
Sarah dan Fayyola terkejut juga, sebab tiba - tiba Deby juga menyusul.
"Wih, Kak Deby. Aku seneng kakak bisa sekolah di sini," pekik Fayyola.
"Iya, aku juga turut bahagia. Akhirnya kamu jadi muslim," timpal Sarah mencoba tersenyum.
"Baru status saja, karena aku masih belum tahu apa - apa," jawab Deby malu - malu.
"Tenang, soal itu nanti biar Kak Sarah yang mengajari dari nol. Mulai rukun Islam dan lain - lain," sela Fayyola.
"Benarkah?" pekik Deby senang.
"Iya, aku penasaran bagaimana proses kamu bisa sampai berubah pikiran dan mantap berpindah keyakinan?" tanya Sarah.
Fayyola dan Jamila juga menatap Deby dengan serius sebab sangat penasaran.
"Karena seseorang, dia memberi aku semangat. Bahkan semalam dia datang ke rumah aku dan membuat aku yakin untuk masuk ke Andromeda. Paginya aku ke rumah Sagara, tapi kalian sudah berangkat duluan. Terus tante Anggun yang tahu niatku untuk masuk Islam langsung membawa aku ke masjid yang sering dikunjungi untuk pengajian. Di sana saat aku mengucapkan Syahadat semua orang yang menyaksikan sampai menangis penuh haru. Kemudian Tante Anggun mengajak aku belanja, dia memberi aku hadiah Hadiah, gamis dan seperangkat alat sholat. Tante Anggun baik banget menganggap aku seperti anak sendiri," jelas Deby panjang lebar.
Fayyola dan Jamila juga ikut terharu dengan kisah Deby, sedangkan Sarah justru salah paham. Mengira jika pemuda yang semalam mengunjungi Deby adalah Sagara.
"Sudah jelas hubungan Sagara dan Deby, aku masih saja merasa bersedih karena perasaan yang bertepuk sebelah tangan. pantas saja tadi Sagara telat bangun dan terlihat masih mengantuk," batin Sarah pilu dan tanpa sadar menangis.
"Wih, mendengar kisah Kak Deby yang mengharukan kita sampai mau menangis," sela Fayyola.
"Tuh, Sarah malah sudah menangis," timpal Jamila.
"Deby, selamat ya. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu ini," ucap Sarah menguatkan diri untuk tersenyum.
"Iya, aku minta bimbingan dari kalian semua ya. Eh, aku bisa bertemu dengan Arka, Saga dan Yudis nggak?"
"Eh, kakak tidak boleh sembarangan ya mulai sekarang. Di sini peraturannya ketat," sergah Fayyola.
"Deby, nanti aku kasih tahu peraturan di sini. Setelah itu menyiapkan diri untuk tes. Kalau lulus seminggu lagi kita bisa masuk sekolah. Kamu mau lewat jalur mana?" tanya Jamila.
"Bakat aku seperti Sagara, walaupun tidak sehebat dia sih," jawab Deby.
"Wih, nanti bisa satu kelas dong," Pekik Jamila.
"Iya, kalau kamu apa?" tanya Deby.
"Aku olah raga, kalau lolos nanti bisa satu kelas dengan Arka," jawab Jamila.
"Wah, kamu memang memiliki fisik kuat. Aku juga ada pikiran ke olah raga saja deh, biar kita satu kelas," sela Deby karena semangat ada Arka.
__ADS_1
"Ayo kita kembali ke kamar beresin barang - barang kamu! Setelah itu kita bisa bahas lagi soal tes itu," ajak Jamila semangat.
"Siap deh, " balas Deby.
"Kami kembali ke kamar kami ya," pamit Jamila.
"Iya, selamat berjuang," jawab Fayyola.
Sarah hanya tersenyum pahit, ingin melupakan tapi terasa sulit. Apalagi kini ada Deby, tentu saja hal itu membuatnya semakin tertekan.
"Harusnya aku bahagia melihat temanku yang mau berubah, tapi disisi lain aku juga sakit melihat dia setiap saat. Aku sungguh jahat dan memiliki hati yang kotor," batin Sarah menangis pilu.
"Loh, kakak kenapa menangis?" tanya Fayyola cemas.
"Aku tiba - tiba merindukan orang tuaku," jawab Sarah.
"Iya ya, sudah lama Kak Sarah tidak berjumpa. Tidak terbayang bagaimana perasaan Kak Deby yang tidak punya siapa - siapa," balas Fayyola.
Sarah terkejut, dia baru ingat jika Deby sebatang kara. Hatinya terus beristigfar memohon ampun sebab sudah iri pada seseorang yang memiliki ujian hidup lebih berat.
Walaupun mencoba sabar, tapi karena terlalu banyak pikiran akhirnya Sarah jatuh sakit. Saat di periksa oleh dokter ternyata Sarah sakit tipes dan harus dirawat di rumah sakit sampai sembuh.
Satu hari setelah di rumah sakit, kedua orang tuanya mengunjungi.
"Oh, kamu cepatlah sembuh, Nak," jawab Uminya Sarah cemas.
"Kalian kok bisa di sini, siapa yang bilang?" tanya Sarah penasaran.
"Beberapa hari yang kalau Abi dapat email dari Asrama, katanya kami harus segera ke sini karena ada hal penting. Kami tidak menyangka jika kamu ternyata masuk rumah sakit," timpal Abi.
Sarah heran, sebab dari pihak Asrama biasanya akan bertindak jika murid yang meminta. Sedangkan Sarah sangat ingat jika dia tidak bilang apapun.
"Pasti Fayyola , karena waktu itu aku bilang rindu pada orang tuaku dan sorenya aku jatuh sakit," batin Sarah yakin.
Semenjak kedatangan orang tuanya untuk sejenak Sarah bisa melupakan segala kesedihan. Karena bagaimanapun juga Abi dan Uminya merupakan sumber kebahagiaan dalam hidup Sarah.
"Nak, kamu kenal sama pemuda yang bernama Arkananta? Cucu dari pemilik Andromeda?" tanya Uminya Sarah lembut.
"Iya, tahu," jawab Sarah jujur.
"Bagaimana orangnya? Apakah tampan?"
"Iya, sangat tampan dan memiliki banyak bakat," jawab Sarah jujur.
__ADS_1
"Oalah, begitu," balas Uminya Sarah tersenyum senang.
"Ada apa?" tanya Sarah penasaran.
"Tidak apa - apa, sebaiknya saat ini kamu fokus menyelesaikan hafalanmu dulu."
"Umi dan Abi kapan balik ke Mesir?" tanya Sarah lagi.
"Sekitar empat hari, kamu tidak apa - apa kan?" balas Ibunya Sarah cemas.
"Iya, dengan Abi dan Umi ke sini berkunjung saja Sarah sudah senang. Sarah tahu kalian pasti sangat sibuk di sana," balas Sarah pengertian.
Tepat hari ke empat, Sarah sudah mulai baikan meskipun masih lemas. Dia tidak memilih kembali ke asrama dari pada berdiam diri di rumah sakit.
Dan yang tidak terduga adalah dia dijemput oleh orang tua Arkananta, Yaitu Kaysa dan Alarik.
Sarah sendiri merasa heran, dia bahkan tidak tahu kalau orang tuanya bisa kenal dengan orang tua sepupunya Sagara.
Sesampainya di Asrama langsung tersebar jika Sarah dan Arkananta dijodohkan, bahkan ada yang bilang sampai calon mertua sendiri yang menjemput Sarah dari rumah sakit.
"Nak, kamu jaga kesehatan ya. Ini Tante sudah bawakan vitamin penjaga daya tahan tubuh, jangan terlalu banyak begadang itu tidak baik," saran Kaysa.
"Iya, terima kasih banyak, Tante Kaysa. Dan maaf sudah merepotkan," balas Sarah masih sungkan.
"Oh iya, ini ada buat Fayolla juga. Keponakan cantikku, semangat ya semoga segera berhasil. Nanti tahun depan Natasya juga mau melanjutkan SMP di sini," timpal Kaysa.
"Natasya kok enggak ikut kemari?" tanya Fayyola.
"Dia tidak pernah mau di ajak kemana - mana, berdiam diri di rumah belajar. Makanya Tante sempat cemas karena dia tidak mudah bergaul dan takutnya nanti kalau tidak punya teman," ujar Kaysa.
"Tenang saja, Tante. Kalau Natasya sekolah di sini kan ada aku," jawab Fayyola tersenyum manis.
"Ya ampun, kamu Kon cantik begini sih," puji Kaysa gemas sekali terhadap Fayyola.
"Oh iya, terima kasih banyak atas oleh - olehnya, Tante," ucap Fayyola.
"Ya sudah, kalian semangat belajar ya, Tante mau ke rumah kakek dulu, Assalamu'alaikum" pamit Kaysa.
"Iya," jawab Fayyola dan Sarah serentak.
"Fayyola, aku tidak menyangka jika maminya Kak Yudis semuda ini," ucap Sarah merasa kagum.
"Padahal seumuran dengan Om Syadev dan Tante Anggun loh, hanya saja Tante Kaysa suka dandan dan bergaya anak muda," balas Fayyola.
__ADS_1
Sedangkan Sarah sendiri masih tidak sadar dengan kabar itu, berbeda dengan Deby. Dia yang baru beberapa hari semangat di Asrama berubah menjadi down, merasa perjuangannya selama ini sia - sia. Padahal Deby sudah melakukan yang terbaik di tes sampai dia bisa lulus dengan mudah.