CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 87


__ADS_3

Di Amerika seorang diri membuat Darren merasa sangat kesepian, apalagi saat mendengar jika sahabatnya ingin mengadakan pesta resepsi pernikahan membuat Darren cepat-cepat pulang.


Namun alasan yang membuat dia semakin ingin pulang karena Darren ingin bertemu kekasihnya, dia sangat merindukan Zahra sebab sudah berbulan-bulan tidak bertemu.


"Mama… aku ingin pulang," rengek Darren lewat video Call.


"Kalau mau pulang ya tinggal pulang saja!" jawab Nindya senang.


"Tapi..." ucap Darren ragu-ragu.


"Tapi apa?" tanya Nindya.


"Eh, tidak apa-apa. Ya sudah aku matikan dulu teleponnya ya, Ma," ucap Darren seketika.


Darren takut ketinggian, dia juga takut pulang sendirian.


Di saat yang tepat tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari Inge.


Inge


Darren, apa kamu mau pulang ke Indonesia?


Darren


Iya, ada apa?


Inge


Kita barengan ya? Aku juga dapat undangan dari keluarga keluarga Om Syauqi


Darren


Boleh deh


Mau tidak mau Darren menyetujuinya, biarpun dia tidak senang tapi juga lega mendapatkan teman di sepanjang perjalanannya nanti.


Hari yang sudah dijanjikan tiba, Darren dan Inge bertemu di Bandara.


Sudah lama Darren tidak melihat gadis yang sudah merebut ciuman pertamanya itu.


"Darren, kamu terlihat semakin dewasa ya?" tanya Inge.


"Dari pertama kali kita bertemu aku memang sudah dewasa," jawab Darren.


"Tidak, waktu itu kamu seperti anak kecil yang selalu menempel pada Syadev," sindir Inge.


"Itu karena aku setia kawan, semenjak SD kami memang selalu bersama," balas Darren tidak terima.


Sebenarnya Syadev tidak tahan berada di sisi Inge yang mengeluarkan aura bahaya, tapi karena terpaksa Darren mencoba bertahan. Tidak mungkin baginya meminta Mama atau Papanya untuk menjemputnya. Bisa-bisa dia akan menjadi bahan tertawaan.


Dalam perjalanan Darren mencoba tiduran agar tidak merasa pusing dan mual, dengan membayangkan wajah senyuman Zahra Darren merasa sedikit tenang. Yah, sebentar lagi dia akan bertemu dengan kekasihnya.


Sedangkan Inge terus-terusan cerita panjang lebar yang Darren sendiri malas untuk mendengarkannya. Tapi diam-diam Darren tertawa, dia membayangkan bagaimana reaksi Inge jika dirinya itu sedari tadi hanya diabaikan.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Reki sudah baikan, nanti sore dirinya diperbolehkan untuk pulang. Namun sejujurnya Reki merasa lebih suka berada di rumah sakit, sebab dengan begitu setiap hari Orlin akan menghampirinya dan membawakan dirinya makanan yang enak.


Reki tidak mengerti kenapa setiap detik selalu kepikiran Orlin, padahal jika dibilang mereka dekat juga baru-baru ini. Namun sosok Orlin seperti sesuatu yang lama hilang dan kembali lagi.


Tiba-tiba seseorang yang berada dalam angannya muncul dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum," sapa Orlin.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam salam," jawab Reki.


"Kenapa melamun? Bukankah seharusnya senang jika diizinkan keluar dari rumah sakit?" tanya Orlin heran.


"Entahlah... Aku sudah tidak punya rumah untuk kembali," jawab Reki hampa.


"Kamu masih punya Papamu, Mamamu dan juga saudaramu," hibur Orlin lembut.


"Tapi Papa sudah bukan milikku lagi, dia pasti lebih menyayangi putra satunya yang selalu berprestasi dan tidak pembuat masalah sepertiku," ucap Reki jujur.


"Kamu salah! Cinta orang tua pada anaknya itu tiada batasnya, berbeda dengan cinta seorang kekasih jika dihianati langsung bisa berpaling dari yang lain," sergah Orlin.


" Oh iya, tadi aku mendapatkan surat undangan dari Keluarga Syauqi. Saudara kembar Kaysa katanya mau menikah, aku sebenarnya ingin datang ke sana sebagai perwujudan menghormati Alarik. Namun aku malu, aku malu pada semua orang," ujar Reki menundukkan pandangannya.


Seketika Orlin tersenyum cerah, gadis cantik itu bahagia jika Orlin.Reki punya pikiran untuk berubah.


"Kamu tidak perlu khawatir, kan masih ada aku," hibur


"Benarkah? Apa kamu tidak ada janji Dnegan orang lain?" tanya Reki memastikan.


"Tidak, besok kita bisa pergi bersama," jawab Orlin riang.


Reki tersenyum, dengan senyuman kebahagiaan yang suudah lama tidak dirasakannya.


Seketika senyuman Reki sekilas mirip Alarik. Orlin mengerjap, dia tidak ingin menjadikan Reki sebagai pengganti. Namun menganggap Reki adalah Reki.


"Kalau begitu bagaimana jika sekarang kita pergi mencari baju dulu? Pesta Om Syauqi Malik pasti mewah sekali, apalagi yang merancang Kaysa," ajak Orlin.


"Sebentar," ucap Reki mengambil ponselnya untuk mengecek isi saldo dalam kartu ATM nya.


Reki terkejut jika uang di sana tidak diblokir oleh Alarik, bahkan saudaranya itu menambah setiap bulannya dengan jumlah yang banyak.


"Kenapa?" tanya Orlin penasaran.


"Tidak, aku sudah lama tidak membuka ponsel. Ternyata tidak ada satupun pacarku yang menanyakan kabarku," jawab Reki tertawa.


"Tapi kira-kira aku boleh keluar sekarang apa tidak ya?" tanya Reki ragu.


"Pasti boleh," jawab Orlin yakin.


Mereka berdua segera minta izin, dan Dokter itu dengan senang hati mengizinkan. Karena sebenarnya penyakit Reki itu karena depresi. Namun semenjak kedatangan Kaysa dan Orlin membuat suasana dan nafsu makan Reki membaik dengan cepat.


Biaya administrasi ternyata juga sudah dilunasi oleh Papanya Reki, ternyata orangan tuanya itu setiap hari selalu menjenguk Reki di saat dirinya sudah tertidur. Reki juga baru tahu karena suster yang bilang.


"Tuh kan, sebenarnya Papa kamu itu sayang padamu. Dan Mamanya Gio juga tulus menyayangi kamu seperti anak kandung sendiri. Reki, aku sarankan bukalah lembaran baru! Lapangkan hatimu dan terima keluarga baru kamu. Pasti kamu akan lebih bahagia. Setelah kita belanja bagaimana kalau kita juga membesuk mama kamu yang berada di sel penjara?" bujuk Orlin.


"Baiklah," jawab Reki tersenyum.


Reki merasa sangat bahagia mengenal perempuan seperti Orlin. Disetiap musibah ada hikmah, bagi Reki Orlin adalah hikmah terbesar baginya.


"Orlin, terima kasih karena kamu sudah mau menjadi temanku," ucap Reki.


"Iya, sama-sama," jawab Orlin.


Selama mengenal Reki Orlin menyadari jika pemuda itu sebenarnya baik, hanya saja Mamanya yang terlalu memanjakan sehingga membuat Reki salah pergaulan.


"Orlin, bisakah kamu mengantar aku pulang sebentar? Aku ingin ganti baju dulu. Pergi dengan perempuan secantik kamu aku juga harus memantapkan diri, jika tidak nanti aku dikira pembantu kamu," canda Reki.


"Baiklah... Ayo kita ke sana," jawab Orlin.


Orlin hari ini memang ditugaskan oleh Alarik untuk membujuk Reki agar mau menghadiri pesta pernikahan Syadev. Walaupun karena sebuah tugas tapi Orlin juga dengan senang hati melakukannya.


Sesampainya di rumah ternyata keadaan masih seperti dulu, bahkan mobil mewah Reki juga masih berada di sana.

__ADS_1


Ternyata Alarik tidak menyita semua barang-barang Alarik, membuat Alarik semakin merasa bersalah dan ingin meminta maaf secara langsung.


"Bik, apa Papa sering pulang?" tanya Reki pada pembantunya.


"Seminggu sekali, tapi beliau selalu berpesan untuk menjaga barang-barang Anda dengan baik," jawab Pembantu Reki ketakutan. Karena dulu Reki selalu kasar.


"Bik, tolong buatkan minum untuk temanku," pinta Reki sopan.


Pembantu tersebut terkejut, untuk waktu yang lama bekerja di sana baru kali ini tuan mudanya itu bilang tolong.


Orlin segera duduk di sofa, gadis itu melihat ke seluruh ruangan. Dia tahu jika gaya mewah ini pasti seleranya Mamanya Reki.


Reki sendiri segera menuju kamarnya yang sudah lama tidak ditinggalinya, dan kamarnya juga masih sama seperti dulu. Duku dia selalu malas berdiam diri di kamar, karena Mamanya yang suka hura-hura dan Papanya yang sering ke luar kota membuat Reki kesepian. Dia menghabiskan waktu di luar dan bergaul dengan kawan yang membuat dunianya happy.


Namun Reki ini tahu arti kebahagiaan itu bagaimana, yaitu ketika bisa mengenal perempuan yang tulus seperti Orlin.


Reki segera mengambil pakaian yang bagus, dan dia tak lupa mencukur bulu-bulu jenggot yang mulai tumbuh.


Kini penampilan Reki terlihat lebih segar dan tampan lagi.


Reki Tidka ingin membuat Orlin menunggu lama, dia segera keluar dan menghampiri gadis itu.


"Ayo," ajak Reki yang sudah siap.


Seketika Orlin terkejut karena penampilan Reki berubah, tidak sama seperti hari-hari di rumah sakit yang berantakan layaknya orang tidak terurus.


"Ayo," jawab Orlin ceria.


Mereka berdua segera menuju ke tahanan terlebih dahulu, di sana Reki langsung memerah matanya saat melihat mamanya sudah berubah total.


Duku Mamanya Reki selalu glamour dan ber-make up tebal, ditubuhnya juga banyak perhiasan dari berlian. Kini Mamanya tersebut berpakaian narapidana dan polos tanpa make up, membuat mamanya itu terlihat tua.


"Ma…" rintih Reki sambil memeluk Mamanya.


"Nak, kamu sudah sembuh? Mama senang sekali," ucap Namnya Reki bahagia.


"Ma, apakah Papa masih datang menjengukku?" tanya Reki.


"Tidak pernah, tapi istri dan putranya yang datang ke sini sambil memberikan Mama makanan. Dia bilang sedih karena kamu tidak bisa menerima mereka. Nak, mereka orang baik, anggaplah mereka sebagai keluargamu sendiri. Mama sekarang sudah sadar kenapa Papa lebih nyaman bersamanya dari pada bersama Mama, itu karena kelakuan Mama yang buruk dan tidak pernah memikirkan keluarga. Maafkan Mama ya, Nak. Semoga setelah kejadian ini kamu bisa berubah lebih baik lagi," tutur Mamanya Reki yang sudah berubah.


"Iya, Ma," jawab Reki.


Kemudian Mamanya itu menatap Orlin.


Seketika senyum diwajahnya mengembang karena bahagia ada perempuan baik di samping Putranya.


"Nama kamu siapa?" tanya Mamanya Reki.


"Saya Orlin," jawab Orlin sopan.


"Terima kasih sudah mau menemani datang ke sini, Tante titip Reki ya? Dia selama ini tidak punya teman yang tulus," pinta Mamanya Reki serius.


"Iya, Tante," jawab Orlin tersenyum manis.


Karena waktu untuk membesuk dibatasi, Reki segera berpamitan. Sebelum itu Manya Reki berbisik padanya.


"Nak, jika memilih istri yang seperti Orlin. Mama akan sangat tenang dan bahagia."


Reki langsung memerah wajahnya, untuk saja yang barusan dibicarakan tadi tidak mendengar karena gadis itu tengah melihat-lihat bagian ruaangan yang lain.


"Ma, Reki pamit dulu."


"Iya, Nak. Bukalah lembaran yang baru, dan belajarlah hidup mandiri!"

__ADS_1


"Iya, Ma," sekali lagi Reki memeluk Mamanya tersebut, setelah itu Reki keluar dari penjara dengan perasaan lega.


Jangan lupa Like dan Vote ya🤗


__ADS_2