CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 35


__ADS_3

Darren


Selama ini hanya ada sosok Kaysa di matanya, sampai dia tidak menyadari jika ada orang yang mencintai dirinya seperti dia mencintai Kaysa.


"Tanpa aku sadari aku sudah menyakiti hati Zahra selama bertahun-tahun. Andaikan aku lebih awal mengetahuinya pasti aku tidak akan menyesal seperti ini," batin Darren.


Darren terus murung di dalam kamarnya, saat semua orang sudah makan tapi dirinya enggan beranjak dari ranjangnya.


Alarik cemas, bagaimanapun juga pemuda itu merasa bertanggung jawab atas ulah kekasihnya yang suka semena-mena itu.


"Tumben Darren pagi-pagi tidur?" tanya Zhia heran.


"Biar aku lihat dulu, Bunda," ucap Alarik.


"Aku ikut," timpal Kaysa.


"Sebaiknya kamu selesaikan makanmu dulu!" ucap Alarik lembut.


Kaysa patuh, karena gadis itu memang belum puas makannya.


Dengan pelan-pelan Alarik membuka pintu kamarnya Darren, pemuda itu tahu jika sahabatnya Kaysa sebenarnya tidak tidur.


"Kak Al," ucap Darren kaget.


"Kenapa kamu tidak turun makan?" tanya Alarik perhatian.


"Belum lapar," jawab Darren lemas.


"Jangan siksa dirimu! Lelaki sejati pasti lebih memilih berjuang sampai mati dari pada merenungi kekalahan karena menyerah," tutur Alarik.


Darren terdiam, dia tahu apa maksud dari ucapan Alarik tersebut.


"Aku sudah kehilangan Kaysa karena selama ini aku memendam perasaan itu. Jadi jangan sampai aku kehilangan untuk kedua kalinya dalam keadaan yang sama," batin Darren.


"Dengarlah! Sebelum janur kuning melengkung, berarti masih ada kesempatan bagi orang lain untuk mendekati Zahra, termasuk dirimu. Apalagi sudah jelas dia selama ini hanya menyukai kamu, masa iya kamu akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Apa kamu ingin menunggu sampai Zahra move on darimu?" ucap Alarik memberikan keberanian pada Darren.


"Aku juga berpikir seperti itu, Kak. Terima kasih, setelah ini aku akan langsung pulang dan menyatakan cinta di depan orang tua Zahra. Dengan begitu mereka bisa membatalkan pertunangan Zahra," kata Darren mulai bersemangat.


"Tapi sebaiknya kamu makan dulu, jangan sampai pingsan di jalan karena kelaparan," tegur Alarik mengingatkan.


"Siap, terima kasih ya, Kak Al. Dan aku juga berharap semoga Kak Al bisa mencintai Kaysa sepenuh hati," pinta Darren memohon.


"Tanpa kamu minta aku akan selalu menjaganya dan membahagiakannya," jawab Alarik tertawa.


Setelah Alarik keluar, Darren segera berganti pakaian dan merapikan rambutnya.


Kamudian Darren mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Zahra.


Darren


Ayo kita pulang sekarang!


Zahra


Apa tidak bareng sama yang lainnya?


Darren


Tidak punya waktu, nanti aku jelaskan di perjalanan


Zahra


Baiklah, aku siap-siap dulu. Dan kamu juga harus sarapan


Darren


oke


Darren sudah merapikan lagi kamar yang ditinggalinya, tak lupa semua barang miliknya diletakkan ke ranselnya dan di bawa ke lantai bawah.


"Loh, mau pulang sekarang?" tanya Syauqi.


"Iya, Om. Ada urusan mendadak," jawab Darren sambil membuka tudung saji.


"Jadi anak lelaki harus seperti itu, jangan takut pada apapun untuk mendapatkan orang yang dicintai," ucap Syauqi senang.


"Om Syauqi kok bisa tahu?" tanya Darren heran.


"Om pernah muda, bagaimana mungkin Om tidak tahu pikiran kalian semua," jawab Syauqi tersenyum bangga.


Setelah Syauqi berlalu pergi, Darren memakan sarapannya dengan cepat.


Tak lama kemudian Zahra turun juga membawa ransel.


"Sudah siap?" tanya Darren.


"Sudah," jawab Zahra.

__ADS_1


"Aku kita segera berpamitan," ucap Darren antusias.


"Iya," jawab Zahra.


Zahra merasa ada yang aneh dengan Darren, biasanya orang yang selama ini dicintainya itu hanya bersikap padanya layaknya seorang teman biasa. Tapi sejak semalam Darren berubah lebih manis dan perhatian.


"Darren kenapa ya? Membuat aku penasaran saja," batin Zahra.


Keluarga Kaysa sedang berkumpul di ruang tamu, begitu juga dengan keluarga Gio.


"Kami pamit pulang dulu ya?" ucap Darren dan Zahra.


"Kalian hati-hati dijalan," jawab Syauqi.


Kaysa pura-pura tidak tahu dengan apa yang akan mereka lakukan, karena gadis licik itu tidak ingin rencanya gagal kalau sampai kebohongannya diketahui.


Sesampainya diparkiran Darren membukakan pintunya untuk Zahra, membuat gadis itu lebih heran lagi.


"Darren, apa kamu sakit? Kenapa sikap kamu aneh sekali?" tanya Zahra.


"Aneh bagaimana?" balas tanya Darren sambil menyalakan mobilnya.


"Biasanya mana mau kamu membukakan pintu mobil untukku," jawab Zahra malu-malu.


"Mulai sekarang setiap kamu naik mobilku pasti akan aku bukakan pintunya," jawab Darren tersenyum manis.


Zahra terkejut dan seketika hatinya berdebar-debar tak karuan.


"Apakah Darren mulai menyukaiku? Tapi kenapa tidak bilang padaku," batin Zahra yang mulai bimbang.


"Darren, tadi kamu bilang ingin menceritakan sesuatu padaku sat diperjalanan," tanya Zahra penasaran.


"Aku pikir-pikir, lebih baik nanti saja," jawab Darren tenang.


Zahra terdiam dan tidak bertanya lagi. Namun dalam hatinya banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa diungkapkan.


"Ada apa dengan Darren? Kenapa tiba-tiba wajahnya terlihat gelisah seperti itu?" batin Zahra penasaran.


Darren memilih membisu karena pikirannya sedang merangkai kata yang tepat untuk diucapkan dengan Mama dan Tante Elly.


"Apakah aku berani? Tapi aku harus bisa menjadi lelaki yang jantan seperti Kak Al. Bahkan seseorang yang disukainya adalah adik angkat sendiri," batin Alarik menguatkan hatinya.


Tiga jam kemudian mobil mereka berdua Sampai diparkiran butik utama. mereka segera menuju lantai kedua dan menemui orang tua mereka.


Seperti biasanya, Nindya sedang menggambar desain, sedangkan Elly sedang melihat laporan-laporan.


"Wa'alaikunsalam," jawab Elly dan Nindya bersamaan, kedua ibu itu langsung menghentikan aktifitasnya dan duduk di sofa menyambut anak-anak mereka.


"Zahra, apa Kaysa menyukai gaun yang dikirim?" tanya Elly.


"Senang kok," jawab Zahra.


"Apa mereka juga sudah pulang?" tanya Nindya penasaran.


"Belum, Ma. Kami pulang duluan karena ada hal penting yang mau aku bicarakan pada Mam dan Tante Elly," jawab Darren gugup.


"Apa itu?" tanya Elly dan Nindya menanti.


Darren mengatur napas agar dirinya bisa sedikit lebih rilexs.


"Aku mencintai Zahra, dan Zahra juga hanya mencintaiku. Jadi aku mohon pertunangan antara Zahra dengan pemuda yang akan dijodohkan dengannya segera dibatalkan," kata Darren tegas, tapi wajahnya bersemu merah menahan malu.


Elly dan Nindya hanya melongo, mereka berdua terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.


"Tante Elly, aku mohon. Batalkan pertunangannya Zahra. Kalau sudah besar saya janji akan menikahinya," pinta Darren dengan wajah memelas.


"Zahra masih terlalu kecil untuk bertunangan, apalagi Tante juga tidak pernah punya pikiran untuk menjodohkan dia dengan siapapun, biarlah Zahra memilih pendamping hidupnya sendiri," jawab Elly menahan tawa.


Duarr...


Darren sangat kaget dengan jawaban Uminya Zahra itu.


"Astaga... Anak Mama sudah besar ya? Sampai kepikiran tentang pernikahan,"


Darren sangat malu sekali, sampai dia tidak tahu harus disembunyikan kemana wajahnya itu.


"Kaysaaaaa....." teriak Darren frustasi menahan rasa malu.


Elly dan Nindya tertawa terbahak-bahak, mereka kini tahu jika anak-anak mereka tengah dikerjai Putrinya Syauqi Malik.


Zahra yang dari tadi hanya diam saja juga merasakan malu luar biasa, ternyata air matanya semalaman itu juga sia-sia.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Kaysa


Hachu... Hachu...

__ADS_1


Kepala Kaysa sampai manggut-manggut karena bersin terus.


"Kamu sakit ya?" tanya Alarik khawatir.


"Tidak, mungkin sedang ada orang yang membicarakan buruk tentangku," jawab Kaysa.


"Pasti juga Darren dan Zahra," timpal Alarik.


"Ha... Ha... Ha... Aku penasaran, apa Darren sudah mengungkapkan perasaannya yah?" tanya Kaysa.


Baru saja dibicarakan, ponsel Kaysa langsung berdering karena panggilan dari Darren.


"Kak Al yang angkat deh" kata Kaysa menyerahkan ponselnya pada kekasihnya.


"Kenapa aku? Yang ditelepon kamu pasti hanya berkepentingan denganmu," tolak Alarik dengan senyuman mengejek.


"Kalau Kak Al mencintaiku maka angkatlah!" ucap Kaysa merengut.


Alarik mengalah, diapun segera menjawab telepon untuk Kaysa.


"Ada apa apa Darren?" tanya Alarik.


Kaysa hanya cengar-cengir sambil menguping dan bersandar pada bahu kekasihnya.


"Di mana Kaysa? Aku ingin meminta pertanggung jawabannya," jawab Darren kesal.


"Tanggung jawab? Apa kamu dihamili Kaysa?" gurau Alarik membuat Darren semakin kesal.


Kaysa sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar tawanya tidak terdengar ditelepon.


"Aku sudah terlanjur memohon untuk membatalkan pertunangan Zahra di depan Tante Elly dan Mama, tapi ternyata semua itu hanya kebohongan Kaysa saja," jawab Darren memelas.


"Ha... Ha... Ha... Sumpah gokil! Justru itu bagus kan, kalau sudah dapat restu dari kedua orang tua kedepannya hubungan kalian akan semakin lancar," ucap Alarik sambil tertawa keras.


"Aku tahu Kaysa ada di samping Kak Al, serahkan ponsel itu padanya! Aku ingin memarahi Kaysa," ujar Darren menahan emosi.


"Ohh... tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan kamu memarahi Kaysa," jawab Alarik mengejek.


"Kak Al jangan coba-coba melindungi orang yang bersalah yah!" ancam Darren.


"Bukannya kamu sendiri yang tadi pagi menyuruh aku untuk selalu melindungi dan membahagiakan Kaysa?" balas Alarik puas.


"Kak Al menyebalkan!" umpat Darren langsung mematikan ponselnya.


Alarik dan Kaysa tertawa terbahak-bahak membayangkan Darren yang merasa malu di depan Nindya dan Elly.


"Kaysa, kamu ini keterlaluan sekali!" ucap Alarik.


"Justru aku sedang membantu hubungan mereka," jawab Kaysa tidak terima.


"Aku takut jika nanti juga menjadi korban kamu," ucap Alarik.


"Tidak mungkin! Kak Al kan calon suamiku. Pasti aku akan bersikap baik pada Kak Al," jawab Kaysa tertawa.


"Yang semalam bagaimana?" tanya Alarik menggoda.


"Bagaimana apanya?" tanya Kaysa pura-pura tidak tahu.


Kaysa segera sadar dengan senyuman Alarik yang berubah nakal. Dia langsung berlari ke lantai dua dan masuk ke kamar, tapi Alarik kali ini tidak akan melepaskan calon istrinya yang nakal.


Alarik mulai menggelitik pinggang Kaysa, membuat gadis itu merasa geli. Mereka berdua saling dorong hingga akhirnya mereka terjatuh.


Bukk...


Kaysa menindih tubuh Alarik, sampai membuat pemuda itu tertegun karena jarak wajah mereka yang begitu dekat.


"Apa Kak Al sakit?" tanya Kaysa.


"Tidak, sebab ranjangnya empuk. Tapi sampai kapan kamu mau menindihku? Tubuhmu berat sekali," sindir Alarik.


Kaysa terbangun, Alarik juga bangun dengan posisi masih duduk di tepi ranjang.


Saat Kaysa hendak berlari tapi pemuda itu langsung menarik lengannya, membuat dia itu terduduk dipangkuan calon suaminya.


"Anak nakal sepertimu sebaiknya dihukum apa yah?" tanya Alarik.


"Cium," jawab Kaysa berubah agresif.


Padahal tadinya Alarik hanya ingin menggoda Kaysa, tapi siapa sangka justru dirinya yang tergoda.


Kaysa segera bangkit dan mencium pipi Alarik, kemudian gadis itu berlalu pergi meninggalkan Alarik yang terbengong.


"Anak nakal," umpat Alarik tersipu malu.


**Jangan lupa Like dan Vote yah🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Mampir juga ke novel genre romantis lainnya yang berjudul SCORPIO, menceritakan kisah tiga sahabat berzodiak sama tapi karakter beda, ada yang Matre, Play girls, dan penakut. Mereka kabur dari rumah kemudian kisah cinta mereka di mulai. 🤗🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2