CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 91


__ADS_3

Reki merasa kurang nyaman berada di antara Alarik dan istri simpanan papanya. Bukan karena merasa benci tapi ada perasaan bersalah yang sulit untuk diakui.


Reki tahu jika selama ini dirinya begitu sombong dan angkuh, tidak mudah baginya meminta maaf karena dia termasuk pemuda yang memiliki harga diri tinggi.


"Om Faisal, sepertinya Syadev dan Anggun akan lama. Bagaimana kalau menemui Om Syauqi terlebih dahulu?" saran Orlin.


"Iya, kamu benar, Nak," jawab Faisal sembari mengajak istri dan putra keduanya.


"Kak, aku tinggal sebentar ya. Nanti kami akan kembali lagi," pamit Gio pada Reki.


Reki hanya mengangguk tersenyum kecut, dia tidak menyangka jika adik tirinya bisa berlapang dada menerimanya bahkan memanggil dirinya dengan sebutan kak.


Setelah mereka bertiga pergi Reki mulai bisa bernapas lega dan santai.


"Kak Reki, janganlah kamu judes sama Kak Gio. Aku sudah mengenal dia semenjak SMA. Dia Adalah pemuda yang baik dan ramah, juga tidak pendendam," protes Kaysa dengan gaya manja.


"Sepertinya kamu kenal betul dengan dia," ucap Reki.


"Tentu saja kenal, Gio itu mantan Kaysa. Mereka pacaran seminggu tapi Gio sudah langsung diputus," ujar Orlin tak bisa menahan tawanya.


"Benarkah? Kenapa kamu bisa jadian dengannya kalau tidak suka?" tanya Reki penasaran.


"Ada deh, intinya dia orang yang baik dan jangan sakiti dia," jawab Kaysa.


Alarik hanya tersenyum saja mendengarkan obrolan antara Reki dan Kaysa. Pemuda itu heran dengan waktu singkat istrinya bisa terlihat akrab pada kakak sepupunya. Sedangkan dirinya sendiri saja masih kaku biarpun sudah mencoba bersikap biasa.


Tak berapa lama Papa dan Ibu tiri serta adik tiri Reki kembali ke meja seperti semula.


"Kaysa, Om sangat salut pada keluargamu," puji Faisal jujur.


"Memangnya kenapa?" tanya Kaysa.


"Terlihat bahagia dan saling menyayangi," jawab Faisal.


"Om juga bisa hidup bahagia, asalkan Om sebagia imam keluarga mamou mengarahkan dengan baik," jawab Kaysa santai.


Alarik kadang suka takut sendiri jika sifat istrinya yang suka ceplas-ceplos itu bisa membuat orang lain merasa tersinggung. untung saja Pamannya tersebut bisa menyadari jika maksud Kaysa baik.


"Iya, kamu benar, Nak. Andai sejak awal Om Faisal berkata jujur mungkin Om tidak akan melukai semua orang yang Om sayangi," ujar Faisal mengarahkan kata-katanya pada Reki dan Gio.


"Pa, papa adalah yang terbaik. Papa jangan merasa bersalah lagi," ucap Gio memberi semangat.


Reki terdiam tidak tahu apa yang harus dia katakan.


"Gio... Reki... Maaf sudah membuat kalian terluka, tapi bagaimanapun juga kalian adalah putra papa. Jadi papa akan menyayangi kalian dan tidak akan membeda-bedakan. Kalian tidak boleh saling membenci, jika mau marah limpahkan semuanya papa papa," pinta Faisal sampai air matanya berlinang.


Sebenarnya Faisal tahu jika tidak tepat dalam acara pesta tapi membuat suasana sedih, akan tetapi dirinya takut jika kedepannya tidak ada kesempatan untuk anak-anaknya bisa berkumpul.


"Pa, aku tidak membenci Kak Reki. Aku juga tidak marah pada Papa. Semua ini sudah takdir jadi kita harus menerimanya," ucap Gio jujur.


Reki menjadi malu sendiri melihat Gio yang masih muda tapi bisa berpikiran bijaksana.


"Pa, aku dulu memang marah. Tapi sekarang aku berpikir jika aku terus hidup dalam kebencian maka aku tidak akan pernah bahagia. Jadi aku maafkan papa asal papa tidak melupakan Mama," ucap Reki secara perlahan.


orang yang berada semeja dengan Reki terkejut, apalagi Faisal dan Alarik yang tahu jika Reki memiliki watak keras.


"Benarkah? Iya, Nak. Papa tidak akan pernah melupakan Mama kamu. Mamanya Gio juga selalu mengajak papa menjenguk mamamu ke penjara," jawab Faisal penuh haru.


"Iya, Reki. Mulai sekarang kamu juga menjadi anakku. Jadi kamu bisa memanggil aku dengan Mama," ucap Mamanya Gio lembut.


Reki kini tahu kenapa papanya bisa begitu cinta pada istri mudanya itu. Namun meskipun Mamanya Reki keras dan kasar dia tetap menyayangi Mamanya yang sudah melahirkan dia di dunia ini.


"Iya, Ma. Mulai sekarang Anda adalah mama saya juga," balas Reki mencoba tersenyum.


"Terima kasih, terima kasih karena kalian bisa mengerti dan menerima keadaan ini. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan dan adil pada kalian," ucap Faisal bahagia sekali.


"Kak Reki, aku senang kamu sudah berubah. Karena kamu juga masih keturunan dari keluarga Mandala maka bergabunglah lagi ke perusahaan," pinta Alarik tulus.


"Alarik, aku sudah banyak bersalah padamu. Apa kamu masih percaya padaku?" tanya Reki ragu.

__ADS_1


"Tentu, karena kamu adalah kakakku juga. Jadi sebaiknya kita berdua memajukan perusahaan biar lebih berkembang lagi," jawab Alarik.


Reki merasa malu mau menjawab apa, kemduain Orlin memberikan kode untuk menyetujui.


Saat mendapatkan tatapan dan senyuman dari Orlin membuat Reki memiliki semangat baru.


"Baiklah, terima kasih banyak karena sudah memberiku kesempatan. Mengenai uang yang pernah aku korupsi akan aku kembalikan sedikit demi sedikit," ucap Reki.


"Tidak perlu, bagaimanapun juga selama ini kamulah yang sudah mengurus perusahaan. Jadi anggap semua itu adalah hasil kerja keras kamu," jawab Alarik mengiklaskan.


"Terima kasih banyak," jawab Reki senang.


"Aku ikut senang jika kalian bisa berbaikan seperti ini. Percayakan jika kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat kita bersama dengan orang yang kita sayangi," ucap Kaysa riang.


"Kamu benar, Kaysa," timpal Orlin.


"Akan lebih bahagia lagi jika orang yang sudah berumur segera menikah," sindir Kaysa.


Ucapan Kaysa barusan membuat Orlin dan Reki memerah malu. Faisal merasa sangat senang jika memang putra pertamanya bisa bersanding dengan Orlin. Sebab dari sekali lihat sudah tahu jika Orlin gadis yang baik dan santun.


Syadev dan Anggun yang sudah berganti pakaian yang lebih simpel mendatangi Keluarga Faisal.


"Maaf ya, Om. Tadi saya dan istri saya istirahatnya kelamaan," sapa Syadev.


"Tidak apa-apa. Kalian pasti lelah sekali, apalagi kalian harus menyambut tamu yang sangat banyak sekali," jawab Faisal.


Kemudian keluarga Faisal memberi ucapan selamat pada pengantin. Anggun yang pemalu sedikit-demi sedikit bisa bersikap seperti perempuan terhormat yang pantas bersanding dengan Syadev.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Di sisi lain Bima merasa gusar, sebab dia tidak tahu bagaimana cara untuk berkenalan dengan Alifya yang pemalu dan selalu berjaga jarak padanya.


"Kamu kenapa?" tanya Darren.


"Kakak sepupu Syadev sulit sekali di dekati," bisik Bima.


"Kamu salah kaprah kalau mendekatinya seperti ini. Jika berniat serius padanya maka langsung lamar saja," jawab Darren.


Darren yang tahu jika gadis yang dimaksud temannya barusan adalah kekasihnya seketika marah dan melotot tajam.


"Dia calon istriku!" jawab Darren kesal.


"Oh, Maaf... Ya ampun. Kenapa sih gadis-gadis yang menarik sudah ada yang memiliki," gerutu Bima.


Tiba-tiba Inge yang mendengarkan perbincangan mereka tertawa, gadis itu selalu puas jika sepupunya sial.


Bima hanya melirik tidak senang dengan sikap Inge.


"Kalian ini saudara sepupu, tapi kenapa tidak akur?" tanya Darren heran.


"Itu karena Om Wensky lebih sayang padaku, sebab Inge gadis yang susah di atur dan nakal. Sedangkan aku keponakan yang selalu bisa diandalkan," jawab Bima bangga.


"Wah, kalau itu sih aku setuju," balas Darren.


"Kalian ini tidak asyik, sebaiknya aku gabung bersama Syadev dan Anggun saja," ucap Inge kesal.


"Dengan senang hati," jawab Darren dan Bima bersamaan.


Inge semakin kesal dengan senyuman jahat dari kedua pemuda itu.


"Darren, kenapa kamu sepertinya kurang suka dengan Inge?" tanya Bima setelah sepupunya itu pergi dari sisinya.


"Dia gadis yang suka sembarangan, masa dia tanpa rasa malu mencuri ciuman pertamaku. Dan yang lebih menjengkelkan lagi dia juga bilang pada kekasihku," ucap Darren jujur.


"Haha... Inge memang begitu. Tapi jika sudah mengenal sebenarnya dia gadis yang baik dan suka menolong loh," balas Bima tertawa.


"Biarlah, aku tidak mau ambil pusing," dengus Darren.


Tiba-tiba Zahra dan Alifya berlalu masuk ke dalam ruangan, dengan cepat Darren mengajak temannya itu untuk bangkit menyusul.

__ADS_1


"Ayo, kesempatan bagus ini," ucap Darren.


Bima langsung setuju dengan ajakan Darren tersebut.


Rupanya kedua gadis itu sedang menuju toilet yang berada di belakang gedung.


Dengan sabar Darren dan Bima menanti mereka di depan tak jauh dari toilet.


Sesaat kemudian Zahra keluar sendirian dengan terburu-buru.


"Eh, Darren kenapa kamu di sini?" tanya Zahra kaget.


" Aku ada hal penting yang ingin dibicarakan," jawab Darren mencari alasan.


"Aku sedang terburu-buru ingin membelikan sesuatu," jawab Zahra panik.


"Beli apa?" tanya Darren.


"Ini urusan perempuan, sangat memalukan jika diberitahu pada anak laki," jawab Zahra kesal.


"Tunggu! Aku sungguh ada hal yang penting. Soal barang yang dibutuhkan Kak Alifya biar Bima yang urus," jawab Darren.


Bima hanya melirik ke arah Darren tanda tidak mengerti.


Zahra berbisik ke kuping Darren, sesaat kemudian Darren tertawa lirih.


"Ah, itu sih hal biasa baginya. Dia juga sering membelikan hal seperti itu pada ibu dan tantenya," jawab Darren seenaknya.


"Memangnya beli apa?" tanya Bima penasaran.


"Sekarang kamu tinggal ke Indomaret terdekat, nanti biar aku kirim lewat pesan," ucap Daren mendorong tubuh Bima agar cepat pergi.


Bima hanya menurut, dia berharap dengan cara ini bisa mendekati Alifya.


"Darren, kenapa kamu mengerjai temanmu sendiri?" tanya Zahra.


"Tidak apa-apa. Dia itu sedang ingin mendekati Kak Alifya. Ayo sebaiknya kita pergi dari sini," ajak Darren bersemangat.


"Lalu bagaimana dengan Kak Alifya?" tanya Zahra.


"Sudah biar Bima yang mengurus semuanya," balas Darren tanpa merasa bersalah.


Darren segera menarik lengan kekasihnya untuk masuk lagi ke dalam gedung pesta pernikahan.


"Eh.. eh... Kalian ini belum menikah tidak boleh saling berpegangan tangan seperti itu!" tegur Rian.


"Sabar ya, sebentar lagi kalian akan dinikahkan," goda Tia lembut.


Darren dan Zahra segera melepaskan tangan mereka masing-masing. Rasanya malu kalau sampai kejadian barusan akan di bocorkan pada orang tua mereka.


Setelah itu Rian dan Tia berlaku pergi dari hadapan mereka berdua.


"Kalau Paman Rian dan Bibi Tia tahu kita sebagai mendekatkan Kak Alifya dengan pemuda pasti kita akan kena marah," bisik Zahra takut.


"Tenanglah, lagipula mana mungkin Kak Alifya akan cerita pada Orang tuanya," jawab Darren santai.


Kemudian Darren segera meraih ponselnya, hampir saja pemuda itu lupa untuk menuliskan kebutuhan Kak Alifya. Daren senyum-senyum sendiri saya mengetik barang nama barang tersebut. Tidak bisa terbayangkan bagaimana reaksi Bima nanti.


Di sisi lain Bima sudah sampai Indomaret terdekat. Alangkah terkejutnya saat dia mendapatkan pesan dari Darren.


Darren


Celana dalam wanita, pembalut, Kiranti.


Bima merasa kesal sekali sudah dikerjai Darren. Namun bagaimanapun juga dia merasa kasihan mungkin saat ini Alifya sedang gelisah.


Dengan sedikit ragu-ragu Bima membuka pintu Indomaret.


Maaf ya, sudah beberapa hari ini jarang Up. Tapi Author akan berusaha agar bisa up rutin lagi.

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote yaπŸ€— Karena dukungan dari kalian adalah penyemangat ku. Love you Readers😍


__ADS_2