CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 68


__ADS_3

Kaysa dan Alarik sudah puas menikmati pemandangan di sekitar rumah Syadev. Di sana jarak antara rumah satu dengan yang lainnya saling berjauhan. Dan banyak sekali pepohonan yang ukurannya tinggi-tinggi.


“Aku ngantuk, kita pulang saja yuk?” Ajak Alarik pada istrinya.


“Oke, tapi aku mau di gendong sampai rumahnya Syadev,” pinta Kaysa manja.


“Silahkan, Tuan Puteri,” ucap Alarik sambil jongkok di depan istrinya.


Kaysa tanpa sungkan-sungkan langsung nangkring di punggung Alarik.


“Rasanya semakin berat saja,” ucap Alarik.


“Iyakah?” tanya Kaysa memastikan.


“Iya, tapi tidak apa-apa. Semakin kamu gemuk nanti semakin empuk,” jawab Alarik seenaknya.


Kaysa langsung memukul bahu suaminya tanpa henti karena merasa dipermainkan.


“Hey, hey jangan usil! Nanti bisa jatuh loh,” teriak Alarik.


“Pokoknya kalau aku sampai jatuh kamu harus tanggung jawab,” kata Kaysa kesal.


“Makanya diam saja!” Balas Alarik.


Kaysa mulai diam, sebab dia juga merasa malas berjalan sebab jaraknya masih jauh untuk menuju rumah Syadev.


Karena jalannya menanjak Alarik mulai merasa lelah, napasnya sampai ngos-ngosan.


“Segini aja sudah loyo,” sindir Kaysa.


“Jalannya seperti ini, istirahat dulu yah?” pinta Alarik.


“Baiklah, turunkan aku sekarang!” ucap Kaysa setuju.


Mereka berdua berteduh di bawah pohon yang rindang, Alarik tak kuasa menahan kantuknya. Pemuda itu nekat tiduran di atas rerumputan dan kepalanya bersandar pada paha istrinya.


Kaysa tidak protes, dia kasihan juga melihat suaminya yang kelelahan. Dia sendiri menyandarkan tubuhnya pada pohon agar terasa nyaman.


“Ahh... Sejuknya, sebaiknya aku telepon Zahra saja dari pada bengong sendirian.


Kaysa segera mengambil ponsel di saku baju suaminya dan melakukan video call pada sepupunya yang berada di Indonesia.


“Lagi apa?” tanya Kaysa.


“Tiduran, kamu sekarang di mana?” tanya Zahra terlihat penasaran dari layar ponsel.


“Amerika,” jawab Kaysa singkat.


“Benarkah? Mana Darren?” tanya Zahra antusias.


“Dia sedang kuliah,” jawab Kaysa.


“Oh iya, di sini sama di situ perbedaan jamnya banyak,” ucap Zahra kecewa.


“Aku ada rahasia, tapi hanya kamu yang aku beritahu ya?” kata Kaysa setengah berbisik.


“Apa?” tanya Zahra tak sabar.


“Syadev dan Anggun sudah menikah,” jawab Kaysa pelan-pelan, sebab suaminya seperti terganggu jika dia ribut.


“Kamu sudah tahu?” tanya Zahra balik bertanya.


Kaysa langsung muram, ternyata orang yang hendak di beritahu malah sudah tahu duluan.


“Kenapa kamu muram begitu?” tanya Zahra.


“Kalian kejam padaku,” rengek Kaysa.


“Maaf, tapi aku juga tidak berani berbuat apa-apa. Lagi pula saat itu kamu masih pengantin baru dan juga sedang bersedih tentang meninggalkannya nenekmu,” ucap Zahra.


“Ya sudahlah, tapi lain kali aku tidak mau menjadi orang terakhir yang tahu jika ada apa-apa,” kata Kaysa masih kesal.


“Iya,” jawab Zahra tersenyum lega.


“Bagaimana keadaan di kampus kamu? Apa sudah punya teman banyak?” tanya Kaysa penasaran.


“Aku tidak seperti dirimu yang mudah bergaul,” ucap Zahra malu-malu.


“Awas ya jangan kecantol cowok di sana,” sindir Kaysa.


“Aku selalu setia, justru yang perlu dicurigai adalah Darren. Di sana pasti banyak godaan dari perempuan yang cantik dan lebih menarik,” kata Zahra cemas.

__ADS_1


“Baru beberapa hari, tapi kamu sudah hilang kepercayaan,” balas Kaysa.


“Semoga saja cinta kita bisa langgeng. Seperti cinta kamu dan Kak Al juga cinta Syadev dan Anggun,” ucap Zahra.


“Amin, aku tutup dulu ya, kita ngobrol lain kali lagi,” Pamit Kaysa.


“Iya, jangan lupa oleh-olehnya,” jawab Zahra.


Kaysa segera menutup teleponnya Karena suaminya sudah bangun.


“Nyenyak sekali tidurnya,” kata Kaysa pada suaminya.


“Nyenyak bagaimana, telingaku penuh dengan suara gosip para perempuan,” sindir Alarik.


“Kalau begitu mari pulang, kita tidur di rumah,” ajak Kaysa berdiri sambil berdiri.


Mereka berdua segera pulang, karena matahari sudah hampir terbenam.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Zahra merasa kesepian di kampus barunya, sebab dia sama sekali belum memiliki teman akrab. Bukan karena tidak ada yang ingin berteman dengannya, hanya saja mereka berbeda dengan teman-teman Zahra sebelumnya seperti Kaysa, Anggun, Darren dan Syadev.


"Tanpa mereka aku kesepian sekali. Sebenarnya aku ingin kuliah di tempat Kaysa atau ikut Syadev. Namun kedua orang tuaku tidak menyetujui aku kuliah jauh," batin Zahra.


Zahra anak tunggal, terlebih lagi dia juga anak perempuan dari seorangg Ustad. Sehingga kebebasannya tidak bisa penuh, berbeda dengan Kaysa yang pemberontak meskipun sudah di larang.


Selesai jam kuliah, Zahra berniat menemui Alifya. Sebab dialah satu-satunya yang di kenal di universitas itu.


Namun saat melewati sebuah kantin, Zahra melihat seseorang yang tidak asing. Seorang pemuda yang pernah diciumnya saat MOS di SMA Nusantara.


"Kak Mahen? Benar, itu Kak Mahen. Tidak ku sangka dia juga belajar di sini."


Zahra memutar balikkan badannya menuju kelasnya kembali, sebab dia tidak ingin ketahuan pemuda itu. Zahra masih belum bisa melupakan kejadian memalukan tiga tahun yang lalu.


"Zahra," teriak Mahen memanggil Zahra.


Zahra pura-pura tidak mendengar, tapi Mahen justru mengejarnya dan menarik tangannya.


Zahra melepaskan pegangan tangan tersebut dengan kasar.


"Maaf, bukan maksudku berniat buruk. Aku hanya ingin memastikan jika kamu benar Zahra," kata Mahen merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, sekarang aku mau kembali ke kelas," ucap Zahra.


Zahra gelagapan, sebab dia bingung main menjawab apa.


"Kenapa kamu menghindar dari aku? Bagaimanapun juga kita dulu pernah satu sekolah. Dan masalah MOS itu jangan kamu pikirkan lagi, aku sudah melupakan kok," ucap Mahen.


"Bukan begitu, aku hanya takut jika nanti Kak Verra salah paham padaku lagi," jelas Zahra tegas.


"Setelah lulus Sekolah aku putus dengannya, dan sejak itu kami tidak saling berhubungan lagi," jawab Mahen.


Zahra diam saja karena tidak peduli dengan hubungan mereka.


"Bisakah kita berteman? Aku bukan orang jahat kok," pinta Mahen tersenyum manis.


Zahra terkejut, sebab sejak dia berada di Universitas ini hanya Mahen yang bilang seperti itu. Sedangkan murid perempuan sekelasnya hanya mau berteman dengan sesama perempuan yang populer.


Ada juga murid yang berhijab seperti dirinya, tapi mereka sama-sama malu untuk menyapa satu sama lain.


"Baiklah," jawab Zahra yang merasa tidak enak.


"Kalau begitu ayo kita kembali ke kantin. Aku traktir kamu, tadi aku juga belum sempat memesan makanan," kata Mahen.


Zahra menuruti ajakan teman barunya.


"Mungkin tidak masalah jika hanya sebatas teman, aku yakin Darren tidak akan marah."


Mereka berdua makan bersama dan saling mengobrol, Mahen pemuda yang sopan dan hangat, membuat Zahra merasa nyaman dan tidak canggung.


Dua tahun tidak bertemu memang banyak perubahan yang terjadi pada Mahen, pemuda itu terlihat dewasa dan tambah tampan.


Begitu juga sebaliknya, Zahra uang dulunya terkesan cupu kini sudah bisa memakai bedak dan bajunya juga muslim modern. Membuat Zahra terlihat cantik dan menarik.


Selesai makan, Zahra langsung pamit kembali ke kelas.


"Aku antar ya?" pinta Mahen.


"Tidak perlu, Kak Mahen. Aku tidak akan tersesat," jawab Zahra tertawa.


"Tidak apa-apa, sekalian aku mau melihat kelasmu," ucap Mahen tertawa.

__ADS_1


"Melihat kelas apa mau mencari adik kelas yang cantik?" goda Zahra.


"Aku sudah tidak tertarik lagi, semenjak putus dengan Verra aku sudah pensiun pacaran," jawab Mahen santai.


"Benarkah? Aku tidak percaya, bukannya dulu Kak Mahen cowok Playboy?" sindir Zahra.


"Dulu aku masih kecil, sekarang lebih fokus belajar saja," jawab Mahen.


Tidak terasa karena terus mengobrol mereka sudah sampai di kelas Zahra.


"Aku balik dulu ya?" ucap Mahen.


"Iya, terima kasih atas traktirannya," kata Zahra tersenyum ramah.


Setelah kepergian Mahen, tiba-tiba datang tiga perempuan sekelas Zahra.


"Hay, nama kamu Zahra kan?" tanya mereka.


"Iya, nama kalian siapa?" tanya Zahra senang.


"Aku Seila."


"Aku Via."


"Aku Qila."


"Salam kenal ya?" ucap Zahra senang.


"Iya," jawab mereka bersama.


"Yang tadi itu Kak Mahen kan? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Qila.


"Kami dulu pernah satu sekolah, kebetulan sekarang satu Universitas lagi," jawab jawab Zahra polos.


"Oh gitu, ya sudah ayo kita masuk kelas," ajak Qila berlalu pergi.


"Kami duluan ya?" ucap Via dan Seila bersamaan.


Zahra hanya tersenyum, dia tidak mengira jika tiba-tiba mereka berubah ramah.


Setelah selesai pelajaran, Zahra seperti biasanya menunggu sopir yang menjemputnya di depan gerbang Universitas.


Tiba-tiba di sampingnya sudah berdiri seorang gadis berpakaian sederhana.


"Hai, kenalkan aku Rahma," ucap gadis itu.


"Salam kenal, nama aku Zahra. Kita satu kelas kan? Kamu yang duduk di ujung?" kata Zahra tersenyum ramah.


"Iya, Zahra aku cuma mau mengingatkan agar kamu tidak terlalu dekat-dekat dengan Qila, Seila dan Via ya! Mereka itu berbahaya, aku bilang kaya gini karena aku pernah satu sekolah dengan mereka," bisik Rahma dengan wajah serius.


"Iya, terima kasih sudah mengingatkan," jawab Zahra menganggap semua itu hanya angin lalu.


Zahra juga termasuk gadis polos, baginya asal tidak mengganggu orang lain, pasti juga tidak akan ada orang yang mengganggunya.


Kemudian mobil yang menjemput Zahra sudah datang, gadis itu segera berpamitan pada Rahma.


"Aku pulang dulu ya? Kamu pulangnya di jemput apa membawa kendaraan sendiri?" tanya Zahra.


"Aku pakai motor sendiri," jawab Rahma.


"Baiklah, kalau begitu aku duluan, Assalamu'alaikum," ucap Zahra menutup pintu mobilnya.


Di dalam mobil Zahra berpikir lagi tentang apa yang barusan dikatakan Rahma.


"Tapi jika memang Rahma pernah satu sekolah berarti apa yang tadi dikatakannya itu benar, apalagi selama ini mereka bertiga cuek padaku. Begitu melihat aku bersama Kak Mahen mereka langsung berubah ramah dan tanya-tanya mengenai hubungan kami. Sebaiknya aku berhati-hati saja, sebab sudah tidak ada lagi Kaysa, Syadev dan Darren yang akan melindungi aku."


Zahra menjadi penasaran, apa yang menyebabkan ketiga gadis itu bertanya tentang Mahen.


"Apa mereka itu penggemar Kak Mahen?"


Saat ini Zahra hanya bisa menebak saja, tapi yang terpenting baginya dia harus bisa melindungi diri sendiri dari kejadian yang tidak diinginkan.


Jangan lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Terima kasih sudah setia sampai di sini, tetap nantikan kisah selanjutnya ya🤗 Kedepannya masih ada kisah cinta Orlin dan Flora. Tapi karena Flora masih SMP jadi menunggu setelah SMA ya🤗🤗🤗🤗 Nantinya kisah Flora akan semakin menarik. Kira-kira Flora Dengan siapa ya?


A. Gionino


B. Darren


C. Teman sekolah

__ADS_1


D. Dijodohkan Orang tua


__ADS_2