
Kecewa itu wajar saat kita mendapat banyak kejutan yang tidak pernah diharapkan, bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Di negeri asing Rendra memulai hidup dari awal,seorang diri meninggalkan anak dan Mamanya di Indonesia. Namun Rendra merasa sedikit tenang, setidaknya mereka berada di bawah pengawasan Tuan Syauqi Malik.
Rendra yakin jika Jesika dan Tuan Andara takkan berani menyentuh mereka.
Tuan Andara, yang selama 29 tahun dipanggil Papa ternyata bukan ayah kandungnya. Pantas saja lelaki itu tidak merasa segan untuk menyakiti cucunya yang memang bukan darah daging sendiri.
Dibilang Marah, Rendra juga marah. Akan tetapi jika dibilang benci entah kenapa dia merasa tidak sanggup. Karena bagaimanapun juga selama ini Tuan Andara sudah membesarkannya dan menyekolahkan dia di Universitas terbaik.
Rendra kini hanya terus berjalan berharap suatu saat ada titik terang.
Di sore hari Rendra berniat menenangkan dirinya di salah satu taman di London, yaitu Regent's park. Disana dia hanya berkeliling melihat anak-anak yang sedang bermain.
"Semoga anakku bisa lekas sembuh dan bisa berlarian dengan ceria seperti mereka."
Kemudian mata Rendra berhenti pada Seorang gadis berjilbab kuning, penampilannya sama seperti Zhia yang sopan dan elegan.
Wanita tersebut sedang duduk di kursi panjang. Di sampingnya ada tongkat alat bantu jalan. Rendra jadi teringat anaknya yang sama-ama sakit kaki kirinya.
Rendra menjadi penasaran, dia mendekati gadis yang sedang melukis itu.
"Permisi, apakah Anda dari Indonesia?" tanya Rendra hati-hati. Dia yakin jika gadis itu dari Indonesia. Karena setiap negara memiliki khas masing-masing. Bagi seseorang yang terbiasa berkeliling negara pasti bisa membedakannya.
"Iya, apakah Anda juga dari Indonesia?" gadis itu tersenyum ramah dan menghentikan aktifitasnya.
Rendra bisa melihat lukisan seorang pemuda tampan.
"Orang tua saya berasal dari Indonesia, kemudian mereka bekerja di Malaysia,jadi saya dibesarkan disana. Kenapa Anda sendirian disini?" tanya Rendra penasaran.
"Setiap sore saya biasa di sini. Sebentar lagi juga dijemput sama Papa aku. Oh iya, perkenalkan nama saya Nayla Latief. Senang rasanya bertemu dengan seseorang yang juga berasal dari negara yang sama," Nayla tersenyum ceria.
"Nama saya Rendra Andara, apakah Anda di sini sekolah atau ikut suami?" Rendra juga merasa senang karena memiliki teman ngobrol untuk mengalihkan kejenuhannya.
"Saya belum menikah, saya di sini sedang berobat. Kalau sudah sembuh total saya juga akan kembali ke Indonesia," jawab Nayla terus terang, dia memang tipe gadis yang mudah bergaul.
"Anda mengingatkan pada putri perempuan saya, Dia kaki kirinya juga retak setelah diserempet mobil, sekarang masih menggunakan kursi roda. Mungkin sembuhnya masih beberapa bulan lagi," curhat Rendra merasa nyaman, walau baru kali ini bertemu.
"Oh kasihan sekali. Bagaimana kalau saya perkenalkan dengan Dokter saya. Beliau sangat ahli dalam mengobati patah tulang,nsaya saja tadinya kecelakaan parah baru dua bulan sudah cepat sembuh, tinggal memulihkan saja," saran Nayla dengan senang hati.
"Terimakasih atas tawarannya, tapi anak saya di Indonesia," jawab Rendra mulai sedih, karena dia sangat merindukan putri semata wayangnya.
"Kenapa tidak diajak kesini sekalian? Kan enak kalau tinggal bersama anak istri," Nayla menjadi penasaran.
"Istri saya sudah meninggal setelah melahirkan putri saya dan putriku sekarang ikut Neneknya," jawab Rendra.
__ADS_1
Mendengar jawaban Rendra, Nayla merasa menyesal telah menanyakan sesuatu yang mengingatkan kesedihannya.
Tiba-tiba terdengar suara berat memanggil nama Nayla. Orang itu semakin mendekati mereka.
"Tuan Rendra!"
"Tuan Latief!"
Dua orang lelaki itu saling menyebut nama satu sama lain secara bersamaan. Kemudian mereka tertawa bersama.
"Baru tadi pagi kita berjumpa sekarang bertemu lagi di sini," kata Lelaki tersebut yang ternyata Papanya Nayla.
"Jadi Nayla ini Puteri Bapak? Sangat berbeda dengan yang Anda ceritakan dulu," kata Rendra.
"Apakah kalian ini sudah kenal lama?" tanya Pak Latief.
"Baru saja bertemu," jawab Rendra.
Nayla hanya diam, gadis muda itu penasaran apa yang pernah diceritakan tentang dirinya pada Rendra.
"Pasti menceritakan suatu yang tidak baik tentangku."
"Nayla, Tuan Rendra ini teman bisnis Papa. Meskipun masih muda dia orang yang hebat dan konsisten," kata Pak Latief pada putrinya.
"Semua juga berkat bimbingan dari Anda. Apalagi setelah mendapat dukungan dari perusahaan Tuan Syauqi Malik kerja sama kita alhamdulillah berkembang pesat," jawab Rendra rendah hati.
"Iya, apa Anda juga mengenalnya?" Rendra menjawab santai.
"Tidak, hanya saja teman saya dulu mau menikah dengan Syauqi Malik pengusaha kaya raya. Siapa tahu mungkin itu orang yang sama. Sejak saya di sini saya sudah kehilangan semua kontak teman di Indonesia," ucap Nayla.
Rendra mengambil ponselnya. Dia ingat mempunyai foto Istrinya Syauqi Malik.
"Apakah wanita yang sedang bersama putriku ini?" Rendra menunjukkan foto Zhia dan putrinya yang sedang naik perahu di Danau.
"Iya benar, ini Zhia. Jadi Anda mengenalnya? Dan mereka sudah menikah?" Nayla sangat antusias sekali, dia merindukan temannya yang dulu sempat diculik.
"Sebenarnya saya baru sebulan ini mengenal mereka, kebetulan saya menyewa Vila milik Tuan Syauqi. Mereka berdua sudah menikah dan sangat bahagia. Nyonya Zhia juga sedang mengandung," jawab Rendra yang merasa kenapa semua serba kebetulan.
"Apakah Anda juga mengenal Iyas?sahabatnya Zhia?" Nayla malu-malu saat menanyakannya.
Rendra bisa melihat wajah Pak Latief yang seketika gelisah.
"Maaf saya tidak tahu, saya cuma mengenal Tuan Syauqi dan Nyonya Zhia saja," jawab Rendra.
"Tuan Rendra, sudah hampir malam. Sebaiknya kita berpisah dulu ya? Besok bisa dilanjut lagi mengobrolnya. Saya merasa senang, karena di sini Nayla tidak memiliki teman."
__ADS_1
Pak Latief sengaja memutus obrolan mereka, Rendra merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Apalagi ketika putrinya menanyakan tentang Iyas.
"Iyas? Apakah lelaki tampan yang ada didalam lukisan itu?" batin Rendra.
Rendra hanya menebak sendiri, dia kemudian juga ikut pulang ke Apartemennya.
*********************************
Sementara Zhia sedang mengompres suaminya yang sedang demam karena kehujanan semalam.
Satu detikpun Zhia dilarang turun dari ranjang, Syauqi seperti bayi yang selalu ingin dibelai rambutnya.
"Mas, dari tadi Mas Dony nelpon terus. Apa perlu aku angkat? Mungkin ada sesuatu yang penting," kata Zhia lembut.
"Sudah biarkan saja, mungkin dia protes kenapa sedang cuti tetap ku paksa masuk kantor," jawab Syauqi seenaknya.
"Mas Syauqi kan punya anak buah banyak. Kenapa harus Mas Dony? Kasihan dia sedang sibuk mempersiapkan pernikahan," protes Zhia.
"Aku hanya puas dengan kinerja Dony. Meskipun dia terlihat konyol tapi saat bekerja dia sangat serius dan bisa diandalkan. Aku bukan orang yang mudah percaya pada orang lain," jawab Syauqi tenang, dia berbicara sambil memejamkan matanya. Kepalanya tiduran di atas paha istrinya.
"Sayang, besok aku tetap harus kerja. Kamu ikut aku ya? Kalau tidak aku takkan punya tenaga dan aku juga tidak bisa konsentrasi bekerja. Jauh darimu beberapa jam rasanya aku sudah sangat rindu," goda Syauqi, tapi dia juga serius dengan ucapannya.
Zhia mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"kalau rindu kenapa kemaren sama sekali tidak menghubungiku?" ucap Zhia kesal.
Syauqi langsung bangun, dia tidak memperdulikan kain basah di dahinya yang terjatuh.
Syauqi memegang kepala istrinya dan menciumnya dengan mesra.
Zhia tersentak kaget seperti dialiri listrik, tapi dia menikmatinya.
"Lihatlah istriku ini, kalau ngambek semakin cantik,"goda Syauqi.
Zhia jadi tertawa.
Dia tahu jika suaminya tak tahan kalau Zhia sampai marah, Zhia kesal sedikit saja Syauqi pasti akan menciumnya, memeluknya, kemudian meminta maaf.
Syauqi selalu mengalah dan dia juga tak bisa berkata tidak untuk istrinya.
Suara lembut Zhia selalu bisa mengalahkan keras kepalanya Syauqi.
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
__ADS_1
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗