
Orlin berangkat ke kantor dengan tubuh lunglai dan mata sembab, kedua orang tuanya berusaha menghibur hati putri tunggal mereka. Akan tetapi Orlin tidak merasa lebih baik.
Di kantor rupanya Reki sudah menanti dirinya, sebagai tangan kanan Alarik kantornya itu bersebelahan dengan Orlin.
"Pagi..." sapa Reki ceria.
"Pagi juga," jawab Orlin lemas.
"Belum sarapan ya? Kenapa lemas sekali," tanya Reki penasaran.
"Hem..." jawab Orlin pilu, entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa sedih jika harus pindah ke London.
"Ayo kita sarapan bareng, karena aku berangkatnya pagi-pagi jadi juga belum sempat sarapan. Makanya Ibu membawakan bekal untuk porsi dua orang, katanya kalau kamu juga mau," ajak Reki memberi semangat pada Orlin.
"Ibu?" tanya Orlin penasaran, sebab setahu dia Reki memanggil Mama dan Mamanya juga berada di dalam penjara.
"Iya, Mamanya Gio. Tapi aku memanggil dia dengan sebutan ibu," jawab Reki.
Wajah Orlin seketika berubah ceria, dia senang akhirnya Reki bisa menerima kelaurga barunya dan bahkan memanggil ibu tirinya dengan sebutan Ibu.
"Reki, aku senang sekali mendengarnya," ucap Orlin spontan memegang kedua tangan Reki.
Reki memerah wajahnya, karena tidak menyangka gadis di depannya tersebut bisa tersenyum riang kembali. Matanya tidak bisa berhenti memandang tangan Orlin.
__ADS_1
"Ops, Maaf. Aku reflek barusan," ucap Orlin buru-buru melepaskan tangannya.
"Tidak apa-apa, kamu menginginkan seluruh tubuhku aku juga rela," canda Reki.
"Apaan sih," jawab Orlin sambil menepuk lengan Reki lumayan keras.
"Aku hanya bergurau saja, mari kita sarapan," ajak Reki tertawa.
Seluruh karyawan kantor saat melihat Reki tetap menunduk hormat seperti mereka menghormati Alarik. Hanya saja mereka merasa heran sebab Reki bisa tersenyum ramah, bahkan tertawa bersama Orlin. Hanya saja mereka bisa sebatas membatin, sebab jika ketahuan menggunjing Reki di belakang akan di pecat oleh Alarik.
Reki dengan senang hati melayani Orlin dan menyiapkan makanannya.
"Reki, apa kamu pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Orlin.
"Iya," jawab Orlin penasaran.
"Mana pernah, aku adalah pemuda termalas. Jadi Seseorang yang pertama aku layani seperti tuan Puteri adalah kamu," jawab Reki apa adanya.
"Gombal, pantas saja kamu punya pacar banyak. Pandai merayu sih," sindir Orlin.
"Sebenarnya aku punya pacar banyak bukan karena aku yang merayu, tapi mereka yang duluan mendekatiku sebab uang. Karena dulu aku pemuda brengsek dan ******** makanya aku senang-senang saja," jawab Reki.
"Apa kamu juga sering melakukan hubungan intim dengan para pacarmu itu?" tanya Orlin.
__ADS_1
"Hey, ngomong apa kamu ini. Aku masih perjaka tahu! Gaya pacaranku paling sebatas ciuman dan berpelukan, selebihnya aku tidak berani karena aku tidak pernah menginginkan anak," jawab Reki.
"Kenapa?" tanya Orlin semakin penasaran.
"Masa kecilku menyedihkan! Papa sibuk bekerja dan keluar kota, Mama Setiap malam sibuk pesta dengan teman-temannya. Sedangkan aku kesepian, terlebih lagi aku sering dibandingkan dengan Alarik yang sangat cerdas dan memiliki banyak prestasi. Makanlah dulu aku benci padanya," kata Reki tersenyum mengenaskan.
"Kasihan kamu ya, ternyata semua kenakalanmu karena kurang kasih sayang," ujar Orlin sambil menikmati makanannya.
"Makanya, begitu kamu memberikan perhatian padaku aku merasa tersentuh dan bahagia," goda Reki.
"Uhuk... " Orlin tersedak, Reki segera memberikan minuman pada gadis di depannya.
"Kenapa? Kalau makan jangan buru-buru. Tidak akan ada yang memarahi kamu," kata Reki cemas.
"Kamu ini, seolah-olah aku adalah gadis yang tengah mengejar cintamu," pekik Orlin kaget.
"Kalau aku yang mengejarmu bagaimana?" tanya Reki.
"Jangan pernah menjadikan sebuah perasaan sebagai gurauan, jika nanti aku menanggapimu dengan serius bagaimana?" jawab Orlin santai.
"Aku akan menjadi seseorang yang paling beruntung di dunia ini karena mendapatkan kasih sayangmu," balas Reki menatap mata Orlin penuh perasaan.
**Jangan lupa Like dan Vote ya🤗🤗 baca juga karya saya yang satunya. SCORPIO.
__ADS_1
Kisah tiga gadis yang kabur dari rumah dan bertemu di kota asing, mereka tinggal bersama dan bertemu dengan cinta mereka**.