
Sore harinya semua orang baru bisa bernapas lega, sebab proses operasi berjalan lancar. Kini Alarik dan Flora bisa melihat Kaysa. Hanya saja bayi yang mungil tersebut masih harus mendapatkan perawatan intensif.
Alarik begitu melihat wajah Kaysa langsung mencium pipi istrinya tersebut.
"Apa ada yang terasa sakit?" tanya Alarik.
"Perutku... Rasanya sedikit nyilu," jawab Kaysa manja.
"Sabar ya, semoga nanti cepat sembuh. Tapi aku bahagia banget, akhirnya istri dan putraku bisa selamat semua," ucap Alarik sampai matanya memerah.
"Putra? Di mana sekarang?" tanya Kaysa tak sabaran.
"Karena putra kita lahir prematur maka sekarang harus di rawat dulu, kita belum boleh menemui untuk saat ini. Do'akan saja yang baik - baik," bujuk Alarik lembut.
"Aku sudah sangat penasaran bagaimana wajahnya?" rengek Kaysa.
"Yah... Soal wajah pasti mirip denganku lah," jawab Alarik tertawa.
"Tidak apa - apa, aku tidak keberatan," jawab Kaysa riang. Sebab Alarik memang memiliki wajah yang sangat tampan.
"Kak, aku tadi sudah takut sekali. Syukurlah semua baik - baik saja sekarang," sela Flora mendekati kakaknya.
"Iya, tidak apa - apa. Lalu bagaimana dengan belanjaan kita tadi?" tanya Kaysa yang ingat kado untuk Orlin dan Reki.
"Aku sudah meminta pak sopir untuk mengambilnya, sekarang sudah di simpan di rumah," jawab Flora.
"Besok aku tidak bisa menghadiri pesta pernikahan Kak Reki dan Kak Orlin, aku jadi tidak enak pada mereka," ucap Kaysa kecewa.
"Tidak apa - apa, tadi mereka juga ke sini dan aku sudah bilang jika kita tidak bisa datang. Pastinya mereka bisa memahami situasi kita dong," timpal Alarik.
"Benarkah? Syukur kalau gitu," jawab Kaysa lega.
"Nanti Ayah dan Bunda juga akan sampai di sini, mereka begitu tahu jika kakak mau melahirkan langsung pulang sekarang," sela Flora.
"Benarkah?" tanya Kaysa panik.
"Iya, tapi kakak santai saja. Aku sudah bilang jika Kak Kaysa baik - baik saja dan jagoan tampanku juga sehat," jawab Flora.
"Syukur, setidaknya mereka bisa lega jika mengetahui baby ku sudah lahir," balas Kaysa.
Malam harinya suasana semakin ramai, keluarga dari Alifya, Zahra dan Doni berdatangan. Begitu juga dengan keluarga Reki dan Orlin.
Karena di larang berkunjung beramai maka merekabergantian menemui ke kamar rawat inap Kaysa. Sedangkan untuk melihat Baby Kaysa mereka hanya bisa mengintip lewat jendela.
__ADS_1
"Hidungnya... Membuat aku jatuh cinta," ucap Orlin senang.
"Nanti kita bisa buat yang seperti itu," jawab Reki yang berdiri di samping Orlin.
"Kalau hidungnya nanti meniru punyaku bagaimana?" tanya Orlin sambil menyentuh hidungnya sendiri.
"Tak apa, begini saja kamu sudah kelihatan sangat cantik," jawab Reki.
Tiba - tiba saja Darren dan Zahra sudah berdiri di belakang Reki dan Orlin. Mereka sudah tidak sabar menunggu sedari tadi.
"Ehm, kami juga mau melihat baby tampan. Kakak - Kakak kalau mau pacaran jangan di sini dong," sindir Darren.
Zahra langsung menyikut pinggang Darren karena berbicara ngawur.
"Kamu ini, jangan sembarangan," tegur Zahra lembut.
"Aku hanya bercanda," jawab Darren cengengesan.
"Maaf ya membuat kalian menunggu lama, silahkan kalau mau melihat baby nya," ujar Orlin ramah.
Darren dan Zahra dengan antusias segera melihat bayi Kaysa, tiba - tiba saja Darren menginginkan bayi.
"Zahra, apa kamu tidak mau memiliki bayi yang mungil itu?" tanya Darren.
Seketika wajah Zahra merona merah, sebab selama ini mereka belum melakukan hubungan layaknya suami istri. Sebab Zahra masih takut dan juga ingin kuliah terlebih dahulu.
Kini kehidupan mereka memang terlihat sempurna, meskipun masih kuliah tapi sudah sukses dan selalu terlihat romantis. Namun, sebenarnya Zahra merasa buruk karena sebagai istri belum bisa memberikan apa yang seharusnya diberikan. Walaupun Darren orang yang sabar tapi dirinya selalu dihantui perasaan bersalah.
Kini Zahra semakin sadar saat tadi melihat suaminya begitu senang dan terpana melihat baby nya Kaysa.
"Selama ini aku selalu berpikir tentang belajar, tapi setelah aku sadar ada hal yang lebih penting. Yaitu menjadi istri yang baik," batin Zahra.
Setelah semuanya saling melihat lewat kaca jendela kini hanya tersisa Alifya dan Bima.
"Silahkan duluan," ucap Bima.
"Kamu saja yang duluan," balas Alifya mengalah.
"Sudah... Sudah... Sebaiknya barengan aja kenapa? Lagi pula kalian sebentar lagi akan menikah juga," saran Darren membuat semua orang tertawa.
Alifya langsung memerah sebab tidak menyangka jika hubungan dia dan Bima sudah tersebar.
Dengan malu - malu Alifya melihat juga di samping Bima.
__ADS_1
"Kenapa mereka bisa tahu?" tanya Alifya.
"Jangankan mereka, semut kecil saja semuanya sudah tahu jika kita memang berjodoh," gombal Bima.
Alifya merasa malu setiap kali di goda seperti itu. Hubungan antara Bima dan Alifya sudah berkembang baik, biarpun Bima sering bolak - balik ke luar negeri akan tetapi cinta di antara mereka semakin bersemi.
Bima sudah menjadi seorang pemuda matang yang taat beragama. Kini dirinya sedang merintis usaha sendiri di Indonesia. Demi Alifya Bima rela menetap di sana karena orang tua Alifya tidak mengizinkan jika Alifya di bawa ke luar negeri. Semua demi cinta, Bima siap melakukan apapun juga untuk calon istrinya.
Suasana yang ramai berubah haru saat kedatangan Syauqi dan Zhia. Mereka sudah tahu mengenai penyakit Zhia, bahkan seorang Rian yang selama ini tegas pada adiknya saja sampai menangis.
"Adik, jagalah kesehatanmu," kata Rian sesenggukan.
Di belakang Rian juga ada Tia, seorang kakak ipar yang kasih sayangnya melebihi darah saudara sekandung.
Di sudut ruangan Flora yang tidak memiliki kesempatan untuk memeluk Bundanya saking banyaknya orang yang mengerubungi hanya tersenyum sambil menangis.
Gadis itu teramat bersyukur melihat bundanya semakin baik kondisinya.
"Jangan menangis, percayalah semua akan baik - baik saja," bujuk Gio yang masih jomblo itu.
"Iya, Flora. Kamu jangan bersedih lagi," timpal Isnaini.
" Aku hanya bahagia bisa melihat Bunda lagi," jawab Flora menatap Bunda serta Ayahnya.
Syauqi sendiri dari tadi malah berdiri di kaca jendela melihat cucu pertamanya yang baru lahir.
"Ayah, sudah dari tadi sampainya?" sapa Alarik mendekati Syauqi, matanya terlihat merah karena baru bangun tidur mendengar ramai - ramai di luar ruangan istrinya.
"Baru saja, bagaimana keadaan Kaysa?" tanya Syauqi.
"Dia sedang tidur," jawab Alarik.
"Selamat ya, karena kamu sudah menjadi seorang Ayah. Jaga baik - baik putri dan cucuku. Aku sangat percaya padamu," ucap Syauqi sambil memeluk menantunya yang pernah menjadi putra angkat.
"Iya, Ayah jangan khawatir soal itu. Tentu saja aku akan menjaga mereka sebaik mungkin," jawab Alarik mantap.
"Oh iya, siapa nama cucu tampanku?" sela Zhia yang baru menghampiri kedua lelaki gagah itu.
"Belum di beri nama, aku sengaja menunggu Ayah dan Bunda pulang," jawab Alarik tersenyum.
"Tumbenan Kaysa tidak memberikan nama duluan, biasanya dia yang suka ribut sendiri soal pemberian nama," kata Syauqi tertawa.
"Kami memang sudah sepakat, Biar Ayah atau Bunda saja yang memberikan nama," jawab Alarik.
__ADS_1
Syauqi berpikir sejenak. Dia sedang memikirkan nama yang paling indah untuk cucu pertamanya.
**Terima kasih sudah setia membaca sampai di sini, jangan luap Like dan Vote sebanyak mungkin yaa..