CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 21


__ADS_3

Alarik menyetir mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dia sampai tidak memedulikan keselamatannya sendiri.


"Perjuanganku selama ini hanya untuk Kaysa. Tapi jika aku hanya menunggu aku takut akan ada seseorang yang merebutnya dariku. Apalagi Kaysa hanya tahu jika aku ini adalah Kakak kandungnya."


Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan, Alarik menuju kantor pusat untuk menemui Ayah angkatnya.


Di sana ternyata juga ada Bundanya serta Dony.


"Assalamu'alaikum," salam Alarik.


"Wa'alaikumsalam," jawab Syauqi, Zhia dan Dony secara bersamaan.


"Selamat, Alarik. Sekarang kamu sudah menjadi pemimpin di Perusahaan Mandala," ucap Dony tulus.


"Terima kasih, Om Dony. Semua ini juga berkat bantuan Anda juga," jawab Alarik ramah.


"Alarik, katanya kamu tidak bisa pulang karena sibuk. Ada masalah apa sampai kamu ke sini?" tanya Zhia cemas.


Alarik lansung sujud di bawah kaki Ayah dan Bundanya yang sedang duduk di kursi.


Ketiga orang tua itu sangat keheranan, apalagi Alarik sampai menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Syauqi panik.


"Bangunlah, Nak! Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" timpal Zhia yang sangat khawatir.


"Maafkan Aku Ayah, Bunda. Karena aku telah menjadi anak durhaka dan tidak berbakti," ucap Alarik terisak.


Syauqi segera mengangkat bahu Alarik supaya tidak bersujud lagi.


"Katakan dengan jelas!" kata Syauqi yang merasa heran.


"Aku mencintai Kaysa Ayah, Bunda. Maafkan aku, karena sebagai kakak telah lancang memiliki perasaan lebih pada adiknya sendiri," jawab Alarik merasa bersalah.


Syauqi, Zhia dan Dony sangat terkejut. Mereka tidak menyangka jika Alarik menaruh hati pada Kaysa.


"Sejak kapan?" tanya Zhia.


"Sejak kecil," jawab Alarik masih bersujud.


Syauqi dan Zhia saling berpandangan. Sebagai seseorang yang pernah mengalami masa muda mereka berdua sadar jika perasaan tidak bisa dilarang ataupun dipaksakan.


Sejujurnya Syauqi merasa senang karena Alarik adalah sosok yang bertanggung jawab, setia dan tentunya bisa sabar menghadapi sikap Kaysa yang mudah meledak-ledak.


Namun Zhia sebagai seorang ibu yang pernah mengalami pengalaman buruk sangat takut jika putrinya akan mengalami hal yang serupa.


"Alarik, bangunlah! Ada hal penting yang harus Bunda katakan," kata Zhia tegas.


Alarik segera bangun dan duduk di hadapan Ayah Bundanya seperti seorang tersangka.


Sedangkan Dony hany menonton dengan perasaan yang kecewa, mengingat putra tunggalnya juga mati-matian mencintai Kaysa.


"Apa Kaysa sudah tahu jika kamu bukan Kakak kandungnya?" tanya Zhia.


"Belum, Bunda," jawab Alarik.


"Kamu tahu kan, kalau Kaysa masih berumur enam belas tahun. Bahkan KTP saja belum punya," ucap Zhia.


"Iya, Bunda, Aku mengerti. Hanya saja aku takut jika kehilangan Kaysa, karena perjuanganku selama ini hanya untuk dia," jawab Alarik meyakinkan.


Zhia mengatur napasnya perlahan supaya bisa tetap tenang.


"Jadi Kaysa saat ini masih belum tahu apa-apa?" tanya Zhia memastikan.


Alarik hanya mengangguk lemah.


"Alarik, jujur saja Ayah percaya jika kamu bisa menjaga dan menjadi suami terbaik untuk Kaysa. Hanya saja Kaysa masih terlalu kecil untuk mengerti hal ini," tutur Syauqi.


"Mungkin semua ini memang sudah menjadi takdir. Begini saja, Bunda beri kamu kesempatan untuk menemui Kaysa. Kamu boleh mengatakan apa yang ingin kamu katakan! Tapi ingat, sedalam apapun perasaan kamu jangan pernah kamu berbuat hal-hal yang buruk padanya! Setelah itu kamu dilarang bertemu Kaysa sebelum Kaysa lulus Sekolah. Bunda hanya berniat untuk menjauhkan kalian berdua dari hal-hal yang tidak Bunda inginkan," kata Zhia Tegas.


Syauqi merasa sangat tersindir dengan ucapan istrinya itu. Ayah angkat Alarik itu tahu jika Zhia hanya berniat untuk melindungi mereka berdua dari perbuatan yang terlarang.


"Apa yang diucapkan Bunda, Ayah setuju. Tapi jika seandainya Kaysa hanya menganggap kamu sebagai seorang Kakak maka kamu harus menerima dan jangan memaksanya," timpal Syauqi berwibawa.


Alarik langsung memeluk kedua orang tua angkatnya.


"Terima kasih Ayah, Bunda," ucap Alarik.


Setelah itu Alarik berpamitan dan bergegas pergi.


Selepas kepergian Alarik, Syauqi langsung bisa menangkap wajah kecewa sahabatnya.


"Maafkan Aku Don, tapi aku tidak bisa memaksakan kehendak mereka," ucap Syauqi.


"Iya, aku tahu. Serahkan saja semua keputusan pada Kaysa, biarkan anak itu yang memilih," jawab Dony pasrah.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Sepulang sekolah Kaysa menceritakan tentang jadian dia dan Gio.


Syadev sangat terkejut dan terbengong sampai pemuda tampan itu tidak bisa berkata-kata.


Dan seperti yang sudah diduga, Darren terlihat sangat terluka, bahkan matanya sampai memerah.


"Kaysa, aku ucapkan selamat ya. Semoga kamu bahagia. Aku mau pulang dulu," ucap Darren mencoba tersenyum, kemudian sahabat Kaysa itu langsung pergi.


"Zahra, cepat kejarlah Darren! Jangan biarkan dia seorang diri," perintah Kaysa pada sepupunya.


Zahra langsung berlari dan mengejar Darren.


Syadev masih mematung, tapi kemudian otak cerdasnya bisa segera tahu apa alasan di balik semua ini.


"Jangan bilang kamu hanya main-main untuk membuat Darren move on darimu," tebak Syadev yang sangat akurat.


Belum sempat Kaysa menjawab, Gio sudah ada di belakang Kaysa.


Namun beberapa detik kemudian, ada suara Alarik yang memanggil dari pintu gerbang.


"Kaysa," teriak Alarik sambil melambaikan tangannya.


Dengan reflek Kaysa berlari ke arah Kakak angkatnya dan memeluk pemuda tampan yang sudah dewasa itu dengan erat.

__ADS_1


Teman-teman Kaysa yang lainnya merasa terkejut, apalagi ketampanan Alarik yang menarik banyak perhatian.


Para murid perempuan heboh dan bertanya-tanya tentang seseorang yang barusan dipeluk Kaysa.


"Ayo masuk ke mobil! Aku tidak ingin Kakakku yang tampan ini dilihat teman-teman dengan pandangan seperti itu," cetus Kaysa sambil menarik lengan Alarik dengan manja.


Setelah itu Kaysa dan Alarik pergi meninggalkan sekolahan.


Syadev tersenyum puas, karena bisa dilihat jika Kaysa tidak beneran tertarik pada Gio.


"Kasihan, baru beberapa jam jadian sudah terabaikan," sindir Syadev.


"Tidak apa-apa, karena aku seorang pacar yang pengertian. Masa iya aku tega melarang Kaysa melepaskan rindu pada Kakak sendiri," balas Gio tak mau kalah.


Syadev kesal, tapi Anggun langsung menarik tangan Syadev menuju parkiran.


"Sudahlah abaikan saja! Dari pada nanti kalian bertengkar" bujuk Anggun lembut.


Syadev fokus pada lengannya yang disentuh Anggun.


Kemudian Anggun melepaskan pegangannya dan keduanya menjadi gugup.


"Aku antar kamu pulang, nanti diperjalanan ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" Pinta Syadev.


"Iya," jawab Anggun gugup.


Mereka berdua segera masuk ke mobil dan berlalu pergi juga.


Kini hanya tinggal Gio seorang diri, dari belakang Yuki menepuk bahu kirinya.


"Wah, pacarmu pergi dengan tunangannya," cetus Yuki.


"Siapa bilang? Yang tadi itu Kakak pertama Kaysa," jawab Gio santai.


"Wah, berarti kabar bagus untukku juga. Karena aku punya kesempatan untuk mendekati Kakak Kaysa," sergah Yuki tersenyum senang.


Yuki yang tadinya berniat balas dendam pada Kaysa jadi berubah haluan ingin bersikap baik padanya, karena Alarik jauh lebih tampan dan mempesona dibanding Gio.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Setelah sholat ashar di masjid, Kaysa segera menghampiri Kakaknya yang sudah menunggu di mobil.


Setelah duduk Kaysa hanya senyum-senyum sambil memegangi kedua pipinya.


"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Alarik.


"Berkat Skincare dari Kak Al, wajahku lebih bersinar dan lembut kan? Jadi tidak perlu pakai bedak sudah oke," jawab Kaysa riang.


Alatik hanya tertawa lepas melihat tingkah konyol adiknya itu.


"Kenapa tertawa? Kalau tidak percaya coba sentuh, lembut sekali kan?" kata Kaysa sambil memegang tangan Kakaknya dan menempelkan pada pipinya.


Alarik langsung mencubit pelan wajah adiknya itu.


"Jangan! Nanti kulitku bisa rusak," serga Kaysa.


"Kamu sangat memperhatikan wajahmu, untuk siapa?" gurau Alarik.


"Cantik itu bukan hanya di paras saja, tapi juga di hati," tutur Alarik.


"Aku sudah tahu! Karena Bunda sudah mengatakannya ribuan kali," balas Kaysa.


"Aku belum makan, enaknya ke mana ya? tanya Alarik.


"Ke mana saja, pokoknya yang paling enak dan nyaman," jawab Kaysa antusias kalau soal makanan.


"Baiklah," jawab Alarik sambil menjalankan mobilnya.


Alarik mengajak ke restoran yang berada di pingguran pantai. Di sana menyediakan berbagai macam olahan ikan laut.


"Wuihh, mantap nih!" ucap Kaysa riang.


"Jangan lupa berdoa dulu!" tegur Alarik.


Kaysa yang baru mau memakan langsung tidak jadi dan berdo'a dulu.


Alarik tertawa, karena Kaysa sejak kecil masih belum bisa berubah. Setiap melihat makanan yang lezat sering lupa berdoa.


Setelah makan, Kaysa masih memesan kue dan Ice cream.


"Kamu tidak takut gendut?" tanya Alarik.


"Tidak, karena aku tercipta menjadi mahluk Tuhan paling sexi. Makan yang banyak takkan membuat aku gendut," jawab Kaysa seenaknya.


Lagi-lagi Alarik tertawa, karena tingkah Kaysa yang apa adanya membuat dia selalu terhibur.


Setelah habis semuanya, Alarik segera membayarnya.


"Kak, kita main ke pantai yuk?" ajak Kaysa manja.


"Boleh, tapi kita lepas sepatu dulu taruh di dalam mobil," ucap Alarik.


"Siap," jawab Kaysa bersemangat.


Sesampainya di mobil, kaysa melepas sepatunya.


Alarik juga melepas sepatu dan jasnya, sehingga pemuda itu hanya mengenakan kemeja putih.


Tiba-tiba ponsel Kaysa yang ada di dalam tas berbunyi. Kaysa segera mengambilnya.


"Siapa?" tanya Alarik penasaran.


"Pacar baru," jawab Kaysa becanda.


Namun Alarik menganggap serius dan Setelah iu merebut ponsel Kaysa lalu mematikannya.


"Waktu kita terbatas, ayo segera ke sana! Ada hal penting yang harus Kakak bicarakan," ucap Alarik.


Kaysa yang mudah penasaran itu langsung


menarik tangan Alarik dan berlarian berduaan melawan arus angin, sehingga jilbab Kaysa berkibar-kibar.

__ADS_1


Hari sudah hampir gelap, tapi Kaysa masih riang bermain air di tepi pantai.


"Kaysa, apa kamu mencintai Gio?" tanya Alarik serius.


"Belum, tapi aku sedang berusaha menyukainya," jawab Kaysa.


"Kaysa, jika aku bukan kakak kandungmu. Bagaimana?" tanya Alarik.


"Aku sudah tahu, tapi itu takkan mengubah apapun. Aku akan selalu menyayangi Kakak seperti Kakak kandung sendiri," jawab Kaysa tersenyum manis.


Alarik yang tadinya takut membuat Kaysa terkejut justru kini dirinyalah yang merasa kaget.


"Jadi, selama ini kamu sudah tahu jika aku bukan kakak kandungmu dan kamu hanya menyayangi aku sebatas kakak?" tanya Alarik tersentak kaget, hatinya hancur dan harapannya selama ini hanyalah sia-sia.


"Aku mulai tahunya saat kita di rumah Kak Orlin, saat itu aku hanya pura-pura tidur saja. Jadi aku bisa mendengar semua percakapan kalian. Aku tidak tahu perasaan cinta itu seperti apa, tapi yang aku tahu jika Kak Al sangat cocok dengan Kak Orlin. Kemudian aku memutuskan untuk tetap menjadi adik yang baik," jawab Kaysa tenang dan tersenyum riang tanpa beban.


Alarik kesal karena Kaysa sudah salah paham, apalagi ucapan Kaysa dengan wajah yang riang seolah tanpa beban itu.


"Aku tidak menyukai Orlin, selama ini yang aku cintai adalah kamu, Kaysa," ucap Alarik serius menatap lekat wajah Kaysa.


Kaysa yang tadinya ceria berubah menjadi serius.


"Katakan sekali lagi!" perintah Kaysa.


"Aku mencintaimu," ucap Alarik mesra.


Kaysa yang perawakannya tinggi semampai dengan mudah bisa merangkul leher Alarik dan dengan nakalnya mencium bibir Kakak angkatnya itu.


Alarik sangat terkejut dengan perlakuan adiknya yang sembrono itu.


"Setelah ini aku tidak akan bisa bertemu denganmu untuk waktu yang lama. Biarlah ini menjadi kenangan terindah." batin Alarik.


Tanpa sungkan-sungkan lagi, Alarik langsung membalas ciuman Kaysa dengan gemas dan penuh perasaan.


Kaysa semakin mempererat pelukannya dan semakin ganas ciumannya.


Dengan sabar Alarik meladeni keagresifan Kaysa.


Setelah cukup lama mereka berciuman, Kaysa melepas rangkulannya dan tersenyum nakal.


"Kurasa aku mencintai Kak Al deh," cetus Kaysa.


Alarik langsung menjitak kepala Kaysa.


Takk..


"Auh... sakit!" pekik Kaysa.


"Gadis nakal, bagaimana bisa kamu lihai berciuman seperti itu?" ucap Alarik kesal.


"Aku lihat di drama Korea," jawab Kaysa tertawa.


"Oh, jadi aku dijadikan sebagai eksperimen?" tanya Alarik lagi.


"Tapi Kak Al menyukainya kan? Buktinya tadi membalas ciumanku," sergah Kaysa.


Alarik langsung membelai lembut kepala Kaysa dengan penuh perasaan.


"Setelah ini tidak boleh lagi ya? Kamu juga harus segera memutuskan Gio! Karena kelak di saat kamu sudah dewasa Kak Al akan menikahimu," ucap Alarik.


"Janji?" kata Kaysa.


"Iya, Janji. Ingat baik-baik! Meskipun setelah ini kita tidak bisa saling bertemu lagi sampai kamu lulus SMA tapi di hatiku hanya ada kamu dan aku akan selalu menantimu," kata Alarik serius.


"Kenapa tidak bisa bertemu?" tanya Kaysa dengan wajah cemberut.


"Itu merupakan perjanjian antara Kak Al dengan Ayah dan Bunda," jawab Alarik.


"Memangnya kenapa kalau kita bertemu? Aku yakin Kak Al tidak akan macam-macam padaku," rengek Kaysa manja.


"Memang, tapi justru kamu yang nanti macam-macam padaku," jawab Alarik tertawa.


"Apa Kak Al tidak merindukanku? dua tahun lebih dan itu lama loh," ucap Kaysa kesal.


"Tidak apa-apa, setiap hari kita bisa video call. Semua ini juga demi kebaikan kita," bujuk Kaysa.


"Bagaimana kalau kita kawin lari saja?" celetuk Kaysa tertawa lepas.


Alarik langsung menjitak kepala Kaysa lagi.


"Kamu ini masih di bawah umur, jangan bilang kalau kata-katamu itu dari nonton drama," kata Alarik gemas.


"Memang Iya, sepertinya kawin lari itu asyik. Bisa berduaan dan berpetualang keliling dunia," jawab Kaysa enteng.


"Kenyataan tidak semudah di drama, kamu harus sabae dulu ya?" pinta Alarik.


"Iya, tapi ada satu syarat," ucap Kaysa tersenyum lebar.


"Apa?" tanya Alarik serius.


"Cium aku sekali lagi!" jawab Kaysa tertawa.


"Tidak!" tolak Alarik tegas.


"Ya sudah! Aku tidak akan memutuskan Kak Gio," ucap Kaysa berlalu pergi.


Alarik langsung menarik tangan Kaysa dan mencium bibir lembutnya yang terasa manis itu.


Sesungguhnya Alarik ingin setiap saat bisa memeluk Kaysa, tapi dia sadar jika mereka belum halal.


Apa yang dikatakan Ayah dan Bundanya memang benar. Ketika dua orang yang saling mencintai bersama, maka akan timbul hasrat dan nafsu yang kuat. Apalagi wajah dan bentuk tubuh Kaysa yang indah menggoda juga tingkahnya yang menggemaskan akan sulit bagi dirinya untuk menahan diri.


"Kaysa, aku tahu sifatmu masih belum matang. Kamu masih suka bertindak nakal dan sebarangan. Mungkin aku hanya bisa melindungimu dari kejauhan, supaya setelah ini kita terhindar dari dosa."


"Kak Al..." panggil Kaysa manja.


"Iya?" tanya Alarik lembut.


"Bagaimana dengan Kak Orlin?"tanya Kaysa cemas.


****Terima kasih yang sudah Like dan Vote karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Bagi yang belum jangan lupa ya🤗**


__ADS_2