CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kepanikan Keluarga Yudistira


__ADS_3

Keluarga Syadev begitu heran dengan hilangnya Yudistira secara tiba-tiba, meskipun hal ini bukan yang pertama kali tapi entah kenapa Syadev merasa curiga dan gelisah. Karena Arka masih di luar negeri sedangkan Saga masih di Aceh.


Sagara sendiri begitu tahu kakaknya hilang tanpa jejak langsung buru-buru menyelesaikan tugas di Aceh dan segera pulang. Kelurga Flora yang mengetahui kejadian ini juga ikut pulang ke rumah Syadev termasuk Sarah.


Begitu juga dengan keluarga Kaysa, mereka menghentikan liburan dan memutuskan pulang.


"Sudah dua hari tidak ada kabar, bagaimana ini? Pokoknya jangan sampai kakek kalian tahu, sebab nanti kakek kalian akan syok!" pinta Syadev pada Arka dan Saga.


Saga sendiri tidak berani menceritakan mengenai Yudis yang pergi dengan Deby, sebab nanti masalah akan menjadi runyam. Apalagi saat itu Deby benar - benar tidak tahu kemana Yudis.


"Saga, bisakah kamu melacak ponsel kakakmu?" tanya Syadev cemas.


"Sudah, tapi tidak bisa ditemukan," jawab Saga.


"Kalian selama ini memiliki musuh siapa saja?" tanya Kaysa.


Arka dan Saga terdiam, biarpun mereka memiliki banyak musuh tapi mereka tidak tahu identitas mereka yang sebenarnya. Karena selama ini mereka selalu menyamar.


Tiba-tiba saja datang kepala kepolisian untuk menemui Saga.


"Saga, akhirnya kamu pulang juga. Aku ingin menunjukkan ini padamu, apa kamu tahu kode apa ini?" tanya papanya Deby.


"Oh tidak, ini adalah Yudis. Dia mengirim tanda kalau dirinya di culik, pengiriman ini kapan?" tanya Saga.


"Dua hari yang lalu,"


"Baiklah, kalau begitu akan aku sambungkan ke komputer aku biar aku bisa melacaknya," sergah Saga.


"Bagaimana?" tanya Arka.


"Aku butuh komputer aku, bantu aku mengambilnya," sergah Saga terburu.


Syadev mengembalikan lagi barang-barang milik putra keduanya tersebut, siapa sangka jika putranya memang sangat hebat.


Saga mulai fokus mengotak - atik komputernya, jika orang lain yang melihat hanya akan pusing dan sakit kepala dengan kode yang sulit dipahami.


Disaat semua merasa tegang menanti kepastian dari Saga, Sarah yang duduk di dekat Fayyola diam-diam memperhatikan Sagara yang tampak serius dan keren. Walaupun Saga terkesan cuek dan sadis tapi pemuda itu sangat hebat dan memiliki daya tarik tinggi.


"Sudah ketemu, dia di bawa ke tempat markas Roji yang dulu sebagai tempat perjudian. Yudis memberitahu jika di belakang kasti itu ada pabrik uang palsu, dan yang menjadi sasaran penculikan sebenarnya aku. Hanya saja waktu itu mereka salah sasaran," jelas Saga.


"Kalau begitu aku harus segera menggerebek ke sana, saya permisi dulu Tuan Muda Syadeva," pamit papanya Deby berlalu pergi.


"Bukankah Roji sudah tertangkap? Apa mereka mau bala dendam?" tanya Flora ngeri.

__ADS_1


"Tidak, jika Yudis masih sempat menggunakan komputer mereka dengan bebas itu tandanya mereka sebenarnya meminta aku untuk mengakses sesuai yang mereka inginkan. Karena mereka tahu aku memiliki kemampuan untuk meretas," jawab Saga.


"Semoga putraku baik - baik saja," tangis Anggun sudah lemas kakinya.


"Sudah jangan sedih lagi, putra kita hebat. Pasti dia memiliki banyak ide untuk melepaskan diri," bujuk Syadev pada istrinya.


Tiba-tiba saja ponsel Syadev berbunyi, dan itu telepon dari Asrama.


Ternyata Yudis tidak ingat nomor keluarga dan saudaranya, satu-satunya yang diingat adalah nomor asramanya saja. Makanya Yudis meminta penjaga asrama untuk menyambungkan ke nomor papanya.


"Pa, maafkan aku karena sudah membuat kalian semua susah," ucap Yudis terdengar sambil menangis.


"Yudis, jangan berakting lagi! Cepat bagikan lokasimu, sebelum mereka menemukanmu lagi," sela Saga.


"Kamu ini sama sekali tidak cemas dengan kakakmu, semua ini juga gara - gara kamu. Yang mau mereka tangkap kami!" jawab Yudis kesal.


"Sudah, sekarang bagikan lokasimu sekarang juga. Biar kami menjemputmu!" timpal Syadev menghembuskan napas lega.


Setidaknya putranya kini baik - baik saja, itu sudah cukup.


Setelah itu Syadev bersiap - siap untuk menjemput Yudis.


"Saga, kamu di rumah saja. Karena yang menjadi sasaran adalah kamu siapa tahu mereka masih mengincarmu!" perintah Syadev.


"Aku ikut," ucap Kaysa bersemangat.


"Tidak, kamu sebaiknya istirahat saja setelah kelelahan perjalanan jauh," tolak Syadev.


Sebenarnya Syadev hanya tidak ingin jika nanti Kaysa membuat keributan di sepanjang jalan.


"Aku ikut," sela Dewa.


"Aku juga," timpal Alarik.


"Baiklah," jawab Syadev.


Sedangkan Arka tidak berani bilang ikut walaupun dia ingin, sebab dari sikap papanya sudah jelas tengah khawatir.


"Ya sudah, sebaiknya kita semua istirahat ya. Karena dari semalam belum tidur," ajak Flora.


Memang semenjak kemarin sore mereka semua terus tegang dan tidak bisa tidur menunggu kabar dari kepolisian.


"Ma, mama juga tidurlah," bujuk Saga.

__ADS_1


"Iya, kamu sendiri ayo juga tidur," balas Anggun mulai bisa tersenyum.


"Aku mau menuntaskan ini terlebih dahulu," jawab Saga serius.


Saga khawatir akan terjadi hal buruk, diapun bertekad harus membuka semua kejahatan agar orang - orang itu bisa masuk penjara dan kedepannya tidak terjadi Masalah lagi.


Ruangan kembali sepi, hanya ada Saga saja yang masih mengotak - atik komputernya. Beberapa saat kemudian Saga merasa lapar, dia masuk ke dapur untuk mencari sesuatu. Dan di sana sudah ada Sarah yang tengah membuat jus.


"Kenapa kamu membuat sendiri? Di sini banyak pelayan?" tanya Saga.


"Mereka sedang istirahat, kasihan karena dari pagi kerja terus," jawab Sarah tidak menyangka jika ada Saga.


"Oh," balas Saga cuek.


Saat Sarah membuat jus, Saga juga membuat roti bakar. Setelah selesai keduanya secara bersamaan memberikan hasil kerjaan mereka.


"Ini," ucap mereka sambil menyodorkan Jus apokat dan juga roti.


Tiba - tiba saja wajah Sarah memerah malu, sedangkan Saga menerima Jus apokat tersebut tanpa ekspresi dan berlalu pergi tanpa sepatah kata.


Sarah diam - diam mengambil roti bakar yang tadi di tawarkan Saga padanya.


Saga tahu apa yang terjadi, dia juga merasakan jika Sarah memiliki perasaan padanya. Tapi dia sama sekali tidak minta soal cinta, dia lebih tertarik pada mesin.


Sesampainya Saga di depan komputer kesayangannya lagi, ada Deby yang datang.


"Saga, aku sudah dapat barangnya," ucap Deby tanpa basa basi.


"Oh, tapi sekarnag aku sedang sibuk menyelesaikan ini," jawab Saga.


"Maaf ya, karena aku terlambat menyadari jika Yudis hilang. Aku kira dia pulang sebab tidak mau menemaniku ke tempat lelang," ucap Deby.


"Tidak apa - apa, lagi pula yang penting sekarang Yudis sudah ditemukan. Papa dan Om sedang menjemputnya," balas Saga santai.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu," ucap Deby ikutan lega.


"Tapi masalah ini tidak sederhana, masih banyak rahasia di antara mereka. Dan aku harus bisa menemukan rahasia itu. Tadi lewat data yang diberikan papamu aku akan mencoba untuk masuk ke komputer mereka," ujar Saga serius.


Deby yang juga sangat tertarik dengan hal - hal tersebut merasa enggan untuk pulang. Gadis itu semakin penasaran dan ingin belajar dari Sagara.


Saga sendiri membiarkan Deby duduk di dekatnya, karena baginya Deby seperti teman laki - laki. Andaikan Deby di usir, temannya itu juga tidak akan pergi.


Sarah yang hendak ingin kembali ke kamar Fayyola melihat Saga bersama gadis lain dan tampak begitu dekat. Padahal dia tadi sudah bahagia saat Saga perhatian membuatkannya roti bakar.

__ADS_1


__ADS_2