CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Teguran Yang Terakhir


__ADS_3

Pagi harinya ketiga generasi Syauqi sudah menunggu di ruang persidangan untuk menerima hukuman, karena orang tua Arka sedang tidak bisa datang maka hanya orang tua si kembar saja.


Semalam mobil sudah di sita, bahkan kamar mereka digeledah sehingga tidak ada yang tersisa lagi termasuk ponsel milik Arka.


Yudistira dan Arkananta sudah pasrah, karena keduanya memang sudah berniat untuk fokus belajar. Sedangkan Sagara tidak bisa berhenti mengeluh sebab merasa sayang dengan barang - barangnya, apalagi kini uang jajannya juga dipotong sehingga Sagara tidak memiliki hiburan lagi.


Setelah diberitahu mengenai hukuman mereka, kini giliran mereka mendapat teguran dari orang tua.


"Papa harus bagaimana lagi caranya untuk membuat kalian menjadi anak yang patuh dan tidak suka melanggar peraturan? Kalian tahu tidak jika kakek membangun Andromeda ini agar kalian bisa menjadi generasi yang baik dan penuh tanggung jawab. Apa kalian tidak malu terhadap kakek? Papa saja sudah malu habis - habisan karena ulah kalian," kata Syadev dengan nada tajam.


Anggun hanya diam saja, karena kali ini putra mereka memang sudah keterlaluan. Apalagi Yudistira yang sudah mengalami penculikan tapi masih saja belum kapok.


"Karena Sagara tidak ikut keluar dan mau menghafalkan Al- Qur'an maka jatah bulanan akan papa kembalikan seperti semula. Sedangkan Yudistira kamu harus menghafalkan Al- Qur'an seperti kedua saudaramu ini! Dan jangan harap lagi kalian bisa berkutik sebab papa akan menyuruh pengawas khusus untuk kalian!" timpal Syadev terasa pening kepalanya.


"Iya," jawab ketiga generasi Syauqi patuh.


"Papa sudah lelah degan urusan kantor, dan kalian juga membuat kepala papa sakit. Intinya ini peringatan terakhir, jika masih bikin ulah maka setelah itu papa tidak akan peduli lagi," kata Syadev berlalu pergi.


Anggun juga ikutan pergi dan tidak mengucapkan sepatah katapun kepada kedua putranya.


Saat mereka kembali ke kelas ternyata sudah jam istirahat, ternyata cukup lama juga mereka mendapat teguran. Setelah makan siang mereka lanjut lagi membersihkan kantor guru. Setelah semua pelajaran sekolah selesai mereka masih di hukum merapikan buku di perpustakaan.


"Astaga... Lelah sekali rasanya. Semua ini gara - gara kalian, aku jadi kerja rodi seharian," gumam Sagara kesal.


"Mungkin ini ada hikmahnya juga, sehingga kita bertiga bisa taubat dari kenakalan," bujuk Yudistira.


"Taubat sih taubat, tapi semua mainanku sudah lenyap. Biarpun jatah bulanan sudah kembali tetap saja aku tidak bisa berkutik lagi," sergah Sagara.


"Jangan ribut lagi, sebaiknya kita bertiga fokus menghafalkan Al - qur'an. Apalagi Sagara, kamu main - main saja sudah hebat. Bayangkan jika kamu serius pasti nanti akan mendapatkan hasil yang luar biasa," sela Arkananta.


"Kamu sih enak, orang tuamu tidak bisa datang. Kalaupun datang yang palingan cuma dimarahin sedikit," keluh Sagara.


"Sudah, ayo kita rapikan lagi tinggal bagian gudang belakang," sela Yudistira.


"Aku capek, kalian berdua selesaikan sendiri karena semua ini gara - gara kalian," pinta Sagara ketus.


"Iya, deh. Kamu sana duduk manis saja," balas Arkananta yang kasihan juga pada sepupunya.

__ADS_1


Penjaga perpustakaan juga sudah pulang, di sekolah yang besar itu hanya ada ketiga generasi. Sebab semuanya sudah pulang termasuk sang guru.


Sagara tiduran di meja dekat pintu masuk, sampai tiba - tiba terdengar sapaan dari adiknya.


"Kak Sagara, kenapa di sini?"


"Tuh mengawasi kedua kakakmu di hukum, kalian ngapain datang ke sini?" tanya Sagara terkejut melihat Fayyola dan Sarah.


Fayyola menoleh ke belakang, tapi kedua kakak yang lainnya tidak kelihatan.


"Mereka di gudang," timpal Sagara.


"Oh, semalam cincin berlian Kak Sarah dilepaskan dan diletakkan di dalam buku, tapi dia lupa mengambil kembali lalu paginya bukunya dikembalikan ke perpus. Semoga saja masih bisa ditemukan karena cincin itu peninggalan neneknya," jawab Fayyola.


"Ayo aku bantu cari," ajak Sagara.


"Terima kasih," jawab Sarah gugup.


Hal inilah yang membuat Sagara merasa resah, setiap kali bertemu dengannya Sarah selalu tampak ketakutan. Padahal Sagara sendiri sudah mencoba untuk bersikap baik dan menghilangkan sedikit kejutekannya.


Karena bukunya sudah dirapikan maka keberadaan buku tersebut agak sulit ditemukan.


Sarah tampak gusar dan cemas.


"Judul bukunya apa? Biar aku yang cari kamu tunggu di sini saja," tanya Sagara serius.


"Sejarah Islam untuk kelas 3 SMP semester satu," jawab Sarah.


Sagara yang memiliki daya ingatan tinggi langsung menuju rak di sisi kiri, karena tadi kebetulan dialah yang menyusun buku - buku tersebut di rak.


Setelah di buka ternyata cincinnya masih ada di sana. Sagara tersenyum telah berhasil menemukannya.


"Apa ini?" tanya Sagara menunjukkan dari jarak jauh.


Sarah dan Fayyola langsung mendekati Syadeva.


"Iya, benar. Terima kasih banyak," ucap Sagara tersenyum riang.

__ADS_1


Pada saat itu Sagara melihat sekilas senyuman manis Sarah yang tampak begitu cerah dan mempesona. Sagara sadar jika Sarah masih begitu polos dan tidak mungkin baginya untuk mengutarakan cinta di saat Sarah masih SMP.


"Kak, Kami pulang dulu ya? Terima kasih sudah mau membantu Kak Sarah," ucap Fayyola.


"Iya, sama - sama. Tadi kebetulan aku yang membereskan buku itu," jawab Sagara.


"Wih, jadi Kak Sagara ikutan dihukum dong," sela Fayyola.


"Sebenarnya ini salah mereka berdua, tapi aku ikut kena imbasnya. Sudahlah, sekarang kalian segera pulang ke asrama putri sana," ujar Sagara.


Sebelum pergi Sarah membuka tas ranselnya, kemudian memberikan minuman Pocary Sweet dan diserahkan pada Sagara.


"Ini sebagai ucapan terima kasih, kami pamit dulu," ucap Sarah tersenyum manis.


"Eh, iya," jawab Sagara terkejut juga.


Sagara terus menatap punggung Sarah yang berjalan anggun bersama adiknya. Setelah kedua gadis tersebut hilang dari pandangan Sagara memandangi botol minuman ditangannya dengan senyuman penuh arti.


Kemudian Yudistira datang dan langsung merebut botol tersebut.


"Wah, tahu saja kalau aku haus kamu membeli minuman," ujar Yudistira.


Tapi belum sempat pemuda itu membuka tutup botolnya, Sagara sudah langsung merebut duluan.


"Sana beli sendiri, enak saja main nyelonong rebut," sergah Sagara berlalu pergi.


"Astaga... Hanya minuman saja aku tidak boleh minta seteguk? Nanti akan aku ganti satu kardus!" teriak Yudistira kesal.


"Eh, ada apa?" tanya Arkananta terkejut.


"Tuh Sagara, beli minuman hanya satu. Dan aku mau minta seteguk saja tidak boleh," jawab Yudistira sewot.


"Biarkan saja, dia sedang sensi karena semua alat - alatnya yang berharga disita tanpa sisa. Kita kan juga tahu kalau Sagara sulit untuk mendapatkan barang tersebut," bujuk Arkananta menenangkan.


"Sudah yuk, abaikan dia. Kita tinggal menyapu saja lalu pulang," balas Yudistira kesal sekaligus lelah.


"Iya," jawab Arkananta.

__ADS_1


Sedangkan Sagara sudah pulang duluan dan mandi, setelah itu dia menyimpan baik - baik botol tersebut. Sama sekali tidak ada niatan baginya untuk membuka botol tersebut. Entah kenapa Sagara merasa sayang untuk meminum airnya.


"Apa aku sudah berubah menjadi bodoh?" batin Sagara tersenyum sendirian.


__ADS_2