun mengikuti langkah suaminya.
Anggun memang belum pernah melihat alat-alat seperti itu. Hidupnya selama ini sangat sederhana dan manual.
Sedangkan Syadev sudah terbiasa. sebab di rumah keluarganya semua itu sudah ada, kecuali mesin robot penyedot debu. Sebab sudah ada pelayan yang bertugas menyapu dan mengepel lantainya.
Anggun tidak mengira di balik sikap Syadev tidak banyak bicara itu sangat pengertian dan perhatian. Anggun tiba-tiba memeluk suaminya yang sedang berdiri dari belakang.
"Ada apa? Kenapa tadi tiba-tiba marah dan sekarang tiba-tiba berubah manis?" tanya Syadev yang kebingungan.
Anggun tidak mau menjawab, sebab gadis itu tengah menikmati bersandar pada punggung Syadev yang kokoh dan gagah.
"Sebentar, aku mau mengeluarkan lauknya dulu," pinta Syadev melepaskan diri dari pelukan Anggun.
Anggun segera menyiapkan susu hangat untuk mereka berdua dengan cepat.
Mereka mulai makan dengan perasaan yang lega, membuat nafsu makan mereka menjadi membaik.
"Sudah lama aku ingin memakan masakan yang seperti ini," ucap Syadev.
"Bukankah restoran di sini justru lebih enak?" tanya Anggun.
"Aku lebih suka masakan negara kita," jawab Syadev.
"Kalau begitu setiap hari aku akan memasakkannya untukmu," ucap Anggun tersenyum manis.
__ADS_1
Mereka makan dengan nikmatnya, setelah itu mereka juga menghabiskan segelas susu hangat.
Setelah itu Anggun membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya dengan bersih.
Dari belakang Syadev memeluk pinggang Anggun dengan mesra.
"Ayo, katakan padaku! Kenapa tadi marah padaku?" bisik Syadev.
"Aku belum sholat Isyak, nanti kalau menundanya aku jadi malas," jawab Anggun.
"Aku malah belum sholat Maghrib dan Isyak, ketiduran tadi," sela Syadev.
"Kalau begitu kita sholat dulu yuk?" ucap Anggun.
"Iya, dikamarku saja ya? Di dalam kamarmu masih berantakan kan?" sindir Syadev halus.
Anggun hanya tersenyum malu karena barang-barangnya belum dirapikan. Tadi istri Syadev itu sibuk memasak makanan kesukaan Syadev.
"iya, aku ambil mukena dulu di kamar," jawab Anggun menuju kamarnya sendiri.
Untuk menghemat waktu Anggun memutuskan wudhu di kamar mandinya sendiri.
Setelah memakai mukena, Anggun baru menuju kamar suaminya. Dan suaminya juga sudah bersiap-siap menunggunya.
"Ayo," ucap Syadev tersenyum manis.
Melihat Syadev yang memakai sarung, baju Koko warna putih dan pecis berwarna hitam membuat wajah Syadev terlihat sangat tampan. Bahkan Anggun rasanya ingin pingsan saja.
Pengantin baru itu memulai sholat berjamaah dengan khidmat. Setelah selesai Syadev berdo'a dengan suara yang bisa di dengar istrinya.
"Ya Alloh, ampunilah segala dosa hamba, istri hamba dan seluruh keluarga besar hamba. Jadikanlah kami semua tergolong orang-orang yang beruntung, selalu mendapatkan limpahan Rahmat dan anugerahMu. Berikanlah kami semua kesehatan, umur panjang dan kedamaian dalam hidup serta bermanfaat bagi orang lain, amin."
Dari belakang Shaft Anggun hanya mengamini do'a dari suaminya.
"Aku mau meng Qadha sholat Maghrib dulu ya? Kamu sebaiknya mengaji dulu!" kata Syadev lembut, Anggun yang ingin menjadi istri Sholeha langsung patuh.
Setelah sholat sendirian Syadev juga ikut mengaji, pemuda itu sudah terbiasa sejak kecil.
Lima belas menit kemudian Syadev menaruh kembali Alqur'annya di lemari. Karena dia mengingat tentang perbincangan tadi yang belum selesai.
Anggun juga menghentikan ngajinya saat suaminya terlihat seperti tengah menunggunya.
"Ada apa suamiku?" tanya Anggun.
"Yang tadi itu, kenapa kamu marah?" tanya Syadev.
"Tidak usah di bahas lagi, aku yakin dan percaya padamu," jawab Anggun.
"Tidak, hal sekecil apapun diantara kita tidak boleh disimpan sendirian. Agar kesalah pahaman ini tidak berlarut-larut dan menyiksa batin kita," kata Syadev lembut.
Anggun tersenyum senang, sebab suaminya yang usianya baru mau menginjak 19 tahun tapi sudah sangat dewasa.
"Tadi kamu keluar lama dan tidak mengabari terlebih dahulu. Kemudian aku membuka hapemu yang ada pesan dari wanita cantik bernama Inge, kata Darren dia adalah calon tunangan yang sudah di jodohkan sejak kecil," jelas Anggun yang sebenarnya masih sangat penasaran.
Syadev nyengir, merasa senang istrinya cemburu dan marah pada Darren yang sudah membuat kekacauan.
"Aku keluar untuk membeli hadiah ulang tahun Darren dan beberapa kebutuhan kamu. Tuh barangnya masih belum aku bongkar," kata Syadev menunjuk plastik tas besar yang diletakkan di samping ranjangnya.
"Lalu, apakah Inge itu calon tunangan kamu?" tanya Anggun lagi.
"Bukan, Ayah dan Bunda aku bukanlah seseorang yang seperti itu. Mereka memberi kebebasan pada anak-anaknya untuk menentukan jalan hidup sendiri. Aku hanya sekedar meminta tolong padanya untuk tidak membocorkan identitasku pada semua orang, sebab aku ingin bekerja di kantor pamannya tanpa mereka tahu jika aku adalah putra Syauqi Malik," kata Syadev tersenyum hangat.
"Maafkan aku yang sudah salah paham," ucap Anggun malu dan menyesal.
"Bukankah aku pernah bilang, satu-satunya orang yang aku cintai hanyalah kamu," jawab Syadev meyakinkan istrinya.
Anggun diam, ingin menanyakan tentang kenapa mereka harus tidur terpisah tapi Anggun tidak punya kepercayaan diri. Namun Syadev dengan mudah bisa menebaknya, karena dia memiliki kepekaan yang dalam.
"Soal kenapa kamar kita terpisah, aku takut tidak bisa menahan diri. Aku tahu kamu sebenarnya belum siap menikah dan masih ingin meraih mimpi, jika nanti kamu sampai hamil aku takut kamu akan kecewa padaku," timpal Syadev sambil mengelus kepala Anggun penuh kasih sayang.
Anggun merasa hatinya begitu damai dan tenang. Kebahagiaannya itu tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Aku sudah sadar, impianku sesungguhnya bukan menjadi dokter. Tapi aku ingin bisa hidup bersamamu selamanya dan menjadi istri yang baik. Aku tidak akan pernah menyesal jika punya anak di usia muda, kerena aku yakin kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dan bisa menyayangi keluarga kecil kita. Aku percaya, kamu adalah suami dan calon Ayah yang hebat," kata Anggun sepenuh hati.
Mendengar penuturan istrinya, hasrat yang selama ini di pendam langsung memuncak tak bisa terbendung lagi. Syadev memeluk istrinya dan pelan-pelan melepaskan mukenanya.
"Terima kasih sudah mempercayai aku sebesar ini, apapun yang terjadi aku akan berusaha menjadi Imam yang baik. Aku sangat mencintaimu, istriku," bisik Syadev mulai mencium bibir Anggun dengan penuh perasaan sampai keduanya hanyut dalam cinta yang membara.
Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Menurut kalian lebih romantis Ayah Syauqi apa Syadev? Dan setelah ini apa yang akan terjadi pada Syadev dan Anggun? di komen yah🤗🤗🤗🤗🤗