CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins BAB 37


__ADS_3

Sepanjang perjalanan sampai di rumah, Zhia hanya diam saja, wajahnya terlihat murung dan tertekan.


Syauqi yang sangat mencintai istrinya itu menjadi sangat cemas.


"Sayang, kamu ini kenapa?" tanya Syauqi lembut.


"Sebagai seorang ibu, setiap detik aku selalu memikirkan tentang anak-anak. Aku sudah mencoba untuk menasihati mereka, tapi pada akhirnya aku merasa telah menjadi ibu yang gagal. Aku tahu jika mereka tadi bersekongkol sebab Syadev menyukai Anggun dan ingin mendekatinya. Bukankah kita juga ikut berdosa jika membiarkan anak-anak kita melakukan hal yang seharusnya dilarang?" rintih Zhia berurai air mata.


"Kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendidik mereka, tapi keadaan zaman yang semakin modern sangat sulit untuk menyuruh mereka seperti dirimu di masa lalu, terlalu mengekang juga akan membuat mereka memberontak. Jadi jangan pernah lelah menasihati secara perlahan agar mereka juga bisa menerimanya," ucap Syauqi sambil memeluk istrinya.


"Kita harus segera menikahkan Kaysa dan Alarik, aku takut jika saat mereka berduaan nanti tergoda oleh bisikan syetan. Aku tidak ingin kesalahan masa laluku terulang lagi," kata Zhia sambil menangis tersedu-sedu.


Syauqi tak mampu berkata apa-apa, karena dia menyadari jika sewaktu muda dirinya bertingkah buruk dan seenaknya sendiri. Bahkan melakukan hal terlarang untuk mendapatkan cintanya Zhia.


Syauqi terus memeluk istrinya agar perempuan yang sangat dicintainya itu bisa tenang.


"Dua generasi yang hidup di jaman berbeda. Seperti Zhia dan Kaysa, aku tidak mampu untuk membuat anak itu bisa seperti Bundanya. Meskipun sejak kecil kami berusaha mendidiknya tapi watak bawaan keras kepalanya sejak lahir tidak bisa dihilangkan dengan mudah," batin Syauqi.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Syadev menyetir mobilnya sangat santai, sampai dia tertinggal jauh dengan mobil milik orang tuanya.


Namun dia sejak tadi juga hanya membisu, karena gugup dan tidak tau harus memulai ucapan dari mana.


"Aku kesal dengan diriku sendiri! Ngobrol biasa aja aku merasa canggung apalagi mengucapkan kata suka."


Anggun sama sekali tidak menyadari kegelisahan pemuda yang duduk di sampingnya, karena gadis itu sejak tadi hanya menatap jalanan di luar jendela dan menikmati sepoi-sepoi angin yang berembus.


Di tengah jalan Syadev melihat toko oleh-oleh khas kota A. Dia pun segera berbelok memarkirkan mobilnya.


"Mau ikut apa menunggu di sini?" tanya Syadev.


"Ikut saja," jawab Anggun tersenyum ramah.


mereka berdua turun dari mobil dan memasuki toko tersebut, Syadev segera mengambil keranjang dorong dan mulai memilih berbagai jenis makanan.


"Di tempat tinggalmu ada berapa anak?" tanya Syadev.


"Sekitar dua puluh lima, yang enam masih bayi," jawab Anggun.


"Bantu aku pilih makanan yang sekiranya mereka sukai!" pinta Syadev.


Anggun dengan senang hati memilihkan makanan yang disenangi adik-adiknya. Keranjang dorong itu sampai terisi penuh.


"Apa tidak kebanyakan?" tanya Anggun.


"Tidak, tadi aku diberi uang Kak Al banyak. Aku sendiri bingung mau buat apa, lebih baik dibagikan pada anak-anak panti saja," jawab Syadev tidak bermaksud sombong.


"Kenapa hidup ini miris sekali yah? Bagi kami sangat sulit untuk mendapatkan uang. Dan untuk orang seperti kamu justru merasa bingung bagaimana cara menghabiskannya," ucap Anggun.


"Tetaplah bersyukur, setidaknya kamu diberi kesehatan dan kecerdasan. Kelak kamu bisa merubah takdir kemiskinan. Oh iyya, setelah lulus SMA kamu mau jadi masuk ke Universitas yang kemarin apa gimana?" tanya Syadev.


"Kalau diterima aku masuk, tapi kalau tidak diterima terpaksa aku bekerja saja. Aku sudah besar, tidak enak terus-terusan tinggal di panti," jawab Anggun.


"Memangnya di panti usia berapa sampai berapa yang tinggal?" tanya Syadev penasaran.


"Bayi enam bulan hingga umur dua belas. Jadi hanya aku saja yang paling besar di sana, soalnya dulu aku tidak pernah mau diangkat oleh orang tua asuh," jawab Anggun.


"Kenapa?" tanya Syadev penasaran.


Namun obrolan mereka segera terhenti karena antrian orang-orang yang berdiri di depan kasir pergi, kini giliran Syadev yang membayar belanjaannya.


Anggun tertegun karena belanjaan yang dipilihnya menghabiskan satu juta lebih, tapi Syadev terlihat biasa seolah hanya membayar uang receh.

__ADS_1


"Tadi alasan kamu tidak mau di asuh oleh orang tua angkat kenapa?" tanya Syadev masih penasaran.


"Aku lebih nyaman di panti, lebih baik mereka mengadopsi anak kecil yang lebih butuh kasih sayang dari orang tua," jawab Anggun tegar.


Syadev tersenyum, tidak mengira gadis yang nasibnya kurang baik itu masih sempat memikirkan orang lain.


Setelah membawa belanjaan mereka ke dalam mobil. Syadev mengajak Anggun memasuki toko di sebelah.


"Mau beli apa lagi?" tanya Anggun.


"Mainan anak-anak atau baju untuk mereka. Tapi aku tidak tahu ukurannya jadi kamu saja yang memilih," kata Syadev tenang.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Anggun cemas menghabiskan banyak uangnya Syadev.


"Kamu santai saja, untuk memborong semua isi toko ini tabunganku juga cukup," jawab Syadev tertawa pelan.


"Pasti perbulan uang jatah jajan kamu banyak ya?" tanya Anggun penasaran.


"Ayah ngasih uang dua juta dan kartu kredit, tapi aku jarang memakai kartunya. Bagiku dua juta cukup untuk jajan di sekolah, beli bensin dan kuota," jawab Syadev mulai bisa menenangkan dirinya.


Anggun tertegun, karena biasanya anak orang kaya selalu foya-foya. Namun baru kali ini dia bertemu seseorang dari kelurga kaya yang hidup hemat.


"Kalau Kaysa?" tanya Anggun jadi penasaran.


"Jangan tanyakan anak itu! Sudah pastinya uang dua juta bisa amblas dalam beberapa hari. Bahkan kartu kreditnya membengkak tagihannya. Aku yakin kalau dia sudah mendapatkan kartu kredit yang unlimited dari Kak Al pasti rumahnya akan berubah seperti toko fashion," jawab Syadev tertawa ngakak.


Anggun ikut tertawa, karena pertama kali gadis itu masuk ke kamar Kaysa juga kaget, sebab ada satu ruangan khusus untuk penyimpanan sepatu, pakaian dan alat make up seperti milik artis. Bahkan tas saja mungkin ada puluhan yang harganya diluar nalarnya.


"Tapi beruntung Kaysa bisa mendapatkan cinta Kak Alarik. Sudah tampan, sabar dan sangat perhatian pada Kaysa. Aku yakin Kaysa pasti akan selalu bahagia," cetus Anggun tersenyum riang.


"Apa tipe cowok yang kamu sukai seperti Kak Al?" tanya Syadev memastikan.


"Seperti Kak Al terlalu sempurna untukku, sebab aku juga bukan perempuan yang hebat dan secantik Kaysa. Jadi aku hanya berharap kelak bisa dipertemukan dengan seseorang yang baik, tanggung jawab dan bisa menerima aku apa adanya," jawab Anggun lembut.


"Apa sebaiknya aku menyatakan cinta padanya sekarang ya? Tapi nanti kalau di tolak hubungan kami justru akan renggang" batin Syadev masih ragu-ragu.


Syadev hanya memandangi gadis itu yang dengan riang memilih baju untuk adik-adiknya.


Kemudian matanya mengerjap karena Anggun mendatangi dirinya lagi.


"Biar nanti tidak rebutan apa sebaiknya setiap anak di pisah ya? Jadi satu anak dapat satu bungkus dan di kasih nama biar tidak tertukar? tanya Anggun riang.


"Terserah kamu saja, sekalian mainannya juga dijadikan satu," jawab Syadev ikut senang.


"Kamu tahu? Dari dulu aku selalu ingin bisa membelikan adik-adikku baju dan mainan. Tapi apalah daya, aku bekerja hanya cukup untuk kebutuhan harianku saja," jawab Anggun sedih.


"Anggap saja ini hadiah darimu!" hibur Syadev sambil tertawa lirih.


"Mana bisa? Semua di beli bayarnya pakai uangmu," timpal Anggun ikut tertawa.


"Ya aku pinjamkan padamu, kalau kamu sudah sukses nanti kembalikan padaku beserta bunganya lima pulus persen perbulan," gurau Syadev.


"Mau belajar jadi lintah darat ya? Aku sukses pasti membutuhkan waktu bertahun-tahun setelah aku lulus kuliah. Jika bunganya setengah mungkin sudah mencapai ratusan juta," balas Anggun tertawa.


Syadev cukup membuat gadis didepannya bisa tertawa lepas, tampak kebahagiaan diraut wajahnya yang manis alami.


"Masih kurang apa?" tanya Syadev.


"Mainan, tapi apa sebaiknya peralatan belajar saja ya? Atau sesuatu yang lebih bermanfaat," ucap Anggun meminta pendapat.


"Sesuaikan saja dengan hobi mereka, kalau senang melukis yang belikan alat lukis. Senang membaca yang belikan buku bacaan," jawab Syadev memberikan ide.


"Baiklah, aku tahu apa hobi mereka," jawab Anggun senang.

__ADS_1


Semua sudah terbeli, dan barang-barangnya sangat banyak. Anggun terkejut karena total pembayarannya hampir sepuluh juta.


"Tenang, uang dari Kak Al saja masih ada sisa," kata Syadev.


"Memangnya Kak Al memberikan berapa?: tanya Anggun penasaran.


"Lima belas juta," jawab Syadev santai.


"Wah, banyak sekali! Kak Al sangat sayang padamu ya?" ucap Anggun.


"Itu tak seberapa, kamu tahu berapa banyak Kak Al mengeluarkan uang untuk Kaysa?" ujar Syadev dengan wajah kesal.


Anggun sangat tahu, sebab harga Skincare saja sudah puluhan juta.


"Kamu tidak iri?" tanya Anggun memastikan.


"Tidak, asalkan dia tidak mengacaukan hidupku saja aku sudah bahagia," jawab Syadev dengan wajah biasa.


Anggun kagum dengan pembawaan Syadev yang tenang, santai dan tidak mengurusi privasi orang lain.


"Syadev, kamu selalu bersikap ramah padaku. Tapi kenapa kamu berwajah jutek pada Kaysa?" tanya Anggun semakin penasaran pada kepribadian pemuda di sampingnya.


"Karena dia menyebalkan saja, selalu membuat hidupku tidak tenang. Sebab apa yang dia lakukan aku ikut menanggung masalahnya," jawab Syadev ngakak sendiri.


Anggun tidak mengira, jika Syadev berlapang dada dan tidak merasa iri sedikitpun. Bahkan terlihat jika Syadev selalu melindungi Kaysa.


Semakin memikirkan tentang Syadev membuat hati Anggun berdebar-debar, ada perasaan ingin selalu di dekatnya.


"Mas, Mbak. Semua sudah selesai," ucap pelayan toko tersenyum ramah.


"Bisakah tolong bawakan barang-barang ini ke mobil?" pinta Syadev sopan.


"Dengan senang hati," jawab pelayan itu mengajak dua teman lainnya untuk memindahkan bungkusan belanjaan ke mobil.


Syadev teringat sesuatu, jika Anggun sama sekali tidak membeli apa-apa.


Namun karena Anggun sedang menata barang-barang di mobil, dia segera menghampiri salah satu pelayan.


"Carikan baju muslim yang kekinian untuk ukuran gadis yang bersamaku. Jilbab dan sepatu juga ya!" pinta Syadev.


Dalam lima menit pelayan itu sudah merekomendasikan tiga baju muslim yang bagus dengan warna dan model berbeda.


"Bungkus semua jadikan satu seperti yang tadi ya! Berikan nama Anggun!" kata Syadev tersenyum sendiri. Karena dia yakin pasti nanti di sana gadis itu akan terkejut.


Setelah di bayar Syadev membawa kotak bungkusan yang dilapisi kertas kado warna pink itu.


"Loh ada yang tertinggal," ucap Anggun.


"Iya," jawab Syadev menahan tawa dan menyembunyikan di antara kotak-kotak lainnya.


Setelah itu Syadev segera masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai.


**Terima kasih sudah mendukung saya selama ini, jangan lupa Like dan Vote terus ya biar Author selalu semangatπŸ€—


Jangan lupa mampir ke novel romantis yang bikin baper, judulnya SCORPIO.


Kisah tiga gadis berbintang zodiak sama tapi sifat berbeda. Mereka kabur dari rumah dan tinggal bersama.


Saralee, gadis Play girl dari keluarga kaya bertemu dengan Raiyen, pemuda jenius dan misterius.


Adella, gadis matre dari keluarga biasa bertemu Keenan, pengusaha sukses yang sombong.


Aileen, gadis lembut dari keturunan bangsawan yang bertemu pimpinan Mafia.

__ADS_1


Selamat membacaπŸ€—**


__ADS_2