CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 106


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Pesta pernikahan Darren dan Zahra berlangsung megah, apalagi pesta tersebut rancangan Kaysa yang super glamour. Dony tidak segan-segan merogoh dana yang besar demi memberikan kenangan yang istimewa untuk putra tunggalnya.


Di sudut ruangan duduk seorang pemuda dengan pandangan yang satu menahan luka. Dia adalah Mahen, pemuda itu sudah sejak lama menyukai Zahra. Akan tetapi pemuda itu tidak berani mengungkapkan isi hatinya karena menghormati gadis tersebut yang masih kuliah. Tiada disangka justru belum wisuda Zahra sudah menikah muda.


Kaysa dan Alifya yang tahu mengenai Mahen merasa kasihan juga.


"Kak, ayo kita temani Kak Mahen sebentar. Kasihan sekali dia seperti tidak bernyawa seperti itu," ajak Kaysa.


"Mari," jawab Alifya.


Mereka berdua segera menghampiri Mahen yang tengah duduk seorang diri. Pemuda tersebut kaget saat ada dua orang yang tiba-tiba duduk di depannya.


"Kak, yang sabar. Itu tandanya belum berjodoh," cetus Kaysa.


"Kamu bicara padaku, Kaysa?" tanya Mahen seperti orang linglung.


"Ya jelas, di sini yang sedang patah hati siapa lagi. Masa aku?" ejek Kaysa.


Kaysa memang tidak pandai menghibur, ujung-ujungnya malah membuat orang lain merasa kesal.


"Mahen... Percayalah, jodoh sudah ada yang mengatur. Jangan berlarut dalam kesedihan," bujuk Alifya lembut.


"Iya, terima kasih," jawab Mahen tersenyum ramah.


Alifya dan Mahen merupakan teman sekelompok dalam belajar. Jadi mereka sudah kenal dekat. Namun, karena Alifya gadis yang pendiam sehingga mereka jarang mengobrol.


"Kaysa, kamu dicari Zahra," kata Syadev yang baru muncul.


"Kak Alifya, sebaiknya kamu menemani kak Mahen dulu ya? Takutnya kalau dia nanti kerasukan karena banyak melamun," sindir Kaysa.


"Kamu ini! Sudah mau menjadi Mama muda masih saja suka julid," balas Mahen.


Kaysa malah menjulurkan lidah sebagai ungkapan mengejek. Kemudian dia segera mengikuti Syadev dari belakang.


Kini hanya tinggal Mahen dan Alifya berduaan. Dari kejauhan Rian melihat putrinya dengan seorang pemuda. Karena sudah mengenal jika keduanya adalah teman sekolah yang sering mengerjakan tugas bersama sehingga Rian tidak melarang mereka mengobrol.


"Setiap orang yang berada di dekat Kaysa pasti kesedihannya hilang," ucap Alifya tersenyum geli.


"Dia memang konyol, sewaktu menjadi murid baru di SMA dia langsung populer," jawab Mahen.


Akhirnya mereka berdua membicarakan tentang tingkah konyol Kaysa. Sungguh ajaib, hanya dengan menceritakan kisah Kaysa yang nakal saja mereka menjadi tertawa riang.


Dari kejauhan Bima merasa cemburu, pemuda itu tidak mengira jika seseorang yang dikaguminya bisa tertawa lepas seperti itu.


"Alifya, apa kamu kenal dengan pemuda itu? Dari tadi dia melihat ke arah kamu dengan tatapan aneh loh," tanya Mahen yang curiga.


Alifya menoleh ke arah seseorang yang ditunjukkan oleh Mahen, rupanya pemuda yang di maksud adalah Bima. Seketika detak jantung Alifya menjadi lebih cepat dan tangannya juga gemetar.


"Kamu kenapa?" tanya Mahen penasaran dengan sikap canggung Alifya.


"Tidak apa-apa," jawab Alifya menundukkan kepalanya.


Suasana menjadi hening, dan Mahenpun tidak berani lagi bertanya lebih lanjut.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Reki dengan sikap ksatria mendekati Orlin. Tadi sebenarnya Reki sudah mengajak Orlin untuk berangkat bersama, akan tetapi gadis itu memilih yang ikut bersama mobil kedua orang tuanya karena masih merasa takut.


Jadi Reki tetap mengikuti mobil milik Rendra dari belakang.


Rendra diam-diam salut juga karena Reki tidak menyerah dan tetap gigih memperjuangkan putrinya.


Sampai di parkiran gedung pesta, Reki memberanikan diri untuk meminta izin pada Rendra.


"Om, bolehkah saya mengajak Orlin masuk ke dalam?" tanya Reki.


"Tanpa kamu ajak dia juga akan masuk ke dalam," jawab Rendra mengerjai.


Nayla dan Orlin kaget, takut jika perkataan Rendra barusan menyinggung perasaan Reki. Akan tetapi Reki rupanya lebih senang digitukan dari pada didiamkan.


"Maksud saya menemani Orlin, Om," ralat Reki tidak menyerah sambil tersenyum sopan.


"Ayo istriku, kita masuk," ajak Rendra memegang lengan istrinya dan meninggalkan Orlin serta Reki berduaan.


"Sepertinya Papamu sudah mulai mengizinkan aku untuk mendekatimu," ucap Reki senang.


"Kamu tidak sakit hati di perlakukan seperti itu?" tanya Orlin.


"Tidak, karena aku juga seorang pria. Mungkin jika nanti aku punya anak perempuan pasti aku tidak akan semudah itu melepaskan putriku pada pemuda lain," jawab Reki santai.


"Wah... Kamu ini sudah berpikiran jauh," balas Orlin.


"Hey, kita ini sudah tua. Lihatlah Kaysa dan Syadev yang sebentar lagi punya anak. Darren dan Zahra yang lebih muda juga menikah duluan," jawab Reki percaya diri.


"Kalau begitu kapan kamu akan melamarku?" goda Orlin.


"Nanti malam, bagaimana?" tanya Reki serius.


Saat Orlin melangkah maju tiba-tiba Reki menarik jemari Orlin.


"Aku tidak bercanda. Bisakah malam ini aku melamarmu?" tanya Reki serius.


Orlin diam sejenak, mencoba meresapi apa yang barusan diucapkan oleh Reki.


"Baiklah, mungkin aku terdengar tidak sopan ya? Bagaimana kalau aku melamar kamu setelah kedua orang tuamu pulang di London?" timpal Reki meyakinkan.


"Maksud kamu?" tanya Orlin yang seketika seperti orang linglung.


"Aku dan keluargaku akan melamarmu di London. Jadi kamu besok ikut pulang orang tuamu saja. Lagi pula kasihan nenekmu pasti merindukanmu kan?" ucap Reki serius.


"Aku tidak bermimpi kan?" tanya Orlin seolah tidak percaya.


"Aku hanya butuh satu jawaban iya, dan tidak ada jawaban yang lain," jawab Reki tersenyum hangat.


Seketika wajah Orlin memerah merasa malu, tidak disangka jika mereka akan secepat ini menikah.


"Bagaimana?" tanya Reki lagi.


Orlin tidak menjawab, tapi kepalanya mengangguk pelan tanda setuju.


Reki rasanya ingin bersorak saking senangnya. Namun, dia menahannya karena di sana sedang banyak orang.


"Ayo istriku kita masuk," ajak Reki.

__ADS_1


Orlin tertawa, sebab gaya Reki barusan mirip sekali dengan papanya tadi.


Sesampainya di dalam mereka berdua langsung disambut oleh Kaysa dan Alarik.


"Wah... Calon pengantin berikutnya sudah datang nih," goda Kaysa.


"Hidung kamu peka sekali," jawab Reki.


"Tentu saja, karena aku punya Indra ke delapan," balas Kaysa bangga.


"Wah, kalau begitu kapan aku dan Orlin akan punya anak yang cerdas dan cantik sepertimu?" goda Reki.


"Tentu saja setelah kalian menikah, tapi jika ingin mendapatkan putri yang cantik dan cerdas sepertiku kalian harus kerja keras," jawab Kaysa seenaknya.


Alarik yang berada di samping Kaysa hanya tersenyum sendiri melihat tingkah istrinya yang kocak.


Reki dan Alarik biarpun sudah tidak bermusuhan tapi hubungan mereka masih terlihat canggung, akan tetapi Kaysa selalu bisa membuat Reki tertawa dan tidak kaku lagi dihadapan Alarik.


"Kaysa, terima kasih ya? Semua berkat ide konyolmu," ucap Orlin merasa geli.


"Ide apa?" tanya Alarik penasaran. Sebab istrinya tersebut sama sekali belum cerita apapun.


"Tidak apa-apa," timpal Orlin yang merasa malu.


"Ada apa sih?" tanya Alarik semakin penasaran pada Kaysa.


"Tidak akan aku beritahu," ejek Kaysa.


"Berani ya? Nanti malam aku tidak akan memijat kakimu lagi," ancam Alarik serius.


Kaysa menyerah, sebab kakinya sedang sakit karena kelelahan mondar mandir mengatur acara pesta Zahra dan Darren.


"Maaf kak Orlin," kata Kaysa pura-pura memelas.


"Yakin, jangan ceritakan hal memalukan ini," kata Orlin panik sambil membungkam mulut Kaysa dengan kedua tangannya.


"Jadi Kaysa memberi ide pada Orlin untuk sakit agar kami direstui," kata Reki yang justru membocorkan rahasianya.


"Memalukan," kata Orlin kesal dan meninggalkan tempat itu.


Reki langsung pamit pergi mengejar Orlin karena takut jika calon istrinya tersebut marah.


"Kaysa, apa itu benar?" tanya Alarik.


"Yah... Jangan bilang konyol! Yang terpenting lihat hasilnya," jawab Kaysa ketus.


"Aku ikut senang, melihat Kak Reki yang seperti itu aku merasa tenang. Jika dia bisa bersama Orlin pasti mereka akan bahagia," bakas Alarik mencium kening istrinya.


"Kalau begitu aku tidak mau jika hanya ucapan terima kasih," kata Kaysa nyengir.


"Minta hadiah apa?" tanya Alarik senang.


"Cukup nanti malam durasi memijat kakiku ditambah tiga kali lipat," jawab Kaysa bersemangat.


"Siap... Sampai pagi juga boleh. Tapi aku pijatan seluruh tubuh," goda Alarik dengan senyuman yang penuh arti.


Jangan lupa like dan Vote yaπŸ™ Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Baca juga Scorpio. Di jamin tidak kalah romantisnya dan bikin baperπŸ€—πŸ€— Tapi tidak disarankan untuk yang di bawah umur yaπŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2