CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 13


__ADS_3

Satu Minggu kemudian


Malam ini adalah hari yang sangat di nantikan Kaysa, karena Kakak pertamanya akan pulang.


Namun sampai jam sepuluh seseorang yang dinantikannya tidak kunjung datang.


"Kata Ayah Kak Alarik akan pulang setiap malam Minggu?" rengek Kaysa pada Syauqi.


"Sudah kamu hubungi belum?" tanya Syauqi.


"Sudah, tapi dari tadi nomornya tidak aktif," jawab Kaysa merengut.


"Mungkin besok pagi, karena kakakmu sangat sibuk di sana," timpal Zhia.


"Sudah malam, sebaiknya kamu tidur! Syadev dan Flora saja sudah tidur dari tadi," bujuk Syauqi lembut.


"Iya, selamat malam Ayah, Bunda," ucap Kaysa sambil memeluk kedua orang tuanya.


Kaysa memang gadis manja, dia masih sering bergelayut pada kedua orang tuanya. Berbeda dengan Syadev yang selalu bersikap dewasa.


Kaysa segera masuk ke dalam kamar. Namun hatinya masih merasa tidak tenang.


"Kenapa sih Kak Alarik dari tadi sore nggak bisa dihubungi?" batin Kaysa kesal sekaligus gelisah.


Satu jam berlalu, mata Kaysa masih belum bisa terpejam.


"Aku lapar, tapi pengennya makan buah yang segar-segar. Sebaiknya aku ke dapur sendiri saja, kasian kalau malam-malam begini nelpon pelayan," gumam Kaysa.


Kaysa turun ke lantai pertama. Kemudian dia menuju dapur dan melihat isi kulkas yang masih full.


Kaysa mengambil satu buah Apel dan satu bungkus anggur. Tiba-tiba telinganya mendengar bunyi mobil yang baru masuk ke pekarangan rumah.


Kaysa meletakkan buah-buahannya di meja, lalu dia segera bersembunyi di balik pintu belakang yang dekat dengan dapur berniat mengagetkan Kakaknya.


Namun siapa sangka, karena Kaysa yang sedang mengintip lewat celah lubang kunci justru tubuhnya rubuh kebelakang karena terdorong pintu yang terbuka dari luar.


Bruakk...


"Aduhh..." pekik Kaysa meringis kesakitan. Karena hidungnya terbentur pintu dan kepalanya terbentur tembok.


"Ya ampun, Kaysa! Kenapa kamu malam-malam di sini," kata Alarik yang juga kaget melihat adiknya sudah terduduk di lantai.


"Hidungku, kepalaku," rengek Kaysa menangis.


Alarik jongkok dan memeriksa hidung adiknya yang memerah, hati pemuda tersebut mulai berdebar-debar karena jarak wajah mereka yang sangat dekat.


"Gendong aku sampai atas!" rengek Kaysa.


"Tapi kamu berjalan tidak pakai hidung dan kepala kan?" tolak Alarik secara halus.


"Luka lamaku jadi kambuh ini," jawab Kaysa manja.


Alarik tahu jika Kaysa hanya menarik perhatiannya karena sudah hampir seminggu ini di abaikan.


Alarik menyerah, pemuda tampan itu tidak pernah bisa tahan melihat wajah Kaysa yang memelas itu.


"Baiklah," jawab Alarik mengalah.


"Tunggu! Ambilkan aku buah di atas meja itu!" perintah Kaysa seperti Nyonya pada pembantunya.


Alarik hanya tersenyum kesal karena malam-malam sudah dikerjai adiknya yang nakal.


"Aku mau gendong di belakang," pinta Kaysa manja.


"Iya," jawab Alarik dewasa dan lembut.


pemuda itu tahu jika hanya dikerjai, tapi lagi dan lagi hatinya tidak pernah bisa berkata tidak.


Alarik mulai berjongkok, lalu Kaysa dengan riang naik ke punggung kakaknya.


Alarik bisa merasakan sesuatu benda padat dan kenyal yang menempel pada punggungnya. Tubuh pemuda yang tampan itu langsung berkeringat dingin.


"Apakah gadis nakal ini tidak merasakan sesuatu? Sial, aku sendiri merasa sangat tersiksa," batin Alarik.


"Setelah ini akan aku buat jika adikmu lebih berharga dari segalanya," batin Kaysa yang polos.


"Kak, turunin aku di sofa!" perintah Kaysa.


"Iya, jawab Alarik lembut.

__ADS_1


"Kak, aku tidak bisa tidur. Malam ini temani aku di sini ya!" pinta Kaysa manja.


Alarik sebenarnya sangat lelah dan mengantuk, tapi kepalanya reflek mengangguk.


"Kak, kenapa ponsel kamu tidak aktif?" tanya Kaysa sambil menggigit buah apel di tangannya.


"Kakak lupa ngecas," jawab Alarik sambil duduk bersandar di samping Kaysa.


"Kok pulangnya malam-malam?" tanya Kaysa penasaran.


"Tadi ban mobil Kakak bocor di tengah jalan, jadi Kakak terpaksa mencari bantuan karena jarak bengkelnya jauh," ucap Alarik sambil memejamkan matanya.


"Kak Alarik sibuk sekali ya? Kenapa satu Minggu ini nggak pernah telepon? Aku telepon juga nggak di angkat?" tanya Kaysa kesal.


"Maaf ya, Kak Alarik memang sedang sibuk," jawab Alarik sambil memejamkan matanya.


Kaysa yang sangat merindukan Kakaknya langsung memeluk Alarik erat seperti saat dia yang bermanja-manja pada Ayahnya.


"Aku merindukanmu, Kak Al," bisik Kaysa.


Alarik tahu jika itu hanyalah pelukan seorang Adik yang merindukan Kakaknya. Namun hatinya yang dalam menganggap jika Kaysa adalah seorang wanita.


"Gadis ini selalu saja bersikap sembrono, hasratku jadi tidak terkendali. Ya Alloh, sampai kapan aku harus berbohong padanya? Jika seperti ini terus menerus juga tidak baik," batin Alarik.


"Kak Al..." panggil Kaysa dengan nada lirih, tubuhnya masih menempel pada dada Alarik.


"Ya..." jawab Alarik gugup.


"Kalau Kak Alarik sudah menikah nanti apa akan tetap menyayangi aku seperti ini?" tanya Kaysa lirih.


"Apa maksudmu?" ucap Alarik balik bertanya.


Kaysa melepaskan pelukannya dan menatap lekat ke wajah tampan kakaknya itu.


"Biasanya seorang kakak yang sudah menikah, kasih sayangnya pada adiknya akan berkurang. Bahkan mengabaikan," ucap Kaysa cemberut.


Alarik fokus pada bibir Manyun Kaysa, wajah adiknya itu selalu cantik dalam semua ekspresi.


Alarik gemas, dia menjitak kepala adiknya dengan jari.


Takk...


"Bodoh, mana mungkin aku berhenti menyayangimu. Dengar baik-baik, Kak Al akan selalu menyayangimu!" kata Alarik serius.


Kaysa tersenyum puas, karena gadis itu selalu ingin di sayang dan mendapat perhatian dari keluarganya.


Tiba-tiba ponsel Kaysa berdering, dia segera mengambilnya di saku.


"Siapa malam-malam begini menelpon?" tanya Alarik curiga.


"Biasa, Darren," jawab Kaysa santai.


Alarik kesal sekali, baru saja adiknya meminta perhatian darinya. Kini sudah berpaling pada Darren.


"Ada apa, Darren?" tanya Kaysa lewat telepon.


"Aku sedang di rumah nenek di luar kota, sekarang lagi mau pulang ke rumah. Kamu mau aku bawakan oleh-oleh apa?" tanya Darren terdengar riang.


Alarik yang duduk di sebelah Kaysa bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Aku mau sesuatu yang belum pernah kamu berikan, jangan kue lagi, kemarin kamu sudah membelikan untukku," jawab Kaysa antusias.


"Baiklah, kamu segera tidur ya! Sampai jumpa di sekolah," ucap Darren riang.


"Besok hari Minggu!" sergah Kaysa.


"Oh iya, aku sampai lupa. Kalau begitu besok pagi sekali aku langsung ke rumah kamu ya!" ucap Darren.


"Sip, terima kasih," jawab Kaysa senang.


Kemudian Kaysa mematikan ponselnya.


"Sepertinya Darren menyukaimu," cetus Alarik.


"Mana mungkin, dia itu sudah seperti Syadev dan Zahra. Dari kecil kita berempat tumbuh bersama, jadi wajar kalau kita saling menyayangi," jawab Kaysa tertawa lirih.


"Seandainya suatu saat nanti Darren bilang mencintaimu, apakah kamu akan menerimanya?" tanya Alarik penasaran.


"Aku masih kecil, Kak. Mana Mungkin Ayah dan Bunda mengizinkan aku pacaran. Lagi pula aku hanya fokus untuk belajar supaya bisa mengalahkan Syadev yang songong itu," jawab Kaysa penuh ambisi.

__ADS_1


"Itu bagus, jangan pernah berpikir untuk menyukai cowok lain!" perintah Alarik tertawa senang.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Kaysa penasaran.


"Mencintai itu adalah perasaan yang rumit. Kakak tidak ingin kamu merasa kecewa dan keceriaan kamu lenyap," tutur Alarik.


"Tenang, Kak. Karena semua cowok di sekolah belum ada yang bisa menarik perhatianku. Mungkin setelah aku masuk ke Universitas luar negeri, aku akan menemui pangeran tampan," jawab Kaysa asal-asalan.


Alarik merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya, perasaan nyeri dan perih.


"Kaysa gadis yang cantik, jika dia dewasa akan semakin mempesona. Apa kelak aku bisa menerima jika dia menemukan pangeran impiannya setelah masuk Universitas? Karena selama ini dia menyayangiku sebagai Kakak," batin Alarik pilu.


"Sudah larut malam, kita sebaiknya tidur yuk," ucap Kaysa berlalu pergi.


Alarik hanya menatap punggung adiknya yang baru saja melewati rumah.


"Gadis tidak berperasaan! Tadi memaksa minta ditemani, sekarang tanpa rasa bersalah pergi begitu saja," batin Alarik kesal.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Esok harinya


Keluarga Syauqi Malik baru saja pulang dari jalan-jalan pagi, di depan rumah mereka sudah ada Daren yang baru turun dari mobil dengan membawa dua plastik besar.


"Wih, pagi-pagi sudah ke sini. Ada apa?" tanya Syauqi.


"Ini mengantarkan oleh-oleh, Om Syaqi," jawab Darren sopan.


"Terima kasih ya, ayo masuk dulu!" jawab Syauqi tersenyum senang.


"Semalam sampai rumah jam berapa?" tanya Kaysa.


"Jam dua malam," jawab Darren.


Syadev hanya menepuk pelan bahu kiri Darren, kemudian saudara kembar Kaysa itu langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Darren sudah mengenal Syadev yang jarang bicara sejak kecil, jadi pemuda itu lebih dekat dengan Kaysa.


Sedangkan Alarik hanya tersenyum simpul melihat kedatangan Darren, meskipun ada perasaan sedikit cemburu dia tetap bersikap dewasa.


"Om Syauqi, mumpung hari libur boleh tidak saya mengajak Kaysa dan Darren keluar?" pinta Darren sopan.


"Maaf, Darren. Tapi hari ini kita semua mau ke rumah Orlin. Bagaimana kalau kamu ikut sekalian?" kata Syauqi ramah.


"Benarkah? Iya saya mau," jawab Darren senang.


"Kalau begitu aku mandi dulu ya!" timpal Kaysa berlalu pergi.


Syauqi, Zhia dan Flora juga naik ke lantai dua menuju kamar masing-masing untuk mandi.


Kini di ruang tamu hanya ada Darren dan Alarik.


"Kamu sangat perhatian, apa kamu menyukai Kaysa?" tanya Alarik bersikap biasa.


"Apa Kak Al mengizinkan jika aku menyukainya?" ucap Darren malu-malu.


"Kalian masih kecil, untuk saat ini sebaiknya fokus belajar dulu!" tutur Alarik.


"Iya, Kak. Aku juga akan menunggu kita dewasa dulu baru mengungkapkan perasaanku," jawab Darren.


Alarik sadar, jika setiap orang punya hak untuk mencintai siapapun. Termasuk Kaysa sendiri yang bisa saja mendapat cinta dari banyak orang. Apalagi Alarik adalah Kakaknya, sangat sulit untuk bisa mendapatkan adiknya sendiri.


"Terkadang aku ingin menyerah karena aku adalah Kakaknya, tapi di sisi lain hati ini tidak sanggup merelakan dia dimiliki orang lain," batin Alarik yang merasa bimbang.


Lima belas menit kemudian Kaysa turun dari tangga, seperti seorang bidadari yang turun dari khayangan. Kecantikan gadis remaja itu membuat Alarik dan Darren sampai tidak berkedip.


"Loh! Kenapa Kak Al belum siap-siap?" tegur Kaysa.


"Tenang, aku tidak butuh dandan selama kamu!" ejek Alarik sambil berdiri dari sofa.


Sedangkan Darren masih seperti orang yang terhipnotis tak sadarkan diri.


"Darren! Kenapa kamu bengong? Aku tahu aku ini memang cantik," kata Kaysa membanggakan diri sendiri.


Darren segera sadar dan menjadi salah tingkah.


**Jangan lupa Like dan Vote yaπŸ™ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi AuthorπŸ€—


I Love you all🌷**

__ADS_1


__ADS_2