
Beberapa hari tidak masuk kantor membuat pekerjaan Alarik menumpuk banyak, bahkan mungkin butuh waktu seminggu lebih untuk menyelesaikannya.
Tapi Alarik tidak bisa tenang memikirkan tentang hubungannya dengan Kaysa yang belum diketahui oleh Keluarga Orlin.
"Bagaimana ini? Kalau tidak segera dijelaskan nanti bisa semakin rumit," batin Alarik tidak bisa konsen pada pekerjaannya.
"Aku harus nekat ke London, soal pekerjaan bisa diurus belakangan. Urusan Kaysa bagiku lebih penting dari segalanya."
Alarik bergegas menyiapkan diri untuk ke luar negeri, pemuda itu tidak akan bisa tenang sebelum semuanya terang.
"Mau kemana, Bos?" tanya Orlin heran, sebab pekerjaan masih banyak.
"Aku ada urusan penting, mungkin besok baru pulang," jawab Alarik berlalu pergi.
Orlin hanya bisa memandang seseorang yang sangat dicintainya dengan pilu.
"Bertahun-tahun aku menantimu, berharap kita bisa menjadi pasangan bahagia. Namun kenyataannya cintamu bukanlah untukku. Kebaikanmu selama ini hanya karena kamu menganggapku sebatas teman."
Orlin menangis, gadis itu tidak kuasa menahan air matanya lagi.
"Aku ingin melupakanmu, tapi aku tidak bisa. Lalu aku harus bagaimana?" batin Orlin tersayat hatinya. Tubuhnya bergetar karena Isak tangsi yang semakin kencang.
Sedangkan Alarik sudah sampai di mobil, pemuda itu tahu jika tadi temannya bersedih sebab menanggung luka hati.
"Maafkan aku, Orlin. Kamu perempuan yang baik. Aku yakin suatu saat kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku."
Di sepanjang perjalanan Alarik merasa resah, sebab ada rasa takut, tidak enak dan kasihan. Namun mau bagaimana lagi, hati tidak bisa dipaksakan. Cintanya sudah sejak lama terpatri hanya untuk Kaysa.
Setelah perjalanan yang panjang akhirnya Alarik sampai juga di negara London. Di sana dia disambut dengan suka cita, karena masa kecilnya Alarik juga tinggal di sana.
"Kenapa kamu terlihat canggung begitu? Bukankah ini juga rumah kamu?" tegur Rendra.
Alarik memang merasa ketakutan, sebab selama ini Orang tua orlin begitu baik padanya, tak tega jika secara terang-terangan melukai anak mereka.
"Alarik, ayo kita makan dulu. Tapi masakan Tante tidak seenak Orlin yah?" ucap Nayla tersenyum ramah.
"Iya," jawab Alarik gugup.
__ADS_1
Setelah makan Rendra mengajak Nayla dan Alarik ngobrol di ruang santai, wajah lelaki separuh baya itu tidak bisa berhenti tersenyum karena mengira kedatangan Alarik untuk membahas pernikahan putrinya.
"Kenapa Orlin tidak ikut?" tanya Rendra.
"Orlin masih sibuk bekerja, Om," jawab Alarik.
"Kapan kalian menikah?" tanya Nayla tanpa basa-basi.
Alarik langsung terkejut, tidak mengira akan mendapat serangan yang mendadak. Membuat Alarik semakin gemetar.
"Kalian ini sudah sama-sama dewasa, mau menunggu apa lagi?" timpal Rendra ikut menasihati.
Alarik masih diam, nyalinya menciut untuk menghadapi kedua orang tua Orlin. Tiba-tiba ponselnya bergetar, Alarik mengalihkan pembicaraan dengan membuka ponsel tersebut.
Kaysa
Lagi apa ya? Jangan-jangan sedang menggoda perempuan lain😈
Alarik
Mendapat pesan dari Kaysa membuat dirinya lebih berani untuk memperjuangkan cintanya. Alarik mengatur napas dan menatap Boal mata Om Rendra dan Tante Nayla secara bergantian.
"Tante, Om. Saya ke sini mau mengucapkan terima kasih banyak karena selama ini telah merawat saya dengan sangat baik. Kedatangan saya ke sini ingin memberi tahu jika hubungan saya dan Orlin hanya sebatas teman saja, maafkan kekasaran saya tapi inilah kenyataannya, sebelum Tante dan Om salah paham sayamau menjelaskan semua ini. Orlin sudah tahu semua ini sejak lama," kata Alarik lembut tapi jelas.
Rendra dan Nayla sangat syok, terlebih mereka berdua tahu jika Orlin sangat mencintai Alarik sejak kecil.
Rendra sebagai lelaki masih bisa bersikap tegar, sedangkan Nayla tak bisa membendung air mata dan rasa kecewanya.
"Orlin selama ini mencintaimu? Apa yang kurang darinya sampai kamu tidak punya perasaan apa-apa padanya?" tanya Nayla dengan nada pedih.
Alarik menjadi tidak enak, tapi dia mencoba menenangkan Tantenya agar tidak berangsur-angsur salah paham.
"Tante, saya memang menyayangi Orlin. Namun rasa sayang itu hanya sebatas saudara dan sahabat," jawab Alarik mencoba tenang.
"Apa kamu sudah punya seseorang yang dicintai?" tanya Rendra penasaran.
"Iya," jawab Alarik menunduk.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Nayla dan Rendra bersamaan.
"Kaysa," jawab Alarik jelas.
"Apa?" pekik Rendra dan Nayla bersamaan.
"Dia adik kamu, Al!" pekik Nayla mengingatkan.
"Iya, Tante. Namun Kaysa kini sudah tahu jika saya bukanlah kakak kandungnya. Maafkan saya Om, Tante. Tapi saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau seseorang yang ingin saya nikahi adalah Kaysa," jawab Alarik.
"Tidak masuk akal! Kaysa tetaplah adikmu, dan usianya jauh lebih muda darimu. Meskipun Kaysa hebat dan cantik tapi untuk dijadikan seorang istri aku yakin masih lebih baik Orlin, dia dewasa, keibuan dan bisa merawat kamu," kata Nayla tidak terima.
Alarik sadar, apa yang barusan diucapkan Tante Nayla ada benarnya juga. Namun dirinya tetap hanya mencintai Kaysa.
Rendra menenangkan Nayla agar istrinya itu bisa tenang, dirinya juga ikut terluka. Namun Rendra mencoba berpikir jernih agar semua ini tidak menjadi masalah untuk ke depannya.
"Maafkan aku, Tante, Om," ucap Alarik merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Alarik. Mungkin kamu dan Orlin memang belum jodoh. Jangan merasa bersalah seperti itu, kami hanya bisa berharap sedangkan keputusan ada di tangan kamu sendiri," jawab Rendra bijaksana.
"Terima kasih, sudah mau mengerti," ucap Alarik lega, meskipun dia melihat ada goresan kekecewaan pada orang tua Orlin tapi setidaknya dia sudah berusaha menjelaskan.
"Alarik, maa tadi Tante hanya syok saja, jadi Tante bersikap keras padamu," kata Nayla menyesal.
"Tidak apa-apa, Tante. Aku tahu Tante sangat menyayangi Orlin, jadi Tante pasti juga ikut bersedih karena aku sudah melukai hatinya," jawab Alarik sadar diri.
"Sekarang kamu istirahatlah! Pasti merasa lelah setelah perjalanan jauh," ucap Rendra mencoba tersenyum tegar.
"Terima kasih, Tante, Om. Tapi saya harus segera kembali ke Indonesia, karena pekerjaan saya sudah menumpuk," tolak Alarik secara halus, sebab dia juga tidak nyaman berada dalam situasi sungkan.
"Baikah, kamu hati-hati ya!" jawab Rendra memahami.
Alarik segera berpamitan pada kedua orang tua orlin.
"Untukmu, Kaysa. Aku akan melakukan apapun juga agar kita bisa hidup bersama selamanya."
Jangan Lupa Like dan Vote yah🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author, Jangan lupa baca juga novel Scorpio ya🤗 kisahnya tidak kalah seru dan romantis🌹
__ADS_1