
Sesampainya di panti Anggun segera memanggil adik-adiknya. Mereka semua begitu diberitahu akan di kasih hadiah langsung berhamburan keluar dari rumah dan mendekati mobil Syadev.
"Kalian berdiri di sini dulu ya! Nanti yang di panggil maju untuk menerima hadiah," perintah Anggun dengan senyuman riang.
Kemudian Anggun mulai mengambil kotak kado satu persatu.
Setelah semua sudah mendapat bagian, Anggun heran sebab ada satu yang tertinggal.
"Baca namanya!" perintah Syadev.
"Anggun?" ucap Anggun tertegun.
"Iya, kamu juga termasuk anak di sini. Jadi sudah seharunya mendapat bagian," jawab Syadev tersenyum lembut.
"Terima kasih ya?" ucap Anggun terpana.
"Iya, kalau begitu aku pulang dulu," kata Syadev sambil masuk ke mobil.
"Terima kasih, Kak Syadev," ucap semua anak-anak pada Syadev.
"Iya, sampai berjumpa lagi ya," jawab Syadev tersenyum ramah.
Syadev segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mengingat senyum anak-anak dan Anggun tadi membuat Syadev merasakan kehangatan dalam hatinya.
"Kasihan sekali mereka, sudah tidak punya orang tua, hidup juga sederhana. Sedangkan aku dari kecil selalu mendapatkan kasih yang sayang yang berlebih dari kedua orang tua, soal materi juga tidak pernah kekurangan."
Syadev berniat kalau punya uang berlebih lagi ingin berbagi pada anak-anak yang tadi.
Setelah Syadev sudah sampai setengah perjalanan menuju rumah, tiba-tiba ponselnya berdering dan diapun segera menepikan mobilnya agar bisa mengangkat telepon.
"Ada apa?" tanya Syadev dengan nada datar.
"Di tolak apa diterima? Jangan bilang jika kamu tidak berani mengungkapkan perasaanmu pada Anggun ya? Aku yakin saudaraku bukan pecundang," tanya Kaysa penasaran.
"Aku masih diperjalanan," jawab Syadev langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Gawat, aku bisa diejek dengan sebutan banci kalau aku takut. Sebaiknya aku kembali saja, diterima atau di tolak pikir belakangan. Aku lebih stress kalau sampai diejek Kaysa terus-terusan," batin Syadev memutar balik mobilnya menuju panti lagi.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di kamar Anggun tidak sabar membuka bungkusan kadonya. Hatinya berbunga-bunga sebab orang yang selama ini dikaguminya begitu peduli padanya.
Belum sempat Anggun mencoba gamisnya, pintu kamarnya sudah di ketuk seseorang dari luar.
"Kak Anggun, di cari Kak Teguh," ucap seorang anak kecil.
"Iya," jawab Anggun meletakkan kembali hadiah itu ke dalam kotak.
Anggun segera keluar dan menemui sahabatnya itu, tapi di ruang tamu tidak ada siapa-siapa. Anggun langsung keluar rumah.
"Kak Teguh? Kenapa tidak masuk?" tanya Anggun heran.
"Aku ingin bicara sebentar denganmu," ucap pemuda itu dengan tatapan sendu.
"Ayo masuk saja ke dalam rumah," ajak Anggun ramah.
"Jangan di sini, tapi di halaman luar saja," jawab Teguh sambil menarik lengan Anggun.
Anggun hanya diam saja dan mengikuti temannya, dia sedikit heran karena biasanya Teguh selalu ceria dan masuk ke kamarnya dengan bebas. Tapi sekarang seperti ada jarak di antara mereka berdua. Tidak seperti dulu yang dekat seperti kakak beradik.
"Semalam kamu ke mana? kenapa tidak pulang?" tanya Teguh sedikit dengan ekspresi kesal.
"Kok bisa tahu kalau aku pergi?" tanya Anggun heran.
"Jawab dulu pertanyaanku," timpal Teguh tak sabar.
Anggun terkejut, karena sikap Teguh berubah marah.
"Aku ke Universitas A. Semoga dengan melihat secara langsung aku menjadi bersemangat untuk mendapatkan beasiswa di sana," jawab Anggun.
"Kenapa tidak bilang padaku? Aku bisa saja mengantarmu. Tapi kenapa malah bersama pemuda lain?" sergah Teguh kecewa.
Anggun mengira jika temannya itu sedang mengkhawatirkan keselamatannya.
"Aku tidak hanya dengan Syadev, tapi juga dengan Kaysa," jawab Anggun tersenyum ramah.
"Lain kali jangan ulangi lagi! Jika kamu ada keperluan apapun katakan padaku!" ucap Teguh tegas.
Anggun semakin tidak mengerti dengan tingkah Teguh yang aneh itu.
Kemudian dari kejauhan tampak mobil milik Syadev datang, dengan cepat Teguh langsung memeluk tubuh Anggun dengan erat.
Anggun mencoba melepaskan diri, tapi pelukan pemuda itu terlalu erat.
"Aku mencintaimu, Anggun. Selama ini aku mencintaimu," ucap Teguh.
Anggun terkejut, beberapa saat kemudian Teguh melepaskan pelukannya. Namun saat Anggun melirik ke arah jalan, mobil Syadev sudah menghilang.
__ADS_1
"Aku yakin, tadi itu adalah mobilnya Syadev. Kenapa dia kembali ke sini? Tapi kenapa pergi lagi? Apa dia salah paham padaku?" batin Anggun dengan panik.
"Anggun! Aku di depan matamu, tapi kenapa kamu memikirkan orang lain?" bentak Teguh lumayan keras.
Anggun sampai kaget, dia tidak menyangka jika pemuda yang selama ini baik padanya bisa bersikap kasar seperti itu.
"Aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Tapi sekarang kenapa kamu sudah berubah semenjak kamu mengenal Syadev?" tanya Teguh sedih.
"Selama ini Kak Teguh begitu baik padaku, aku sangat bersyukur dan berterima kasih. Tapi aku sudah menganggap Kak Teguh seperti kakak aku sendiri," jawab Anggun menunduk.
Teguh marah dan tidak terima, karena penantian dia selama ini terasa sia-sia.
"Jadi kamu jatuh cinta pada Dia?" tanya Teguh memastikan.
Anggun tidak menjawab, tapi dia juga tidak berani memandang wajah pemuda di depannya.
Teguh kesal, sebab diamnya gadis itu sudah menjawab pertanyaannya.
Teguh marah, pemuda itu langsung menarik lengan Anggun dan bermaksud mencium gadis tersebut.
Tapi dengan cepat Anggun mengelak dan berlari masuk ke kamarnya sambil menangis.
Di ranjangnya yang kecil, dia terisak. Beberapa kali Teguh mengetuk pintu dari luar. Tapi gadis itu tidak menghiraukannya. Sampai akhirnya bunyi ketukan itu tidak terdengar lagi.
"Aku merasa bersalah karena tidak bisa membalas cintanya, tapi aku juga kecewa karena Kak Teguh berubah menjadi kasar seperti ini," Batin Anggun.
Dia sendiri juga bingung, saat ada Teguh di depannya tadi tapi pikirannya tertuju pada Syadev.
"Apa mungkin rasa kagumku berubah ,enjadi cinta? Tapi sekarang mungkin dia salah paham padaku karena tadi melihat aku di peluk Kak Teguh."
Anggun masih menangis di dalam kamarnya, tidak terasa matanya mulai tertutup dan dia terlelap dalam tidurnya.
Dalam mimpinya Anggun melihat Syadev, tapi pemuda itu hanya diam dengan tatapan kosong.
Anggun mencoba memanggil namanya tapi pemuda itu justru pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Syadev... Syadev..." teriak Anggun sambil terbangun.
Hatinya merasa nyeri, seolah itu sebuah firasat buruk.
"Syadev? Kamu baik-baik saja kan?" batin Anggun sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Dia ingin sekali menelpon, tapi dia juga tidak memiliki keberanian.
Anggun hanya bisa berdoa semoga Syadev baik-baik saja.
Malam mulai gelap, mobil Alarik baru saja sampai di depan rumahnya Kaysa.
Namun Kaysa heran karena mobil milik saudara kembarnya tidak ada di rumah.
Kaysa merasa ada yang aneh dalam dirinya, setelah tadi sambungan teleponnya dengan Syadev terputus, hatinya merasa nyeri. Hanya saja Kaysa tidak tahu apa yang terjadi.
Alarik sangat peka dengan perubahan wajah calon istri kecilnya, dengan penuh kasih sayang dia mengelus kepala Kaysa dengan lembut.
"Kenapa sejak tadi aku memikirkan Syadev terus? Bayang-bayang wajahnya yang tadi pagi tersenyum tulus padamu terus terbayang dalam benakku," batin Kaysa resah.
Setelah Alarik dan Kaysa masuk di rumah, ternyata Syauqi dan Zhia sedang menanti di ruang tamu dengan raut wajah cemas.
"Assalamu'alaikum," ucap Kaysa dan Alarik bersamaan.
"Walaikumsalam," jawab Syauqi dan Zhia.
"Apa Syadev dari tadi belum pulang?" tanya Kaysa.
"Iya, padahal tadi pulangnya bersama kami. Kalaupun mengantarkan Anggun duluan tidak mungkin selama ini," jawab Zhia gelisah.
Sebenarnya Kaysa juga merasa khawatir, tapi dia tidak ingin membuat Orang tuanya semakin khawatir.
"Sudah Adzan Maghrib, sebaiknya kita sholat dulu," ucap Syauqi menenangkan semuanya.
Baru saja Syauqi berdiri, tapi ponselnya berdering. Dengan cepat Syauqi mengangkat panggilan tersebut.
"Apa?" pekik Syauqi gemetar.
kemudian ponselnya terjatuh dari genggamannya.
"Ada apa?" tanya semuanya ikutan panik.
"Syadev kecelakaan, sekarang masih koma di rumah sakit," jawab Syauqi penuh luka.
Zhia langsung pingsan, sedangkan Kaysa menjerit histeris dan rubuh karena kakinya terasa lemas.
Tubuh Syauqi yang sudah lemas mencoba mengangkat istrinya dan membawa ke dalam mobil. Lelaki itu tidak ingin terjadi apa-apa dengan Zhia, jadi langsung di bawa ke rumah sakit sekalian melihat kondisi putranya yang kritis.
"Aku ikut, aku ikut," rintih Kaysa sambil menangis tersedu-sedu.
Alarik langsung memapah Kaysa menuju mobil Ayah angkatnya.
__ADS_1
"Biar aku yang nyetir, Ayah," ucap Alarik yang matanya sudah memerah menahan tangis.
Syauqi sudah tidak bisa berpikir jernih. Anaknya koma, istrinya juga pingsan. Namun hati Syauqi sedikit lega sebab tadi flora meminta menginap di rumah neneknya.
Sampai di rumah sakit Syadev masih diruang ICU.
Syauqi membawa istrinya terlebih dulu untuk menjalani pemeriksaan.
Sedangkan Kaysa duduk di ruang tunggu dengan penampilan yang berantakan, biasanya gadis itu selalu menjaga penampilannya tapi kini dia sama sekali tidak peduli.
"Semua salahku, semua salah aku," rintih Kaysa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Alarik langsung memeluk gadis itu agar bisa tenang dan kuat.
"Semua bukan salahmu, kita sebaiknya berdoa saja agar Syadev segera sadar," bujuk Alarik yang mencoba kuat di depan Kaysa.
"Aku berjanji, kalau Syadev segera sadar aku akan berubah sikap lebih baik padanya," kata Kaysa penuh sesal atas apa yang dia lakukan selama ini pada saudara kembarnya.
Beberapa saat kemudian Syauqi sudah datang sambil mendorong kursi roda, karena tubuh Zhia masih sangat lemah jadi belum bisa berdiri.
Ib yang masih cantik itu memaksa untuk melihat keadaaan Syadev, tidak peduli walau sudah dilarang Dokter dan suaminya.
Kemudain salah ada dokter yang keluar dari ruangan Syadev. Syauqi segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan putra saya Dok?" tanya Syauqi panik.
"Kami sudah berusaha semampu kami, tapi hanya keajaiban Tuhan yang bisa membuat dia sadar kembali," jawab Dokter itu pasrah.
Syauqi tidak ingin menyerah, selama Syadev masih bisa bernapas Samapi keliling dunia Daddy tampan itu akan menemukan Dokter terhebat.
"Bisakah malam ini saya bawa Putra saya ke Rumah sakit Amerika?" tanya Syauqi.
"Sangat setuju, di sana peralatan medis lebih canggih. Semoga putra Anda bisa segera sadar dan sembuh seperti semula," jawab Dokter tersebut sambil menepuk bahu Syauqi untuk memberikan dukungan.
Syauqi segera menelpon seseorang dan menyuruh menyiapkan segala sesuatu.
"Kalian tunggu di rumah saja!" perintah Syauqi pada istri dan anak-anaknya.
"Tidak! Aku harus ikut, mana mungkin aku bisa tenang jika tidak berada di sisi Syadev," tolak Zhia memaksa.
Syauqi berpikir sebentar, sepertinya meninggalkan istrinya di rumah juga bukan keputusan yang baik.
"Baiklah, tapi Kaysa dan Flora di rumah saja," jawab Syauqi.
"Aku ikut, Ayah," rengek Kaysa yang masih belum bisa berhenti menangis.
"Untuk kali ini dengarkan Ayah, Sayang. Kasihan Flora jika semua pergi," pinta Syauqi dengan wajah memelas.
Kaysa tidak ingin menambah beban Ayahnya, diapun menurut saja.
"Alarik, jaga Kaysa dan Flora. Ayah percaya padamu," ucap Syauqi penuh keyakinan.
"Iya, Ayah," jawab Alarik patuh.
"Apa kita perlu bersiap-siap dulu?" tanya Zhia.
"Tidak perlu, sebentar lagi ada anak buahku yang datang menjemput. Semua kebutuhan kita juga sudah di sediakan di sana," jawab Syauqi menenangkan istrinya.
Beberapa detik kemudian ada empat anak buah berbadan tinggi dan gagah, mereka langsung menunduk hormat di hadapan Syauqi.
"Tuan, Pesawat sudah siap di bandara,"
"Cepatlah urus semua prosedurnya!" perintah Syauqi sambil mendorong kursi roda istrinya menuju mobil.
Tak berapa lama Syadev yang masih dikelilingi berbagai alat medis juga di masukkan ke dalam mobil.
Kaysa hanya bisa menatap pilu saudara tirinya.
"Ya Alloh, sembuhkan lah Saudaraku. Jangan hukum dia karena kesalahanku."
Setelah mobil yang ditumpangi Syadev dan Orang tua Kaysa pergi, Alarik juga segera mengajak calon istrinya pulang.
Hallo readers, menurut kalian semua bagaimana keadaan Syadev selanjutnya?
A. Meninggal
B. Amnesia
C. Sembuh seperti semula
D. Cacat
Dikomen yah?🤗🤗
Jangan lupa Like dan Vote🙏 Karena dukungan dari kalian sanagt berarti bagi Author.
Terima kasih banyak🤗
__ADS_1