CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Bunda hamil lagi


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu


Zhia merasa tubuhnya meriang, kepalanya pusing dan perutnya mual-mual. Bahkan setelah salam sholat subuh, tubuh Zhia tiba-tiba ambruk.


Syauqi sangat panik. Syadev berlinang air mata sambil memanggil-manggil nama Bundanya. Sedangkan Kaysa sudah berteriak-teriak histeris.


Syauqi langsung membawa Zhia ke kamarnya. Kaysa dan Syadev duduk di samping Bunda mereka yang masih terbaring tak sadarkan diri.


Langit masih gelap, Syauqi memaksa dokter pribadinya untuk segera ke vila.


************************************


Syauqi masih cemas sambil menenangkan kedua anaknya.


"Selamat, Tuan Syauqi. Istri Anda positif hamil," ucap Dokter tersenyum senang.


Seketika wajah Syauqi dan kedua anaknya langsung riang.


"Terima Kasih, Dok," jawab Syauqi.


Syauqi merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sama seperti saat dulu ketika Zhia hamil pertama sebelum pernikahan.


Zhia mulai sadar, tapi tubuhnya masih lemah.


"Bunda, Kaysa mau punya adik lagi," teriak Kaysa riang.


Syadev hanya tersenyum, diam-diam dia juga merasa bahagia.


"Bunda, nanti adik bayinya jangan nakal seperti Kaysa ya?" ucap Syadev.


"Ayah...!" teriak Kaysa marah.


"Tenanglah, kalian ini jangan ribut-ribut! Kasiha Bunda," kata Syauqi.


Kaysa dan Syadev langsung diam.


Zhia tersenyum melihat kedua anaknya yang lucu.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Alloh. Atas segala kenikmatan dan anugerah yang telah engkau berikan pada hamba," batin Zhia.


********************************


Tidak seperti kehamilan pertama yang bisa beraktivitas normal, kehamilan Zhia yang kedua terasa lebih berat.


Zhia selalu muntah setiap makan nasi, bahkan seringkali dia merasa pusing dan mual-mual jika mencium sesuatu yang menyengat.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja? Dari tadi kamu belum makan apa-apa," kata Syauqi cemas.


Zhia hanya menggeleng lemah. Tubuhnya terasa lemas.


"Kamu mau makan apa?" tanya Syauqi perhatian.


"Buah pepaya saja, Mas Syauqi," jawab Zhia.


Syauqi langsung mengambil buah pepaya, dikupas, dicuci lalu dipotong dadu.


Setelah itu Syauqi menyuapi istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sudah hampir seminggu Mas Syauqi tidak bekerja. Sebaiknya besok Mas Syauqi masuk kantor, aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Zhia lembut.


Sebenarnya Syauqi juga sedang banyak pekerjaan di kantor. Tapi Daddy tampan itu tidak bisa meninggalkan istrinya di rumah.


"Baik, tapi kamu juga ikut ya?" ucap Syauqi.


"Lalu bagaimana dengan anak-anak?" tanya Zhia cemas.


"Biarlah mereka ikut sekalian," kata Syauqi tersenyum manis.


Zhia mengangguk, perempuan yang sedang hamil itu tahu jika suaminya tidak bisa berjauhan darinya juga anak-anak.


"Nanti kita jemput anak-anak di sekolah, kemudian kita langsung berangkat ke kantor," ucap Syauqi.


"Iya, Mas Syauqi. Sekarang aku menyiapkan baju-baju mereka dulu," jawab Zhia sambil berdiri.


"Jangan! Kamu duduklah, biar aku saja yang melakukan," kata Syauqi.


Zhia tersenyum haru, karena suaminya selalu memperlakukan dirinya seperti seorang ratu.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan video call dari putra angkatnya. Dengan hati yang bahagia Zhia langsung menjawabnya.


"Assalamu'alaikum," sapa Alarik yang kini terlihat semakin tampan.


"Wa'alaikumsalam. Kenapa baru menghubungi? Kaysa sampai marah-marah karena ponselmu susah dihubungi," kata Zhia.


"Maaf, Bunda. Alarik sedang menyesuaikan dengan sekolah baru. Jadi banyak hal yang harus Alarik pelajari," jawab Alarik sopan.


"Di sana kamu merasa nyaman kan?" tanya Zhia lagi.

__ADS_1


"Iya, Bunda. Nenek juga sangat baik padaku," jawab Alarik tersenyum riang.


"Syukur kalau begitu," ucap Zhia bahagia.


Sebenarnya Zhia sangat merindukan putra angkatnya itu, tapi demi kebaikannya Zhia mencoba bersabar.


"Katanya Bunda hamil lagi ya?" tanya Alarik riang.


"Dari mana kamu bisa tahu?" Zhia balik bertanya.


"Dari nenek," ucap Alarik.


Syauqi mendengar istrinya sedang berbicara dengan putra angkatnya. Dia langsung mendekati istrinya dan menatap ke arah ponsel.


"Alarik, bagaimana kabarmu?" tanya Syauqi.


"Alhamdulillah baik, Ayah," jawab Alarik.


"Maaf ya, karena Ayah sudah memindahkan kamu secara tiba-tiba," ucap Syauqi tulus.


"Tidak apa-apa, Ayah. di sini aku juga merasa nyaman. Terimakasih, Ayah. Karena selama ini sudah menjagaku," kata Alarik tersenyum haru.


"Kamu ini putraku, sudah sewajarnya aku menjagamu," jawab Syauqi tersenyum bangga.


"Ayah, Bunda. Aku tutup dulu ya? Lain kali aku video call lagi, assalamu'alaikum," pamit Alarik sopan.


"Wa'alaikumsalam," jawab Zhia dan Syauqi bersamaan.


"Mas, tidak menyangka ya Alarik sekarang sudah besar," ucap Zhia.


"Iya, dia juga semakin tampan seperti aku," jawab Syauqi tertawa riang.


Zhia ingin mengelak tapi memang pada kenyataannya suaminya itu sangat tampan.


"Mas, jam berapa sekarang?" tanya Zhia.


"Sepertinya sudah hampir waktunya anak-anak pulang sekolah, ayo kita menjemput sekarang," ajak Syauqi sambil membawa koper berisi seragam dan buku sekolah.


"Mas, kenapa cuma sedikit?" tanya Zhia heran.


"Tak perlu membawa baju, kita nanti membeli saja semuanya. Sudah lama anak kita tidak membeli baju," ucap Syauqi.


Zhia hanya diam mematuhi suaminya.


"Pak Ahmad, aku dan anak-anak akan tinggal sementara di kantor. Tolong jaga rumah ini!" perintah Syauqi tegas.


***********************************


Di sekolah Kaysa dan Syadev memiliki teman akrab, mereka adalah Darren dan Zahra.


Sekarang pelajaran olah raga, ke empat sekawan itu sedang duduk di pinggir lapangan untuk istirahat karena kecapean.


"Kaysa, aku sangat iri padamu. Karena sebentar lagi mau punya adik," ucap Zahra lembut.


"Minta saja sama Umi Abi mu!" jawab Kaysa enteng.


"Aku malu," jawab Zahra tersenyum malu-malu.


"Darren, apa kamu juga ingin punya adik?" tanya Kaysa pada teman lelakinya.


"Pengen, sepertinya menyenangkan kalau punya adik perempuan sepertimu," jawab Darren senang.


"Apa? Aku sarankan jangan deh, karena kamu tidak akan bisa hidup tenang," timpal Syadev yang dari tadi hanya diam.


Kaysa melirik pada saudara kembarnya, tapi Syadev pura-pura tidak tahu.


"Kaysa, bagaimana kabar ayam-ayam kamu?" tanya `Darren perhatian.


"Ayamku mati semua," ucap Kaysa tertunduk sedih.


"Salahmu sendiri memaksa mereka berenang, pada akhirnya malah tenggelam dan mati kan?" sindir Syadev kesal.


"Diam, Syadev. Aku sedang sedih," bentak Kaysa meneteskan air matanya karena menyesal.


"Kamu jangan sedih lagi, di rumah aku punya kucing kecil lucu. Bulunya sangat halus dan warnanya putih. Nanti aku kasihkan ke kamu deh" ucap Darren menghibur Kaysa.


"Benarkah? Aku mau, aku mau," teriak Kaysa heboh.


"Aku sarankan jangan! Kaysa sangat ceroboh, aku yakin dalam seminggu ini pasti kucingnya akan mati," ucap Syadev.


Kaysa merasa kesal, tapi dia sendiri juga sadar tidak bisa merawat.


"Darren, sebaiknya dirawat kamu saja. Kalau aku ingin melihatnya aku akan mengunjungi rumah kamu," ucap Kaysa manis.


"Iya, aku akan merawatnya untukmu. Kamu juga bisa memberi nama kucing kecil itu," kata Darren antusias.


"Kucingnya cewek apa cowok?" tanya Kaysa penasaran.

__ADS_1


"Cowok," jawab Darren.


"Karena itu kucing kita berdua, bagaimana kalau namanya Karren. singkatan dari Kaysa Darren," ucap Kaysa bersemangat.


"Ha... ha... ha... Aku baru kali ini mendengar ada nama bodoh seperti itu," cetus Syadev sambil tertawa keras.


"Syadev, sudahlah! Jangan membuat Kaysa marah," kata Zahra melerai.


Kaysa merengut, ingin rasanya dia mengamuk adik kembarnya. Tapi dia tahan karena takut nanti dimarahi Ayah Bundanya saat di rumah.


"Namanya sangat bagus kok. Mulai sekarang kita panggil saja kucing kita Karren," hibur Darren.


"Kalau begitu pulang sekolah aku langsung ke rumah kamu saja ya, aku tidak sabar bertemu dengan karren," ucap Kaysa yang mulai riang kembali.


"Oke, pasti Mama sangat senang kalau kamu main ke rumah aku," jawab Darren.


"Kalian mau ikut enggak?" tanya Kaysa pada Zahra dan Syadev.


"Tidak, nanti sepulang sekolah aku mau di ajak Umi dan Abi ke rumah nenek," jawab Zahra terlihat sedih.


"Aku mau pulang saja, aku ingin mengurus ayam-ayamku yang bulunya sudah mulai lebat," kata Syadev sengaja memameri kakak perempuannya yang mudah panasan.


Tapi sepertinya sudah tidak ngaruh, karena kini Kaysa punya peliharaan baru.


Bel berbunyi, pelajaran Olah raga sudah berakhir. Semua murid bersiap-siap pulang.


**************************************


Di depan sekolah Kedua orang tua sepasang anak kembar itu sedang menunggu bersama Nindya dan Fauzi.


"Kakak iparmu pasti senang mendengar kabar ini," ucap Fauzi pada Zhia.


"Selamat, Zhia. Semoga kamu dan janinmu selalu sehat," ucap Nindya ikut bahagia.


"Nin, apa kamu tidak mau lagi? Zhia yang sudah punya tiga anak saja masih merasa kurang," tanya Syauqi.


"Tidak, aku sudah trauma melahirkan. Rasanya seperti sakaratul maut." jawab Nindya ngeri.


Fauzi dan Zhia hanya tertawa mendengar jawaban Nindya.


"Istriku memang wanita terhebat," puji Syauqi dalam hati.


Kemudian anak mereka sudah muncul.


"Ayah... aku ingin main ke rumah Tante Nindya ya, mau bertemu dengan Karren," pinta Kaysa manja.


"Anak siapa Karren?" Tanya Syauqi pada Nindya, karena baru pertama kali mendengar nama itu.


"Aku juga tidak tahu," jawab Nindya ikut bingung.


"Karren itu nama kucing, Ayah," sela Syadev denga gaya cool.


Jawaban dari syadev yang terlihat kesal malah membuat semua orang tertawa.


"Besok saja ya, Kaysa. Hari ini kita mau belanja di Mall, setelah itu kita akan tinggal di kantor Ayah untuk sementara," bujuk Zhia lembut.


"Kebetulan, aku juga mau membeli baju. Bagaimana kalau kita ke Mall dulu, setelah itu Kaysa ikut pulang bersama Darren," ucap Nindya.


"Nanti mampir ke tempat permainan ya," pinta Kaysa antusias.


"Iya..." jawab Syauqi lembut.


"Zahra, ayo ikut sekalian," kata Zhia.


"Maaf, tapi hari ini kami ada acara," ucap Fauzi.


"Baiklah kalau begitu, kirim salam saja buat Kak Elly ya?" ucap Zhia sopan.


Fauzi mengangguk sambil tersenyum.


"Ayah, aku mau ikut mobil Darren saja. Aku sedang marah dengan Syadev," rengek Syauqi.


"Iya, tapi tidak boleh nakal ya?" ucap Syauqi.


"Wekkk..." ejek Kaysa pada Syadev, gadis kecil itu langsung naik ke mobil Darren.


Syadev justru merasa senang karena suasana menjadi tenang jika tidak ada kakak perempuannya yang resek.


"Ayah, bagaimana dengan ayam-ayamku?" tanya Syadev.


"Tenang, pasti akan di rawat sama Pak Ahmad," jawab Syauqi.


Syadev hanya diam dan duduk tenang di kursi belakang seorang diri.


Syauqi tersenyum lega, meskipun putra kecilnya ini adalah adiknya Kaysa, tapi sikapnya lebih dewasa dan mudah di bujuk.


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like, Vote dan beri rating bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga Novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗


__ADS_2