CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 39


__ADS_3

Begitu tahu jika Syadev kecelakaan dan di bawa ke Amerika, Kedua orang tua Zahra dan Darren segera menyusul ke sana.


Namun Darren dan Zahra di suruh menginap menemani Kaysa yang masih terpuruk dan mengurung diri di dalam kamar.


Seluruh keluarga Alifya juga ikut menginap di rumah Kaysa. Tapi tidak ada satu orang pun yang bisa membujuk Kaysa makan termasuk Alarik sendiri.


Dua hari berlalu, masih belum ada kabar baik dari kondisi Syadev. Justru keadaan Kaysa juga ikut melemah sebab sama sekali tidak nafsu makan dan banyak beban pikiran.


Alarik sama sekali tidak memikirkan tentang pekerjaannya, yang dia pedulikan hanyalah bagaimana cara membuat Kaysa mau makan.


"Makanlah sedikit saja," bujuk Alarik penuh kesabaran.


Kaysa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda menolak.


Alarik sudah tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membujuk Kaysa, pemuda itu juga ikut tidak nafsu makan akhir-akhir ini.


Kemudian datang Anggun seorang diri, gadis itu baru saja mendapat kabar dari Zahra jika Syadev kecelakaan.


Anggun yang matanya sudah sembab langsung memeluk tubuh Kaysa, tapi Kaysa hanya mematung dengan tatapan kosong.


Semua orang tahu, meskipun Kaysa dan Syadev sering bertengkar tapi mereka berdua tidak pernah terpisahkan. Bahkan dari kecil selalu melakukan semuanya bersama. Jadi rasanya sakit jika tiba-tiba Kaysa tinggal seorang diri saja.


"Sabar, Kaysa. Kita jangan putus do'a untuk kesembuhan Syadev," bujuk Anggun.


"Iya, dan kamu jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini. Jika kamu sakit nanti Om Syauqi dan Tante Zhia semakin bersedih," timpal Zahra yang juga ikut menangis.


"Aku hanya ingin ke Amerika melihat keadaan Syadev secara langsung," rintih Kaysa mulai berbicara.


Alarik berubah sedikit cerah, dengan senyuman yang hangat pemuda itu menatap Kaysa dengan lekat.


"Jika kamu mau sarapan, pagi ini juga kita menyusul ke sana," bujuk Alarik.


"Janji?" tanya Kaysa mulai ada semangat.


"Iya, tapi makanlah!" pinta Alarik memohon.


Kaysa mulai mau membuka mulutnya, dengan cekatan Alarik segera menyuapi calon istrinya.


"Aku ikut, Kak," rengek flora sambil menangis.


"Flora, kamu di rumah saja ya bersama Kak Alifya?" bujuk Alifya lembut.


"Tidak, aku mau ikut," jawab Flora.


Alarik tidak tega juga membiarkan adik kecilnya menangis, sebab jauh dari Ayah dan bunda juga hal yang berat baginya.


"Baiklah, Flora boleh ikut," ucap Alarik.


"Iya," jawab Flora senang.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Anggun hanya bisa melihat kepergian temannya dengan hati yang pedih, bagaimana tidak? Dirinya juga ingin melihat Syadev, tapi apalah daya letaknya jauh di Amerika.


Biaya perjalanan ke sana juga besar, mana mungkin juga Anggun memohon untuk ikut sedangkan dirinya tidak punya uang yang cukup.


Anggun hanya bisa pasrah dan terus berdo'a, semoga orang yang dikaguminya itu bisa segera Sadar dan sembuh.

__ADS_1


"Syadev, cepatlah sembuh. Aku sangat merindukanmu, cepatlah pulang Syadev. Aku selalu menantimu di sini." batin Anggun tak bisa membendung air matanya.


Di dunia ini Anggun tidak memiliki siapa-siapa lagi, Kecuali teman-temannya yang selalu memperhatikan dirinya.


Anggun tidak ingin merasakan kehilangan apalagi orang yang dicintai.


Tiba-tiba ada suara motor datang dan berhenti di depan rumah. Orang-orang yang masih di sana merasa penasaran, kecuali Anggun yang sudah mengenali pemuda itu.


"Kak Teguh, ada keperluan apa datang ke sini?" tanya Anggun kaget.


"Menjemputmu, ayo kita pulang," ajak Teguh.


"Nak Teguh, ayo mampir masuk dulu," ucap Tia lembut.


"Terima kasih, Tante. Lain kali saja," jawab Teguh sopan.


Orang-orang pada masuk, tinggal Darren dan Zahra yang masih menemani Anggun di luar rumah.


"Sebaiknya Kak Teguh pulang duluan, aku ingin menginap di rumah teman. Karena orang tuanya sedang berada di luar negeri," jawab Anggun mencoba menghindar.


"Kenapa ada perasaan tidak nyaman saat aku bersama Kak Teguh, perasaan marah dan kecewa. Tapi sepertinya aku juga jahat sebab memperlakukan orang yang selama ini baik padaku dengan kejam. Tapi maaf, Kak Teguh. Aku sedang ingin menenangkan hatiku sendiri," batin Anggun.


Teguh merasa kecewa dan kesal dalam waktu yang bersamaan, pemuda itu masih tidak ingin menyerah juga. Dengan cepat Teguh menarik tangan Anggun dengan paksa dan mengajaknya untuk ikut bersamanya.


Darren sangat tidak suka melihat temannya diperlakukan seperti itu, dengan gesit Putra Dony itu langsung melepaskan tangan Anggun dari genggaman Teguh.


"Kalau dia bilang tidak mau makan jangan di paksa," kata Darren Tegas.


"Ini bukan urusanmu!" balas Teguh.


"Tentu saja menjadi urusanku, sebab dia temanku. Jika ada yang berbuat tidak baik padanya pasti aku akan membantunya," jawab Darren kesal.


"Stop! Darren, kamu jangan salah paham! Kak Teguh sudah menganggap aku seperti adik kandungnya sendiri, jadi dia hanya mengkhawatirkan aku saja," ucap Anggun pada Darren sekaligus menjelaskan perasaanya pada Teguh untuk tidak berharap lebih.


"Oh, ternyata kamu kakaknya ya? Maaf aku tidak tahu," ucap Darren pada pemuda di depannya, tapi dalam hatinya tidak percaya jika Teguh menganggap Anggun hanya sebagai Adik.


"Tidak, apa-apa. Kalau begitu aku pulang dulu," jawab Teguh dengan perasaan kecewa, sebeb ucapan Anggun tadi merupakan penolakannya secara halus.


Anggun merasa lega setelah Teguh pergi.


"Anggun, apa kamu beneran malam ini mau menginap ke rumah aku?" tanya Zahra senang.


"Iya, aku butuh teman yang bisa mengerti perasaanku saat ini," jawab Anggun lemas.


"Aku tahu kok, pemuda tadi menyukaimu, tapi kamu hanya suka pada Syadev kan?" tanya Darren percaya diri.


"Kok kamu tahu?" tanya Anggun penasaran.


"Aku sudah berteman dengan Syadev sejak kecil, dia tidak pernah memeperdulikan orang lain. Bahkan dengan aku saja dia cuek," ujar Darren yakin.


"Aku memang menyukainya, tapi selama ini aku takut mengakui karena aku sadar siapa diriku dan siapa Syadev. Perbedaan kami terlalu jauh," jawab Anggun menangis lagi.


"Sebaiknya ikut pulang bersamaku yuk? Di sana kamu bisa bebas curhat apa saja," ajak Zahra.


"Iya, kita berpamitan pada saudara Kaysa dulu," timpal Darren.


Setelah mereka bertiga berpamitan, Darren mengantar Zahra dan Anggun.

__ADS_1


Di mobil sama sekali tidak ada keceriaan seperti biasanya, mereka sama-sama termenung memikirkan keadaan Syadev yang masih belum sadar. Dalam hati mereka tidak putus berdo'a untuk Syadev.


Sesampainya di rumah Zahra, Darren berpamitan pulang. Karena pemuda itu tahu jika Anggun tidak akan merasa nyaman menceritakan isi hati seorang perempuan di depan laki-laki.


"Aku pulang duluan, kalau ada apa-apa hubungi aku saja," ucap Darren.


"Iya, terima kasih ya," jawab Anggun dan Zahra bersamaan.


Selepas kepergian Darren, Zahra langsung mengajak temannya menuju kamar.


"Coba ceritakan, agar kamu bisa lega," ucap Zahra.


"Ya begitulah, aku menyukai Syadev tapi aku tidak berani berharap," jawab Anggun putus asa.


"Kenapa? Kamu dan dia sama-sama manusia. Lagi pula aku bisa merasakan jika Syadev juga menyukaimu. Masih mending kamu ya, aku malah sejak kecil mencintai Darren yang dia sendiri justru menyukai Kaysa. Namun karena kesabaranku selama ini sekarang Dia mulai menyukaiku," hibur Zahra dengan senyuman hangat.


"Benar juga apa kata kamu. Rasanya ingin sekali aku bilang jika aku merindukan dia dan ingin dia segera sembuh dan pulang," jawab Anggun penuh harap.


"Lewat Do'a. Asal kamu dengan tulus berdoa semoga Alloh menyampaikan salam rindumu pada Syadev," saran Zahra.


"Baiklah," ucap Anggun.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Syadev berada di ruang hampa penuh kegelapan, sampai dia sendiri kebingungan ada di mana.


Perasaan takut yang mencekam mulai merasuki seluruh hati dan pikirannya.


Tapi tiba-tiba ada seberkas cahaya yang menuntun menuntun Syadev sampai menemukan sebuah pintu yang bersinar terang dan menyilaukan matanya.


Dengan keberanian Syadev terus melangkah dan menerobos perbatasan antara gelap dan terang.


Beberapa detik kemudian dia bisa membuka matanya. Namun seluruh tubuhnya merasa lemah untuk bergerak.


Dia bisa melihat para dokter dan perawat yang berwajah orang luar, mereka semua tersenyum lega. Kemudian Syadev segera di cek kembali detak jantungnya juga denyut nadinya.


Beberapa menit kemudian muncul wajah orang tuanya.


Ibunya yang cantik dan Ayahnya yang tampan terlihat begitu letih dengan mata bengkak.


"Ternyata aku masih hidup," batin Syadev.


Syadev merasa bersalah telah menyusahkan orang tuanya, pasti mereka bersedih. Kemudian Syadev mngingat Kaysa.


"Ah gadis bodoh itu pasti tidak mau makan, sudah berapa lama aku tidak sadar?" batin Syadev.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin di lontarkan pada orang tuanya. Tapi tubuhnya terlalu lemah, bahkan hanya untuk mengeluarkan suara saja belum mampu.


"Syukurlah, syukurlah kamu sudah sadar, Nak" ucap Zhia menangis haru.


"Kamu putra Ayah yang terhebat, cepatlah sembuh dan kita segera meninggalkan Amerika. Pasti di rumah semua orang sudah menantimu," timpal Syauqi mencoba tersenyum memberikan kekuatan pada putranya.


Syadev hanya menjawab dengan senyuman, agar kedua orang tuanya bisa merasa lega.


"Pantas saja Dokter t'dan perawat tadi berwajah bule, ternyata aku sedang di Amerika," batin Syadev.


**Terus beri dukungan dengan cara Like dan Vote yang sebanyak-banyaknya ya🙏

__ADS_1


Jangan Lupa baca juga novel SCORPIO, ceritanya romantis bikin baper parah yaa🤗🤗🤗**


__ADS_2